Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
TEMPAT YANG ANEH.


__ADS_3

Mereka


sangat terkejut dengan Sascha yang secara tiba-tiba menggeram. Bagaimana tidak?


menyeramkan sekali.


“Memang


parah tempat ini. Enggak ada pencahayaan lampu sedikitpun. Bahkan mereka hanya


memasang lampu kerlap-kerlip yang dayanya kecil. Bahkan yang lebih parahnya


lagi, lampu itu dipasang di dinding saja,” jelas Dewa yang juga geram kepada


sang ppemilik markas ini.


“Tapi


kalian harus berhati-hati. Agar kalian bisa selamat dari tempat ini.


Kemungkinan besar mereka sengaja menjebak seseorang dengan mudah,” ucap  Dewa.


Dewa


membagi dua kelompok antara satu dengan lainnya. Sascha akn ikut dengan Dewa.


Sementara itu Timothy bersama Kobe. Hingga akhirnya mereka mereka berpisah.


“Aku


bersama Sascha menuju ke kanan. Dan kamu Timothy bersama Paman Kobe ke kiri. Jangan


lengah sedikitpun. Aku yakin mereka memasang ranjau tersembunyi,” jelas Dewa.


Mereka


menganggukan keppalanya tanda setuju. Mereka akhirnya berpisah dan menuju ke


tempat yang sudah ditentukan oleh Dewa.


Sascha


yang sengaja berjalan tidak menemukan keanehan apapun. Sascha hanya bisa


menghela nafasnya berkali-kali. Jujur saja tempat ini sangat penat sekali.


Tidak ada cahaya apapun maupun sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam.


Dewa


juga merasakana hal yang sama. Mereka merasakan uji nyali di dalam sebuah


ruangan. Bahkan Dewa hanya merasakan hawa tidak sedap sama sekali.


“Ah...


aku jadi ingat acara nyuli yang diadakan oleh Mas Kobe,” celetuk Sascha.


Dewa


hanya memilih untuk diam. Ia tahu kalau sang istri sedang memancing sang


pemilik markas ini. Ternyata tempat ini tidak berpenghuni. Bahkan tempat ini


sangat sepi sekali. Ketika sampai ujung lorong di sana, Sascha stidak sengaja


mendengar tangisan anak kecil yang cukup kencang. Ia terkejut apa yang


didengarnya itu. Ia segera menarik baju Dewa untuk berhenti sejenak.


“Ada


apa?” tanya Dewa sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang istri.


“Kakak


dengar enggak? Kalau ada anak kecil menangis?” tanya Sascha sambil melihat


wajah Dewa yang nampak serius.


“Iya


aku mendengarnya. Tapi aku sedang mencari keberadaannya. Tapi kenapa kok


suaranya sangat dekat sekali?” tanya Dewa sambil memancing insting Sascha.


“Ya...


aku mendengarnya. Barangkali ada di bagian kanan lorong ini?” tanya Sascha yang


ragu atas jawabannya sendiri.

__ADS_1


“Kalau


kamu mau menjawab dengan serius. Jangan pernah ragu. Jika ragu kami tidak akan


bisa mempercayai kamu. Matapkan jawaban kamu di dalam hati ini,” pesan Dewa


sambil menyentuh hati Sascha. “Kami juga butuh kepastian.”


“Aku


takut salah,” ucap Sascha.


“Kenapa


kamu takut salah? Biarkanlah semuanya mengalir apa adanya. Setelah ini kamu


harus percaya insting kamu,” ujar Dewa sambil tersenyum kepada Sascha.


Disinilah


Dewa sengaja ditugaskan oleh sang kakek untuk mengasah bakat dan insting dari


Sascha. Kakek Aoyama sudah melihat bakat dari Sascha. Bahkan bakatnya sudah


berkembang untuk menguasai dunia bawah tanah. Hanya butuh insting yang sangat


tajam agar Sascha bisa menguasainya.


“Ayo


ikut aku,” ajak Dewa sambil tersenyum manis.


Dewa


akhirnya memimpin perjalanan ini ke suatu tempat. Mereka berhasil melewati


tempat ini tanpa ada rintangan ataupun tantangan sekalipun. Selesai menempati


lorong, Dewa dan Sascha segera menuju ke arah kanan. Benar saja ada tangisan


anak kecil sedang mencari keberadaan sang ibu. Sascha mengerutkan keningnya


sambil memegang knop pintu.


“Kamu


lagi apa?” tanya Dewa sambil menghentikan langkahnya.


