
Mereka
sangat terkejut dengan Sascha yang secara tiba-tiba menggeram. Bagaimana tidak?
menyeramkan sekali.
“Memang
parah tempat ini. Enggak ada pencahayaan lampu sedikitpun. Bahkan mereka hanya
memasang lampu kerlap-kerlip yang dayanya kecil. Bahkan yang lebih parahnya
lagi, lampu itu dipasang di dinding saja,” jelas Dewa yang juga geram kepada
sang ppemilik markas ini.
“Tapi
kalian harus berhati-hati. Agar kalian bisa selamat dari tempat ini.
Kemungkinan besar mereka sengaja menjebak seseorang dengan mudah,” ucap Dewa.
Dewa
membagi dua kelompok antara satu dengan lainnya. Sascha akn ikut dengan Dewa.
Sementara itu Timothy bersama Kobe. Hingga akhirnya mereka mereka berpisah.
“Aku
bersama Sascha menuju ke kanan. Dan kamu Timothy bersama Paman Kobe ke kiri. Jangan
lengah sedikitpun. Aku yakin mereka memasang ranjau tersembunyi,” jelas Dewa.
Mereka
menganggukan keppalanya tanda setuju. Mereka akhirnya berpisah dan menuju ke
tempat yang sudah ditentukan oleh Dewa.
Sascha
yang sengaja berjalan tidak menemukan keanehan apapun. Sascha hanya bisa
menghela nafasnya berkali-kali. Jujur saja tempat ini sangat penat sekali.
Tidak ada cahaya apapun maupun sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam.
Dewa
juga merasakana hal yang sama. Mereka merasakan uji nyali di dalam sebuah
ruangan. Bahkan Dewa hanya merasakan hawa tidak sedap sama sekali.
“Ah...
aku jadi ingat acara nyuli yang diadakan oleh Mas Kobe,” celetuk Sascha.
Dewa
hanya memilih untuk diam. Ia tahu kalau sang istri sedang memancing sang
pemilik markas ini. Ternyata tempat ini tidak berpenghuni. Bahkan tempat ini
sangat sepi sekali. Ketika sampai ujung lorong di sana, Sascha stidak sengaja
mendengar tangisan anak kecil yang cukup kencang. Ia terkejut apa yang
didengarnya itu. Ia segera menarik baju Dewa untuk berhenti sejenak.
“Ada
apa?” tanya Dewa sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang istri.
“Kakak
dengar enggak? Kalau ada anak kecil menangis?” tanya Sascha sambil melihat
wajah Dewa yang nampak serius.
“Iya
aku mendengarnya. Tapi aku sedang mencari keberadaannya. Tapi kenapa kok
suaranya sangat dekat sekali?” tanya Dewa sambil memancing insting Sascha.
“Ya...
aku mendengarnya. Barangkali ada di bagian kanan lorong ini?” tanya Sascha yang
ragu atas jawabannya sendiri.
__ADS_1
“Kalau
kamu mau menjawab dengan serius. Jangan pernah ragu. Jika ragu kami tidak akan
bisa mempercayai kamu. Matapkan jawaban kamu di dalam hati ini,” pesan Dewa
sambil menyentuh hati Sascha. “Kami juga butuh kepastian.”
“Aku
takut salah,” ucap Sascha.
“Kenapa
kamu takut salah? Biarkanlah semuanya mengalir apa adanya. Setelah ini kamu
harus percaya insting kamu,” ujar Dewa sambil tersenyum kepada Sascha.
Disinilah
Dewa sengaja ditugaskan oleh sang kakek untuk mengasah bakat dan insting dari
Sascha. Kakek Aoyama sudah melihat bakat dari Sascha. Bahkan bakatnya sudah
berkembang untuk menguasai dunia bawah tanah. Hanya butuh insting yang sangat
tajam agar Sascha bisa menguasainya.
“Ayo
ikut aku,” ajak Dewa sambil tersenyum manis.
Dewa
akhirnya memimpin perjalanan ini ke suatu tempat. Mereka berhasil melewati
tempat ini tanpa ada rintangan ataupun tantangan sekalipun. Selesai menempati
lorong, Dewa dan Sascha segera menuju ke arah kanan. Benar saja ada tangisan
anak kecil sedang mencari keberadaan sang ibu. Sascha mengerutkan keningnya
sambil memegang knop pintu.
“Kamu
lagi apa?” tanya Dewa sambil menghentikan langkahnya.
