Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
PESAN DEWA UNTUK ADIK TERCINTANYA.


__ADS_3

“Itu benar. Berita itu menjadi sangat besar sekali hingga menghebohkan jagat raya,” jawab Sascha. 


“Bagaimana berita itu menjadi besar? Bukankah Fatin hanya orang biasa saja,” tanya Dewa. 


“Kakak tahu kalau Billy itu bekasnya seorang aktor? Kemungkinan besar nama Billy masih menggaung di dunia entertainment. Bisa jadi berita tentang Fatin menjadi besar begini,” jawab Sascha. 


“Bisa jadi kak. Biarkan saja. Kita tidak usah terlalu ikut campur soal itu,” ucap Dita.


Sesampainya di kantor mereka disambut oleh para karyawan. Mereka langsung menuju ke ruangannya. Sebelum pintu lift membuka, Dewa meminta Sascha membelikan sarapan pagi. Sascha langsung meninggalkan mereka dan menuju kantin. Lalu Dewa mengajak Dita pergi ke ruangannya. Di dalam lift, Dita melihat Dewa sambil menggelengkan kepalanya. Ia akhirnya mengembalikan emas batangan itu ke tangan Dewa. 


“Aku nggak minta ini,” ucap Dita. 


“Memangnya kamu minta apa?” tanya Dewa sambil mengerutkan keningnya dan menggenggam emas batangan itu. 


“Aku hanya ingin meminta kedua ponakan yang lucu,” jawab Dita. 


“Bersabarlah. Nanti aku bikinin,” ucap Dewa sambil memegang tangan Dita dan memberikan emas batangan itu. “Lebih baik kamu simpan saja. Kakak kemarin nggak sengaja membawa itu.” ujar Dewa yang memberikan emas batangan itu ke Dita. 


“Bukannya ini milik Kak Sascha?” tanya Dita. 


“Ada. Di rumah banyak yang besar,” jawab Dewa.


“Dasar Sultan. Bisa-bisanya Kakak ke mana-mana bawa emas batangan seperti itu. Bagaimana bisa membeli makanan jika uangnya emas batangan seperti itu?” tanya Dita dan memasukkan emas batangan itu ke dalam tasnya. 


“Itu cukup memberikan makan orang satu kampung dalam waktu setahun sebanyak tiga kali sehari,” jawab Dewa. 


“Bagaimana kalau yang besar?” tanya Dita yang sangat penasaran sekali dengan harga emas itu. 

__ADS_1


“Aku bisa memberikan makan orang satu kampung dalam beberapa tahun ke depan,” jawab Dewa yang membuat Dita semakin terkejut. 


“Kalau begitu berikanlah kepada aku satu,” pinta Dita. 


“Nanti aku kirimkan satu Jika kamu berhasil meraih S1 dengan nilai yang tertinggi. Kakak janji itu,” ucap Dewa yang membuat Dita tersenyum lebar.


Akhirnya Dita menyetujui permintaan Dewa untuk mendapatkan emas tersebut. Yang artinya Dita harus belajar dengan giat untuk meraih cita-citanya itu. Apalagi Dewa adalah seorang kakak yang membuat Dita menjadi terinspirasi. Dita berjanji akan belajar lebih giat lagi. 


Ting. 


Pintu lift terbuka. Dewa langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruangannya dengan diikuti oleh sang adik. Sesampainya di ruangan itu Dewa menghembuskan nafasnya secara kasar. Kapan lagi ia akan duduk di kursi kebesarannya itu. Cepat atau lambat Dewa akan duduk di kantor pusat. Dengan berat hati tangan kekarnya membuka pintu itu. Ia menuju ke kursi kebesarannya dan menghempaskan bokongnya di sana. 


“Kemungkinan besar Kakak nggak akan di sini lagi. Entah siapa nanti yang menjabat di kursi ini. Semoga bisa mensejahterakan karyawan di perusahaan ini,” ucap Dewa dengan berat hati. 


