
"Hmmp.... Justru itu jika wanita gemuk malah yang pria selingkuh," jawab Sascha dengan serius.
"Itu tidak dibenarkan. Papa bukan pria seperti itu," sahut Gerre yang baru saja datang dan menghempaskan bokongnya di sofa singel. ''Setelah melahirkan kamu tubuh mama gemuk. Papa membiarkan saja. Toh juga papa bangga karena mamamu telah memberikan seorang anak."
"Yang dikatakan papa benar Sa. Enggak semua pria seperti itu. Selingkuh itu ada celahnya juga. Misal... baru menikah saja sudah melirik gadis lain. Padahal istrinya sangat cantik," tambah Chloe. "Jika ada seorang pria yang sudah mengklaim kamu sebagai miliknya seutuhnya. Bisa dipastikan kamu adalah wanita yang sangat istimewa di matanya. Pria itu tidak akan mempermasalahkan bentuk tubuhmu setelah melahirkan."
"Jujur saja aku takut. Aku masih trauma atas perceraian teman-temanku sekolah. Dikarenakan pada bodynya. Si pria selingkuh hanya karena sang istri tidak bisa merawat tubuh," celetuk Sascha.
"Hmmp... Ini kasus rumit. Jika begitu kamu tanyakan saja pada sang pria, kenapa bisa selingkuh?" ucap Dewa yang memberikan teka-teki kepada Sascha.
Dewa sering sekali memberikan teka-teki pertanyaan buat Sascha. Dewa sengaja biar Sascha mencari tahu apa jawabannya. Sascha hanya mengedikkan bahunya tidak tahu kenapa bisa terjadi perselingkuhan.
"Susah juga mencari sebuah jawaban kalau sang pria selingkuh," celetuk Sascha.
"Jika kamu menikah hanya n*fsu saja maka pernikahanmu hanya sebentar. Jika kamu menikah dengan cinta yang tulus dan memiliki misi visi yang sama, papa jamin pernikahan kamu bisa awet selamanya," saran Gerre.
"Apakah mama dan papa sering bertengkar?" tanya Sascha lagi yang penasaran.
"Kami jarang bertengkar. Kami memiliki visi misi yang sama. Kita tidak akan pernah bertengkar satu sama lain. Jika kami bertengkar hanya sebentar. Saat bertengkar kami ingat janji suci ketika di altar menghadap pendeta dan juga Tuhan," jawab Gerre yang meraih ponselnya.
Sascha sangat bahagia mendapatkan papa yang penuh pengertian. Baru kali ini Sascha berbicara blak-blakan. Sedari dulu Sascha jarang curhat ke orang tua angkatnya. Sering sekali Sascha curhat kepada Dewa dan meminta solusi.
"Jika kamu merasa tidak enak hati pada suamimu. Kamu harus instrospeksi diri dulu. Redam semua emosi jangan dibakar. Kalau sudah dingin bicarakan baik-baik dimana letak kesalahannya. Dengan cara inilah kamu paham akan pernikahan," ucap Chloe yang memberikan wejangan penting di dalam pernikahan. "Kamu juga Dewa. Perempuan itu susah dimengerti. Maka kamu sebagai lelaki pahami Sascha. Jangan pernah menyerah jika Sascha ngambek. Carilah waktu yang pas agar tidak terjadi pertengkaran."
"Baik ma," balas Dewa yang mendengarkan wejangan dari Chloe.
Dewa bukan termasuk pria yang penuh emosi terhadap Sascha. Bahkan Dewa sangat sabar ketika Sascha sedang ngambek.
"Kalau ngambek lucu ma. Minta duit langsung hilang. Eh... Ketemunya di restoran sedang makan," celetuk Dewa terkekeh.
"Enggak beda jauh dari mamanya," ledek Gerre ke Chloe.
__ADS_1
"Untung saja aku nggak makan kamu," ucap Sascha yang beranjak dari duduknya.
Gerre hanya bisa menggaruk kepalanya tidak gatal. Bagaimana bisa Sascha mengatakan kalau ingin memakan Dewa. Bagi Gerre itu sangat aneh sekali. Kenapa tiba-tiba saja Gerre de Javu akan kalimat itu? Gerre memandang wajah istrinya sambil bertanya, "Bukannya mama dulu ingin memakan papa?"
Plak!
Chloe sengaja memukul Gerre karena malu. Ingin rasanya Chloe menerkam Gerre hidup-hidup saat ini. Chloe tidak habis pikir dengan Gerre, bisa-bisanya kalimat seperti itu dilontarkan di depan putrinya dan juga calon menantunya.
