
"Saranku sih kamu nggak usah ikut-ikutan menjodohkan mereka. Lebih baik biarkanlah mereka mencari jodoh sendiri," jawab Dewa sambil memandang wajah Sascha.
"Padahal niatku baik," ucap Sascha.
"Baik sih baik. Tapi kamu tahu nggak kalau mereka memiliki sisi masa lalu gelap. Seperti Bima, Ian, Leo dan Eric. Merekalah orang-orang yang terluka. Secara fisik mereka sangat sempurna. Tapi kisah percintaannya nihil."
"Bagaimana dengan Kak Tommy?"
"Itu beda. Tommy dilahirkan dari keluarga yang sempurna. Saking sempurnanya keluarganya sangat menyayanginya. Kapan-kapan aku ceritakan bagaimana masa lalu mereka. Aku harap kamu nggak boleh membocorkan ini ke semua orang. Karena cerita itu adalah masalah pribadi mereka."
"Semoga saja mereka mendapatkan jodoh yang baik ya Kak."
"Pastinya. Tuhan nggak tidur kok. Nanti kalau sudah ketemu jodoh. Mereka akan menjadi bucin seperti aku."
"Idihhhh... Kakak mah memang udah bikin akut. Sangking angkutnya Kakak selalu memberikan aku alarm dalam hatiku jika bertemu dengan pria lain."
"Iyalah. Kamu sudah terikat dalam pernikahan yang suci ini. Aku harap kamu tidak akan menyesalinya."
"Kenapa harus menyesal?"
"Yang namanya menikah pasti ada suka dan dukanya. Ingatlah janji pernikahan itu. Aku pun sama. Minta kepada papamu," jawab Dewa sambil membenarkan bajunya. "Jam berapa kita berangkat?"
"Jam enam. Sepertinya anak-anak tidak akan membawa mobil," ucap Sascha.
"Kamu tahu di sini mobil tak ada guna? Kalau kamu nggak percaya lihatlah mobil kakek. Seumur-umur kakek hanya memiliki mobil hanya satu. Begitu juga dengan paman Taro. Paman Taro baru juga memiliki satu mobil saja. Begitu juga dengan bang Kobe. Mereka pergi ke kantor hanya memakai kereta. Padahal kantor mereka di Tokyo," ujar Dewa.
"Bagaimana kalau kita memiliki rumah di daerah Ciamis terus kantornya di Jakarta?" tanya Sascha yang berandai-andai.
"Lebih baik aku pindahkan saja pusatnya ke Ciamis. Bagaimana menurutmu?" Tanya Dewa balik sambil tertawa.
"Terus kita berangkat pagi subuh-subuh menikmati pemandangan alam melalui kereta api," jawab Sascha.
"Kalau begitu aku pindahkan saja kantorku ke daerah sana. Biar kamu nggak capek-capek bolak-balik dari sana ke sini."
__ADS_1
"Mending nggak usah dipindahkan. Lebih baik aku tinggal di bulan saja."
Tiba-tiba saja Dewa tertawa terbahak-bahak. Entah ada apa dengan istrinya itu? Sang istri meminta tinggal di daerah pegunungan. Akan tetapi Dewa memilih tinggal di kota. Jika mereka pindah ke daerah pegunungan. Kemungkinan mereka harus bolak-balik ke sana kemari. Akhirnya Dewa memutuskan untuk memindahkan kantornya dan mengikuti Sascha.
"Mending kita nggak usah pindah ya. Kita tunggu saja tiga Dewa junior yang hadir di dalam perutku ini hingga menuju dewasa," celetuk Sascha.
"Ide kamu sangat bagus sekali. Kalau begitu kita tidak jadi berangkat saja ya."
"Lho kenapa?"
"Karena aku ingin membuat Dewa junior yang banyak."
Seketika tubuh wanita berparas cantik itu melemas. Bisa-bisanya dirinya membahas soal tiga Dewa junior. Harusnya ia tidak membahas soal itu terlebih dahulu untuk mencari aman. Namun Sascha sudah melakukannya.
"Lebih baik besok saja buatnya. Mama sudah membeli tiket kereta yang lumayan banyak. Sepertinya satu gerbong dikhususkan buat kita semua bersama para pengawal dan kakek Aoyama," bisik Sascha.
"Kalau begitu kita batalkan saja. Untuk kita berdua Lain kali saja perginya," rayu Dewa.
Dengan kesalnya Sascha menginjak kaki dewa dan berlalu pergi. Sedangkan Dewa hanya menatap kepergian sang istri. Dalam hatinya Dewa tertawa terbahak-bahak. Karena malam ini Dewa ingin sekali menggoda sang istri.
