Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
BERTEMU DEWI


__ADS_3

"Kamu mau tahu hebatnya Bu Sascha bagaimana?" tanya mawar.


"Aku tidak perlu tahu. Karena yang namanya Sascha itu adalah anak orang miskin!" bentak Dewi.


"Jangan pernah mengatakan kalau bu Sascha itu adalah anak orang miskin. Nanti para petinggi perusahaan ini akan marah. Kamu tahu kan yang namanya Pak Tommy itu. Dia adalah orang terkejam di perusahaan ini. Jika kamu macam-macam sama namanya Bu Sascha Jangan harap kami akan menolongmu. Karena bu Sascha memiliki segudang prestasi di perusahaan ini. Jika kamu ingin dekat mereka, kamu harus bisa menunjukkan skill kamu di depan mereka. Jangan asal menor saja di kantor. Tapi otaknya nol," sindir Mawar yang tidak menyukai Dewi.


"Cih… cari muka lu! Bisa-bisanya lu membela yang namanya Bu Sascha. Emangnya lu siapa? Di perusahaan ini nggak boleh ada yang berani dengan gue! Kalau ada yang berani sama gue, gue nggak segan-segan akan menghajar lu. Bahkan temen-temen lu yang membela Sascha sialan itu akan menerima akibatnya. Lu tunggu aja kelanjutannya nanti. Kalau nggak percaya tunggu aja," ancam Dewi dengan serius. 


Tak sengaja Sasha sedang lewat mendengar mawar sedang diancam. Ia tidak terima kalau karyawan 1 mengancam karyawan lainnya. Terpaksa Tasya mendekatinya sambil memandang wajah Dewi.


"Kamu boleh mengejekku apa aja! Kamu boleh menghinaku! Kamu boleh memakiku! Tapi jangan sekali-sekali kamu menghina teman-teman saya!" Ancam saja dengan suara datar namun mematikan.


Dewi hanya tertawa mengejek dan menatap Sasha. Ia segera mengangkat tangannya lalu mendaratkan ke pipi Sasha. Sebelum mendarat dengan sempurna, tangan Dewi segera dipegang oleh Tommy. Dengan suara lantangnya Tomi memperingatkan Dewi di depan anak-anak.


Setelah itu Tommy membubarkan kerumunan aksi massal tersebut. Pria yang bertubuh kurus itu hanya bisa menghembuskan nafasnya secara kasar. Jujur saja dirinya tidak mau melihat karyawan dan karyawati melakukan aksi bullying.


Namun sebelum pergi saya memanggil mawar untuk ikut dengannya. Mereka pergi dari ruangan itu dan menuju ke ruangan khusus yang berada di lantai atas. 


Selama perjalanan menuju ke sana, mawar merasakan jantungnya berdetak kencang. Jujur saja mawar sangat takut ketika saya sedang marah. Akan tetapi saya tidak akan marah sama sekali. Iya hanya meminta keterangan tentang hilangnya uang 3 miliar tersebut. Sasa tahu kalau Mawar adalah seorang karyawan yang penuh dengan dedikasi kejujuran tinggi.


Sesampainya di ruangan tersebut saja meminta mawar duduk dengan tenang. Ia segera menghempaskan bokongnya di hadapan mawar dengan anggun.


"Mawar," panggil saja.


"Iya Bu, ada apa ya?" Tanya mawar.


"Begini. Selama saya tinggal ada sesuatu yang mencurigakan tidak?" Tanya saja kepada mawar.

__ADS_1


"Bolehkah saya bercerita sesuatu? Tapi Ibu jagain saya ya," jawab mawar.


"Memangnya ada apa ya?" Tanya saja sambil mengerutkan keningnya. "Tapi sebelum kamu cerita, aku boleh tanya sesuatu nggak?"


"Boleh saja Bu. Ibu mau tanya apa?" Tanya mawar.


"Yang tadi itu karyawan baru ya?" Tanya saja.


"Iya Bu. Dia adalah karyawan yang baru saja masuk beberapa bulan yang lalu. Tapi Bu dia suka ngancam-ngancam karyawan lainnya," jawab mawar.


