Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
LAPTOPKU!!!


__ADS_3

"Ya itu benar. Jika ada seseorang atau karyawan sengaja mengajak hacker lain untuk mengambil beberapa dokumen tersebut. Kita harus memulihkan terlebih dahulu. Setelah itu mengejar jejak langkah para hacker yang sudah berhasil mengambil data-data kita," jawab Leo yang sedikit geram dengan ulah mereka.


"Apakah bahaya?" tanya Dewa yang sangat penasaran sekali.


'Iya. Sangat bahaya sekali. Apalagi jika mereka mengirim virus membuat sistem mati. Dan itu bisa tersambung ke pusat D'Stars Inc. Aku enggak bisa membayangkan itu terjadi," keluh Leo yang benar-benar ketakutan.


'Jadi kita bagaimana?" tanya Dewa.


"Malam ini kita akan mencari. Kalau sampai terkunci enggak masalah. Kalau yang lainnya akan menjadi masalah besar," jawab Sascha lagi.


"Tapi uangnya itu hilang. Uang yang berada di dalam kas habis tidak tersisa," ucap Dewa.


"Ya... dua kemungkinan. Bisa diambil dengan hacker lain. Atau terkunci sistemnya. Setiap sebulan sekali bertepatan di awal bulan terkunci otomatis dan itu bertepatan pada jam nol nol. Jadi kami harus terjaga demi memulihkan semua sistem di pusat dan cabang. Sebelum kami memulihkannya semua, kami sengaja mengambil laporan mereka semua dan diberikan ke setiap manager di Jakarta. Kami memang sengaja melakukannya. Karena hal itu sangat efesiensi sekali. Aku memang sengaja melakukannya karena memudahkan mereka agar tidak tercecer dan tercampur sama divisi lain. Nah itulah jika Leo dan Sascha bekerja," jelas Leo yang mendapatkan acungan jempol.


'Pontianak dan Semarang baik-baik saja. Aku sangat mudah mengecek semua divisi. Tapi ini belum akhir bulan. Rasanya tidak etis untuk mengecek itu semuanya," keluh Sascha.


"Kalau begitu masuk ke cabang Surabaya. Laporkan semuanya jika ada yang mencurigakan," sahut Leo.


"Siap Kak," seru Sascha yang membuat Dewa menatapnya.


Jika sudah berhubungan dengan sistem IT, Sascha semakin semangat. Ia memang memiliki kelebihan yang tidak didapatkan oleh Dewa. Oleh karena itu, Sascha patut dipertahankan oleh Dewa untuk saat ini hingga tua nanti.


Sascha mulai memasuki sistem keamanan. Tapi ia mengerutkan keningnya, ia tidak dapat masuk dan mendapatkan serangan virus hebat ke laptopnya. Dengan cepat Sascha membuang laptop itu ke arah kebun dan melihatnya mengeluarkan api.


"Laptopku," teriak Sascha seakan tidak rela jika laptopnya terbakar.


"Kenapa kamu buang laptopmu?" tanya Dewa.


"Ada serangan virus yang mematikan. virus itu menyerang dengan cepat seperti kilatan petir. Jika kau tidak membuangnya, bisa jadi meja ini habis beserta laptop milik Kak Leo," jelas Sascha yang menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"itulah ceritanya jika ada yang ingin menyerang memakai virus mematikan. Aku hampir lupa jika Sascha harus memperbarui program barunya," celetuk Leo.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Dewa.


"Kita harus membelinya yang baru dan butuh pemograman lagi," ucap Leo


"Beliin ya bang Dewa yang murah saja. Nggak usah mahal-mahal," ucap Sascha sambil memelas.


Bukannya sedih, Dewa masalah meledakkan tawanya. Ia tidak menyangka kalau Sascha bisa berubah menjadi memelas seperti itu. Ia memeluk Sascha sambil berbisik, "Baiklah. Nanti aku suruh Marty atau Almond membeli laptopmu yang baru. Sekarang kita bubar saja dan beristirahat."


"Suruh Kak Leo juga beristirahat. Besok pagi aku akan membongkar lemariku. Siapa tahu ada laptop bekas di sana. Syukur-syukur kalau bisa dipakai," pinta Sascha.


Dewa menganggukkan kepalanya lalu menatap wajah Leo. Ia meminta Leo segera masuk ke dalam dan beristirahat. Leo pun sangat menyetujuinya. Akhirnya mereka masuk ke dalam dan duduk terlebih dahulu.


"Cuacanya sangat dingin sekali. Kakiku sudah mulai dingin. Rasanya aku ingin tidur dan bangun siang," ucap Leo sambil menahan kantuknya.


"Kalau di sini pas waktu malam, cuaca sangat dingin sekali. Aku jarang tidur tengah malam. aku lebih memilih tidur lebih awal dan bangun pada waktu subuh. Setelah Subuh aku memutuskan untuk berjalan-jalan dan mencari sarapan," sahut Sascha.


"Sepertinya itu ide yang sangat bagus buat pagi hari. Apa kamu akan mengajak para papa dan mama untuk berjalan-jalan pagi?" tanya Dewa.


"Nggak tahu deh. Rasanya sangat aneh kalau ngajak mereka. Nanti dilihatin sama orang-orang yang lewat. Aku sedang berjalan sama bule-bule," celetuk Sascha.


"Aku kecenderungan ke arah Jepang. Mataku sangat sipit tapi tubuhku ke arah bule. Mereka bilang kalau aku bule nyasar ke kampung. Tapi aku tidak memperdulikannya," ujar Sascha.


"Beda banget ya pandangan mereka ke kamu. Mereka sangat sinis ke kamu," sahut Dewa.


