Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
LEMPAR BUNGA.


__ADS_3

Sebelum menuju altar Gerre membisiki sesuatu kepada Sascha. Ada satu kalimat yang terdengar di telinganya. Kalimat itu sangat sederhana sekali dan membuat Sascha akan mengenangnya.


Kalimat itu adalah:


Berbahagialah selalu dengan suamimu.


Hanya empat kata saja membuat Sascha menahan air matanya. Sesampainya di altar Dewa mengulurkan tangan kanannya. Sebelum memegang tangan kekasihnya, Sascha menatap Gerre dan meminta restu. Gerre pun tersenyum sambil berkata, "Pergilah nak bersama suami kamu itu. Kami merestui kamu."


Sascha menganggukan kepalanya sambil berkata, "Baiklah pa."


Sascha akhirnya memegang tangan Dewa lalu menatapnya. Kemudian Dewa meminta pendeta untuk memulai acaranya itu.


Pendeta itupun langsung memulai acara itu dengan wajah bahagia. Ia segera membaca janji pernikahan tersebut.


Tidak sampai satu jam, mereka sah menjadi suami istri. Dewa dan Sascha saling menatap satu sama lain. Mereka saling mendekat dan berciuman dengan manis.


Para petinggi D'Stars Inc tersenyum melihat adegan ciuman tersebut. Mereka sangka Dewa tidak pandai berciuman. Justru sebaliknya mereka terkejut dan melihat Dewa membuat sang istri terbuai.


Keenam pria itu saling memandang dan tersenyum. Salah satu dari mereka berteriak agar acaranya sudah selesai.


"Woi... Acara selesai. Jangan kamu teruskan. Teruskanlah saja di rumahmu sana," teriak Ian yang kesal pada Dewa.


Sepasang suami istri itupun malu setengah mati. Wajahnya langsung memerah bagai tomat rebus. Namun Sascha lah yang lebih parah. Ia bersembunyi di belakang punggung Dewa.


Dewa hanya tersenyum melihat sang istri malu. Ia menyunggingkan senyumnya yang manis. Lalu Dewa menyuruh Sascha ikut dengannya. Dewa mengajaknya Sascha melemparkan bunga. Lalu Dewa memberikan kode buat para petinggi D'Stars Inc untuk berkumpul.


Akhirnya mereka berkumpul dan bersiap-siap untuk memberikan bunga. Sedangkan Tommy minggir dari sana. Ia mengalah karena permintaan Dita. Semua orang meneriakinya dan Tommy menunjuk Dita sebagai gantinya.


Di sana Dita mengusir mereka. namun mereka menatap tajam ke arah gadis manis itu sambil berkata, "Apakah kamu mau mobil sport dari kami?'


Mendengar mobil sport Dita langsung minggir. Dita menyunggingkan senyumnya dengan manis ke arah Sascha. Lalu Sascha memberikan sebuah kode agar Dita masuk ke dalam kerumunan itu. Akan tetapi Dita menatap tatapan tajam dari mereka.


"Ups... aku hanya ikutan saja. AKu adalah anak kecil yang yang membuat kekacauan," jawab Dita.

__ADS_1


"Hey... kenapa kalian bertengkar?" tanya Sascha. "Kapan selesainya acara ini? Apa yang kalian perdebatkan?"


"Dita tidak boleh ikut di acara lempar bunga. Karena usianya masih dua puluh tahun. Jadinya dianya segitu tidak boleh menikah dalam waktu dekat ini," celetuk Bryan.


"Lalu, bagaimana dengan Kak Tommy?" tanya Sascha yang membuat mereka menatap wajah Tommy.


Tommy Hanaya mengedikkan bahunya sambil berkata, "Meskipun Dita tidak ikut lempar bunga. Kemungkinan besar tahun depan aku akan menikahinya."


"Amazing... langsung terdepan," puji Sascha sambil berteriak kegirangan.


Mereka langsung memutar bola matanya dengan malas. Mereka sangat kesal sekali dengan pembelaan Sascha. Lalu Sascha hanya tersenyum sambil membelakangi mereka.


Sang suami yang hanya melihat mereka bertengkar hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia hanya tersenyum manis sambil berbisik ke telinga Sascha, "Mereka sebenarnya ingin menikah. Tapi mereka belum memiliki calonnya."


"Iya benar juga. Kasihan mereka," sahut Sascha.


