
"Kak Dewa," panggil Sascha yang berhenti sejenak.
"Ada apa memangnya?" tanya Dewa yang juga ikutan berhenti sambil membalikkan tubuhnya dan memandang wajah sang istri.
"Bisa nggak kakak mengizinkan aku ketemu dengan Cathy?" tanya Sascha balik.
"Kamu ingin ketemu dia?" tanya Dewa yang mendekati sang istri.
"Iya Kak," jawab Sascha.
"Sepertinya kok Aku ragu ya?" tanya Dewa.
"Kakak nggak tahu ya istilah rubah kecil yang masih melekat pada tubuhku ini?" bisik Sascha.
"Iya deh kalau begitu. Nanti aku akan mencarikannya," ucap Dewa.
"Tidak perlu mencari alamat Cathy. Aku sendiri sudah menemukannya melalui GPS," ujar Sascha yang membuat Dewa menggelengkan kepalanya.
Mau tidak mau Dewa akhirnya menuruti keinginan Sascha. Memang nyali Sascha sangat besar sekali. Apalagi setelah tahu Cathy bekerjasama dengan Fatin saat menculiknya, Sascha tidak segan-segan ingin menghajarnya satu persatu. Namun dirinya sangat apes sekali. Karena Sascha melawan ibu-ibu.
"Kalau begitu kita pulang dulu saja ke mansion kamu. Jika kamu tidak pulang. Nanti dicariin papa," ajak Dewa yang menarik tangan Sascha.
"Kalau kakak nggak mau ikut aku ya sudah nggak apa-apa. Aku masih bisa ke sana kok. Jujur saja aku sudah tidak bisa menahan amarahku lagi kalau dibiarkan terus mereka akan menyerang kita secara beruntun. Kakak tahu kan kalau aku bisa menjadi mata-mata dalam waktu sekejap? Kalau nggak tahu ya sudahlah," kata Sascha sangat jujur sekali. "Apalagi Mereka ingin membunuh papaku sendiri. Aku tidak akan membiarkannya mereka hidup. Besok aku akan ke perusahaan dan merombak habis-habisan siapa saja yang bekerja sama dengan Cathy."
Mata Dewa membelalak sempurna. Bagaimana bisa sang istri langsung melangkahkan kakinya sudah sangat jauh sekali? Dewa hanya bisa menatap Sascha sambil berkata, "Ternyata nyalimu sangat besar juga. Kalau begitu lakukanlah semuanya."
__ADS_1
"Harusnya begitu. Kenapa juga kita tidak melakukannya? Ditambah lagi orang-orang seperti Cathy itu semuanya penjilat. mau tidak mau aku akan memaksa Papa menyerahkan kursinya buat aku sendiri. Kakak hanya diam dan memberikan masukan-masukan saja. Semuanya itu terserah aku," pinta Sascha yang sebenarnya sudah sangat geram sekali dengan ulah Cathy dan Damar.
Terpaksa Dewa mengalah dan membiarkan Sasha berkembang. Jujur Dewa mengakui kecerdasan saja di atas rata-rata. Ditambah lagi Sascha sudah menjadi wanita yang sangat kuat sekali. Ia tidak mungkin akan menjadi lemah seperti dulu.
Sebentar lagi Sascha akan melawan mereka semuanya. Mau tidak mau Dewa harus mengikutinya dari belakang. Dewa akan melihat taktiknya Sascha bagaimana? Bagaimana dengan kabar Gerrs dan Chloe? Apakah setuju jika Sascha menduduki kursi itu tanpa harus belajar lagi?
Selama ini Gerre sudah melihat potensi saja. Cepat atau lambat Gerre akan memberikan kursi itu. Memang Sascha sangat pantas sekali menjadi pewaris utama Khans Company. Apalagi di darahnya Sascha mengalir darah bisnis. Inilah yang membuat Sascha menjadi seorang wanita yang sangat sukses sekali.
Di tempat lain Gerre yang sedang duduk sangat merindukan putrinya itu. Gerre berharap tidak akan terjadi apa-apa setelah ini. Namun hatinya menjadi sangat gelisah. Karena baru saja dirinya menerima sebuah pesan dari seseorang.
Isi pesan tersebut.
"Jika kamu tidak mau melepaskan perusahaan itu. Maka seluruh asetmu akan disita oleh bank. Seluruh perusahaanmu akan tutup semuanya."
