
Dewa menyanggupi permintaan Gerre untuk menjadikannya lady mafia. Dewa akan menggemblengnya secara keras hingga tidak terpengaruh oleh orang-orang yang memanfaatkannya.
Beberapa hari berlalu Dokter Ming memutuskan untuk mengeluarkan hasil observasi Sascha. Dokter Ming memanggil semua kedua belah pihak di sebuah aula rumah sakit secara tertutup. Dengan nafas panjangnya Dokter Ming mengatakan kalau Sascha terkena amnesia retrograde. Yang dimana Sascha tidak dapat mengingat peristiwa yang lalu. Namun sekarang Sascha bisa mengingat siapa dirinya dan keadaan.
Mereka sangat puas dengan hasil observasi Dokter Ming. Sebelum mereka berpisah Dokter Ming memberikan satu nama dokter yang sangat terkenal. Dokter Ming berharap Gerre menerimanya.
Malam itu juga Gerre, Chloe dan Dewa bersiap untuk pergi ke Hamburg. Sedangkan Dita bersiap pulang ke Jakarta. Mereka akhirnya berpisah menuju ke tempat masing-masing.
Jakarta Indonesia.
Billi sangat frustrasi sekali karena tidak menemukan Sascha. Billi terlihat uring-uringan dan hampir menghancurkan semua barang-barang yang ada. Uang yang dimiliki Billi semakin menipis dan tidak bisa membayar apartemen mewahnya. Akhirnya Billi memutuskan untuk ke D'Stars kembali.
Sebelum melangkahkan kakinya keluar Billi melihat ada orang-orang yang memakai baju serba hitam. Mereka segera membius Billi sampai pingsan. Lalu mereka segera meninggalkan Billi ke tempat yang tidak bisa dijamah oleh orang.
Di dalam perjalanan Risa dan kekasihnya sang ketua mafia Dark Impulsif melihat Billi. Risa tersenyum puas melihat pekerjaan beberapa pengawalnya itu. Risa menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Dasar bodoh! Sekarang lu harus masuk ke dalam perangkap bersama keluarga lu yang tamak itu!"
Sang kekasih yang bernama Jaya Gunadi tertawa melihat Billi. Jaya tidak menyangka melalui Risa bisa menemukan Billi.
"Kamu hebat sayang," puji Jaya ke Risa.
"Rencana selanjutnya apa?" tanya Risa.
"Aku akan menyusun rencana untuk mengadu domba Billi dan Sascha. Aku yakin mereka akan bertengkar hebat. Setelah itu Billi akan membunuh Sascha," kesal Jaya kepada Sascha.
"Jadi kamu?" tanya Risa.
"Aku pernah ditolak oleh Sascha ketika melamarnya dulu," jawab Jaya.
"Apakah kamu ingin mendapatkan Sascha?" tanya Risa.
"Aku sudah enggak berselera lagi. Aku akan menyakiti Sascha secara perasaannya. Bahkan kalau bisa menderita!" tegas Jaya sambil mengepalkan tangannya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Risa.
__ADS_1
"Dekati dia secara halus. Jadilah teman baiknya kembali," titah Jaya.
Seoul Korea Selatan.
"Timothy... Jika kamu pulang ke Jakarta bereskan terlebih dahulu barang-barangku dan Sascha!" perintah Dewa.
"Enggak usah kamu bawa lagi ke Jakarta. Papa akan memberikan sebuah unit apartemen untuk kalian berdua. Papa tahu kalian sering menghabiskan waktu liburan di sini," ucap Devan.
"Tapi pa," sela Sascha.
"Enggak ada tapi-tapian. Sering sekali kamu liburan ke sini bersama Dita. Siapa tahu kamu akan kesini lagi," ujar Devan.
"Kok papa tahu?" tanya Sascha yang melihat Devan.
"Ya tahulah. Setiap kamu posting di sosmed. Papa tahu kamu berada di mana. Bahkan tempat yang sering kamu kunjungi itu tempat favorit papa dan mama ketika pacaran dulu," jawab Devan secara blak-blakan.
"What?" pekik Dewa.
"Ada apa memangnya?" tanya Devan.
"Salah kamu sendiri. Setiap aku liburan kamu bilang sibuk. Ya sudah aku mengajak Dita saja," ucap Sascha.
"Ya dech kalau begitu. Jika kamu liburan lagi ajak aku!" kesal Dewa dengan wajah cemberut.