"Sebenarnya aku tidak memiliki urusan sama mereka. Gara-gara Kinanti aku selalu menjadi kambing hitamnya. Hampir setiap hari aku menjadi bahan omongan gara-gara Kinanti. Menurutku aku sudah kebal akan hal itu," kata Sascha sambil menggosok-gosokan punggung tangannya karena kedinginan.


"Untung saja hidupmu berada di Jakarta. Bagaimana kalau hidupmu berada di sini?" tanya Leo.


"Aku nggak jadi masalah hidup di mana. Selama aku nggak membuat masalah saja sama siapapun. Hidupku akan tenang dan sunyi. Lebih baik aku habiskan waktuku untuk bekerja. Ketimbang harus menggosip yang tidak-tidak. Kecuali aku mendapatkan informasi yang valid," jawab Sascha.


"Kamu kuat banget mendengar mereka membicarakanmu yang nggak-nggak. Apalagi Kinanti pernah menghembuskan kalau kamu sudah tidur sama aku," kata Dewa.

__ADS_1


"Ini sangat lucu sekali. Aku nggak pernah merasa gosip itu hingga terdengar di telingaku. Kinanti bekerja sama dengan Santi. Mereka berdua sengaja melakukan itu demi membela keluarganya. Mereka itu sengaja playing victim. Padahal aku dulu tidak pernah tidur bersama siapapun. Merekanya saja yang membuat Aku geram dan ingin marah-marah. Tapi aku lebih beruntung lagi. Pas ada kasus itu, Aku sengaja ditugaskan ke Tokyo mengurus keuangan untuk beberapa bulan ke depan. Betapa bahagianya hatiku ini terlepas dari semua masalah dan menyambut kebahagiaan yang tiada tara buatku," sambung Sascha.


"Kamu ini ada-ada saja. Mana ada orang yang bekerja hatinya bahagia? Padahal di Jepang orang kerja itu gila-gilaan. Kamu malah bersorak kegirangan. Untung saja Bang Kobe tidak terkejut melihatmu. Andai saja kalau terkejut bisa-bisa Bang Kobe pingsan," ledek Leo.


"Memang aku sangat aneh sekali. Aku pernah memeriksakan kejiwaanku. Katanya aku sehat walafiat tidak ada apa-apa. Eh ujung-ujungnya si dokter itu mengatakan kalau aku gila kerja. Ya sudah sampai saat ini, aku sudah benar-benar gila kerja. Aku nggak tahu apalagi," jelas Sascha.


"Semuanya nggak jadi masalah sih. Selama itu baik dan powermu masih kuat Kenapa nggak. Lagian aku masih melepaskanmu untuk bekerja. Kamu nggak perlu takut untuk semua itu. Kita ditakdirkan bukan untuk berpangku tangan. Kita ditugaskan bekerja keras demi membangun nusa dan bangsa. Ya sudah deh kalau begitu. Aku ingin tidur terlebih dahulu. Setelah ini aku akan tidur bersama papa," pamit Dewa segera berdiri dan mengajak Sascha untuk masuk ke dalam kamar.


"Untuk saat ini kita berpisah terlebih dahulu. Para mama dan Dita sudah menungguku untuk tidur bersama," ucap Sascha.


"Tidak apa-apa. Kalau laptopmu tidak ketemu juga. Lebih baik kita ke Surabaya Untuk membelinya yang baru. Sekalian meninjau hotel alu kita memesan hotel dan menghabiskan waktu berdua hanya semalam saja," usul Dewa.


"Terserah kamu. Aku mah ngikut saja. Kan katanya nggak boleh kalau tidak menuruti suami," ujar Sascha yang mendapatkan anggukan dari Dewa.


Sebelum memasuki dapur mereka sudah berpisah. Sascha masuk ke dalam sedangkan Dewa sendiri naik ke atas. Sascha melihat para mama dan Dita masih belum tidur. Ia mendekati mereka dan menghempaskan bokongnya di tepi ranjang.


"Kamu ke mana saja kak? Aku kira kamu diculik sama kuntilanak yang berada di pohon asem belakang rumah," tanya Dita yang membuat Sascha menahan senyumnya.


"Kamu itu ada-ada saja. Memang dulunya di sana ada hantu berbaju putih. Sekarang sudah nggak ada. Kamu tahu nggak, hantu itu pergi gara-gara Aku sedang marah-marah," jawab Sascha.


Kedua wanita paruh baya itu terkejut mendengar pernyataan Sascha. Bisa-bisanya Sang Putri mengatakan ciri-ciri hantu secara blak-blakan. Jujur mereka sangat takut sekali mendengar hantu yang memakai baju putih itu.


"Kamu berani sama itu setan?" Tanya Chloe.


"Ya berani. Gara-gara aku hantunya kena mental. Malahan di sini katanya tempatnya serem. aku malah buktikan pakai uji nyali tapi nggak ada yang datang sama sekali," jawab Sascha dengan kesal karena tidak pernah menemukan makhluk tak kasat mata.


"Kamu itu ada-ada aja Kak. Jangan sampai Kakak bertemu dengannya. Apalagi saat ini Kakak sedang hamil," ucap Dita.


"Nggak ada apa-apa dek. Tenang saja kamu nggak perlu takut seperti itu," kata Sascha sambil menghibur kita agar tidak ketakutan. "Mama kok tahu kalau di sini ada hantu?"


"Ya tahulah. Mama pernah tinggal di sini. Mama juga pernah bertemu dengan mereka. Menurut mereka aku sudah kebal semuanya," jawab Chloe.

__ADS_1


"Sudah malam tidur yuk. Besok pagi anterin Mama ke pasar. Mama ingin masak spesial untuk Dewa," ajak Tara.


"Masak spesial apa ma?" Tanya Sascha.


__ADS_2