Mereka
sangat terkejut dengan Sascha yang secara tiba-tiba menggeram. Bagaimana tidak?
menyeramkan sekali.
“Memang
parah tempat ini. Enggak ada pencahayaan lampu sedikitpun. Bahkan mereka hanya
memasang lampu kerlap-kerlip yang dayanya kecil. Bahkan yang lebih parahnya
lagi, lampu itu dipasang di dinding saja,” jelas Dewa yang juga geram kepada
sang ppemilik markas ini.
“Tapi
kalian harus berhati-hati. Agar kalian bisa selamat dari tempat ini.
Kemungkinan besar mereka sengaja menjebak seseorang dengan mudah,” ucap Dewa.
Dewa
membagi dua kelompok antara satu dengan lainnya. Sascha akn ikut dengan Dewa.
Sementara itu Timothy bersama Kobe. Hingga akhirnya mereka mereka berpisah.
“Aku
bersama Sascha menuju ke kanan. Dan kamu Timothy bersama Paman Kobe ke kiri. Jangan
lengah sedikitpun. Aku yakin mereka memasang ranjau tersembunyi,” jelas Dewa.
Mereka
menganggukan keppalanya tanda setuju. Mereka akhirnya berpisah dan menuju ke
tempat yang sudah ditentukan oleh Dewa.
Sascha
yang sengaja berjalan tidak menemukan keanehan apapun. Sascha hanya bisa
__ADS_1
menghela nafasnya berkali-kali. Jujur saja tempat ini sangat penat sekali.
Tidak ada cahaya apapun maupun sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam.
Dewa
juga merasakana hal yang sama. Mereka merasakan uji nyali di dalam sebuah
ruangan. Bahkan Dewa hanya merasakan hawa tidak sedap sama sekali.
“Ah...
aku jadi ingat acara nyuli yang diadakan oleh Mas Kobe,” celetuk Sascha.
Dewa
hanya memilih untuk diam. Ia tahu kalau sang istri sedang memancing sang
pemilik markas ini. Ternyata tempat ini tidak berpenghuni. Bahkan tempat ini
sangat sepi sekali. Ketika sampai ujung lorong di sana, Sascha stidak sengaja
mendengar tangisan anak kecil yang cukup kencang. Ia terkejut apa yang
didengarnya itu. Ia segera menarik baju Dewa untuk berhenti sejenak.
“Ada
apa?” tanya Dewa sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang istri.
“Kakak
dengar enggak? Kalau ada anak kecil menangis?” tanya Sascha sambil melihat
wajah Dewa yang nampak serius.
“Iya
aku mendengarnya. Tapi aku sedang mencari keberadaannya. Tapi kenapa kok
suaranya sangat dekat sekali?” tanya Dewa sambil memancing insting Sascha.
“Ya...
aku mendengarnya. Barangkali ada di bagian kanan lorong ini?” tanya Sascha yang
ragu atas jawabannya sendiri.
“Kalau
kamu mau menjawab dengan serius. Jangan pernah ragu. Jika ragu kami tidak akan
bisa mempercayai kamu. Matapkan jawaban kamu di dalam hati ini,” pesan Dewa
sambil menyentuh hati Sascha. “Kami juga butuh kepastian.”
“Aku
takut salah,” ucap Sascha.
“Kenapa
kamu takut salah? Biarkanlah semuanya mengalir apa adanya. Setelah ini kamu
harus percaya insting kamu,” ujar Dewa sambil tersenyum kepada Sascha.
Disinilah
Dewa sengaja ditugaskan oleh sang kakek untuk mengasah bakat dan insting dari
Sascha. Kakek Aoyama sudah melihat bakat dari Sascha. Bahkan bakatnya sudah
berkembang untuk menguasai dunia bawah tanah. Hanya butuh insting yang sangat
tajam agar Sascha bisa menguasainya.
“Ayo
ikut aku,” ajak Dewa sambil tersenyum manis.
Dewa
akhirnya memimpin perjalanan ini ke suatu tempat. Mereka berhasil melewati
tempat ini tanpa ada rintangan ataupun tantangan sekalipun. Selesai menempati
lorong, Dewa dan Sascha segera menuju ke arah kanan. Benar saja ada tangisan
anak kecil sedang mencari keberadaan sang ibu. Sascha mengerutkan keningnya
sambil memegang knop pintu.
__ADS_1
“Kamu
lagi apa?” tanya Dewa sambil menghentikan langkahnya.