Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KESETIAAN KAKEK AOYAMA.


__ADS_3

Risa


akhirnya berkata sendiri dan bertanya sendiri. Hatinya mulai menyusun rencana


demi rencana untuk mendapatkan uang sepeser tanpa harus bekerja. Padahal


dirinya ketika bekerja di kantornya Jaya, Risa bisa meraup keuntungan besar.


Tanpa


bermodalkan otak dan pemikiran yang dikeluarkan, Risa sengaja merayu para


klien-klien yang suka pergi ke klub malam. Ia hanya melemparkan senyuman yang


khas sambil bertanya, berapa ronde yang dibutuhkan? Pria tersebut langsung


menjawab sekenanya.


Ada


beberapa klien yang tidak mau diajak bekerja sama soal itu. Mereka langsung


menolaknya dengan mentah-mentah. Karena mereka lebih memilih menghormati


martabat keluarganya. Akhirnya Risa memilih memakai cara kasar. Yaitu


mengirimkan beberapa foto editan ke keluarganya masing-masing. Alhasil mereka


mengamuk dan mengadu kepada Jaya. Mau tidak mau Jaya bekerja keras untuk


mencari beberapa bukti. Setelah itu Jaya sengaja memecat dan menarik semua


fasilitas mewahnya.


“Ya...


rumah itu dan segala fasilitas yang dimiliki mereka adalah milikku. Aku harus


mencari cara agar mereka menyerahkan semuanya kepadaku. Jika tidak aku akan


memakai cara kekerasan sekalipun. Apalagi cara membunuh sekalipun akan aku


lakukan,” batin Risa.


Risa


segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam sambil melihat beberapa penjaga.


Dengan santainya Risa memasang wajah angkuh dan sombong. Lalu para penjaga


langsung menghela nafasnya secara kasar. Mereka sudah mengetahui tabiat Risa


seperti itu.


Saat


masuk ke dalam rumah mewah milik keluarganya, Risa melihat Melly dan Anggoro.


Mereka adalah orangtua kandung Risa. Mereka lalu menatap wajah Risa sambil


menggelengkan kepalanya.


“Kenapa


pulang?” tanya Melly.


“Apakah


kamu sudah ingat rumah?” tanya Anggoro.


“Aku


rindu kalian,” jawab Risa yang berpura-pura sedih.


“Cih...


pake sedih segala. Aku tahu kamu hanya berpura-pura mencari simpati kepada


kami,” ejek Melly.


“Aish...


mama,” kesal Risa.


“Ada apa


memangnya?’ tanya Anggoro.


“Aku


butuh tempat tinggal. Seluruh fasilitas yang sudah aku miliki ditarik oleh Jaya,”


jawab Risa dengan jujur.


“Rasakan


itu!” geram Melly.


“Kok


mama bicara seperti itu?” tanya Risa.


“Kamu


itu!” bentak Melly. “Mama sudah nawarin agar kamu mau masuk ke Nakata’s Groups.


Kenapa kamu enggak mau?”


Mendengar


nama Nakata’s Groups, mata Risa membulat sempurna. Ia tersenyum karena


mengetahui kalau Nakata’s Groups adalah perusahaan besar yang sedang berada di


atas angin. Risa langsung menganggukan kepalanya sambil berseru, “Oke ma... aku

__ADS_1


mau kerja di sana.”


“Tapi


kamu harus membantu mama untuk menaklukan perusahaan tersebut,” pinta Melly.


“Memangnya


ada apa ya?” tanya Risa.


“Mama


enggak akan cerita terlebih dahulu. Sekarang kamu bersihkan terlebih dahulu


tubuh kamu itu dan istirahat sana,” jawab Melly yang menyuruh Risa


beristirahat.


Risa


segera naik ke atas dan hatinya berteriak kegirangan. Ia akan melanglang buana


ke negeri orang dengan misi yang sudah diberikan oleh kedua orangtuanya itu.


Sedangkan mereka tersenyum iblis sambil berbahagia karena mau menjalankan


sebuah misi penting.


“Gimana


ma?” tanya Anggoro.


“Baguslah.


Mama jadi senang. Cepat atau lambat Aoyama akan merasakan kekejaman kita! Enak


saja mereka memecat kita!” jawab Melly yang tertawa terbahak-bahak.


Di dalam


perjalanan Sascha merasakan ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan


kata-kata. Pikirannya melayang entah kemana. Ia menatap sesuatu ke arah Dewa


sambil menghela nafasnya.


“Ada


apa?” tanya Dewa. “Apakah kamu hamil?”


Mata


Sascha membulat sempurna. Ia memukul lengan Dewa sambil berkata, “Kamu kok


sekarang pikirannya ke sana?


