Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KETAKUTAN DITA.


__ADS_3

"Aku mau ke Bali," jawab Dita.


"Tapi kamu harus janji sama kakak dulu. Setelah masalah ini selesai kamu harus ikut kami New York," ujar Dewa.


"Ngapain aku ikut pergi ke New York?" tanya Dita. "Bukankah aku ke sana beberapa bulan lagi?"


"Kamu haru ikut kakak. Karena di sini kamu tidak aman. Mereka akan mengincar kamu. Para petinggi D'Stars Inc. tidak berada di sini," jawab Dewa yang membuat Dita bingung.


"Apakah ini ada rentetan kasus pemerasan yang sedang aku alami?" tanya Dita.


"Ya... semuanya ada rentetannya. Jika kamu bersikeras tetap di sini... kemungkinan besar kamu yang akan menjadi sasaran empuk bagi mereka," jawab Dita yang sedang menganalisis keadaan.


"Baiklah," balas Dita. "Lalu kapan kita ke Bali?"


"Setelah masalah ini cepat selesai," jawab Sascha. "Aku berjanji akan mengajakmu ke sana."


"Baiklah," ucap Dita.


"Sayangku," panggil Dewa sambil menatap Sascha.


"Ada apa kak?" tanya Sascha.


"Apakah kamu akan menyelesaikan masalah ini sendiri?" tanya Dewa balik.


"Iya... aku akan menyelesaikan Dita. Aku tidak ingin berlarut-larut hingga nanti," jawab Sascha dengan mantap.


Dewa mengangguk paham. Lalu Dewa melihat jam di tangan, "Ini sudah malam. Apakah malam ini kamu ada cara syuting?"


"Ya... aku ada pengambilan beberapa scene hingga pagi. Tapi aku takut mereka masih memerasku," jawab Dita.


"Kapan kamu berangkat?" tanya Sascha lagi.


"Habis gini aku akan berangkat," jawab Dita.


"Baiklah. Aku akan membersihkan tubuhku terlebih dahulu. Habis gini kita ke Jakarta," ucap Dita yang masih ketakutan.


Sascha berdiri dan mendekati Dita. Lalu Sascha menghempaskan bokongnya dan memeluk Dita.

__ADS_1


"Jangan takut seperti itu," ucap Sascha sambil menepuk-nepuk punggung Dita dengan lembut.


Tiba-tiba saja tangis Dita pecah. Ia menyembunyikan kepalanya di dada Sascha. Jujur saat ini ia sangat takut sekali menghadapi hari ini sampai hari esok.


Sascha mengerti ada apa dengan perasaan Dita sebenarnya? Diam-diam Dita sedang ketakutan. Namun dirinya tidak pernah cerita kepada siapapun. Ia sadar masalah ini dari dirinya sendiri.


Ketika Dewa ingin mengeluarkan suaranya. Dengan cepat Sascha langsung mencegahnya. Ia tidak ingin Dewa memperkeruh masalah Dita.


"Apakah kamu ingin beristirahat terlebih dahulu?" tanya Sascha.


"Ya... kak. Temani aku ya," jawab Dita yang meminta Sascha untuk menemaninya.


"Oke," balas Sascha. "Ayo kita ke kamar."


Dita melepaskan Sascha sambil menghapus air matanya. Lalu Dita berdiri dan meninggalkan Sascha. Sebelum berdiri Dewa memberikan sebuah kode untuk Sascha untuk mengorek masalah Dita. Sascha akhirnya paham dan mengangguk kepalanya tanda paham.


"Ke kamar dulu ya," pamit Sascha.


Dewa hanya mengacungkan jempolnya. Lalu Sascha melemparkan senyumannya dan meninggalkan Dewa. Kemudian Sascha masuk ke dalam dan melihat Dita yang sudah berbaring.


"Apakah aku salah selama ini kepada Kak Dewa?" tanya Dita.


"Apa maksud kamu?" tanya Sascha mengerutkan keningnya.


"Setiap masalah aku tidak pernah cerita," jawab Dita.


Sascha menghempaskan tubuhnya dan berbaring di samping Dita. Ia lalu menatap wajah Dita sambil bertanya, "Ada apa dengan kamu?"


"Selama ini aku memang ada masalah besar. Tapi aku tidak pernah cerita kepada siapapun. Aku takut kalau Kak Dewa marah sama aku," jawab Dita.


