Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PERINTAH SASCHA.


__ADS_3

Sesampainya di mansion Atmaja, Dewa memarkirkan mobilnya. Ia merasakan ada sesuatu yang mengikutinya. Lalu pria bertubuh kekar itu memandang wajah Sascha.


"Perasaan kita berangkat satu mobil. Terus kenapa kita pulang banyak mobil ya?" tanya Dewa sambil memberikan kode untuk sang istri.


"Kakak benar juga. Kenapa tidak terpikirkan olehku? Sebenarnya mereka itu siapa? Bisa-bisanya mengikuti kita sampai ke mansion. Aku sudah lama tidak berperang sama orang-orang seperti itu," jawab Sascha.


Sudah tidak asing lagi bila Sascha ingin menyatakan perang. Wanita itu sangat berani sekali. Sangking beraninya tidak ada orang yang bisa menghalaunya. Sascha akhirnya keluar dari mobil. Ia melihat tidak ada penjagaan dari pengawal.


"Berarti selama ini mansion papa nggak pernah dijaga sama orang. Bagaimana jika ada orang yang tiba-tiba masuk dan menyerang? Jujur kalau kayak begini lebih baik aku akan menyewa orang dari bidang militer untuk menjaga di depan saja," jelas Sascha.


"Meskipun tidak ada orang. Tempat ini sudah dilindungi oleh sinar infrared. Tapi sinar itu tidak menunjukkan keberadaannya," ucap Dewa.


"Bagaimana bisa sinar tidak bisa menunjukkan kehadirannya?" tanya Sascha yang masih bingung.


"Papa memang sengaja menyamarkan sinar itu dari orang yang berlalu lalang masuk ke sini. Sinar itu bisa membaca informasi dari orang-orang tersebut. Meskipun di dalam mobil sinar tersebut masih bisa mendeteksi musuh. Itulah kehebatan sinar infrared milik papa. Ya bisa dikatakan papa memang sengaja melakukannya. Agar papa bisa mendeteksi musuh masuk ke dalam. Meskipun musuh itu memakai berbagai cara trik untuk menghabisi para penghuni di sini," jawab Dewa yang membuat Sascha penasaran.


"Lalu di mana para penjaga aslinya? Aku ingin orang sungguhan," tanya Sascha lagi.


"Tenang saja. Orang-orang itu sengaja bersembunyi. Mereka bersembunyi di suatu tempat. Bisa dikatakan mereka itu memiliki waktu santai yang banyak. Tapi jangan kamu kira mereka tidak bekerja. Semua ponselnya sudah tersambung ke sinar infrared itu. Jika ada orang yang masuk ke sini. Orang itu tidak akan selamat. Karena orang-orang tersebut adalah orang jahat," jawab Dewa yang mengetahui di mana mereka berada.

__ADS_1


"Kasihan ya sang musuh. Aku akan keluar dari sini untuk melihat beberapa orang yang bergerombol. Perasaan kita datang kok pulang bawa orang. Aku curiga sama orang-orang itu. Firasat ku mengatakan kalau orang-orang tersebut adalah suruhan Cathy," ucap Sascha yang dibenarkan oleh Dewa.


"Kamu benar. Kamu tadi sibuk bermain ponsel. Jadi kamu tidak tahu kapan mereka muncul secara tiba-tiba. Kalau aku membawa mobil sambil menatap kaca spion. Mereka mulai mengejar ketika keluar dari rumah Cathy," ujar Dewa.


"Wah... Aku sangka orang itu terkena mental. Tapi nyatanya dia memiliki nyali dan main di belakangku. Rasanya aku ingin ke sana dan meratakan rumah itu. Jangan salahkan aku jika itu terjadi. Dan kamu Dewa... Jangan pernah menghentikan aku sama sekali! Jika kamu menghentikan aku! Kemungkinan besar aku tidak akan memberikanmu jatah selama tiga bulan depan!" ujar Sascha yang tidak main-main oleh perkataannya sendiri.


Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Dewa. Ia langsung mengangkat tangan dan menatap sendu. Jika dirinya menghalangi sang istri. Ia tidak akan mendapatkan jatah selama tiga bulan ke depan. Mau tidak mau Dewa pun menyetujui apa permintaan sang istri.


Beberapa mobil sudah terparkir indah di depan mansion Atmaja. Mereka sedang menunggu keberadaan Gerre. Namun Gerre tidak kunjung keluar. Mereka masih menunggu sambil menatap mansion itu.


