Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
AMARAH DEWA.


__ADS_3

Sang resepsionis berjenis kelamin perempuan tertawa terbahak-bahak. Wanita itu hanya memandang baju yang lusuh. Namun yang dipakai mereka bukan baju lusuh melainkan baju yang memiliki warna yang sudah luntur. Sudah menjadi kebiasaan jika mereka selalu memakai baju dengan warna itu. Karena Dewa sering menyembunyikan identitas dirinya.


"Kamu mengejek kami!" tegas Sascha yang tidak terima diejek.


Jujur saja Sascha tidak terima dengan sikap sang resepsionis itu. Memang dari dulu Sascha tidak akan suka jika seseorang yang merendahkan martabat manusia. Sascha akan marah besar dan mengajaknya berkelahi. Bahkan Sascha berani menyeretnya ke kepolisian. Bagi Sascha seluruh makhluk hidup ciptaan Tuhan adalah sama.


"Aku akan menyuruh Tuan Devan memecatmu! Karena kamu tidak memiliki akhlak yang bagus!" geram Sascha.


"Oh... punya kekuatan apa kamu mecat-mecat aku! Memangnya kamu siapa! Simpanannya Tuan Devan! Ngimpi kamu ketinggian! Lihatlah tubuhku yang bagus dan indah! Sementara kamu memiliki tubuh yang kurang menarik dipandang! Tubuhmu itu tipis kaya triplek! Mana ada cowok suka sama kamu!" ejek resepsionis itu.


Plak!


Sebuah tangan kekar milik Dewa mendarat di pipi mulus wanita itu. Dewa sangat geram bila calon istrinya dikatain tidak memiliki tubuh bagus. Dengan geramnya Dewa memandang wajah sang resepsionis itu dengan tajam.


Wanita itupun memegang pipinya sambil meringis. Wanita itu tidak terima kalau Dewa menerimanya. Ia segera menunjuk Dewa dengan api membara, "Kamu! akan aku tuntut!"


"Siapkan pengacara terbaikmu!" teriak Devan yang keluar dari lift sambil membawa tab untuk melihat kejadian pertengkaran.


Devan sengaja membawa tab itu sambil memperhatikan peristiwa yang dialami sang putra bersama Sascha. Devan sangat geram melihat perlakuan sang resepsionis setiap kali kedatangan tamu. Setiap tamu datang tanpa memakai baju formal maka sang resepsionis menganggapnya sang tamu adalah orang rendahan.


"Hubungi segera pengacara terbaikmu!" tegas Devan sekali lagi.


Wanita itupun terkejut mendengar Devan menyuruhnya untuk mencarikan pengacara. Matanya membola dengan sempurna dan mulutnya menganga. Sang wanita itupun menggelengkan kepalanya sambil membela dirinya.


"Maaf tuan. Mereka adalah gelandangan yang ingin bertemu dengan anda,'' ucap wanita itu.


"Kamu bilang apa?" teriak Devan yang penuh emosi.


Devan tidak terima kalau sang putra dikatai gelandangan. Bagaimana seorang putra mahkota dari Nakata's Groups dikatai gelandangan.


"Kamu tahu pria yang habis menamparmu adalah putra kandungku! dan wanita yang berada di sampingnya adalah calon istrinya! Kamu sudah berani mengatai mereka sebagai gelandangan! Mulai hari ini kamu aku pecat!" geram Devan yang memancarkan aura kematian.

__ADS_1


Wanita itupun langsung bersujud agar Devan tidak memecatnya. Namun sudah terlanjur wanita itupun sudah menorehkan sebuah luka cukup dalam ke hati Devan. Hati orangtua mana yang mendengar anak-anaknya diejek seperti itu? Pasti tidak ada yang mau.


"Sudah berapa orang kamu ejek seperti itu! Sudah berapa orang yang kamu rendahkan seperti itu! Aku memang tidak pernah berada di kantorku! Aku memiliki banyak CCTV yang terpasang disini! Aku bisa menilai kamu dan lainnya dengan gerakan tubuhmu dan ucapanmu saat menyambut tamu! Sekarang bereskan barang-barangmu!" tegas Devan tanpa melihat wanita itu sedikitpun.


Devan melangkah mundur dan mendekati Dewa. Devan mengajak mereka untuk segera naik ke atas. Dewa dan Sascha merasakan kalau mood Devan yang hancur. Mereka memutuskan untuk tidak ikut campur dalam masalah ini.