Gerre dan Devan yang melihat mereka bertengkar hanya bisa tersenyum. Kedua pria paruh baya itu paham dengan apa yang dirasakan oleh mereka. Mereka memiliki status yang disebut jomblo. Jadinya para pria itu akan mencari keberadaan jodohnya yang entah di mana.


Gerre akhirnya memimpin acara lempar bunga itu dengan penuh hangat. Mereka menjadi semangat dan mengangkat kedua tangannya berharap mendapatkan bunga pengantin itu.


Sascha sengaja melemparkan bunga itu ke arah mereka. Namun sayang seribu sayang, bunga itu jatuh tepat berada di kepala Dita yang belum siap menangkapnya. Alhasil Tommy segera mengambilnya sambil berteriak, "Papa Devan! tahun depan aku akan menjadikan Dita sebagai istriku!"


Mata Devan membelalak sempurna. Kenapa tiba-tiba saja Dita sold out ya? Bahkan Devan tidak tahu kalau Dita berpacaran?


"Kenapa anak gadis gue sold out juga ya? Padahal anak gue yang notabenenya pemalu bisa mendapatkan jodoh tanpa pacaran secara langsung?" keluh Devan yang ternyata tidak rela kalau sang putri lalu.


Plakkkk!


Tarra memukul pundak Devan sambil berkata, "Jangan menyesal seperti itu. harusnya kamu bersyukur kalau Dita di usianya sangat muda langsung mendapatkan jodoh. Enggak kaya papa? Masa papa menikah di usia tiga puluh lima tahun dan itu terpaksa?"


"Jangan buka kartu di sini. Kelak aku akan menyekapku selama seminggu," bisik Devan sambil tersenyum menyeringai membuat Tarra bergidik ngeri.


Selesai acara lempar bunga mereka kembali ke rumah. Akan tetapi Timothy memberikan suara buah amplop untuk berangkat ke Labuhan Bajo siang ini.

__ADS_1


"Tiket dan akomodasi pergi ke Labuhan Bajo sudah ada. Papa Devan memberikan tiket ini selama seminggu," ucap Timothy yang menyodorkan tiket itu.


"Kenapa seminggu?" tanya Dewa. "Bukannya aku di sana hanya dua hari?"


"papa Senam akan menghandle pekerjaan kamu sementara. Kamu disuruh berbulan madu di sana," jawab Timothy yang membuat Dewa berbinar.


"Akhirnya aku akan bulan madu," seru Dewa yang membuat Sascha terkejut.


Pulang-pulang bawa hadiah ya," suruh Ian.


"Oleh-oleh?" tanya Dewa yang membuat Ian menggelengkan kepalanya. "Lalu?"


"Buat istri kamu hamil dengan cepat. Buktikan kalau Sascha adalah istri kamu. Jika tidak... keluarga Billi akan mengklaim Sascha akan menjadi bagian dari mereka," jawab Ian sambil berbisik ke Dewa.


"Tidak akan aku biarkan! Pernikahan ini sudah resmi di mata hukum dan agama. Jika mereka memisahkan mereka, aku yang akan membunuhnya. Enak saja pernikahan ini akan dibubarkan!" geram Dewa.


"Kalau begitu berangkatlah. Tiga jam lagi pesawat akan terbang. Marty sudah bersiap di dalam mobil!" titah Timothy.


"Aku harus berganti pakaian terlebih dahulu," ujar Dewa. "Lalu bagaimana dengan Sascha? Apakah Sascha akan memakai pakaian itu?"


"Ya... tidaklah. Mama sudah mempersiapkan semuanya. Tinggal kamu ganti semuanya," jawab Timothy.


Dewa menarik tangan Sascha untuk berganti pakaian. Saat ingin memegang tangan sang istri, ponsel Sascha berdering. Ia segera mengambil ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layar tersebut.


"Adi?" tanya Dewa dalam hati.


Dewa langsung mengangkat ponselnya sambil menyapa orang berada di seberang sana, "Halo."


"Selamat siang," sapa orang yang berada di seberang sana.


"Ya... siang. Siapa ini?" tanya Dewa yang mulai curiga.


"Kami dari pihak kepolisian mau memberitahukan kalau Ibu Nirmala sudah meninggal. Malam ini Ibu Nirmala akan disemayamkan di rumah duka," jawab Adi nama pria itu.

__ADS_1


"Apakah itu benar?" tanya Dewa yang seakan tidak percaya berita itu.


__ADS_2