Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Ketakutan Chloe.


__ADS_3

"Ya kalau kamu pergi ke Jakarta sendiri hidup kamu tidak aman," jawab Dewa.


"Jangan mikirin aku. Aku bisa sendiri. Aku juga bisa jaga diri," ucap Sascha.


"Bahaya masih mengintai. Sementara Damar menjadi buruan polisi. Cathy masih santai di luar sana. Aku memang sengaja memancing mereka. Agar mereka melakukan kejahatan lebih dan memberatkan hukuman. Jika semua bukti yang sudah lengkap dengan kejahatannya. Kemungkinan besar mereka tidak akan lepas dari penjara. Ditambah lagi mereka sudah kehilangan kepercayaan terhadap masyarakat," jelas Dewa.


"Kamu itu ada-ada saja bang," kesal Sascha.


"Lebih baik kita ke Jakarta hanya sebentar. Paling urusan Dita hanya sebentar. Setelah itu kita pergi ke sini lagi," jelas Dewa.


"KIta harus absen terlebih dahulu ke papa Gerre terlebih dahulu," ucap Sascha. "Sekalian aku ingin menjual pesawat aku."


"Ya itu terserah kamu," ujar Dewa yang menancapkan gasnya ke mansion Gerre.


Sementara di mansion, Gerre mendengar ulah Sascha yang membakar rumah Cathy. Ia ingin tertawa atau sedih untuk perasaan ini. Jujur ia sendiri bingung apa yang harus dilakukannya sekarang.


"ternyata putriku bukan sembarangan," celetuk Gerre yang sedang bersantai Chloe.


"Maksud kamu apa?" tanya Chloe yang mengerutkan keningnya.


"Aku baru saja mendapat telepon dari pengawalku. Kalau rumah Cathy terbakar hebat. Aku tanya siapa pelakunya? Sang pengawal itu menjawab, yang membakar rumah itu adalah Nona Sascha," jawab Gerre yang membuat Chloe terkejut dan menatap sang suami.


"Bagaimana bisa Sascha melakukannya?' tanya Chloe.


"Aku enggak tahu itu. Kemungkinan besar Sascha tidak puas mendapatkan jawaban dari Cathy. Jadi Sascha memilih mengamuk," jawab Gerre yang bingung dengan perasaannya.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Chloe.


"Ya... biarkan saja. Nggak perlu takut menghadapi Cathy. Putri kamu itu adalah seorang pemberani. Aku baru sadar kalau Putri kamu itu adalah seorang wanita yang benar-benar menjunjung tinggi rasa keadilan," jawab Gerre.


"Tapi ini sangat keterlaluan sekali. Bagaimana bisa Sascha melakukannya?' tanya Chloe yang masih bingung dengan ulah Sascha.


"Sascha sedang menuju ke sini untuk menjelaskan semuanya. Sekalian mau berpamitan kembali ke Jakarta untuk sementara waktu," jelas Gerre.


"Ngapain Sascha pergi ke Jakarta?' tanya Chloe.


"Ada masalah yang harus diselesaikan. Yaitu berhubungan Dita," jawab Gerre. "Kemungkinan juga mereka tidak akan lama."

__ADS_1


"Kalau begitu baiklah. Aku enggak apa-apa ditinggal lagi oleh Sascha. Aku sendiri ingin berduaan sama kamu," ucap Chloe sambil tersenyum manis.


Sesampainya di mansion Gerre. Sascha melangkahkan kakinya mencari keberadaan Gerre. Lalu Dewa mengikutinya sambil melihat foto semasa kecilnya dulu.


"Kemana mereka?" tanya Dewa yang membuat Sascha mengedikkan bahunya.


"Aku enggak tahu," jawab Sascha. "Rumah ini sangat besar sekali. Aku tidak tahu dimana mereka berada. Bahkan para pelayan kebingungan mencari mereka."


Tak lama Gerre keluar sambil membawa bir tanpa alkohol. Lalu pria paruh baya itu melihat Sascha dan Dewa sedang kebingungan. Ia lalu mendekati Sascha sambil merentangkan kedua tangannya.


"Sayangku," panggil Gerre.


Mata Sascha berbinar. Sasha melihat sang papa masih tampan. Lalu Sascha mendekatinya dan berhambur memeluk Gerre.


"Papa," panggil Sascha.


"Putriku," sahut Gerre sambil memeluk sang putri. "Kemana saja kamu? Apakah kamu baik-baik saja ketika terjadi penyerangan?"


