
"Aku sepakat sama Kak Dewa untuk memotongnya sebesar lima puluh persen,'' jawab Sascha yang sebenarnya tidak tega melihat keadaan mereka.
"Papa saranin kamu memotongnya sebesar tiga puluh persen saja. Biar bagaimanapun juga mereka ingin membahagiakan keluarganya. Kamu tahu hidup di negara biayanya tinggi. Belum lagi ini itu... jadinya membengkak. Apalagi istrinya Theodore yang dimana memerlukan biaya tidak sedikit. Jika kamu memotongnya sebesar tiga puluh persen saja, maka kamu akan mendapatkan gantinya yang lebih besar. Entah dari mana kita enggak tahu,'' jelas Gerre yang membuat sebuah pesan untuk Sascha agar bermurah hati.
"Iya ya... kenapa aku kejam begini? Seluruh aset yang dimiliki oleh mereka sudah aku sita untuk membayar kerugian perusahaan DT Groups. Jika aku memotongnya sebesar lima puluh persen mereka makan apa? Aku tahu Rosita juga diam-diam membantu pengobatan kanker kakak iparnya itu,'' ujar Sascha.
"Pikirkanlah. Jangan mentang-mentang dia musuh kamu seenaknya memperlakukan dengan semena-mena,'' ujar Gerre.
''Bagaimana dengan Kak Dewa?" tanya Sascha.
'Itu terserah kamu. Kalau aku mengambil kesimpulan disini benar apa kata papa,'' kata Dewa yang membenarkan ucapan Gerre.
Satu kata buat Sascha sedih. Runtuh juga keangkuhan Sascha yang tadi seperti tembok beton yang tebal. Seharusnya Sascha tidak mengambil keputusan secepat ini. Seharusnya Sascha mempertimbangkan secara matang. Gadis itu menyesal apa yang dilakukannya dan merutuki kebodohannya.
"Kalau begitu baiklah,'' jawab Sascha.
"Bagaimana selanjutnya?" tanya Gerre.
"Aku akan berdiskusi dengan papa Devan untuk menentukan nasib kedua perusahaan tersebut. Aku tidak akan duduk di kursi CEO. Karena aku belum mampu memimpin kedua perusahaan itu,'' jawab Sascha.
"Kenapa kamu membicarakan kepada Devan?" tanya Gerre. "Kamu tahukan kalau perusahaan itu sebentar lagi akan dipegang oleh Dewa?" tanya Gerre.
"Sascha benar apa yang dikatakannya. Aku juga ingin mendiskusikan masalah ini ke papa. Jika di sini selamanya maka aku akan memingta seluruh tokoh pindah ke sini semuanya. Dan kemungkinan besar D'Stars aku kembalikan lagi ke kakek. Aku enggak mungkin memegang tiga perusahaan sekaligus. Ditambah papa akan pensiun dan menetap tinggal di Bali,'' jelas Dewa.
"Jika kakak pindah ke sini otomatis AA Groups akan membangun perusahaan di sini sebagai pusatnya?" tanya Sascha.
"Ya... kamu benar. Aku tidak mungkin memisahkannya. Biarkan AA Groups berkembang menjadi besar di sini. Aku sudah melihat pangsa pasarnya dan itu cukup menarik,'' jawab Dewa. "Bagaimana menurut kamu?"
"Aku hanya ikut saja apa kata kakak. Aku tidak ingin membantah keputusan kakak,'' jawab Sascha.
"Seharusnya kamu membantah keputusan Dewa jika ada yang salah. Jangan biarkan dirimu diam. Toh nantinya juga kamu ikut bergabung pada perusahaan Dewa,'' pesan Gerre.
__ADS_1
"Ya... sebaiknya kita ambil jalan tengahnya dulu. KIta perbaiki dulu perusahaan DT Groups. Pelan-pelan kita akan membangunnya kembali,'' ujar Sascha. "Apakah kakak ingin memboyong semua pegawai AA Groups?"
"Sepertinya iya. Karena aku sudah memiliki tim terbaik saat ini. Mereka memberikan kontribusi untuk perusahaan. Jika tidak membawanya aku yang akan kesulitan. Tapi enggak sekarang. Kita harus memikirkannya,'' jawab Dewa.
"Baiklah,'' balas Sascha "Apakah kakak disini?"
"Apakah kamu mau ikut ke apartemen?" tanya Dewa.