Mereka


sangat terkejut dengan Sascha yang secara tiba-tiba menggeram. Bagaimana tidak?


menyeramkan sekali.


“Memang


parah tempat ini. Enggak ada pencahayaan lampu sedikitpun. Bahkan mereka hanya


memasang lampu kerlap-kerlip yang dayanya kecil. Bahkan yang lebih parahnya


lagi, lampu itu dipasang di dinding saja,” jelas Dewa yang juga geram kepada


sang ppemilik markas ini.


“Tapi


kalian harus berhati-hati. Agar kalian bisa selamat dari tempat ini.


Kemungkinan besar mereka sengaja menjebak seseorang dengan mudah,” ucap  Dewa.


Dewa


membagi dua kelompok antara satu dengan lainnya. Sascha akn ikut dengan Dewa.


Sementara itu Timothy bersama Kobe. Hingga akhirnya mereka mereka berpisah.


“Aku


bersama Sascha menuju ke kanan. Dan kamu Timothy bersama Paman Kobe ke kiri. Jangan


lengah sedikitpun. Aku yakin mereka memasang ranjau tersembunyi,” jelas Dewa.


Mereka


menganggukan keppalanya tanda setuju. Mereka akhirnya berpisah dan menuju ke


tempat yang sudah ditentukan oleh Dewa.


Sascha


yang sengaja berjalan tidak menemukan keanehan apapun. Sascha hanya bisa

__ADS_1


menghela nafasnya berkali-kali. Jujur saja tempat ini sangat penat sekali.


Tidak ada cahaya apapun maupun sinar matahari tidak bisa masuk ke dalam.


Dewa


juga merasakana hal yang sama. Mereka merasakan uji nyali di dalam sebuah


ruangan. Bahkan Dewa hanya merasakan hawa tidak sedap sama sekali.


“Ah...


aku jadi ingat acara nyuli yang diadakan oleh Mas Kobe,” celetuk Sascha.


Dewa


hanya memilih untuk diam. Ia tahu kalau sang istri sedang memancing sang


pemilik markas ini. Ternyata tempat ini tidak berpenghuni. Bahkan tempat ini


sangat sepi sekali. Ketika sampai ujung lorong di sana, Sascha stidak sengaja


mendengar tangisan anak kecil yang cukup kencang. Ia terkejut apa yang


didengarnya itu. Ia segera menarik baju Dewa untuk berhenti sejenak.


“Ada


apa?” tanya Dewa sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang istri.


“Kakak


dengar enggak? Kalau ada anak kecil menangis?” tanya Sascha sambil melihat


wajah Dewa yang nampak serius.


“Iya


aku mendengarnya. Tapi aku sedang mencari keberadaannya. Tapi kenapa kok


suaranya sangat dekat sekali?” tanya Dewa sambil memancing insting Sascha.


“Ya...


aku mendengarnya. Barangkali ada di bagian kanan lorong ini?” tanya Sascha yang


ragu atas jawabannya sendiri.


“Kalau


kamu mau menjawab dengan serius. Jangan pernah ragu. Jika ragu kami tidak akan


bisa mempercayai kamu. Matapkan jawaban kamu di dalam hati ini,” pesan Dewa


sambil menyentuh hati Sascha. “Kami juga butuh kepastian.”


“Aku


takut salah,” ucap Sascha.


“Kenapa


kamu takut salah? Biarkanlah semuanya mengalir apa adanya. Setelah ini kamu


harus percaya insting kamu,” ujar Dewa sambil tersenyum kepada Sascha.


Disinilah


Dewa sengaja ditugaskan oleh sang kakek untuk mengasah bakat dan insting dari


Sascha. Kakek Aoyama sudah melihat bakat dari Sascha. Bahkan bakatnya sudah


berkembang untuk menguasai dunia bawah tanah. Hanya butuh insting yang sangat


tajam agar Sascha bisa menguasainya.


“Ayo


ikut aku,” ajak Dewa sambil tersenyum manis.


Dewa


akhirnya memimpin perjalanan ini ke suatu tempat. Mereka berhasil melewati


tempat ini tanpa ada rintangan ataupun tantangan sekalipun. Selesai menempati


lorong, Dewa dan Sascha segera menuju ke arah kanan. Benar saja ada tangisan


anak kecil sedang mencari keberadaan sang ibu. Sascha mengerutkan keningnya


sambil memegang knop pintu.

__ADS_1


“Kamu


lagi apa?” tanya Dewa sambil menghentikan langkahnya.


__ADS_2