
Chloe sangat bersedih jika berkenalan dengan Chika. Hatinya hancur karena tidak bisa menemaninya ketika tumbuh dewasa. Sascha langsung mengelus Chloe untuk menenangkannya. Sascha tahu kalau saat ini Chloe bersedih atas kesalahannya. Namun Sascha tidak menyalahkan Chloe.
"Ma," panggil Sascha dengan lembut.
Chika terkejut ketika Sascha memanggil Chloe sebagai mama. Matanya membulat sempurna dan menatap tajam ke arah Sascha untuk meminta jawaban.
"Aku Chloe sang pemilik butik ini," sapa Chloe yang mulai normal lagi dan melupakan perasaan tadi sejenak.
"Ah... Iya aku tahu itu," sapa Chika dengan tersenyum sumringah.
"Oh... Ya aku adalah mama kandung Sascha. Terima kasih kamu sudah menjadi temanku," balas Chloe dengan ramah.
Chika semakin tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Sascha. Lalu Sascha tersenyum tipis sambil berkata, "Tenanglah. Nanti akan ada penjelasan dari pihak kami."
Walau masih penasaran Chika paham dengan Sascha. Chika tidak akan mengganggu privasi Sascha. Chika menganggukan kepalanya sambil tersenyum, "Aku akan menunggunya."
"Apakah kamu mau berganti gaun lagi?" tanya Sascha.
"Tidak terima kasih," balas Chika dengan lembut.
Sementara itu di sofa panjang Dewa melirik Sascha yang menaklukan seorang pelanggan. Dewa tersenyum karena Sascha sangat ramah sekali kepada pelanggan. Matanya tidak henti-hentinya melihat gadis itu walau ia sedang mengecek perusahaan.
"Kalau begitu aku bungkus ini saja," ucap Chika yang memutuskan dengan cepat.
"Baiklah. Aku akan menyuruh pelanggan membungkus semuanya," jawab Sascha.
Masalah pelanggan sudah selesai hanya karena kesalahpahaman. Sascha tersenyum mengembang sambil melihat Chloe. Sascha segera mendekati Chloe lalu memeluknya.
"Ma," panggil Sascha.
"Ada apa sayang?" tanya Chloe sambil mengelus punggung Sascha.
"Mama enggak bersalah ketika aku hilang. Jadi mama tenang saja aku tidak marah. Yang ingin aku marahi adalah mereka yang menculikku. Cepat atau lambat aku akan menemuinya ketika sudah menjadi nyonya Dewantara dan memegang perusahaan. Aku ingin membalas dendam kepada mereka," jawab Sascha yang tidak rela ketika kedua orangtuanya bersedih.
Sascha yang dulu sudah meninggal dan tidak akan bangkit lagi. Sascha sekarang adalah seorang wanita yang memiliki kekuasaan. Semenjak tinggal bersama kedua orangtuanya Sascha mendapatkan jiwanya yang sempat hilang. Selain itu juga diam-diam Gerre mulai memupuk keberanian Sascha.
__ADS_1
"Ma... Jangan diambil hati yang perkataan Chika. Chika sebenarnya anak yang baik. Tapi cukup manja. Selain itu juga Chika orangnya enggak terlalu percaya diri. Aku sering memberinya pencerahan," ucap Sascha.
"Sa... Mama sudah mendapat perlakuan seperti itu. Mama juga bisa menilai apakah mereka baik atau tidak. Kalau untuk kasusnya Chika masih bisa dimaafkan. Toh juga teman kamu sudah membayar semuanya. Jadi Chika meminta agar gaunnya sangat sempurna ketika pernikahan terjadi. Jangankan Chika, seluruh wanita sangat menginginkan pernikahan mereka dengan sempurna," tutur Chloe dengan lembut.
"Yang mama katakan benar. Aku juga mau pernihakan seumur hidupku ingin aku kenang sepannang masa," celetuk Sascha.
"Kalau begitu kamu bisa memilih gaun pengantin kamu," ajak Chloe sambil memegang tangannya.
Mau tidak mau Sascha menuruti Chloe. Siang ini Chloe semangat sekali mencarikan beberapa model gaun pernikahan yang belum pernah diproduksi.
Beberapa orang yang berada di dalam sana tersenyum manis melihat Chloe yang semangat. Mereka tidak pernah melihat Chloe sebahagia ini. Setelah itu mereka membantu Chloe untuk mengeluarkan banyak gaun pengantin yang terpasang di manekin.