Beberapa saat kemudian datang Chloe sambil membawa sarapan pagi. Wanita paruh baya itu pun menaruh sarapan itu di hadapan Gerre. Lalu Chloe tidak sengaja menatap wajah sang suami yang berubah menjadi iblis.
"Kamu kenapa?" tanya Chloe.
"Ada yang mengancamku pada pagi-pagi ini. Ancaman itu dikirimkan melalui pesan yang isinya, jika aku tidak akan melepaskan perusahaan kita. Maka pihak bank akan menutup seluruh perusahaan. Ditambah lagi seluruh aset perusahaan akan disita oleh bank," jawab Gerre.
"Sasa sudah sampai ke sini. Lebih baik kamu kirimkan saja pesan itu kepadanya. Kamu tahu Putri kita tidak akan tinggal diam karena perusahaannya sedang dikuasai oleh wanita gila itu. Aku takut jika saja akan berbuat onar," ucap Chloe.
Mendengar ucapan Chloe, Gerre berubah menjadi bahagia. Entah kenapa dirinya lupa dengan dua kata yaitu rubah kecil. Yang di mana rubah kecil itu sudah tersemat di dalam jiwa Sascha.
"Rasanya... Aku akan menggembleng Sascha hingga mendapatkan apa yang diinginkannya. Aku yakin Sascha mampu melawan mereka," kata Sascha dengan semangat.
__ADS_1
"Rasanya aku salah ngomong sama kamu. Bukannya kamu melindunginya malah mengajaknya melawan mereka.Bagaimana perasaanmu saat ini Jika anakmu harus melawan mereka?" tanya Chloe dengan kesal.
"Tenang saja. Kamu nggak tahu siapa Sascha sebenarnya. Aku sudah menyelidikinya dari sebelum aku bertemu hingga detik ini. Sascha itu seperti diriku. Yang memiliki jiwa pemberontak. Meskipun bawaannya kalem tapi jiwanya itu yang membuat semua orang segan kepadanya. Bahkan Dewa sendiri sangat kagum kepadanya."
"Ya memang. Tapi kan Putri kita seorang perempuan. Kita nggak akan mungkin melemparkannya demi melawan bahaya sebesar itu. Aku takut kejadian yang lalu terulang lagi. Kejadian yang di mana putriku menghilang tanpa jejak."
"Tenang saja. Tidak akan mungkin itu terjadi. Cepat atau lambat putrimu itu harus mau melawan orang-orang yang memiliki sifat serakah."
"Jujur aku masih trauma soal itu. Andai saja kejadian itu tidak terjadi. Kemungkinan besar rasa trauma aku tidak akan seperti ini," ucap Chloe sambil menghempaskan bokongnya duduk di hadapan Gerre.
"Jangan membuat perasaan yang aneh-aneh seperti itu. Dulu memang Sascha masih sangat kecil. Sekarang anak kita menjelma menjadi putri yang sangat kuat sekali. Kamu jangan terlalu trauma seperti itu. Kamu itu diciptakan untuk menjadi wanita strong. Aku yakin kamu bisa melakukannya. Jangan terlalu takut untuk menghadapi masalah ini."
"Takut sih enggak. Mimpi buruk itu selalu menggangguku. Yang lebih parahnya lagi, Cathy ingin sekali membunuh Sascha."
"Kamu itu. Tidak akan pernah. Jika dia membunuh Putri kita. Kita tidak akan marah sama sekali. Malah yang marah itu adalah Dewa. Dewa lah orang yang tidak ingin melihat istrinya dibunuh secara brutal sama mereka."
"Benarkah itu?" tanya Chloe dengan sendu.
"Itu benar. Kamu jangan terlalu khawatir soal itu. Yang penting kamu banyak-banyak berdoa agar kita bisa menyelesaikan masalah ini," jawab Gerre yang membuat Chloe mulai tersenyum manis.
"Rasanya aku sudah tidak sabar lagi bertemu dengan Sascha," ucap Chloe.
"Bersabarlah. Jarak antara Mansion ini ke bandara membutuhkan waktu perjalanan satu setengah jam. Jadi kamu harus bersabar menunggunya," ujar Gerre.
Syukurlah, Chloe mendapatkan pencerahan dari Gerre. Jujur sebagai ibu ia sangat takut sekali. Trauma masa lalu terkadang masih menghantuinya. Terlebih lagi jika Cathy akan melakukan penculikan untuk kedua kalinya.
__ADS_1