Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Masalah Baru Lagi.


__ADS_3

"Ya aku akan melakukannya. Aku tidak ingin berlama-lama. Sebab masalah ini harus cepat selesai," jawab Sascha dengan serius.


"Rumah ini sudah tidak ada masalah lagi kan? Bagaimana bisa berangkat ke New York City?" tanya Dewa.


"Baiklah. Kita akan ke sana," jawab Leo.


"Kemana Tommy? Dari sore tadi aku nggak lihat sama sekali," tanya Ian.


"Tommy pergi ke Surabaya. Ia sedang melacak beberapa dana divisi yang hilang. Kami juga bekerjasama dengan Sascha untuk saat ini. Tapi Tommy sendiri tidak mengajak Sascha untuk ke sana," jawab Dewa.


"Masalah baru lagi?" tanya Bima.


"Memang. Tapi harus selesai hingga seminggu ke depan," jawab Dewa.


"Masalahnya enggak habis-habis. Apakah divisi keuangan sedang menggelembungkan dana?" tanya Ian.


"Ini masalah yang sedang aku cari. Besok aku harus turun tangan," ucap Sascha yang membuat Dewa menggelengkan tangannya.


"Kenapa enggak lusa saja? Jika lusa aku bisa mengantarkan kamu kesana," sahut Dewa.


"Kenapa enggak besok saja? Lagian semakin lama semakin baik," ujar Sascha yang mengerutkan keningnya.


"Mana bisa begitu? Lagian juga kamu ada tugas mengajak papamu jalan-jalan berkeliling sawah," ucap Dewa.


"Apa iya? seorang pengusaha sekelas Gerre Atmaja aku ajak bersafari ke taman dan sawah? Ini tidak mungkin. Apalagi Mama Chloe. Seorang artis dari Hollywood mainnya ke sawah?" tanya Sascha yang membuat semua tertawa terbahak-bahak.


"Kamu sendiri loh yang ngomong seperti itu. Kamu harus melakukannya. Jika tidak, maka kamu akan terkena sial," seru Bima.


"Aish... apa-apaan ini? Bisa-bisanya aku mengajaknya ke sawah? Nanti akan ada berita utama menghebohkan," kesal Sascha.


"Tapi lucu juga ya... kalau kamu mengajaknya ke sawah," ledek Ian.


"Ah... rasanya aku ingin menangis saja," keluh Sascha yang tidak mau martabat Mama papanya jatuh begitu saja.


"Kamu enggak bakalan membuat jatuh martabat mereka. Kamu Anya bisa membuat mereka mengerti," pinta Bima.


"Tubuh mereka sangat glowing sekali. Sementara tubuhku tidaklah glowing sama sekali. Aku sendiri bingung sama sekali," keluh Sascha lagi.

__ADS_1


"Kamu enggak usah glowing aku suka," celetuk Dewa yang membalut Sascha tersenyum.


"Benar apa yang dikatakan oleh Dewa. Kamu enggak usah glowing. Dari sananya sudah putih. Enggak usah pake pemutih. Memangnya baju yang harus glowing?" kesal Ian sangat menyukai wanita apa adanya.


"Oh... gitu ya kak. Ya sudah. Jangan salahkan aku jika diajak ke salon bersama Dita dan para mama," jelas Sascha.


"Aku tidak melarangmu ke salon. Yang aku larang adalah jika kamu berjalan dengan pria lain kecuali Papa Gerre," ketua Dewa yang kesal terhadap Sascha.


"Siapa lagi yang akan mengajak aku jalan? Pria lain tidak akan mau jalan wanita lain," kata Sascha.


'Kata siapa enggak mau jalan sama wanita lain? Buktinya kami yang mau," sahut Bima.


"Tapi apakah kalian merasa kalau Dewa sedang marah?" bisik Leo ke Bima.


"Kenapa juga enggak harus marah?" tanya Bima.


"Iyalah aku marah. Rambut istriku sering sekali dipegang sama pria lain ketika potong rambut," kesal Dewa yang tidak mau Sascha potong rambut.


"Alasanmu itu sangat membingungkan sekali. Bukankah cowok itu lebih bagus kalau potong rambut?" tanya Bryan sambil menatap wajah Sascha.


"Iya itu benar. Aku memang ingin potong rambut sama pria lain. Kenapa dia sewot? Padahal mereka sangat bagus sekali. Ketika sedang potong rambut," jawab Sascha dengan serius.


"Kamu itu sangat aneh sekali. Mana ada mereka tidak bengkok? Biarkan sajalah. Kamu itu sangat aneh sekali," ucap Sascha dengan Dewa.


