
Pagi yang cerah di Shanghai China. Dewa dan Sascha baru saja terbangun dari mimpi indah. Mereka tidak langsung membersihkan tubuhnya. Melainkan mereka saling memandang satu sama lain. Inilah pekerjaan ketika bangun pagi. Sudah menjadi kebiasaan buat mereka. Bahkan mereka sering tersenyum bahagia sambil memegang kedua tangan dengan romantis. Inilah yang membuat Dewa semakin betah untuk bersamanya.
"Kak Dewa, bagaimana kabarmu hari ini? Aku harap kamu baik-baik saja. Karena aku ingin kamu tetap bahagia selamanya," tanya Sascha.
''Aku baik-baik saja. Kalau kamu bagaimana?" tanya Dewa balik.
"Semakin hari tubuhku semakin melebar. Sekarang aku juga bisa makan banyak seperti dulu. Mudah-mudahan kamu nggak marah sama aku," jawab Sascha dengan jujur.
"Kamu ini ada-ada saja sih. Mana mungkin aku marah sama kamu. Masa istrinya makan banyak suaminya marah-marah nggak jelas? Harusnya sang suami mendukung keinginan sang istri. Bukankah setiap suami harus memberikan istrinya makan? Ini sungguh sangat aneh sekali," ucap Dewa sambil mengecup kening Sascha.
"Bukannya begitu. Aku takut kamu membenciku dan tidak menyukai tubuhku yang semakin lama semakin melebar. Karena aku sendiri sangat takut sekali Jika kamu pergi dariku," ujar Sascha dengan jujur.
"Ya nggaklah. Mana ada seorang suami marah-marah. Hanya karena tubuh istrinya melebar. Terus kamu takut kalau aku selingkuh begitu?" tanya Dewa.
"Aku sebenarnya tidak takut kalau kamu selingkuh. Selingkuh selingkuh saja. Nanti efeknya akan aku tinggal pergi menjauh darimu. Soalnya aku sendiri tidak menyukai cowok yang nggak setia," jawab Sascha.
"Aku tahu itu. Nggak kamu saja. Setiap wanita menginginkan mempunyai seorang suami yang setia. Tapi mereka saja terkena sial. Mereka tidak bisa menebak apa yang terjadi dalam rumah tangganya ke depan. Sama seperti orang-orang lainnya. Yang aku tahu seorang Istri kalau sudah tersakiti, maka seorang suami akan kena. Kena sial bertubi-tubi dan hidupnya juga tidak akan lancar jaya. Setiap langkah seorang pria yang sudah menikah. Pasti ada terselip doa untuknya. Dan aku yakin itu. Kamu selalu mendoakan aku setiap hari bahkan setiap detik. Sebab hidupku sekarang menjadi lebih baik. Semuanya itu doamu yang sangat manjur," jelas Dewa yang sangat bahagia menerima Sascha apa adanya.
"Berapa lama kita berada di Shanghai?" tanya Sascha.
"Nanti sore kita akan berangkat ke New York City. Kita nggak bisa lama-lama di sini secara terus-menerus. Aku yakin mereka akan mencari celah untuk menyalahkan semuanya. Kamu tahu sendiri kalau paman dan Papa sudah menjadi kambing hitam. Apakah ini akan terulang lagi untuk kesekian kalinya?" tanya Dewa.
"Ini sangat mengerikan sekali. Aku baru tahu kalau mereka itu seperti monster. Ah monster terlalu keren. Seperti hantu-hantu yang berada di Indonesia ya. Itu juga terlalu keren. Nggak tahu mau nyebut apa. Kemungkinan besar si pembaca bisa menentukan apa yang paling cocok buat mereka," ucap Sascha yang sudah kehabisan akal untuk berikan sebuah julukan buat mereka.
__ADS_1
"Kalau begitu kita mandi lalu turun dan sarapan. Aku pengen kamu makan dengan santai seperti dulu lagi," celetuk Dewa.
"Aku kan makannya pelan-pelan. Aku nggak mau tersedak. Kalau aku tersedak Kamu mau tanggung jawab?" tanya Sascha.
Dewa hanya tersenyum dan membiarkan Sascha berceloteh apa adanya. Jujur akhir-akhir ini sang istri makan terlalu cepat. Jadinya Dewa sangat khawatir tentang kesehatan sang istri. Namun mau bagaimana lagi. Karena Sascha memang dituntut untuk cepat dalam waktu beberapa hari.
