
"Khans Company," jawab Dewa dengan cepat.
"Kenapa kamu ingin membeli perusahaan itu? Maksudku sahamnya," tanya Sascha.
"Jika kamu tidak menurunkan harga saham itu. Kemungkinan besar Aku membeli dengan harga tinggi membuat uang dolarku habis semuanya. Jika kamu menurunkannya hingga nol. Maka semua orang akan melepaskan saham itu karena rugi berat," jelas Dewa.
"Menurunkan harga saham hingga titik nol. Bener juga harga saham di perusahaanku sangatlah mahal sekali. Mereka bersedia menjualnya ketika ada yang mau membelinya dengan harga yang lebih cukup tinggi. Terima kasih sayangku. Aku sekarang mengerti," kata Sascha.
"Kamu harus mengerti tentang permainan licik ini. Lagian juga kita nggak akan pernah memakai cara licik ini setiap hari. Cara ini memang menjadi senjata andalanku. Ketika mengakuisisi perusahaan yang sedang bangkrut namun sang pemegang sahamnya sangat sombong sekali. Maka aku bisa membuatnya hingga seperti itu. Mereka merugi dan melepaskan sahamnya satu persatu dengan harga murah meriah," sambung Dewa.
Sascha menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis. Ia yakin kalau sang suami akan berbuat lebih pada perusahaannya itu. Meskipun dirinya harus berbuat curang kepada perusahaannya sendiri.
"Sebelumnya kamu cek dulu siapa-siapa yang memegang perusahaan tersebut. Lalu kamu hubungkan dengan nenek sihir tersebut. Ada dan tidak ada semua rencanaku ini akan berjalan. Kalau aku sih yakinnya mereka itu diminta nenek sihir memegang saham itu dengan memakai uang dia sendiri. Coba deh kamu bayangkan, Jika harga saham itu anjlok bertubi-tubi selama satu minggu saja. Nenek sihir itu akan merugi besar. Dia akan kehilangan sahamnya beberapa persen. Jangan seminggu deh sebulan. Biar perusahaanmu juga ikut-ikutan anjlok," beber Dewa.
__ADS_1
"Kejamnya suamiku ini. Kenapa bisa menghancurkan perusahaan keluargaku sedemikian rupa?" puji Sascha.
"Yang nggak kejam gitu. Jika Aku membelinya secara bertahap maka aku bisa untung besar. Perusahaan itu bisa jadi milikku seutuhnya. Tapi aku tidak akan mengurus perusahaan tersebut. Karena yang punya perusahaan itu bukan aku sebenarnya," Dewa sambil menarik tali baju Sascha.
Sascha akhirnya menganggukkan kepalanya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Dewa. Jika harga saham perusahaan tersebut anjlok mati-matian. Mereka akan melepaskannya satu persatu. Apalagi Dewa menyuruhnya untuk mempermainkan saham itu dalam jangka satu bulan kedepan. Hal ini sungguh sangat menarik baginya. Lalu apakah Sascha yakin dengan keputusan Dewa? Apakah Sascha mau mengikuti keinginan Dewa tersebut? Yang jelas Sascha harus meyakinkan dirinya sendiri.
"Yakinlah pada hati kecilmu itu. Kamu harus yakin dengan semuanya. Semakin lama kamu akan pandai mempunyai sifat dariku. Sifat licik dan sifat arogansimu akan tercipta. Tapi kalau sikap yang kedua itu jangan pernah memakainya. Pakailah di waktu tepat bersamaan. Oh ya satu lagi buat kamu. Kamu tidak perlu melembekkan hatimu buat para pebisnis seperti mereka. Percuma kalau kamu menjadi orang terlalu baik sama mereka. Ujung-ujungnya Kamu kena tindas dan ditendang ke sana kemari seperti bola. Mereka memang baik sih di depan kamu. Tapi di belakang mereka menusukmu dengan pisau yang sangat tajam ke punggungmu secara diam-diam. Itu hanya pesan dariku. Jadilah iblis di dunia perbisnisan," pesan Dewa.
'Hilangkan sejenak jiwa malaikatmu itu. Jangan pernah kamu memakainya jika bertemu dengan klien-klien kamu. Sorot matamu harus tajam membidik mangsa. Meskipun nantinya kamu akan menjadi asistenku. Kamu harus mendapatkan petuah-petuah dariku," pesan Dewa lagi.
Sascha tersenyum sangat bahagia. Malam ini Dewa mengajaknya untuk beristirahat saja. Sascha mengerutkan keningnya sambil menatap wajah Dewa.
"Kamu kenapa seperti itu? Bukankah kamu beristirahat dan mencharger seluruh tubuhmu itu," tanya Dewa sambil menatap wajah Sascha.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak ingin mengambil jatah dariku?'' tanya Sascha balik.
"Untuk saat ini mood aku tidak baik. Kamu tahu kan kalau mood buruk jika sedang bermain di atas ranjang?" tanya Dewa.
"Maksudnya bagaimana? Apakah aku harus memaksamu untuk malam ini?" tanya Sascha.
"Perasaan buruk tidak baik untuk bermain di atas ranjang selama berjam-jam. Hal ini bisa melukai pasangannya ketika sedang bermain. Jujur Jika aku sudah merasakan perasaan ini. Lebih baik aku memilih untuk tidur. Tidur yang nyenyak bisa mengembalikan perasaanku menjadi lebih baik lagi," jelas Dewa.
"Apakah kamu membenciku?" tanya Sascha.
"Aku tidak membencimu. Tapi aku melindungimu dari kejahatanku sendiri. Aku tidak bisa melakukannya karena takut melukai jiwa dan ragamu. Kamu nggak boleh berpikiran seperti itu. Aku memang seorang pria normal," jawab Dewa.
"Lalu kenapa Kak Dewa tidak pernah menyentuhku selama beberapa hari ini?" Tanya Sascha.
__ADS_1