"Sepertinya mama sangat jujur sekali ketika ingin memakan papa," ledek Sascha.
Chloe memutar bola matanya dengan malas. Chloe juga tidak menyangka akan memakan Dewa hidup-hidup."
Kedua pria berbeda generasi langsung tertawa terbahak-bahak mendengar Chloe dan Sascha sedang mengoceh. Mereka ternyata sangat menggemaskan seperti boneka. Dewa sekarang baru mengetahuinya. Jika Sascha sering mengadaptasi bahasa dari Chloe.
"Kamu mau kemana?" tanya Gerre.
"Mau bobo pa. Sudah mengantuk," jawab Sascha yang melangkah pergi.
"Baiklah," balas Sascha sambil membalikkan badannya lalu melihat Chloe. "Ma... Temani aku tidur."
Chloe segera berdiri sambil mendekati Sascha. Lalu mereka langsung pergi ke atas dengan memakai lift. Sedangkan Gerre mengajak Dewa ke suatu tempat.
"Ikut papa ke taman belakang. Ada yang ingin papa bicarakan!" ajak Gerre ke Dewa.
Mereka akhirnya pergi ke taman belakang. Di sana mereka sedang mendiskusikan sesuatu tentang Sascha. Sebelum berbicara mereka akhirnya mengecek email masing-masing. Selesai mengecek email Dewa menatap wajah Gerre.
"Ada masalah di Indonesia," ucap Dewa.
"Pasti ini tentang Sascha," celetuk Gerre sedang menaruh ponselnya di meja.
"Iya. Fatin mengamuk di jalanan ketika ada debt colector mendatanginya," jawab Dewa yang menganalisi keadaan.
__ADS_1
"Beberapa bulan belakangan ini aku meminta kepada Eric untuk memberikan sedikit gaji ke Sascha. Sisanya aku simpan di ATM atas nama Sascha. Fatin sering meminta uang Sascha untuk membeli barang-barang mewah secara kredit. Lalu Fatin menyuruh Sascha untuk membayarnya dengan alasan lain. Dua bulan belakangan ini aku memotong jatah Sascha. Aku meminta Eric agar tidak memberikan ke keluarga Billi. Melalui Ericlah Sascha menurut. Aku sengaja memakai cara ini biar Sascha tahu siapa keluarga Billi sebenarnya," tambah Dewa.
Gerre paham dengan keadaan Sascha. Gerre tidak habis pikir kenapa Sascha mau dijadikan tumbal keluarga Billi? Gerre tidak rela dengan Sascha yang menderita karena ulah mereka.
"Apakah kamu sudah memecat Santi?" tanya Gerre.
"Aku sudah memecatnya. Aku enggak ingin merawat benalu dalam perusahaan," jawab Dewa.
"Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Gerre yang memberitahukan apa yang terjadi selanjutnya.
"Aku sudah tahu. Cepat atau lambat Santi akan melakukan playing victim," jawab Dewa.
"Jangan lupakan Risa," ujar Gerre yang memperingatkan Dewa.
"Aku tidak akan lupa itu," sahut Dewa. "Kemungkinan besar aku meminta papa dan mama stay di Indonesia untuk beberapa tahun ke depan."
"Jika orang tua kamu disana. Bisa jadi mereka tidak bisa berkutik untuk sementara waktu. Kamu bisa tenang untuk sekolah," saran Gerre. "Besok pagi ajak Sascha ke tempat Matias."
Mata Dewa membulat sempurna mendengar nama Matias. Dewa menggelengkan kepalanya sambil bertanya, "Apakah ilmuwan gila itu masih hidup pa?"
Plakkkkkkkkkkk!
Sebuah tangan besar mendarat ke lengan Dewa. Gerre sangat kesal terhadap Dewa karena mendoakan kaki tangan bagian bawah tanah meninggal.
"Memangnya kamu pikir Matias sudah mati?" tanya Gerre dengan kesal.
"Aku kira sudah mati," jawab Dewa. "Yang aku dengar paman Matias mati tertembak saat penyerangan itu."
"Apakah kamu tahu peristiwa itu?" tanya Gerre yang mengerutkan keningnya.
"Aku mendengar penyerangan terhadap markas papa beberapa tahun yang lalu," jawab Dewa. "Bahkan Paman Matias meninggal saat penyerangan terjadi."
__ADS_1
"Yang mati itu musuh bukan Matias. Saat penyerangan terjadi Matias berada di tempat lain. Aku memang membuat spekulasi atas kematian Matias agar mengecoh musuh," jelas Gerre yang sengaja mengecoh musuh.