
Risa
akhirnya berkata sendiri dan bertanya sendiri. Hatinya mulai menyusun rencana
demi rencana untuk mendapatkan uang sepeser tanpa harus bekerja. Padahal
dirinya ketika bekerja di kantornya Jaya, Risa bisa meraup keuntungan besar.
Tanpa
bermodalkan otak dan pemikiran yang dikeluarkan, Risa sengaja merayu para
klien-klien yang suka pergi ke klub malam. Ia hanya melemparkan senyuman yang
khas sambil bertanya, berapa ronde yang dibutuhkan? Pria tersebut langsung
menjawab sekenanya.
Ada
beberapa klien yang tidak mau diajak bekerja sama soal itu. Mereka langsung
menolaknya dengan mentah-mentah. Karena mereka lebih memilih menghormati
martabat keluarganya. Akhirnya Risa memilih memakai cara kasar. Yaitu
mengirimkan beberapa foto editan ke keluarganya masing-masing. Alhasil mereka
mengamuk dan mengadu kepada Jaya. Mau tidak mau Jaya bekerja keras untuk
mencari beberapa bukti. Setelah itu Jaya sengaja memecat dan menarik semua
fasilitas mewahnya.
“Ya...
rumah itu dan segala fasilitas yang dimiliki mereka adalah milikku. Aku harus
mencari cara agar mereka menyerahkan semuanya kepadaku. Jika tidak aku akan
memakai cara kekerasan sekalipun. Apalagi cara membunuh sekalipun akan aku
lakukan,” batin Risa.
Risa
segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam sambil melihat beberapa penjaga.
Dengan santainya Risa memasang wajah angkuh dan sombong. Lalu para penjaga
langsung menghela nafasnya secara kasar. Mereka sudah mengetahui tabiat Risa
seperti itu.
Saat
masuk ke dalam rumah mewah milik keluarganya, Risa melihat Melly dan Anggoro.
Mereka adalah orangtua kandung Risa. Mereka lalu menatap wajah Risa sambil
menggelengkan kepalanya.
“Kenapa
pulang?” tanya Melly.
“Apakah
kamu sudah ingat rumah?” tanya Anggoro.
“Aku
rindu kalian,” jawab Risa yang berpura-pura sedih.
“Cih...
pake sedih segala. Aku tahu kamu hanya berpura-pura mencari simpati kepada
kami,” ejek Melly.
“Aish...
mama,” kesal Risa.
“Ada apa
memangnya?’ tanya Anggoro.
“Aku
butuh tempat tinggal. Seluruh fasilitas yang sudah aku miliki ditarik oleh Jaya,”
jawab Risa dengan jujur.
“Rasakan
itu!” geram Melly.
“Kok
mama bicara seperti itu?” tanya Risa.
“Kamu
itu!” bentak Melly. “Mama sudah nawarin agar kamu mau masuk ke Nakata’s Groups.
Kenapa kamu enggak mau?”
Mendengar
nama Nakata’s Groups, mata Risa membulat sempurna. Ia tersenyum karena
mengetahui kalau Nakata’s Groups adalah perusahaan besar yang sedang berada di
atas angin. Risa langsung menganggukan kepalanya sambil berseru, “Oke ma... aku
__ADS_1
mau kerja di sana.”
“Tapi
kamu harus membantu mama untuk menaklukan perusahaan tersebut,” pinta Melly.
“Memangnya
ada apa ya?” tanya Risa.
“Mama
enggak akan cerita terlebih dahulu. Sekarang kamu bersihkan terlebih dahulu
tubuh kamu itu dan istirahat sana,” jawab Melly yang menyuruh Risa
beristirahat.
Risa
segera naik ke atas dan hatinya berteriak kegirangan. Ia akan melanglang buana
ke negeri orang dengan misi yang sudah diberikan oleh kedua orangtuanya itu.
Sedangkan mereka tersenyum iblis sambil berbahagia karena mau menjalankan
sebuah misi penting.
“Gimana
ma?” tanya Anggoro.
“Baguslah.
Mama jadi senang. Cepat atau lambat Aoyama akan merasakan kekejaman kita! Enak
saja mereka memecat kita!” jawab Melly yang tertawa terbahak-bahak.
Di dalam
perjalanan Sascha merasakan ada sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan
kata-kata. Pikirannya melayang entah kemana. Ia menatap sesuatu ke arah Dewa
sambil menghela nafasnya.
“Ada
apa?” tanya Dewa. “Apakah kamu hamil?”
Mata
Sascha membulat sempurna. Ia memukul lengan Dewa sambil berkata, “Kamu kok
sekarang pikirannya ke sana?