"Pergilah bersenang-senang bersama Dewa. Mama dan papa akan pulang ke Jerman malam ini. Jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa menghubungi Mark. Oh... ya... kita akan bertemu kembali dua hari sebelum menikah,'' ucap Gerre.
"Aku akan ke Indonesia bersama Kak Dewa,'' jawab Sascha.
"Cepatlah pulang. Jangan kemana-mana,'' pesan Gerre.
"Baik pa,'' balas Sascha.
Jakarta Indonesia.
Tara yang sudah sampai di rumah Dewa langsung memanggil Ian dan Leo. Tara sangat cemas dengan keadaan Dita. Namun ia belum sempat kesana. Tara akan menghubungi pengacara keluarga untuk mengurus kasus ini. Ia tidak akan membiarkan Santi keluar penjara secepatnya. Memang benar dengan pepatah tentang segalak-galaknya singa tidak akan pernah memakan anaknya. Pelatihan ini juga berlaku untuk Tara. Tara memang kejam sebagai perempuan. Akan tetapi jika dihadapkan dengan kedua anaknya yang sedang terkena musibah maka Tara akan menjadi singa betina. Apalagi sang tersangka adalah anak dari Firly dan Fatin. Yang dimana mereka dulu membuat Sascha menghilang dari keluarganya.
Beberapa saat kemudian datang Ian dan Leo. Mereka disambut oleh seorang wanita yang berusia muda. Wanita itu adalah seorang kepercayaan Tara.
"Selamat pagi sore tuan,'' sapa Cindy nama wanita itu.
Mata Leo membelalak sempurna ketika melihat Cindy yang menyambut mereka. Leo sungguh terkejut melihat wanita anggun itu. Kemudian Leo mulai menyapa Cindy dan berbasa-basi, "Hello Cindy Ling.''
Sontak saja Cindy terkejut dengan suara Leo. Cindy menatap wajah Leo yang penuh tanda tanya. Kemudian Cindy mulai memasang wajah datar sambil bertanya, "Tumben, kakak masih hidup!"
Jederrrrr!
Bagai petir di pagi yang mulai panas di Jakarta. Orang masih hidup malah didoakan meninggal. Aish... ada apa ini?
__ADS_1
"Kamu itu!" ucap Leo dengan datar. "Uang jajan kamu akan aku p;Otong selama tiga bulan ke depan.''
""Huaha... kakak jahat!" teriak Cindy yang langsung menabrakkan tubuhnya ke arah Leo.
Tara yang tidak sengaja melihat Cindy dan Leo hanya tersenyum manis. Tara mendekati mereka dan langsung menegur Cindy, "Cindy!"
Brough!
Cindy mendorong Leo hingga jatuh terjengkang. Mata Tara dan Ian membulat sempurna lalu tertawa terbahak-bahak. Entah kenapa jika mereka bertemu selalu berantem. Tapi apakah ada yang tahu kalau mereka mempunyai hubungan darah? Ya... mereka adalah adik kakak.
"kalian ini selalu saja berantem jika berantem,'' ucap Tara yang menggelengkan kepalanya.
Leo langsung berdiri dan mendekati Tara sambil tersenyum, "terima kasih ma... sudah mau menampung anak kecil ini.''
"Sama-sama,''balas Leo.
"Ada apa ma?" tanya Ian.
"Kamu kalau menemuiku selalu saja pake to the poin saja,'' kesal Tara.
Ian menyunggingkan senyumnya karena sudah jadi kebiasaan jika bertemu dengan ketua Black Tiger. Ian segera menghempaskan bokongnya lalu mengambil ponsel di saku jasnya.
"Bagaimana anakku Dita?" tanya Tara.
"Dita baik-baik saja ma. Untungnya luka di kepala tidak membuatnya gagar otak,'' jawab Ian.
"Kalau begitu syukurlah,'' ucap Tara dengan penuh rasa syukur. "Oh... ya bagaimana perkembangan dengan mereka?"
"Beberapa hari ini mereka tinggal di penjara. Aku harap mereka enggak keluar sama sekali. Mengingat mereka pernah membuat ulah dengan Sascha. Ditambah lagi mereka sering membuat Sascha terkena serangan mental,'' jawab Ian.
"Kamu sudah tahukan kisah keluarga Atmaja?" tanya Tara.
__ADS_1
"Ya... lima belas tahun mereka telah kehilangan Sascha,'' jawab Ian.
"Bisakah kamu menolongku?'' tanya Tara ke Ian.