“Karena


aku sangat menginginkan seorang Dewa Kecil,” jawab Dewa tersenyum manis.


ucap Sascha. “Kok perasaanku enggak enak ya?”


“Maksudnya


apa?” tanya Dewa balik.


“Aku


rindu pada kakek Aoyama,” jawab Sascha.


“Kamu


ingin ke sana?’ tanya Dewa.


“Memangnya


boleh ya?” tanya Sascha dengan jujur.


“Boleh


saja. Tidak ada yang melarang,” jawab Dewa.


“Aku


merasa ada sesuatu pada kakek,” ucap Sascha dengan sendu.


“Terus,


kamu maunya apa?” tanya Dewa.


“Aku


maunya kakek hidup di sini bersama kita,” jawab Sascha.


“Oh...


aku paham maksud kamu,” ujar Dewa.


“Apakah


kakek mau tinggal di sini?” tanya Sascha.


“Aku


enggak tahu. Kamu tahukan sifat keras kepala kakek gimana? Aku dulu pernah


meminta kakek tinggal di Amerika, kakek langsung menolak mentah-mentah. Padahal


di sana kami sudah memberikan banyak fasilitas mulai dari kecil hingga besar.


Katanya kakek lebih memilih tinggal di Jepang,” jawab Dewa.


“Lalu,


kenapa kakek enggak mau tinggal bersama kita?” tanya Sascha.

__ADS_1


“Kakek


selamanya akan tinggal di Jepang. Karena di sana kakek tidak mau meninggalkan


makam nenek. Kami pernah memaksanya tinggal di Singapura. Tapi kakek malah


jatuh sakit. Mau tidak mau kami mengembalikan kakek ke Jepang,” jawab Dewa yang


penuh perasaan.


“Jadi


kakek tipe pria yang setia?” tanya Sascha.


“Ya...


bahkan kakek dinobatkan sebagai pria yang memiliki satu istri dan tidak pernah


membuat skandal apapun di kantor,” jawab Dewa yang membuat Sascha tersenyum.


“Aku


sangat bahagia bisa mendengar cerita kakek yang sangat setia pada pasangannya,”


puji Sascha kepada Kakek Aoyama.


“Akupun


juga sama. Aku juga ingin setia memiliki seorang satu istri hingga akhir


hayatku. Jika aku nakal kamu boleh menghentikan kenakalanku. Karena setiap


kesuksesan pria berada di tangan istrinya. Bahkan sang istri berhak menegur


sang suami,” pinta Dewa yang membuat Sascha menganggukan kepalanya.


“Apakah


kakak enggak marah sama aku?” tanya Sascha yang ragu akan keputusan sang suami.


“Tidak.


Keputusan itu sangat tepat sekali,” jawab Dewa. “Apakah kamu mau pergi ke


apartemen?”


“Sudah


enggak,” jawab Sascha. “Aku harus menyelesaikan pelaku utama yang mencuri uang


tersebut.”


“Aish...


itu orang kurang ajar sekali. Bisa-bisanya mencuri uang. Belum tahu siapa


asisten keuangan yang bisa dikatakan sangat kejam ini,” ucap Dewa yang tidak sengaja


menyindir Sascha.


“Sepertinya


aku terkena sindiran pedas dari Tuan Dewa,” ujar Sascha yang tidak marah sama


sekali.


“Memang


kenyataanya kan?’ tanya Dewa.


“Iya...


itu kenyataannya. Aku sendiri  memang


sengaja membuat diriku kejam sedikit.Agar mereka tidak mau terjerat hukum


karena kasus penggelapan dana perusahaan,” jawab Sascha.


“Memang


itu benar,” ujar Dewa yang menginginkan para karyawannya jujur dalam mengelola


keuangan perusahaan.


Sesampainya


di loby, mereka secara serempak memarkirkan mobilnya. Mereka akhirnya  turun dari mobil dengan gaya elegan dan


mengangkat kepalanya dengan lurus ke depan. Beberapa karyawan datang langsung


memberikan jalan agar mereka masuk ke dalam.


Dewi


yang baru saja sampai kantor melihat para petinggi perusahaan sedang berjalan.


Matanya membulat sempurna ketika melihat Sascha berjalan bersama para petinggi


perusahaan. Ia menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang


dilihatnya.


“Itukan


Sascha kan?” tanya Dewi ke karyawan lainnya yang berada di sampingnya.


“Iya,”


jawab Mawar. “Oh... iya... lain kali jangan sekali-sekali memanggoil namanya


Sascha. Kamu harus memanggilnya Ibu Sascha!”


“Kenapa


aku harus memanggil Sascha dengan sebutan ibu?” tanya Dewi. “Apa hebatnya

__ADS_1


Sascha?”


__ADS_2