“Oh iya... Dita hampir lupa. Kalau kakak akan dilemparkan ke kantor pusat Tokyo. Lalu bagaimana dengan Kak Sascha. Bukankah Kak Sascha akan menjabat sebagai CEO di perusahaan Khans Company di New York city?” tanya Dita. 


“Aku tidak mau meminta perusahaan itu. Aku akan bekerja di tempatnya Kak Sascha saja sebagai CEO rumah mode di sana. Aku lebih suka mendesain ketimbang bisnis seperti itu,” tolong Dita dengan cepat. 


“Tapi kamu harus belajar soal bisnis dan manajemen. Perusahaan rumah mode milik kakakmu itu tidak sebesar perusahaan ini. Kamu harus memiliki visi dan misi ke depan. Jika kamu tidak memiliki itu semuanya. Bagaimana perusahaan itu akan berkembang menjadi pesat? Jangan sampai ketinggalan dengan orang lain,” pesan Dewa. 


“Benarkah Kak?” tanya Dita.


“Sepertinya kamu harus belajar dengan giat. Ambilah dua fakultas yang kamu sukai. Yang satu kamu harus mengambil bisnis dan manajemen. Yang dua terserah apa itu maumu. Kelak dua fakultas itu akan menjadi pedoman hidupmu. Jika kamu menikah dengan Tommy, kakak menyetujuinya. Kakak tahu siapa Tommy sebenarnya. Dia juga tidak akan mengekang kamu. dia akan membiarkan kamu berkembang menjadi wanita hebat,” jawab Dewa. 


Dita sangat terharu sekali dengan pernyataan dari sang kakak. Banyak nasehat yang diperolehnya hari ini. Kita akan mengingat semua pesan yang telah dikatakan oleh kakaknya. Tak lama Sascha datang dengan membawa tiga porsi bubur ayam dan roti bakar. Wanita berparas cantik itu menaruh pesanannya di atas meja tamu.


“Kak Dewa,” panggil Sascha.

__ADS_1


“Apakah kamu sudah sampai ke sini?” tanya Dewa yang tidak melihat Sascha sama sekali.


“Kakak ini sangat aneh sekali. Bisa-bisanya Kakak mengatakan seperti itu. Memangnya aku hantu apa?” kesal Sascha.


Dita pun tertawa terbahak-bahak mendengar kekesalan Sascha. Hingga akhirnya Dewa menatap wajah sang istri yang kesal. Sambil menahan tawanya Dewa berdiri dan mendekati Sascha. Tiba-tiba saja Dewa mencium Sascha di hadapan Dita.


“Kakak ini,” kesal Sascha.


“Jangan kesal seperti itu. Aku lapar,” ucap Dewa.


“Ternyata Kak Dewa setelah memiliki istri jadi manja banget ya,” ledek Dita.


“Semua pria seperti itu. Pasti akan manja setengah mati. Apalagi jika sudah memiliki anak. Bakalan sang wanita akan jadi rebutan antara si bayi dan si bapak,” ujar Sascha yang membuat Dewa menyetujuinya.


“Yang dikatakan kakakmu itu benar. Jika kamu tidak percaya maka risetlah dan tanyakan kepada pria yang sudah menikah. Pasti jawabannya seperti itu,” sahut Dewa sambil tersenyum mengakui kalau dirinya manja kepada Sascha.


“Tentunya kamu akan kerepotan sekali,” tambah Sascha.


“Apakah Kak Tommy seperti itu?” tanya Dita.


“Hubungi dia saja. Pasti jawabannya iya. Apakah kamu tidak merindukan Kak Tommy? Dan kapan kamu menghubunginya?” tanya Sascha. 


“Terakhir kalinya aku menghubungi Kak Tommy kemarin malam. Kami mengobrol banyak dan Kak Tommy mengatakan kalau dirinya sangat rindu kepadaku,” jawab Dita. 


“Ya sudah. Hari ini atau besok berangkat ya ke New York city?” tanya Dewa. 


“Besok saja kak. Aku ingin bersih-bersih pakaian yang terlebih dahulu,” jawab Dita. “Bagaimana menurut Kak Sascha?”

__ADS_1


__ADS_2