Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
BUTA FASHION.


__ADS_3

Sebelum memilih gaun Dewa tersenyum sambil merogoh ponselnya di kantong celananya. Dewa teringat akan sang papa yang memiliki fashion tingkat tinggi.


"Ah... Aku memang tidak terlalu pintar memilih gaun pengantin. Tapi aku tidak mau kamu terlalu biasa saja," celetuk Dewa dengan jujur.


"Maksudnya?" tanya Sascha yang mengerutkan keningnya.


"Maafkan aku. Aku akan bertanya pada ahlinya," jawab Dewa sambil mencari nomor Devan di ponselnya itu.


"Siapa yang kamu hubungi?" tanya Sascha dengan penuh kebingungan.


"Ada deh," jawab Dewa yang sengaja membuat penasaran Sascha.


Dewa segera menghubungi Devan untuk segera ke sini. Sementara itu Devan yang berada di kantor sedang menatap angka-angka di kertas membuatnya geram. Devan memijit keningnya sambil menghela nafasnya. Namun ketika ingin memukul meja ponsel Devan berdering. Devan meraih ponselnya sambil melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu.


"Tumben, si bocah tengil itu menghubungiku," gerutu Devan sambil menggeser icon hijau yang berada di ponselnya itu. "Halo."


Dewa yang kebingungan ini hanya bisa membuang nafasnya secara kasar. Dewa ingin berkata jujur namun wajahnya sudah memerah karena malu. Dewa sejenak diam sambil merangkai kata-kata agar tidak membuat sang papa tertawa.


"Dewa," panggil Devan dengan suara tegasnya. "Apakah kamu masih di situ?"


"Pa, datanglah ke rumah mode milik Mama Chloe sekarang juga," ucap Dewa tidak kalah tegasnya.


"Ngapain aku kesana?" tanya Devan.


"Ada temanku yang ingin meminta pendapat soal gaun pengantin. Temanku sangat bingung untuk memilih. Papa tahukan kalau aku tidak pandai memilih gaun pengantin," jawab Dewa yang sedang mengalihkan perkataannya.


"Memangnya kamu sekarang berada di New York?" tanya Devan lagi.


"Ya... Aku memang didaulat untuk mencarikan sebuah gaun pengantin," jawab Dewa.


"Papa akan kesana bersama mamamu," ucap Devan yang segera mematikan ponselnya.


Devan memijit keningnya sambil menghela nafasnya. Devan baru paham kalau sang putra tidak pandai memilih gaun pengantin. Di dalam benaknya Devan berpikir bagaimana kalau Sascha menikah dan diminta untuk menilai gaunnya ketika ada acara sakral seperti itu.

__ADS_1


Sebelum berdiri Tara sudah masuk ke dalam dengan membawa berkas. Tara menatap wajah Devan yang sangat boring itu.


"Sayang," panggil Tara. "Kamu kenapa?"


"Laporan bulan ini sepertinya ada yang salah. Tidak ada yang cocok dengan laporanku dan laporan para karyawan di sini. Aku harus memastikan semua ini. Aku tidak mungkin bekerja sendirian di sini. Aku butuh seseorang untuk mengecek semuanya," jawab Devan yang menaruh bolpoinnya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.


"Dimana Mark?" tanya Tara.


"Mark berada di cabang Chicago. Aku lempar ke sana karena ada masalah sedikit. Dan sekarang aku butuh seorang partner untuk mengerjakan semuanya," jawab Devan yang sedang menatap jam di tangan.


"Bagaimana kalau aku membatalkan perjalananku ke New Jersey?" tanya Tara sambil mengingat jadwal besok.


Devan teringat akan Dewa sedang berada di New York. Kenapa Devan tidak meminta bantuan Dewa untuk membantunya sebentar? Seakan dapat angin segar Devan tersenyum devil sambil beranjak dari tempat duduknya.


"Aku akan meminta Dewa untuk membantuku," ucap Devan.


"Memangnya Dewa berada di New York?" tanya Tara yang tersenyum manis.


"Ya... Dewa sekarang berada di sini. Dewa meminta bantuanku untuk memilihkan gaun pengantin buat temannya," jawab Devan.


"Iya. Kamu tahukan kalau putra kita tidak pandai memilih sebuah gaun? Tapi untunglah Sascha sangat pandai memiliki fashion. Jadi mereka bisa menyeimbangkan kelebihan dan kekurangannya itu," jawab Devan sembari meraih ponselnya.


