Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
ADA YANG TIDAK BERES.


__ADS_3

New York City USA.


Lampu merah telah padam. Sascha sudah kembali tenang. Ia tidak boleh menangis. Ia harus tegar demi kedua calon bayinya yanng sedang tumbuh di dalam perutnya.


"Ma," lirih Sascha.


"Ada apa?" tanya Tara yang mulai berbicara lembut.


"Maafkan aku. Seharusnya aku yang terkena musibah ini," jawab Sascha.


"Kamu ngomong apa?" tanya Tara.


"Kak Dewa enggak boleh berbaring disana.Seharusnya aku yang berbaring disana," jawab Sascha yang masih terisak.


"Kamu enggak boleh ngomong begitu. Kalau kamu ngomong begitu. Kasihan Dewa," ucap Tara yang mengusap punggung Sascha.


"Tapi kenapa harus Kak Dewa. Nenek sihir itu sengaja mengincar aku," ujar Sascha sambil menggelengkan kepalanya.


"Sayang... mama tahu perasaan kamu. Mama tahu hati kamu hancur melihat Dewa seperti itu. Kamu tahu bagaimana kejamnya dunia bisnis?" tanya Tara yang memperingatkan Sascha tentang bahayanya dunia perbisnisan.


"Aku tahu ma. Kawan bisa menjadi lawan. Lawan bisa menjadi kawan," jawab Sascha dengan suara serak.


"Jika kamu tahu? Maka kamu harus paham tentang semua ini. Masalah ini masih diselidiki satu persatu. Kamu tidak boleh menyerah sedikit demi sedikit. Mama sudah menurunkan beberapa mata-mata yang akan menyelidiki semuanya," jelas Tara.


Sascha akhirnya paham apa yang dikatakan oleh Tara. Oleh karena itu Sascha hanya bisa menghela nafasnya untuk mengurangi kegelisahannya.


"Kamu enggak boleh menyalahkan diri kamu. Musibah datangnya kapan saja. Tanpa kita tahu dan tanpa kita sadari," ucap Tara. "Kamu harus kuat ya? Kasihan anaknya Dewa yang sedang tumbuh di dalam perutmu."


Kobe keluar dari ruangan unit gawat darurat. Ia segera mendekati mereka dan menatap Sascha sambil tersenyum manis.


"Kamu jangan khawatir. Dewa sudah tidak apa-apa. Besok Dewa akan aku pulangkan ke Nagoya," ucap Kobe yang mengambil keputusan dengan cepat.

__ADS_1


"Ngapain ke Nagoya?" tanya Tara. "Bukankah disini ada Aulia?"


"Kak, ini semua keputusan papa. Papa menyuruh aku mengurus kepulangan Dewa ke Nagoya. Menurut papa, Dewa akan bersembunyi disana untuk sementara waktu. Disini sudah tidak aman," jawab Kobe.


Sascha menganggukan kepalanya tanda setuju. Apa yang dikatakan oleh Kobe memang benar apa adanya. Ia sudah merasakan hawa yanng tidak enak di sekitarnya.


"Yang dikatakan oleh Mas Kobe benar apa adanya. Aku juga merasakan hal yang sama. Jika Kak Dewa masih disini dengan keadaan seperti ini. Kak Dewa tidak bisa selama," ujar Sascha yang membetulkan kata-kata Kobe. "Aku akan ikut bersama Kak Dewa."


"Belum saatnya kamu ikut! Kamu ada misi tertentu dari kakek Aoyama. Nanti aku akan memberitahukan misi sebenarnya," bisik Kobe.


Tak lama datang Chloe bersama Gerre. Mereka berdua sedang melakukan perjalanan bisnis. Ketika mereka sudah sampai ke Sao Paolo, Chloe dihubungi Almond. Almond mengatakan kalau Dewa tertabrak orang dan dibawa Bima ke rumah sakit. Lalu ia menceritakan keadaan Dewa sangat parah sekali. Tubuhnya dibedah oleh beberapa suster. Otomatis saat penandatanganan kontrak mereka tidak berkonsentrasi. Mereka sengaja membatalkan kontrak dan kembali ke New York.


"Bagaimana dengan keadaan Dewa?" tanya Gerre yang panik menatap Sascha.


"Keadaan Dewa tidak baik-baik saja. Aku merasa tidak beres. Tapi aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Karena tempat ini juga tidak aman," jawab Kobe.