"Sebenarnya kamu ada masalah apa sih? Kok kamu sering banget takut seperti itu," tanya Sascha yang bingung dengan Dita. "Apakah karena kasus kemarin yang belum selesai?"


"Iya kak," jawab Dita. 'Bukankah kita pernah membahas kasus di mana temanku ingin melemparkan aku ke pria hidung belang?"


"Pernah," jawab Sascha. "Gara-gara dia kakiku terkilir."


"Apakah dia membuat masalah lagi?" tanya Sascha yang penasaran dengan kasus yang di mana Dita ingin dilemparkan ke pria hidung belang.

__ADS_1


"Iya. Dia sudah bebas dari penjara. Dia mendatangiku satu bulan yang lalu," jawab Dita yang membuat Sascha bingung.


"Bagaimana bisa dia bebas begitu saja?" tanya Sascha yang mengerutkan keningnya.


"Aku tidak tahu. Dia sengaja mendatangiku ketika selesai syuting, Setelah itu dia mengusik hidupku. Dia mengancam aku untuk mengganti kerugian sebesar lima puluh milyar," jawab Dita. "Jika tidak dia akan menyebarkan video itu."


"Ini sangat aneh sekali," jawab Sascha sambil mengepalkan tangannya yang tidak terma dengan orang itu. "Lima puluh milyar tidak sedikit itu sayang. Nominal cukup besar."


"Masalahnya di sini aku adalah putri dari Nakata's Group. Yang di mana perusahaan itu sangat besar sekali. Jika dia menyebarkan video skandal itu ke publik. Aku takut Nakata's Groups akan berdampak besar, Aku takut para investor akan menarik dananya. terus ditambah lagi dengan harga saham Nakata's Groups anjlok. Itulah kenapa aku ingin menangis. Jika aku bukan Putri dari Nakata's Group. Aku tidak meminta bantuan ke Kak Dewa," jelas Dita yang membuat Sascha paham.


"Ya... aku paham dengan apa yang kamu katakan. Terkadang sulit melepaskan embel-embel dari nama seorang putri Nakata's Group". Aku tahu perusahaan itu sangat besar sekali. Semua orang ingin mengetahui apa saja yang dilakukan oleh para pangeran dan putri yang akan dinobatkan sebagai ahli waris Nakata's Groups," tambah Sascha yang hampir lupa dengan hal itu.


"Ya itu maksud aku kak," ucap Dita.


"Jika skandal itu menyebar hingga ke dewan direksi Nakata's Groups, bisa dipastikan kakek malu berat," beber Dita.


"Apakah kamu pernah membuat skandal itu?" tanya Sascha dengan serius.


"Aku tidak pernah membuat masalah itu kak. Aku juga tidak pernah memiliki teman pria sangat spesial. Malah yang sangat spesial adalah Kak Tommy. karena Kak Tommy adalah seorang pria yang sangat baik," jelas Dita yang membuat Sascha.


"Kamu enggak tahu siapa Kak Tommy sebenarnya. Dia adalah seorang psikopat di kelompok Black Tiger. Dan kamu tidak pernah tahu itu," batin Sascha.


"Kalau begitu aku akan membicarakan masalah ini ke Kak Dewa," ucap Sascha.


"Iya kak. Aku ingin meminta pendapat dari Kak Dewa bagaimana?" sahut Dita yang mulai menguap.


"Apakah kamu ingin tidur?" tanya Sascha lagi.


"Iya kak. Aku ingin tidur. Aku hari ini sangat capek sekali. Capek pikiran," jawab Dita yang membuat Sascha paham.


"Jam berapa kamu bangun? Biar aku yang membangunkan kamu," tanya Sascha dengan lembut.


"Jam lima sore. Jam tujuh malam kita akan pergi ke Jakarta," jawab Dita yang mulai memejamkan kedua matanya.


Melihat Dita yang mulai tertidur, Sascha mulai tersenyum manis. Bagaimana bisa sang adik ipar tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ia mulai menyimpulkan kalau Dita sangat penakut ke Dewa.


"Kenapa kamu enggak cerita ke aku? Kenapa kamu menyembunyikan ini semuanya? Apakah kamu takut dengan Kak Dewa jika tahu semuanya. Justru itu Kak Dewa malah senang jika mendengar ceritamu. Malahan Kak Dewa orangnya sangat penyabar sekali," batin Sascha.

__ADS_1


__ADS_2