
"Itu bener ma. Aku tidak bercanda sama sekali. Aku sudah bilang sama Kak Dewa dan Kak Sascha. Mereka mendukungku untuk berpacaran dengan Kak Tommy," jawab Dita dengan serius.
"Kamu kenapa terkejut seperti itu?" tanya Tara.
"Aku sangat terkejut mendengar jawaban dari Dita. Yang benar saja? Kamu berpacaran dengan orang yang salah. Dan kamu berpikiran untuk menikahinya?" tanya Chloe balik.
"Itu benar. Memang kami sudah merencanakan untuk pernikahan," jawab Dita.
"Kamu salah besar. Bisa-bisanya kamu menikahi Tommy," ucap Chloe yang agak marah kepada Dita.
"Kamu kenapa sih? Kok agak marah banget," tanya Tara.
"Nih aku kasih tahu. Kamu menikah dengan Tommy memang nggak ada yang salah. Tommy itu anak baik. Tapi yang nggak baik keluarganya. Jika Dita masuk ke dalam keluarganya. Itu sangat bahaya sekali. Ayah ibunya ceritanya hampir sama dengan mantan pacar Sascha yang dulu. Mereka gila hormat dan gila harta juga. Banyak sekali para besan tidak betah mempersunting anak-anaknya. Contohnya kakaknya Tommy. Sudah berapa kali dia menikah hanya karena ibunya yang ikut campur dalam pernikahannya? Pokoknya perempuannya itu harus wah," jelas Chloe.
"Apa benar seperti itu?" tanya Tara. "Albert itu temanku. Teman masa sekolah."
"Kalau Albert tidak jadi masalah. Istrinya yang bermasalah. Pokoknya di matanya dia semuanya salah. Nggak ada benernya sama sekali. Salah dikit bisa diomongin ke mana-mana. Aku takutnya Dita seperti mereka. Apalagi Dita pandai menyembunyikan identitas sebenarnya," jawab Chloe yang menjelaskan siapa keluarganya Tommy.
"Apakah mereka bisa dipisahkan jika sudah menikah?" tanya Tara sambil memandang wajah besannya itu.
"Ku pergi jauh pun pasti disuruh pulang. Dengan alasan untuk mengurus restoran. Padahal restoran itu sudah ada yang mengelola. Mereka adalah para pegawainya. Pulang-pulang bukannya disambut malah diberi kejutan yang membuat sang menantu menangis. Aku nggak bisa membayangkan jika Dita berada di posisi mereka. Aku hanya memperingatkan saja. Bagaimana caranya putrimu tidak akan jadi sama Tommy. Aku sangat kejam. Tapi ini demi kebaikan mental putrimu sendiri," jelas Chloe yang membuat Dita paham.
"Kalau ingin menikah sama Tommy harus ada persyaratan. Mau tinggal di Asia dengan cara lepas dari semua belenggu orang tuanya. Hidup mandiri tanpa harus berhubungan dengan keluarga besarnya itu. Tapi aku tidak akan mungkin melakukannya. Tommy pasti keberatan soal ini," tambah Tara.
__ADS_1
"Tapi kalau kamu serius diskusikan ini semuanya dengan Tommy. Mumpung kamu masih belum terikat pernikahan. Kamu harus memikirkannya dengan baik-baik dan membicarakan ini semuanya. Sebelum semuanya terlambat," jelas Chloe.
Dita hanya tersenyum miris setelah melihat Tommy bersama wanita bule. Ia tidak menyangka kalau aksi Tommy bisa membuatnya sakit hati. Dengan terpaksa Dita memberikan ponsel itu dan menanyakan siapa si perempuan tersebut ke arah Chloe.
Chloe yang disodorkan ponsel tersebut langsung terkejut. Ia mengambil ponsel itu dan melihat siapa wanita tersebut? Sontak saja Chloe menutup mulutnya sambil menatap Dita. Ia bingung ingin mengatakan sesuatu kepada Putri angkatnya itu. Mau tidak mau ia akhirnya menjelaskannya dengan pelan.
"Namanya Aryani. Dia orang India berdarah Amerika. Katanya sih ini yang akan dijodohkan buat Tommy. Sudah mendengar kabar itu sedari dulu. Biar Tommy tidak terjerat sama perempuan luar. Kata mamanya sih, perempuan luar itu sangat licik dan menginginkan seluruh hartanya. Jika sampai menikahi Tommy," ucap Chloe sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Masa iya dia bilang begitu? Lama-lama kok tambah aneh seperti itu. Padahal Albert yang ku kenal tidak seperti itu. Dulu dia tidak tergila-gila sama yang namanya kekayaan. Orangnya santai. Kalau kumpul tidak pernah membicarakan soal itu. Kami bermain dengan biasa dan duduk santai di cafe jika sedang berkumpul. Tapi sekarang kok beda ya?" tanya Tara.
"Semuanya ini karena istrinya. Kalau tidak wah, dia nggak bakalan mau sama sekali. Makanya itu, aku takut jika Dita direndahkan oleh mamanya begitu saja," jawab Chloe. "Lebih baik cari saja yang baru. Mumpung usia Dita juga masih muda. Jangan terburu-buru untuk mengambil keputusan menikah. Karena menikah itu tidak mudah menggabungkan dua kepala menjadi satu. Apalagi mamanya sangat berkuasa sekali atas pernikahan anak-anaknya nanti."