"Ya jadilah. Anak-anak yang membayar semuanya. Bukan mama yang keluar uang," jawab Tara.
"Ya udah deh ma. Aku jadi ikut. Aku juga udah lama tidak pergi ke Tokyo," ucap Sascha.
"Baiklah," balas Tara sambil tersenyum manis. "Oh ya... Sekarang Risa sudah tidak ada. Kedua orang tuanya juga sudah tidak ada. Kamu sudah bisa ke mana-mana. Tanpa harus dikawal oleh siapapun. Namun aku belum selesai bicara. Kamu masih tetap dikawal oleh pengawal bayangan sebanyak lima belas orang."
"Banyak amat ma. Kenapa harus sebanyak itu?"
"Karena bisa dipastikan musuh utama belum tertangkap."
Mendengar musuh utama belum tertangkap Sascha menjadi lemah. Entah siapa musuh utama itu. Mau tidak mau Sascha harus menuruti keinginan Tara.
"Kamu Jangan takut seperti itu. Mintalah pada Dewa untuk mengambil ilmunya agar kamu menjadi kuat," saran Tara.
__ADS_1
"Kak Dewa memberikan aku sedikit demi sedikit. Dia tidak bisa memberiku banyak sekaligus. Padahal Jika dia memberikanku sekaligus. Aku bisa mempelajarinya tanpa jeda sedikitpun. Kemungkinan besar dalam jangka tiga bulan aku bisa menguasainya," kesal Sascha.
"Bersabarlah. Ingat kapasitasmu itu. Kamu harus mempelajarinya dengan teliti. Jika nggak kuat kamu yang akan rugi. Soalnya ilmu itu sudah bertaraf internasional," ujar Tara.
"Memangnya ilmu apa ma?" tanya Dewa yang sedari tadi mendengarkannya.
"Ilmu sabar dan jujur ditambah keikhlasan," jawab Tara yang memberikan tiga kata itu sebagai filosofi untuk sang menantunya.
Dewa tersenyum mengangguk dan menyetujui jawaban dari sang mama. Begitu juga dengan Sascha. Iya tidak menyangka mendapatkan ilmu yang epic dari sang Mama mertuanya.
"Tiga ilmu itu sangat sulit sekali. Kalau kamu bisa menguasainya, Mama yakin mereka akan mundur satu-satu dan berlari tunggang langgang. Nggak semua orang memiliki ilmu seperti itu. Pelajari, pahamilah dan praktekkan sendiri," jelas Tara.
"Berarti aku tidak boleh memakai kekerasan?" Tanya Sascha.
"Sepertinya kamu nggak perlu melakukan hal itu. Kumpulkanlah semua bukti-bukti yang ada untuk melawan mereka. Bila perlu bukti-bukti itu lempar ke hukum internasional. Nanti mama carikan beberapa pengacara terkenal untuk mengurusi kasus kamu itu. Mereka tidak akan pernah kebal hukum," yang menambahkan saran baru.
"Memang sulit. Tapi aku harus melakukannya," ujar Sascha yang menunduk sambil menghela nafasnya secara kasar.
"Kamu pasti bisa," Tara membakar semangat Sascha agar menggebu-gebu untuk mempelajarinya.
"Kalau begitu tunggulah di ruangan tamu. Mereka sudah menunggu kalian untuk pergi ke Tokyo bersama-sama," pinta Tara.
Akhirnya Dewa dan Sascha menuju ke ruangan tamu. Lalu mereka bertemu dengan yang lainnya.
"Katanya pulang ke Jakarta?" tanya saja sambil menatap wajah Ian.
"Aku masih ingin berlibur di sini. Sebentar lagi akan ada festival musim dingin. Jika aku pulang ke Jakarta. Aku akan ketinggalan apa yang dijualnya itu," jawab Ian.
"Memangnya ada festival apa?" Tanya Dewa.
"Festival Lentera Salju Kastil Hirosaki. Itu salah satunya. Masih ada lima lagi festival yang akan dilaksanakan di musim dingin ini. Tapi sayang aku tidak memiliki pasangan satupun untuk diajak ke sana," kesal Ian.
"Jangan menyesal seperti itu. Kita akan ke sana bersama-sama! Aku juga sangat penasaran sekali dengan festival itu. Mumpung kita berada di Jepang dan menikmati liburan mendadak seperti ini," hibur Sascha.
__ADS_1
"Aku harap Dewa tidak cemburu," ledek Bryan sambil menatap wajah Dewa.
"Kenapa harus cemburu?" tanya Dewa.