
"Jalan satu-satunya adalah... Biarkan aku menjadi co pilot. Aku tidak akan membiarkan Dewa lepas dari pantauan kita. Mau tidak mau kita harus bekerja sama dan menyusun rencana yang epic," jawab Leo yang menutup laptopnya sambil meraih kertas dan pulpen di tasnya.
Leo langsung meminta kami memantau radar milik pesawat Sascha. Sedangkan Kobe mengurus lalu lintas penerbangan. Mau tidak mau ia harus berurusan dari beberapa negara yang dilewati oleh pesawat Sascha. Mereka pun akhirnya setuju. Dan langsung lakukan petualangan untuk mengejar pesawat Sascha.
Di pesawat lainnya lagi. Gerre mulai menarik rambut pirangnya itu. Ia tidak menyangka kalau pihak lawan sudah melakukan aksi serangan. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Lebih baik dirinya memilih diam dan menenangkan hatinya.
Sedangkan Chloe terdiam setelah mendapatkan berita itu. Untung saja pilot aslinya sudah menghubungi Gerre. Ternyata pilot aslinya itu masih berada di bandara kota Tokyo. Jika tidak menghubunginya, kemungkinan besar mereka akan kehilangan jejak Sascha.
Suasana mencekam di dalam pesawat. Chloe memilih mundur dan tidak bicara. Namun dirinya masih dalam tahap komunikasi bersama sang putri. Ia ingin mendengar pesan-pesan itu dan tidak mau kehilangan sang putrinya.
Rasanya Chloe Dejavu. Beberapa tahun yang lalu, Chloe mengingat kalau Sang Putri menghilang. Akan tetapi Chloe membuang rasa itu. Lalu dirinya berdoa agar Sang Putri selamat sampai tujuan.
Jakarta Indonesia.
Devan yang sedang selesai melaksanakan meeting langsung mendapatkan pesan. Lalu Devan membaca pesan itu sambil menggeram. Dengan cepat Devan masuk ke kantor dan memantau keadaan sang menantunya itu.
"Kok jadi begini hasilnya? Makanya semenjak kemarin hatiku tidak enak. Inikah yang disebut ada tali ikatan batin antara aku Dengan menantuku itu," tanya Devan dalam hati.
Teringat pada sahabat lamanya yang bernama Ichida. Lalu Devan meraih ponselnya dan menghubungi Ichida. Hari ini Devan mendapatkan keberuntungan yang lebih. Ichida sangkawan lamanya langsung mengangkat ponselnya itu. Mereka saling mengobrol sebentar.
Lalu Devan meminta Ichida untuk mengawal pesawat menantunya itu. Dengan senang hati Ichida langsung menyanggupinya. Kemudian Devan mengepalkan kedua tangannya. Ia akan menunggu kabar dari lainnya.
New York city.
__ADS_1
Damar yang selesai menyusun rencana akhirnya tertawa iblis. Pesawat yang ditumpangi oleh Gerre dibajak habis-habisan. Namun Damar tidak mengetahuinya. Di dalam pesawat itu ada Sascha dan juga Dewa. Mau tidak mau Damar harus menelan kekecewaannya.
Beberapa saat kemudian. Ponsel Damar berdering. Lalu Damar mengangkatnya dan mendapatkan sebuah berita. Bahwa yang di dalam pesawat itu bukanlah keluarga Atmaja. Orang yang berada di seberang sana bercerita tentang suasana di dalam pesawat itu.
Sontak saja Damar terkejut. Bagaimana bisa Gerre lepas dari tangannya? Seharusnya Gerre mati di dalam pesawat tersebut.
"Ini tidak bisa dibiarkan. Rencana satu gagal total. Kenapa Gerre memakai pesawat lainnya?"
Jujur Damar tidak bisa memprediksi Apa yang akan terjadi selanjutnya. Damar mengakui kalau Gerre memiliki otak yang sangat licik dan licin seperti belut.
Setelah melakukan kesalahan, Damar terus-terusan mengusap wajahnya. Jujur dirinya mengaku stress menghadapi ini semuanya. Namun Damar tidak mengakui kalau Gerre memiliki kekuatan lebih dari biasanya.
Di dalam pesawat, Sascha mengambil air mineral di tasnya. Kemudian Dewa mendekatinya sambil tersenyum, "Ternyata kamu membawa botol ini."