"Lebih baik kamu hubungi Cathy untuk menarik seluruh pasukannya. Jika tidak aku akan merasakan rumahnya!" titah Sascha.


Terpaksa Dewa menghubungi Cathy. Setelah telepon itu tersambung, ia memberikan ponsel tersebut ke Sascha. Mereka akhirnya berdebat dan tidak mau mengalah. Cathy masih kekeh untuk mempertahankan perusahaan itu. Sedangkan Sascha tertawa terbahak-bahak. Jujur wanita tua itu berharap jika Livi menjadi sang CEO.


Sang kepala pengawal yang dibawa oleh Dewa akhirnya setuju. Setelah mendapatkan perintah mereka langsung menuju ke rumah Cathy. Lalu bagaimana pengawal di depan itu? Dewa hanya terkekeh dan memandang mereka. Dewa menganalisis kemampuan mereka. Namun Dewa tidak tertarik untuk mengajaknya bertarung. Kenapa bisa demikian? Karena Dewa sangat jago sekali melihat seseorang dari skill. Tanpa menyentuh pun Dewa paham. Kalau orang-orang itu tidak berguna sama sekali.


"Apakah kamu yakin bisa menghajar mereka?" tanya Dewa.


"Aku selalu yakin. Mereka adalah orang-orang yang nggak berguna sama sekali," jawab Sascha.

__ADS_1


Dewa mempersilakan sang istri untuk bertarung lebih dahulu. Dewa melipat kedua tangannya di dada sambil menatap mereka. Lalu Dewa memutuskan untuk memulai pertandingan.


"Mainnya keroyokan aja. Kalau satu lawan satu itu tidak enak," pinta Sascha.


"Terserah kamu. Aku hanya menganalisis mereka. Mereka tidak memiliki skill apapun. Kamu harus mengajarnya pakai teknik yang sering dilaksanakan oleh Bima ditambah dengan Leo. Aku yakin kedua teknik itu jika digabungkan mereka kalah telak," saran Dewa.


Sascha menganggukkan kepalanya sambil mencari kelemahan. Lalu wanita itu mengacungkan jari tengahnya ke arah mereka. Otomatis mereka terpancing dan menyerang Sascha.


Dengan cepat Sascha menggabungkan teknik yang sudah dikatakan oleh Dewa. Memang Sascha mengakui kalau kedua pria itu memiliki beladiri yang cukup mumpuni.


Pertempuran itu pun terjadi. Sascha akhirnya menghajar mereka satu persatu. Meskipun mereka mainnya keroyokan. Sascha mengeluarkan seluruh tenaganya dan memberikan pukulan yang tepat berada di jantung. Mereka yang tidak kuat langsung terkapar. Sedangkan yang lainnya tetap menyerang Sascha. Mereka sangat kesulitan sekali menangkap Sascha. Bisa-bisanya mereka mengatakan kalau Sascha sangat curang sekali. Mereka tidak terima dan terbakar api untuk menghajar wanita itu.


Dewa? Memang ini Dewa tidak ada matinya. Ia masih berdiri tegak sambil mengevaluasi beladiri Sascha. Jujur Dewa kagum terhadap sang istri. Semakin lama sang istri memiliki perkembangan yang signifikan dalam ilmu bela diri. Jarang ada seorang wanita yang benar-benar belajar dengan serius.


Awalnya Sascha hanya ingin belajar ilmu bela diri untuk melindungi dirinya sendiri. Lama-lama dirinya sepakat kepada Dewa belajar lebih dalam. Dewa akhirnya memutuskan yang mengajarkan Sascha adalah Bima dan Leo. Bukan berarti yang lainnya tidak bisa mempelajari ilmu bela diri. Justru mereka memakai ilmu bela diri sangat kasar dan tidak memiliki pedoman. Bisa dikatakan mereka mempunyai jiwa yang liar. Ketika menghajar musuh. Itulah kenapa Dewa memilih kedua orang itu. Dewa tidak mau Sascha terluka dalam. Namun apa daya justru inilah membuat sang istri memiliki jiwa petarung.


"Bener-bener deh Leo dan Bima sudah memberikan ilmu bela diri yang sangat gila. Rasanya aku ingin menangis jika melihat istriku seperti ini," keluh Dewa.


Selesainya bertarung Sascha melihat mereka yang sudah terkapar. Rasanya Sascha lega. Kemudian beberapa para pengawal datang. Dewa langsung menyuruhnya untuk membersihkan mereka.

__ADS_1


"Kirim semua ke Cathy!" perintah Dewa.


"Baik tuan," balas mereka.


__ADS_2