Sesampainya di kantor Dewa melihat tumpukan demi tumpukan yang berada di meja sang papa. Dewa segera mengambil semuanya dan menaruhnya di meja tamu. Sedangkan Devan memberikan berkas-berkas miliknya ke Sascha.


"Periksa ya. Nanti papa akan memberikan kamu bonus besar,'' ucap Devan dengan serius.


"Oke pa. Pa... maafkan soal tadi. Kami tadi tidak sempat berganti pakaian,'' ucap Sascha.


"Kamu enggak salah. Tapi dialah yang salah. Papa tidak habis pikir barengan wanita itu. Bisa-bisanya kalian dikatain gelandangan!" geram Devan.


"Itu sudah biasa bagi kami pa. Kami sudah biasa menerima cacian dan binaan seperti itu,'' sahut Dewa.


"Apakah kalian menyamar?" tanya Devan yang memegang keningnya.


"Kami tidak pernah menyamar. Kami selalu memakai baju seperti ini ketika tidak bekerja. Jujur saja kami tidak ingin dikenal sebagai ahli waris. Kami ingin menjadi orang biasa,'' jelas Dewa.


"Apakah mood papa hancur siang ini?' tanya Dewa dengan jujur.


"Kamu benar. Jika mama mencariku bilang saja tidur,'' kesal Devan yang pergi meninggalkan Dewa.


"Selalu saja begitu,'' gerutu Dewa sambil menghempaskan bokongnya.


Sascha hanya terkekeh mendengar Dewa yang menggerutu. Lalu Sascha menaruh berkas-berkas itu di meja sambil menghempaskan bokongnya. Sascha akhirnya membantu Dewa untuk memeriksa keuangan tersebut.


Sejam dua jam telah berlalu. Dewa dan menemukan hal yang janggal. Dewa memandang wajah Sascha yang serius. Merasa dipandangi Sascha akhirnya melihat Dewa kembali sambil bertanya, "Ada apa?''


"Ada sesuatu yang janggal di laporang keuangan ini,'' jawab Dewa.

__ADS_1


"Akupun sama,'' sahut Sascha. "Apakah map dari papa adalah real?"


"Memang real. Data-data yang dipegang oleh papa tidak ada satu kesalahan sama sekali. Bahkan mama juga ikut andil dalam sistem keuangan perusahaan ini,'' sahut Dewa. "Bagaimana dengan barang keluar?"


"Selisihnya banyak. Maksudnya setiap hari barang-barang yang keluar tidak semuanya tercatat. Seperti velg, kaca mobil, mur dan baut,'' jawab Sascha,


"Sepertinya ada yang tidak beres. Lebih baik kamu tandain. Biar papa yang mengurus ini semuanya,'' ucap Dewa yang curiga.


"Apakah kita mencari pelakunya?" tanya Sascha.


"Ujung-ujungnya orang keuangan dan pemasaran yang bekerja sama. Ini adalah masalah klasik di setiap perusahaan,'' tambah Dewa.


"Kalau begitu orang lapangan juga ikut terlibat,'' celetuk Sascha.


"Ya itu benar. Semuanya sudah fix mereka melakukan korupsi. Sepertinya aku ingin meminta laporan enam bulan terakhir,'' kata Dewa.


"Nanti aku berikan!" seru Devan yang rambutnya basah sambil berdiri di ambang pintu.


"Papa?" pekik Dewa yang terkejut.


"Ada apa?" tanya Devan yang memasang dasi.


"Selalu saja membuat skandal bersama Nyonya Tara,'' cibir Dewa kesal.


Devan tertawa terbahak-bahak melihat Dewa yang kesal. Memang selama Devan tidak berada di kantor, Devan memaksa Tara untuk memuaskan hasratnya untuk melepaskan penatnya.


"Makanya nikah biar bisa buat skandal,'' ejek Devan.


"What?" pekik Dewa yang menggelengkan kepalanya.


Sungguh terlalu bagi Dewa. Bisa-bisanya anak lakinya malah disuruh membuat skandal. Dewa memutar bola matanya dengan malas sambil menggeram, "Bisakah papa enggak mengajariku dengan hal yang positif!"

__ADS_1


"Hey boy! Janganlah kamu marah-marah seperti itu. Ingatlah satu hal yang penting," ledek Devan yang menghempaskan bokongnya di sofa singel.


"Apa yang penting buat papa?'' tanya Dewa yang mulai jengah.


__ADS_2