"Iya pa. AKu baik-baik saja. Syukurlah semuanya selamat," jawab Sascha yang menghibur Gerre agar tidak bersedih.


Saat masuk Chloe tidak sengaja melihat wajah Sascha. Ia menahan air matanya tidak menetes. Wanita paruh baya itu berdiri langsung memeluk Sascha dan mengelus-elus punggung sang putri.


Begitu juga sebaliknya, Sascha juga mengelus-elus punggungnya Chloe berkali-kali. Berharap sang mama merasakan agar tidak sedih lagi.


Chloe bersyukur Sascha tidak terjadi apa-apa di dalam pesawat. Chloe bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan karena telah menyelamatkan hidup Sascha.


"Kamu mau makan apa?" tanya Chloe.


"Aku mau makan yang dimasak oleh pelayan," jawab Sascha yang bingung mau makan apa?


"Ya udah deh. Mama akan menyuruh pelayan untuk memasakkan makanan yang spesial buat kamu," ucap Chloe yang menyunggingkan senyumnya yang manis itu.


"Baik ma," balas Sascha.


"Kalau Dewa mau makan apa?" tanya Chloe.


"Terserah Mama saja. Mau masak apa? Aku tidak terlalu memfavoritkan makanan," jelas Dewa.

__ADS_1


Tiba-tiba saja dirinya bingung dengan jawaban anak dan menantunya itu, Memang benar adanya, kalau mereka memang tidak begitu sudah dengan makanan.


"Ceritakan pada papa. Apa yang terjadi dengan kamu dan Dewa?" tanya Gerre.


Kemudian Sascha menceritakan kronologi ketika pesawat sedang dibajak. Mulai dari awal berangkat dari Jepang. Lalu mereka mendarat ke Jerman.


Jujur saja Gerre sangat terkejut sekali mendengar cerita Sascha. Ada rasa ketakutan yang hadir di dalam jiwanya. Gerre langsung mengutuk siapa yang melakukan pembajakan pesawat di atas ketinggian 2000 kaki.


"Papa tahu itu siapa?' tanya Dewa.


"Papa enggak tahu itu siapa? Kemungkinan besar orang itu memiliki nyali besar untuk melawanku," jawab Gerre.


"Memang dia memiliki nyali besar. Seluruh orang yang tidak akan berani membajak pesawat di atas dua ribu kaki," jelas Dewa. "Yang melakukannya adalah Damar."


"Sudah aku duga. Hanya Damar yang bisa melakukannya. Setiap orang tidak bisa membajak pesawat. Kecuali mereka memiliki nyawa banyak," jelas Gerre.


"Kenapa kamu membakar rumah Cathy?" tanya Chloe yang baru saja datang.


"Aku memang sengaja membakar rumah itu. Karena rumah ditempati oleh Cathy bukan miliknya. Rumah itu adalah milik Dita. Jujur saat ke sana aku terkejut melihat bangunan klasik modern. Aku juga sering menginap di sana ketika ada tugas. Makanya aku hapal tata letak rumah itu," jelas Sascha.


"Ish... kamu ini," kesal Chloe. "Cepat atau lambat Cathy akan melaporkan dengan pasal tidak anarki."


"Itu tidak mungkin terjadi ma. Surat-surat yang berada di tangan Cathy semuanya palsu. Jika menuntut rumah itu tetap tidak bisa. Sang pemilik rumah akan menuntutnya balik. Ditambah lagi Cathy sering sekali memalsukan dokumen. Makanya itu Cathy tidak bisa ngapa-ngapain," jelas Dewa.


"kamu jangan lengah begitu. Cepat atau lambat mereka akan melakukan penyerangan satu persatu-persatu," jelas Gerre yang memperingatkan mereka supaya tidak lengah sedikitpun.


"Aku harus bagaimana?' tanya Sascha.


"Tenanglah. Kamu jangan panik seperti itu. Jika kamu ada urusan di Jakarta, kamu harus membereskan terlebih dahulu. Jika kamu tidak membereskannya, kemungkinan besar kamu tidak bisa berkonsentrasi menjalani tugas ini," tambah Gerre.


"Setelah menunggu kedatangan Papa Devan. Aku akan pergi ke sana," ucap Sascha.


"Kamu sendiri ke sana?" tanya Chloe.


"Aku bersama Kak Dewa," jawab Sascha yang membuat Chloe tenang.


"Kenapa Dewa juga ikut sama kamu?'' tanya Gerre yang kesal.

__ADS_1


__ADS_2