"Tergantung. Kamu itu jadi orang sangat pemalas sekali," ujar Sascha yang berkata jujur sambil tersenyum manis.
"Memangnya kamu belum tahu ya Sa? Kalau calon suami kamu ini sering berkutat di dunia bawah tanah? Bahkan ketika liburan Dewa sangat asyik sekali dengan mendesain senjata baru," ucap Devan dalam hati.
Dewa segera mengambil tas milik Sascha kemudian memakainya. Setelah itu Gerre dan Chloe masuk ke dalam lalu mendekati Sascha. Chloe merangkul Sascha dengan penuh kasih sayang lalu bertanya, "Apakah kamu sudah siap ke Hamburg malam ini?"
"Ya... Ma... Demi kepalaku," tunjuk Sascha sambil memegang kepalanya. "Tapi sebelum pergi aku meminta izin kepada papa Devan."
"Kamu benar,'' balas Chloe.
__ADS_1
Sascha mulai mendekati Devan sambil menatap wajah yang mulai banyak kerutan. Kemudian Devan menatap wajah sang calon menantunya sambil tersenyum, "Sa."
"Iya pa," sahut Sascha.
"Kamu harus sembuh dan jangan pernah sakit lagi. Lihatlah calon suami kamu yang berwajah tengil itu. Jika kamu enggak sembuh juga bocah tengil itu akan bersedih selamanya," pinta Devan.
"Baiklah pa. Aku akan berusaha secepatnya. Biar aku bisa merawat bocah tengil itu," ucap Sascha.
"Semangatlah Sa. Jangan pernah menyerah dan takut pada keadaan. Jadilah wanita yang kuat. Setelah ini kamu dalam bahaya besar. Cepat atau lambat papamu akan mengumumkan siapa dirimu sebenarnya. Di situlah bahaya akan menyerang kamu," tutur Devan dengan lembut.
Yang dikatakan oleh Devan benar apa adanya. Cepat atau lambat Gerre akan mengumumkan hasil USG ke publik. Namun Gerre belum bisa mengumumkan ahli waris. Karena semua ini butuh waktu. Sebelum pergi Tara berlari mendekati Sascha. Tara tersenyum melihat Sascha sambil berkata, "Untung saja kamu belum pergi."
"Aku belum pergi ma," ucap Sascha dengan lembut. "Bukankah Mama hari ini sangat sibuk sekali dengan kakek Aoyama?"
"Ya... Mama meminta izin sama kakek sebentar untuk mengunjungi kamu. Sebelum kamu pergi ke Hamburg kakek memberikan ini," jawab Tara sambil menyodorkan sebuah cek.
"Cek. Cek buat apa?" tanya Sascha yang tidak paham.
"Buat pegangan kamu. Kakek memberikan cek itu karena kamu sangat berprestasi. Secara tidak sadar kamu turut membangun perusahaan D'Stars Inc melalui ide-ide yang kamu tuang. Hingga akhirnya D'Stars Inc menjadi besar," jawab Dewa yang menjelaskan semuanya.
"Kalau aku tidak mengambilnya?" tanya Sascha yang tulus memberikan ide-idenya itu untuk D'Stars Inc.
"Ambilah Sa. Jangan pernah kecewakan kakek," pinta Dewa.
Terpaksa Sascha mengambilnya dengan tangan bergetar. Entah senang atau apa yang bisa dirasakannya begini. Baru kali ini hasil kerja keras Sascha sangat dihargai. Akhirnya Dewa, Sascha, Gerre dan Chloe berpamitan. Mereka segera meninggalkan rumah sakit itu menuju ke bandara.
Di dalam perjalanan Sascha merasakan tubuhnya bergetar. Sascha takut untuk menjalani hari esok. Takut bertemu Billi dan keluarganya yang paling utama yang dirasakan oleh Sascha. Namun Dewa paham akan ketakutan Sascha itu. Dewa langsung mendekatkan diri sambil memegang tangan Sascha. Agar Sascha bisa merasakan nyaman dan aman di dalam pelukannya.
"Jangan takut. Aku selalu bersamamu," bisik Dewa sambil mengelus-elus rambut panjang Sascha.
"Kamu tahu mereka sedang mencariku. Mereka memaksa untuk mengambil uangku," ucap Sascha.
"Kamu tahu selama ini gajimu aman di tanganku?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Maksud kamu? Aku merasa semua yang aku miliki sudah tidak bersisa," jawab Sascha.
"Tidak bersisa bagaimana?" tanya Dewa yang mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah supir.