Mereka mengangguk tanda paham. Mereka menahan untuk tidak bertanya lebih lanjut lagi. Lalu bagaimana dengan keadaan Dewa? Kobe juga tidak bisa menceritakannya disini. Kobe sengaja memilih untuk bungkam. Ia juga tidak mungkin untuk menceritakan semuanya.


"Lebih baik kita pergi ke markas. Tim dokter yang menangani Dewa juga sudah bersiap untuk menjaga Dewa sepanjang perjalanan. Habis ini akan ada pengawalan ketat. Aku tidak mau kecolongan lagi," jelas Kobe.


Sascha yang mengetahui kedatangan pria itu merasakan amarahnya. Ia segera berubah menjadi seorang wanita yang mematikan.


"Siapa keluarga pasien yang bernama Dewa?" tanya pria itu dengan penuh penekanan.


"Kalian minggir!" tegas Sascha.


Dengan terpaksa mereka minggir. Padahal mereka ingin menanyakan tentang kebenaran. Namun Sascha menahannya.


"Saya," seru Sascha yang maju mnejadi garda terdepan.


"Ngapain anda memanggil dokter lain kesini?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Ck, memanggil dokter lain kesini? Hey... aku enggak salah dengar apa? Ini rumah sakit milik siapa? Seenaknya kamu bilang begitu sama kami!" bentak Sascha yang tidak terima.


"Ini rumah sakit saya!" geram pria itu.


"Jangan mimpi! Ini rumah sakit milik orang yang berbaring disana!" geram Sascha yang mulai menunjukkan amarahnya.


"Jaga omongan kamu!" teriak pria itu.


"Ngapain aku harus menjaga omongan aku! Memang benar apa yang aku katakan. Aku sudah mendapatkan semua data-data tentang rumah sakit ini," jawab Sascha.


Pria itu hanya bisa tersenyum sinis. Ia sudah mulai merasakan level tidak aman. Ia memutuskan untuk pergi sambil menggeram. Jujur pria itu kalah telak dan tidak bisa mengelak. Ia harus mencari cara agar semuanya yakin dan bisa mengakui rumah tersebut.


Darimana Sascha mengetahui kalau rumah sakit itu milik Dewa? Memang sebelum menikah, Dewa mengakui kalau dirinya membangun rumah sakit di Amerika. Rumah sakit itu ditujukan buat orang-orang yang kurang mampu. Bahkan Dewa juga sering menggratiskan kepada semua.


"Aku akan mengambil rumah sakit ini! Aku tidak akan membiarkan mereka menguasai semuanya," ucap Sascha.


Kobe dan Gerre menganggukan kepalanya sambil mendukung keinginan Sascha. Lalu Kobe melihat jam yang berada di pergelangan tangannya. Ia memberikan sebuah kode untuk para pengawalnya.


"Sudah waktunya!" tegas Kobe.


Mereka akhirnya menuruti keinginan Kobe. Beberapa pengawal yang berada disana langung melaksanakan tugasnya.


Sang direktur rumah sakit hanya bisa menggeram dan mengepalkan tangannya. Ia mendapati sebuah pesan dari seseorang agar menyerahkan seluruh organ tubuh milik Dewa. Namun ia mulai berkeringat dan tidak bisa berkata apa-apa. Sungguh rencana ini gagal total.


Malam ini Dewa berada di dalam mobil ambulance bersama Sascha. Sascha tidak kuat menahan air matanya yang terbendung begitu saja. Ingin rasanya menangis namun ditahan. Sascha pernah berjanji kepada Dewa agar tidak menangis.


Melihat Sascha yang terluka lagi, Devan bersama Gerre tidak bisa menahan amarahnya. Lalu Kobe meminta mereka agar tidak meluapkan amarahnya terlebih dahulu.


"Kita tidak akan bisa tinggal di markas Black Tiger," ucap Kobe.


"Sedari datang, markas Black Tiger sudah tidak aman. Banyak sekali para musuh datang menyelinap ke masuk ke markas," ujar Sascha yang membenarkan omongan Kobe. "Dimana kita tinggal?"

__ADS_1


"Di markas Nakata's. Papa pernah membangun markas itu. Markas itu bisa dijadikan sebagai tempat persembunyian untuk sementara waktu," jawab Kobe.


"Apakah musuh akan menyerang kita jika berada di markas itu?" tanya Tara yang tidak yakin dengan jawaban Kobe.


__ADS_2