“Karena
aku sangat menginginkan seorang Dewa Kecil,” jawab Dewa tersenyum manis.
ucap Sascha. “Kok perasaanku enggak enak ya?”
“Maksudnya
apa?” tanya Dewa balik.
“Aku
rindu pada kakek Aoyama,” jawab Sascha.
“Kamu
ingin ke sana?’ tanya Dewa.
“Memangnya
boleh ya?” tanya Sascha dengan jujur.
“Boleh
saja. Tidak ada yang melarang,” jawab Dewa.
“Aku
merasa ada sesuatu pada kakek,” ucap Sascha dengan sendu.
“Terus,
kamu maunya apa?” tanya Dewa.
“Aku
maunya kakek hidup di sini bersama kita,” jawab Sascha.
“Oh...
aku paham maksud kamu,” ujar Dewa.
“Apakah
kakek mau tinggal di sini?” tanya Sascha.
“Aku
enggak tahu. Kamu tahukan sifat keras kepala kakek gimana? Aku dulu pernah
meminta kakek tinggal di Amerika, kakek langsung menolak mentah-mentah. Padahal
di sana kami sudah memberikan banyak fasilitas mulai dari kecil hingga besar.
Katanya kakek lebih memilih tinggal di Jepang,” jawab Dewa.
“Lalu,
kenapa kakek enggak mau tinggal bersama kita?” tanya Sascha.
__ADS_1
“Kakek
selamanya akan tinggal di Jepang. Karena di sana kakek tidak mau meninggalkan
makam nenek. Kami pernah memaksanya tinggal di Singapura. Tapi kakek malah
jatuh sakit. Mau tidak mau kami mengembalikan kakek ke Jepang,” jawab Dewa yang
penuh perasaan.
“Jadi
kakek tipe pria yang setia?” tanya Sascha.
“Ya...
bahkan kakek dinobatkan sebagai pria yang memiliki satu istri dan tidak pernah
membuat skandal apapun di kantor,” jawab Dewa yang membuat Sascha tersenyum.
“Aku
sangat bahagia bisa mendengar cerita kakek yang sangat setia pada pasangannya,”
puji Sascha kepada Kakek Aoyama.
“Akupun
juga sama. Aku juga ingin setia memiliki seorang satu istri hingga akhir
hayatku. Jika aku nakal kamu boleh menghentikan kenakalanku. Karena setiap
kesuksesan pria berada di tangan istrinya. Bahkan sang istri berhak menegur
sang suami,” pinta Dewa yang membuat Sascha menganggukan kepalanya.
“Apakah
kakak enggak marah sama aku?” tanya Sascha yang ragu akan keputusan sang suami.
“Tidak.
Keputusan itu sangat tepat sekali,” jawab Dewa. “Apakah kamu mau pergi ke
apartemen?”
“Sudah
enggak,” jawab Sascha. “Aku harus menyelesaikan pelaku utama yang mencuri uang
tersebut.”
“Aish...
itu orang kurang ajar sekali. Bisa-bisanya mencuri uang. Belum tahu siapa
asisten keuangan yang bisa dikatakan sangat kejam ini,” ucap Dewa yang tidak sengaja
menyindir Sascha.
“Sepertinya
aku terkena sindiran pedas dari Tuan Dewa,” ujar Sascha yang tidak marah sama
sekali.
“Memang
kenyataanya kan?’ tanya Dewa.
“Iya...
itu kenyataannya. Aku sendiri memang
sengaja membuat diriku kejam sedikit.Agar mereka tidak mau terjerat hukum
karena kasus penggelapan dana perusahaan,” jawab Sascha.
“Memang
itu benar,” ujar Dewa yang menginginkan para karyawannya jujur dalam mengelola
keuangan perusahaan.
Sesampainya
di loby, mereka secara serempak memarkirkan mobilnya. Mereka akhirnya turun dari mobil dengan gaya elegan dan
mengangkat kepalanya dengan lurus ke depan. Beberapa karyawan datang langsung
memberikan jalan agar mereka masuk ke dalam.
Dewi
yang baru saja sampai kantor melihat para petinggi perusahaan sedang berjalan.
Matanya membulat sempurna ketika melihat Sascha berjalan bersama para petinggi
perusahaan. Ia menggelengkan kepalanya karena tidak percaya dengan apa yang
dilihatnya.
“Itukan
Sascha kan?” tanya Dewi ke karyawan lainnya yang berada di sampingnya.
“Iya,”
jawab Mawar. “Oh... iya... lain kali jangan sekali-sekali memanggoil namanya
Sascha. Kamu harus memanggilnya Ibu Sascha!”
“Kenapa
aku harus memanggil Sascha dengan sebutan ibu?” tanya Dewi. “Apa hebatnya
__ADS_1
Sascha?”