Sementara di bawah, Bima, Leo dan Eric sedang duduk berhadapan. Mereka menunggu kedatangan Tommy dan juga Choi. Tak lama datanglah Bryan, Timothy bersama Ian. Mereka akhirnya duduk melingkar.
"Ada berita apa? Kok aku lihat di internet beritanya sangat lucu sekali. Bangun tidur ngakak abis," tanya Ian.
"Berita yang beredar sekarang adalah berita tidak ada gunanya sama sekali. Mereka berani membuat statement. Meskipun statement itu bisa menghancurkan banyak pihak. Aku sendiri juga tidak tahu apa-apa. Soalnya yang dituduhkan kepada korbannya itu tidak benar sama sekali. Contohnya saja Papa Devan. Papa Devan orangnya sangat setia pada mama. Nggak Mungkinkah Papa selingkuh dengan anak ABG. Lalu korbannya siapa kalau Papa Devan selingkuh? Kalaupun ada korbannya pasti Mama mengetahuinya terlebih dahulu sebelum berita itu menyebar ke mana-mana," jelas Leo.
"Memang sangat aneh sekali. Ya sudahlah kalau begitu. Kita nggak usah terlalu memikirkannya lebih dalam. Lebih baik fokus pada kasus pertama. Yaitu kasus pada nenek sihir tersebut," ucap Timothy yang mewakili Dewa.
"Menurutku sih aneh saja. Tapi ya sudahlah. Kita nggak usah terlalu memikirkannya lebih dalam lagi," ujar Bima.
"Belum ada pergerakan sama sekali. Aku masih menunggu jawaban dari Markus. Dia selalu stay di Amerika. Aku menyuruhnya menjadi mata-mata untuk beberapa hari yang lalu," jawab Bima.
"Kalian harus berhati-hati kepada mereka. Bisa saja mereka memakai Jalan Ninja. Sunyi senyap langsung dikibarkan bendera peperangan. Pokoknya kita sudah membuat rencana yang banyak. Kalau gagal ada rencana lainnya," seru Gerre.
Untung saja Papa Gerre telah mengingatkan mereka. Mereka selalu bersyukur. Sebab rencana ini akan berlangsung lama.
"Di mana mama Chloe?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Mama Chloe berada di halaman belakang. Beliau memang sedang mengobrol dengan Mama kamu," jawab Gerre.
Dewa tidak jadi ikut nimbrung sama teman-temannya. Dirinya lebih memilih untuk pergi ke halaman belakang. Jujur Dewa ingin menanyakan beberapa hal tentang nenek sihir itu. Dewa berharap kalau mertuanya itu mengetahui segalanya.
Dengan langkahnya yang cepat, Dewa akhirnya sampai ke halaman belakang. Di sana Dewa melihat beberapa pengawal yang sedang berjaga. Lalu ia juga melihat Sas ha bersama Chloe dan Tara sedang mengobrol dengan asyik.
"Ma," panggil Dewa.
"Ada apa?" tanya Tara.
"Apakah kita bisa berbicara dengan terbuka?" tanya Dewa balik.
"Kamu tanya kepada siapa? Lalu tanya tentang apa?" tanya Tara.
"Tapi aku ingin berbicara pada Mama mertuaku sendiri," jawab Dewa.
"Lebih baik kamu tanyakan saja di sini. soalnya aku tidak ingin kucing-kucingan tentang masalah ini," ucap Chloe dengan tegas.
Sebelum berbicara, Dewa duduk di samping Sascha. Ia menghembuskan nafasnya dan menatap wajah mama mertuanya terlebih dahulu. jujur sebenarnya, pertanyaan ini mengarah ke masa lalu. Namun Apakah sang Mama mertua, akan mengingat kejadian demi kejadian yang berkaitan dengan nenek sihir.
"Kamu ingin tanya apa?" tanya Chloe sekali lagi.
"Gini ma masalahnya. Aku ingin banget Mama mengatakan sesuatu tentang masa lalu. Nggak mengatakan sih, berapa jawaban yang bisa disangkut pautkan ke dalam kasus baru ini," jawab Dewa.
__ADS_1
"Kalau begitu baiklah. Mama mencoba mengingat masa lalu. sekarang tanyakan apa saja yang kamu inginkan," ucap Chloe yang membersihkan Dewa bertanya.
"Si nenek sihir itu keluar dari rumah kapan?" tanya Dewa.