Tara hanya bisa menganggukkan kepalanya. Entah kenapa Tara curiga dengan gelagat Dewa yang mengatakan kalau baju pengantin itu buat temannya.


"Pa," panggil Tara yang mendekati Devan ketika membuka pintu.


Saat ingin membuka pintu Devan membalikkan badannya sambil menatap wajah sang istri. Devan hanya bisa tersenyum melihat kecantikan sang istri. Sebelum mengeluarkan suaranya Devan bergegas menarik tangan Tara sambil melihat sekretarisnya itu, "Jika ada yang mencariku bilang kalau aku keluar sebentar. Aku akan kembali setelah jam makan siang!"


"Baik pak," balas sang sekretaris itu.


Di rumah mode Sascha menatap gaun-gaun itu tanpa bergerak sedikitpun. Ketika Sascha jatuh ke gaun putih gading itu hanya bisa menghembuskan nafasnya. Sementara itu matanya menatap gaun satunya lagi yang bertabur berlian.


"Kalau itu harganya berapa ya?" tanya Sascha yang mulai memperhitungkan harganya.

__ADS_1


"Apakah kamu mau itu?" tanya Dewa dengan serius.


"Aku tidak mau. Itu sepertinya berlebihan sekali," jawab Sascha.


Dewa langsung menepuk jidatnya. Ingin marah kepada Sascha percuma. Tapi ada benarnya juga ketika Dewa memiliki Sascha. Di matanya Sascha bukanlah gadis yang terlalu manja dan tidak matre.


"Kalau aku hitung gaun itu bisa disamakan dengan mobil Ferarri yang ada di garasiku," celetuk Dewa.


"Ah... Rasanya aku ingin menangis saja," ujar Sascha.


"Jika kamu ingin itu sih enggak apa-apa. Mamamu akan memberikan secara cuma-cuma. Lagian juga hari pernikahan adalah hari dimana kita memutuskan untuk hidup bersama pasangan. Setiap insan yang akan menikah ingin acara pernikahannya secara sempurna," tutur Dewa dengan lembut.


"Apakah kakak mau itu?" tanya Sascha.


"Tidak. Aku tidak mau," jawab Dewa yang tidak terlalu menyukai gaun terlalu mewah.


"Kakak ini bagaimana sih? Tadi bilangnya enggak apa-apa pilih itu lalu kenapa sekarang berubah?" tanya Sascha yang tidak paham.


"Kamu tahu kalau aku adalah pria. Mana ada pria yang pandai memilihkan gaun. Yang ada kita enggak sinkron sayang. Jika aku pilih ini kamu pilihnya itu nanti kamu ngamuk. Jika kamu ngamuk lalu salahku dimana?" jawab Dewa dengan jujur.


Sascha menahan tawanya sambil memandang wajah Dewa datar. Dewa bisa menghela nafasnya sambil berkata, "Yang aku katakan benar adanya. Teringat akan kasus para petinggi-petinggi D'Stars Inc ketika membelikan baju untuk pacarnya."


Tawa Sascha meledak karena ingat apa yang dikatakan oleh Dewa. Memang benar apa adanya mereka memang tidak terlalu mengikuti fashion model baju terbaru. Mereka datang ke kantor sambil memasang wajah kusut.


"Menurutku para pria seperti kalian memang fokusnya ke pekerjaan. Bagaimana kalian bisa meraih impian, mencapai tahta tertinggi, dan mencari kedamaian. Kalau soal fashion baju perempuan tidak terlalu. Mereka hanya duduk bermain ponsel saat pasangannya sedang memilih baju. Ujung-ujungnya si cowok bilang bagus ketika sang pacar sedang mencoba. Padahal sih mereka tidak memperhatikan," jelas Sascha yang dibenarkan oleh Dewa.


"Ya kamu benar. Kami para pria sudah terlalu pusing memikirkan perusahaan ditambah lagi dengan kasus-kasus perusahaan yang muncul. Kamu tahu sendiri aku bagaimana? Yang ujung-ujungnya pekerjaan menumpuk. Jadi kamu jangan salahkan kami ketika kurang pandai memilih gaun," ucap Dewa dengan pasrah.


"Aku memaklumi kakak. Maafkan aku yang meminta pendapat soal gaun," ucap Sascha yang meminta maaf.


Ceklek.


Pintu terbuka.

__ADS_1


Devan dan Tara segera masuk sambil melihat banyaknya gaun pengantin terpampang. Tara menatap tajam ke arah Dewa sambil bertanya, "Siapa yang mau menikah hingga menyuruh papa datang kesini?"


__ADS_2