"Baru-baru sudah ngancam? Memangnya siapa dia? Seorang karyawan baru belum memiliki hak untuk mengancam karyawan lain bahkan karyawan lama pun juga tidak boleh mengancam satu sama lain. Mereka seharusnya bekerja sama untuk membangun perusahaan ini agar menjadi besar. Suatu saat nanti perusahaan akan melihat dan memberikan beberapa reward. Perusahaan tidak akan tanggung-tanggung menyekolahkan mereka dengan tinggi. Mendapatkan fasilitas yang diberikan oleh perusahaan. Mendapatkan keuntungan yang lainnya. Setiap tahun mendapatkan liburan bersama-sama di berbagai kota Indonesia maupun luar negeri. Lalu gunanya mengancam apa? Emangnya dia seorang hebat. Aku mau tahu kehebatannya dia apa? Dan untuk kamu mawar, kamu nggak boleh takut melawan Dewi. Kamu harus melawannya. Jika dia mengancam seperti itu panggil saya atau enggak Pak Tomi. Apakah kamu mengerti?" Jelas saja sambil memperingatkan mawar agar tidak takut dengan Dewi.


"Ada lagi Bu?" Tanya mawar.


"Sementara itu cukup. Lebih baik kamu kembali bekerja. Ingatlah satu hal, Jangan pernah takut untuk menegakkan kebenaran," jawab saja yang memberikan semangat untuk mawar.


Selang beberapa menit Dewa dan Erik masuk ke dalam ruangan itu. Kedua pria itu sedang membawa berkas-berkas keuangan.


"Kak Erik," panggil saja.


"Ada apa Sa?" Jawab Erik sambil memberikan berkas-berkas kepada saja.


"Apakah Dewi anak baru?" Tanya Sasa yang meraih berkas-berkas tersebut.


"Iya…memangnya kenapa?" Tanya Erik sambil menatap wajah saja.


Plaaaaakkkkkk.

__ADS_1


Sebuah tangan kekar mendarat di pundak Erik yang begitu kuat. Erik yang merasa dipukul itu terkejut. Ia tidak menyangka kalau tatapan matanya itu sedang diperhatikan oleh Dewa. Akhirnya Erik tertawa terbahak-bahak melihat Dewa yang cemburu.


"Begini rasanya yang mempunyai seorang bos cemburuan," ejek Erik ke Dewa.


"Sialan lu. Ini jam kerja woi. Seenaknya memandangi calon istriku," kesel Dewa.


"Kalian ini selalu saja berantem. Bisa nggak sih nggak pernah berantem gitu? Lama-lama aku tantang kalian menguji ketangkasan di hangar," kesel saja.


"Jujur aku kapok melawanmu. Bisa-bisa tulangku ini patah semua," ucap Erik dengan sendu.


"Kakak tahu nggak yang namanya Dewi itu siapa?" Tanya saja.


"Dewi Rahmawati kan. Dia baru masuk satu bulan belakangan ini. Aku belum lihat kerja kerasnya. Yang sering melihat itu adalah mawar dan lainnya," jawab Erik.


"Dia dulu adalah temanku waktu kuliah. Tapi aku tidak begitu akrab sama dia. Entah ada angin apa dewi selalu memberikan tanda-tanda permusuhan," jelas Sascha yang membuat kedua pria itu kaget.


"Benarkah itu?" Tanya Dewa.


"Ya itu benar. Tapi syukurlah aku bisa menghindarinya agar tidak terjadi pertumpahan darah. Sekalinya berantem Dewi selalu membuat onar. Ditambah lagi dia ingin selalu menang terus. Padahal yang membuat masalah adalah Dewi. Banyak teman-temanku yang menjadi korban. Selain itu juga Dewi adalah temannya Risa. Makanya dari tadi kok wajahnya nggak asing lagi buat aku," jelas Tasya.


"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Dewa. 


"Entahlah," jawab saja. 


"Aku pernah memberikan kamu hak veto agar leluasa membuat kamu nyaman di perusahaan ini. Kamu tidak pernah mengecewakan aku. Jika kamu ingin memecat Dewi lakukanlah. Jika kamu mempertahankannya terserah kamu. Karena divisi keuangan itu adalah milikmu," jelas Dewa. 


"Sekarang tugas utamanya adalah mencari uang 3 miliar. Sebentar lagi tahun baru akan tiba. Jika uang itu tidak ada maka seluruh karyawan tidak akan mendapatkan uang bonus. Makanya kalian berdua jangan membuat aku marah atau bad mood. Hari ini aku akan bekerja dengan tenang sambil mencari siapa pelaku utamanya," pamit saja.

__ADS_1


"Hanya begitu saja?" Tanya Dewa yang kesal merasa dibohongi. 


__ADS_2