Sascha menunduk karena bingung mau mengambil yang mana. Sascha mulai mengecek satu-persatu gaun itu yang menurutnya sangat pantas. Sascha sangat bingung sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku bingung mau yang mana. Aku tidak bisa memutuskan memilih gaun pernikahan itu," ucap Sascha dalam hati.
"Apakah kamu sudah menemukan?" tanya Chloe.
Sascha menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sascha menatap Chloe agar Dewa mengizinkan masuk ke dalam. Chloe cukup tahu apa yang terjadi. Chloe akhirnya mengizinkan Dewa masuk ke dalam.
Sascha segera keluar untuk memanggil Dewa. Namun sebelum itu Chika sudah beres dengan fitting gaunnya. Tak sengaja Sascha melihat Raymond yang baru saja keluar dari toilet. Sascha tersenyum karena melihat Chika bersama Raymond.
"Sascha," pekik Raymond yang sungguh terkejut.
"Iya ini aku kak," jawab Sascha. "Kakak sudah selesai fifting bajunya?"
"Sudah. Aku meminta mereka mengirimkan baju itu sehari sebelum pernikahan kami," jawab Raymond.
Sascha menganggukkan kepalanya sambil mengucapkan selamat. Raymond dan Chika tersenyum dan mengucapkan terima kasih secara serempak.
"Congratulation," ucap Sascha.
"Terima kasih," balas Raymond. "Aku harap kamu menyusulku segera. Agar Billi tidak mengejarmu."
"Tenang saja Sascha akan menikah dengan aku dua Minggu ke depan. Kamu tidak perlu khawatir dengan Billi," ucap Dewa yang baru saja datang.
__ADS_1
Raymond terkejut karena melihat Dewa baru saja datang. Raymond segera menghajar Dewa karena kesal. Saat pukul-pukulan Chika dan Sascha malah tertawa dan tidak memisahkan mereka. Setelah selesai pukul memukul Dewa dan Raymond kembali ke sebelah pasangan masing-masing.
"Kenapa kamu berada di sini?" tanya Raymond.
"Aku disini hanya menemani Sascha untuk memilih baju pernikahan," jawab Dewa.
"Akhirnya kalian menikah juga. Ah... Sebenarnya aku ingin hadir. Tapi Chika tidak bisa bepergian jauh karena sudah hamil dua bulan," ujar Raymond yang bahagia.
"Apakah itu benar?" tanya Sascha yang bahagia karena melihat Chika yang sebentar lagi menjadi ibu.
"Ya.. itu benar. Kak Raymond adalah pria dingin tapi mematikan," kesal Chika dengan jujur hingga membuatnya tersenyum.
"Kapan pernikahan kalian?" tanya Dewa.
"Lima hari lagi," jawab Raymond. "Apakah kamu mau datang?"
"Aku harus pergi ke Labuhan Bajo. Aku ingin memeriksa pembangunan resort baru di Labuhan Bajo," jawab Dewa.
"Sangat disayangkan. Aku berharap kalian datang. Tak apa kadonya menyusul," celetuk Raymond.
"Pasti," jawab Dewa.
"Kalau begitu aku pamit mau pulang ke apartemen. Kasihan Chika yang tidak boleh capek," pamit Raymond.
Sascha menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hingga pergi. Sascha tidak menyangka kalau dirinya bertemu dengan temannya terlebih dahulu. Setelah itu Dewa menatap Sascha. Begitu juga dengan Sascha, matanya mulai saling menatap. Hatinya berdebar kencang dan ia langsung memalingkan wajahnya sambil bertanya, "Apakah kakak mau membantuku untuk mencarikan baju pernikahan?"
"Dengan senang hati," jawab Dewa. "Apakah kamu kesusahan mencari gaun pengantin?"
"Iya," jawab Sascha dengan jujur. "Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam!"
Sascha memutar kenop itu lalu membukanya. Sascha sangat terkejut ketika para pegawai masih menata manekin. Sascha hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar sambil berbicara dalam hati, "Koleksi mama sangat banyak. Aku bingung mau milih yang mana?"
"Kalau begitu kamu harus memakainya," celetuk Dewa yang menatap Sascha yang kebingungan.
Plakkkk!
__ADS_1
Pukulan dari tangan mungil Sascha tepat mendarat ke arah lengan Dewa. Lalu Dewa hanya terkekeh sambil memegang tangannya.
"Ayo kita cari bersama," ajak Dewa.