Dita langsung bergidik ngeri dan tidak mau menikah dengan Tommy. Ia sadar kalau dirinya akan menjadi bulan-bulanan Ibu mertuanya jika melakukan kesalahan sedikit. Memang benar, apa yang dikatakan oleh orang lain. Jika menantu perempuan tidak akan pernah akur dengan ibu mertua.
"Itu terserah kalian. Aku hanya menginfokan dan membenarkan Apa perkataan orang lain. Aku sendiri sudah melihatnya di depan kedua mataku. Kejadian itu pernah dialami oleh istri kedua kakaknya itu. Wanita itu menangis karena dipermalukan di depan umum. Masalahnya hanya sepele. Yaitu membiarkan anak gadisnya bermain di luar. Yang lebih parahnya lagi dia sedang mencoret-coret mobilnya. Itulah yang membuatnya murka dan menghancurkan harga diri sang menantunya itu. Aku ingin membela tapi Gerre menarikku agar tidak ikut campur dengan urusan orang lain. Dengan terpaksa aku pergi," tambah Chloe yang langsung membuat Dita yang memantapkan hatinya menikah dengan Tommy.
"Lebih baik aku pilih sekolah lagi saja ma. Ketimbang aku harus menderita dan bertemu dengan ibu mertua yang jahat seperti itu. Aku sendiri nggak kuat jika menikah dengannya. Jujur kak Tommy itu memang baik. Tapi orang tuanya tidak baik buat aku. Jalan terbaiknya adalah putus saja ketimbang harus menjadi bahan olok-olokan kedua orang tuanya," pinta Dita yang membuat dirinya ilfil terhadap ibu mertua seperti itu.
"Ambillah keputusanmu saat ini jangan kamu sia-siakan menikah dengan orang lain tapi tidak dihargai oleh orang lain. Kamu masih muda, lugu dan polos. Kamu sangat ceria sekali. Ketika menghadapi hari yang baru. Mama tidak mau melihat kamu menderita ketika sudah menikah. Kamu harus bahagia dan tersenyum selalu," pesan Tara.
Dita menganggukkan kepalanya dan tidak ingin membahas soal perselingkuhan Tommy. Akhirnya ia tenang, setelah mengetahui siapa wanita bule itu. Jika adiknya, Tommy tidak akan semesra itu. Apalagi sifatnya mirip sekali dengan Dewa. Yang dimana sifat itu yang akan membuat Dewa menjadi menghormati wanita.
"Bagaimana aku menghindarinya? Aku tidak ingin bertemu dengannya. Aku kan meminta Kak Dewa untuk mencarikan ku sekolah di luar Amerika. Kemungkinan besar Aku sekolah di Kanada atau Eropa. Dengan catatan Kak Dewa harus mengganti seluruh identitasku tanpa sepengetahuan Kak Tommy," beber Dita yang meminta solusi kepada mereka.
__ADS_1
"Kamu benar. Kamu nggak perlu mengharapkan lagi. Kamu bisa sekolah di Kanada. Bisa juga sekolah di Italia ataupun London. Jangan pernah menyerah pada keadaan. Nanti kita bicarakan semua dengan keluarga besar. Atau kamu tinggal di Tokyo bersama kakakmu? Di sana dia tidak akan bisa bermacam-macam. Kekuasaan kakekmu bisa menghancurkan segalanya," saran Tara.
Fix Dita langsung mengambil keputusan. Ia akan membicarakan semuanya dengan Dewa dan juga Sascha. Keputusan terakhir akan diambil oleh Dewa. Sembari menunggu, Dita tidak akan ke sana. Bisa-bisa hatinya semakin retak dan pecah. Tidak ada yang bisa membalut luka itu lagi jika semuanya terjadi. Akhirnya Dita memutuskan untuk diam terlebih dahulu.
Surabaya Jawa timur.
Tommy yang baru saja mengajak seseorang untuk masuk ke dalam. Tommy langsung mendekatinya dan memeluknya dengan erat. Ketika pelukannya semakin erat, Tommy tidak percaya dengan semua keadaan. Ia lebih memilih untuk diam dan tidak berkata apa-apa lagi.
"Kamu dari mana saja selama ini? Aku selalu menunggumu di Amerika. Kamu nggak pernah datang ke rumahku," ucap wanita itu.
"Banyak sekali pekerjaan yang harus kulakukan. Kenapa juga kamu ke sini? Aku sudah bilangin sama kamu. Kita ini sudah tidak memiliki hubungan apapun," ujar Tommy yang sebenarnya tidak ingin bertemu dengan wanita itu.
"Masalahnya bukan itu. Aku menemuimu karena ingin meminta hak sepenuhnya untuk anak gadisku yang sekarang akan beranjak dewasa," jelas wanita itu.
"Sudah aku bilang. Dia bukan anakku. Kamu suka tidur sama orang lain," Tommy langsung membantu pernyataan wanita itu.
"Apa kamu lupa dengan sesuatu yang pernah kita lakukan dulu?" tanya wanita itu sambil melepaskan Tommy.
"Aku tidak pernah melupakan sesuatu. Tapi kalau kamu menyuruhnya Aku mengakui anak itu. Jangan harap deh. Kamu ingin memerasku kan?" tanya wanita itu.
"Iya, kamu ingin memerasku," kesal Tommy.
"Katakanlah kepadaku. Siapa yang menyuruhmu untuk berkata dusta seperti itu?" tanya wanita itu yang tidak terima dengan perlakuan Tommy.
__ADS_1