Tiba-tiba saja Bima terbahak-bahak. Entah kenapa ia merasakan ada sesuatu tentang Dewa. Bima menatap Ian, Leo dan Bryan paham apa yang dimaksud oleh Bima. Hingga akhirnya Leo berkata, "Kamu harus tahu soal ini dech."


"Apa yang harus aku tahu?" tanya Sascha.


"Dewa takut berkenalan dengan pria belok. Dulu pernah dia dikejar-kejar sama mereka. Setelah itu ada salah satu dari mereka tertarik dan meminta nomor ponselnya. Lalu Dewa tidak mau memberikannya. Akhirnya dia dikejar-kejar oleh mereka hingga masuk ke kebun dan melintasi sungai kecil,". jelas Bryan.


'Kenapa asih kalian selalu mengingat kejadian memalukan seperti itu?" tanya Dewa kepada mereka.


"Perasaanku itu yang lucu. Aku tidak menyangka sekelas Dewa sang pangeran dari Nakata's Groups akhirnya kena sial," jawab Bima.


"Oh... yang itu. Aku tahu itu. Gara-gara dia aku disuruh menyusul. Yang membuat aku kesal saat itu ada waktu meeting bersama anak-anak divisi pemasaran AA Groups," ucap Sascha.


"Terus kamu kabur?" tanya Bima.

__ADS_1


'Ya... aku kabur. Aku memang sengaja menghentikan semuanya," jawab Sascha.


"Mau enggak aku kamu harus menyelamatkan aku. Kareena aku adalah pria langkah," ucap Dewa dengan penuh kesombongan.


"Benarkah itu? Memang sih kakak ini orangnya langkah banget. Dijual pun kagak laku," ejek Sascha yang membuat Dewa tersenyum manis.


"Aku memang sengaja enggak ingin dijual. Aku memang tercipta untukmu," kata Dewa dengan jujur.


"Jadi bagaimana kabar di Surabaya?" tanya Leo.


"Tunggu kabar dari Tommy. Aku memang sudah memeriksa. Tapi kok aneh ya? Apakah sistem perusahaan bagian Surabaya ganti?" tanya Sascha.


"Aku tidak pernah menggantinya. Jika ada waktu terganti akan ada pengumuman untuk selanjutnya," jelas Leo. "Mumpung ada aku. Biar aku cek semuanya."


"Ide bagus itu," sahut Sascha.


"Ya... sudah kalau begitu. Lebih baik kalian collabs terlebih dahulu. Aku juga merasakan ketika masuk ke dalam sistem perusahaan. Aku merasakan ada yang tidak beres untuk sistem ini," jelas Dewa.


'Kak Leo," panggil Sascha beranjak berdiri.


"Oke. Kita akan mengeceknya disini," sahut Leo.


Setelah itu Sascha pergi meninggalkan mereka. Mereka sangat penasaran sekali dengan sistem perusahaan di Surabaya. terutama pada Dewa. Dewa sangat berhak sekali mengecek semuanya.


"Kamu jangan cemburu sama aku," ucap Leo ke Dewa.


"Aku tidak cemburu sama kamu. Aku ingin mengetahui tentang sistem keamanan itu. Jujur saja, ketika ingin mengakses itu. Aku tidak bisa sama sekali,' jelas Dewa.


"Apakah kamu pernah mengotak-atik sistem keamanan di Surabaya?' tanya Ian.


"Aku tidak pernah melakukannya. Aku curiga sesuatu. Aku mencium ada satu kasus besar yang akan ditangani Tommy," kesal Leo. "Sepertinya kita akan stay disini beberapa hari ke depan. Jika kembali lagi ke New York, aku sudah tidak boleh kemana-mana. Ketika pernikahan digelar."


"Kenalan langsung nikah ya? Enak banget hidupmu seperti itu," ledek Ian.


"Sebenarnya dia bukan anak baru dalam ingatanku. Dia adalah teman masa kecilku dulu. Dia masih ingat aku dan kenangan-kenangan yang sudah tercipta sedari dulu. Aku juga begitu. Dia adalah gadis baik," puji Leo terhadap kekasihnya itu.


"Apakah aku mengenalnya?" tanya Dewa.

__ADS_1


"Tidak. Sascha kenal kok. bahkan Sascha sendiri tergabung dalam hacker yang sudah dibentuknya," jelas Leo.


"Kalau begitu aku tidak mengenalnya sama sekali," sahut Dewa. "Darimana Sascha mengenalnya?"


__ADS_2