"Sudah tahu nanya. Aku memang sengaja mau beli botol itu karena bentuknya unik. Ditambah lagi botol itu seperti memiliki ciri khas sendiri," ucap Sascha secara blak-blakan.
"Maaf saya masih kenyang untuk makan. Tinggalkan saya sendiri," jawab Dewa sambil memerintahkan pengawal itu pergi dari hadapannya.
Dengan berat hati pramugari itu meninggalkan Dewa. Setitik rasa dari pramugari tersebut. Diam-diam pramugari itu mengawasi Dewa. Ia sangat menyukai Dewa karena ketampanannya. Namun dirinya tidak berani jujur Karena ada Sascha. Akan tetapi insting Sascha sangat kuat sekali.
Sascha diam-diam sudah menandai pramugari tersebut. Ia tidak akan lengah sedikitpun. Jika lengah maka Dewa bisa dibawa pramugari itu.
Setelah keluar dari toilet, Sascha mendekati dan menghempaskan bokongnya di samping Dewa. Tak lama Sascha mendapatkan pesan dari Devan. Sebentar lagi pesawatnya akan dikawal oleh beberapa pesawat militer. Sungguh sangat lega hati Sascha.
__ADS_1
Ditambah lagi Devan memberitahukan kalau pesawat militer itu memintanya turun. Ia berharap tidak akan terjadi apa-apa. Karena masalahnya di sini para pramugari itu menaruh curiga. Terpaksa Sascha terdiam sementara.
"Kamu kok diam saja dari tadi?" tanya Dewa.
''Lebih baik kamu baca pesanku. Kakak kan mengerti apa yang akan terjadi setelah ini," jawab Sascha.
Dewa pun akhirnya membuka pesan itu. Lalu Dewa membaca banyaknya pesan yang masuk. Namun matanya tertuju pada pesan dari Sascha. Ia dengan cepat menyunggingkan senyumnya. Tak lama Sascha melihat beberapa jet tempur yang berada di sampingnya. Lalu Sascha menatap Dewa agar melakukan sesuatu.
Dewa pun paham dengan tatapan Sascha. Dewa akhirnya mengambil sebuah airsoft gun di belakang punggungnya. Dewa memberikannya kepada saja sambil berpesan, "Hati-hatilah. Cepat atau lambat. Salah satu dari mereka akan menyerang kita dari dalam. Pesawat militer itu akan mengawal kita pada waktu pendaratan mendadak."
Sascha akhirnya menganggukkan kepalanya dan meraih senjata itu. Lalu senjata itu disimpan di balik jaketnya. Semakin lama Sascha menatap pesawat tempur itu semakin banyak.
Namun beberapa pramugari itu langsung bergerak. Mereka mendekati Dewa sambil menodongkan senjatanya. Dengan cepat Sascha langsung menendang tangan pramugari itu. Hingga senjata yang digunakan oleh pramugari itu jatuh ke bawah.
Akhirnya Sascha dengan cepat membanting pramugari itu hingga berteriak kesakitan. Kemudian beberapa pramugari lainnya langsung menyerang Sascha. Tidak memiliki rasa takut apapun, Sascha mengeluarkan ilmu bela dirinya.
Kaki jenjangnya itu bisa menendang wajah sang lawan dalam hitungan detik. Lalu tangan Sascha menarik tangan pramugari itu dan membantingnya. Semakin lama Sascha semakin beringas. Dewa yang melihat pertengkaran itu hanya bisa menghembuskan nafasnya secara lembut. Untung saja saat itu Dewa pernah mengajari teknik beladiri yang cukup sulit sekali. Akhirnya ilmu bela diri itu pun terpakai juga.
Bugh!
Satu pukulan mendarat di wajah pramugari lainnya. Hingga pramugari itu memuntahkan darahnya. Namun pramugari itu tidak pernah gentar sama sekali. Ia mencoba melawan Sascha lagi. Kemudian Sascha mulai akting lemah. Ia tahu kalau pramugari itu sangat kuat sekali. Di saat berakting lemah, Sascha mencari kelemahannya. Dengan satu kali tatapan, Sascha mengerti di mana kelemahannya itu.
Di saat tubuh mungilnya terbanting, Sascha akhirnya menendang punggung pramugari itu dengan posisi berbaring. Dewa yang sengaja melihatnya hanya bisa meringis. Dalam diam ia sangat bangga kepada istrinya itu. Untung saja Dewa memiliki seorang istri yang mendapatkan julukan rubah kecil itu.
__ADS_1
Bugh!!!!
Argh!!!!