Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Sebenarnya Ada Apa?


__ADS_3

"Ya... Aku nggak main-main sama perkataanmu itu. Kamu itu terlalu ambisi untuk mendapatkan sesuatu. Dan rencanaku sekarang menjadi rusak berantakan. seharusnya kamu tidak perlu membuat skandal seperti ini. Kamu hanya memancing keributan antara Gerre sama aku!" geram Damar dengan nada meninggi.


"Kamu itu memang brengsek sekali. Dengan cara inilah Gerre keluar dari kandangnya. Aku sudah tidak sabar lagi ingin menendang Gerre dari kursi ahli warisnya itu. Gara-gara orang itu, Aku gagal menjadi ahli waris. Kamu tahu sendiri kalau ibuku mengatakan, semua perusahaan Khans Company adalah milikku sendiri. Aku nggak mau ada orang yang memilikinya!" bentak Cathy balik.


"Kamu memang bodoh. kamu nggak pernah tahu apa artinya menjebak ala Damar Suseno! Kalau sampai Gerre tahu. Akulah orang pertama yang akan meninggalkanmu! Kamu nggak pernah berpikir pakai logika! Kamu berpikir pakai hati yang panas dan cepat-cepat mendapatkan semuanya! Untung saja Livi tidak ikut-ikutan memiliki sifat serakah sepertimu. Gara-gara kamu hidup putriku menjadi hancur berantakan!" jelas Damar yang tidak mau terseret jika Gerre tahu.


Jujur saja Damar sudah mulai jengah sama istrinya itu. Damar sudah mulai menyusun rencana yang epic untuk merebut perusahaan milik Chloe. Namun langkah awalnya digagalkan oleh Cathy. Semuanya sudah hancur berantakan seperti ini. Andai saja istrinya itu mau bersabar. Kemungkinan besar Damar tidak akan menjadi susah seperti ini.


Di dalam pesawat menuju New York city. Sascha mulai membuka laptop dan menyelidikinya satu persatu. Menurutnya ini sangat lucu sekali. Bagaimana bisa perusahaan langsung tutup tanpa ada pemberitahuan dari pemerintah di sana? Ia tidak habis pikir kenapa ini bisa terjadi.


"Sayang," panggil Dewa.


"Ada apa sih?" tanya Sascha.


"Berita penutupan Khans Company sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ini sangat lucu sekali. Menurut logikaku ini tidak masuk di akal. Karena perusahaan itu sangat bersih sekali dari masalah besar," jawab Dewa.


"Aku pun juga begitu. Kenapa juga perusahaan itu langsung tutup begitu saja? Rasanya aku ingin mencari siapa orang yang sudah membuat perusahaanku tutup?" ucap Sascha.


"Jangankan kamu. Papamu juga merasa bingung dan gelisah. Habis turun dari pesawat. Mau tidak mau kita harus menuju ke kantor milik papamu itu. Kita akan menyelidikinya terlebih dahulu," ujar Dewa yang mendapat anggukan dari Sascha.


"Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Lama-lama aku sudah bosan menghadapi orang-orang seperti itu. Andaikan jika aku memiliki kekuatan dan teleportasi. Kemungkinan jarak Antara Jakarta ke New York akan menjadi beberapa meter saja. Dan aku hanya tinggal lompat saja," kesal Sascha.


"Kamu ingin belajar teleportasi? Kamu bisa melakukannya. Tapi kamu harus bertapa kurang lebih sepuluh tahun. Kemungkinan besar aku akan mengajakmu ke hutan untuk bertapa," bisik Dewa.

__ADS_1


"Tidak perlu. Kamu ini ada-ada saja. Kamu itu kebanyakan baca novel yang berbau-bau fantasi timur. Sekalian saja kamu bisa berkultivasi," rajuk Sascha.


Melihat istrinya merajuk, Dewa langsung menarik tubuh mungilnya dan memeluknya. Apa yang dikatakan oleh Sascha memang benar apa adanya. Di waktu senggang Dewa sering membaca novel online yang berbau fantasi timur. Terkadang Dewa suka menulis tentang novel yang bertemakan sama.


"Seandainya ada kultivasi itu beneran. Jadi aku nggak perlu susah-susah merubah diriku menjadi lebih tinggi lagi," ucap Dewa. "Dan kamu bisa mempelajarinya dariku."


"Nggak perlu kak. Aku pengen menjadi orang biasa saja," ujar Sascha yang mencium aroma tubuh Dewa maskulin.


"Apa yang kamu lakukan sayangku?" tanya Dewa sambil mengelus-ngelus punggung Sascha.


"Aku sedang menelusuri kasus yang sedang terjadi saat ini. Aku mulai mengecek berita-berita di sana. Aku mencoba masuk ke dalam sistem keamanannya tapi itu sulit sekali. Aku tidak tahu siapa yang memegang sistem keamanan tersebut," jelas Sascha.


"Yang pastinya papamu sendiri. Papamu selain menjadi CEO. Dia juga memegang sistem keamanan di perusahaan sana. Papamu juga sangat jago sekali. Ketika memainkan sistem keamanan tersebut. Jika ada yang membobol sistem tersebut. Cepat atau lambat orang itu akan mendapatkan ganjaran setimpal. Kalau kamu ingin masuk ke sana. Lebih baik kamu izin terlebih dahulu. Kamu nggak bisa masuk seenaknya ke sana. Jika kamu sudah mendapatkan izin dan akses. Kamu bisa masuk ke dalam sana," jelas Dewa yang tahu informasi itu dari Leo.


"Ya nggaklah. Ngapain juga cemburu. Nggak ada papamu juga nggak ada kamu. Kalau nggak ada kamu. Aku nikah sama siapa?" tanya Dewa sambil menyunggingkan senyumnya yang paling manis.


Tidak sengaja wanita berparas cantik itu menatap senyum Dewa. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Memang setiap kali tersenyum, Dewa selalu membuat masalah. Untung saja Sascha tidak jatuh maupun menabrak tiang sekaligus.


"Kakak kalau senyum manis sekali kayak gula," bisik Sascha yang membuat Dewa menatapnya kembali.


"Sudah dulu aku memang tampan dan manis. Tapi kamu baru menyadarinya sekarang," ucap Dewa dengan sombong.


"Dasar narsis. Oh iya kak... Sepertinya aku mencium sesuatu di dalam kasus ini. Kemungkinan besar perusahaan itu tutup mendadak karena ada sesuatu," ujar Sascha.

__ADS_1


"Kamu mencurigai siapa dalam kasus ini?" tanya Dewa.


"Siapa lagi kalau bukan Cathy dan Damar. Aku semakin curiga saja sama kedua orang itu. Aku harap Papa mengerti soal ini. cepat atau lambat aku akan turun tangan mengurusi mereka berdua," jawab Sascha yang membuat Dewa ketar-ketir.


"Waduh... Mode on rubah kecilnya sudah keluar. Kalau dipegang pun aku nggak bakalan Sanggup. Mau tidak mau aku akan melepaskannya untuk sementara waktu," ucap dewa dalam hati.


"Kalau begitu aku tidur dulu di dalam kamar. Setelah sampai aku akan bertarung dengan mereka. Cepat atau lambat mereka akan mendapatkan akibatnya dariku," pamit Sascha yang mematikan laptopnya dan memberikannya ke Dewa.


Kemudian Sascha berdiri dan meninggalkan Dewa. Ia menuju ke kamar sambil melihat para pramugari. Entah kenapa Sascha mulai curiga dengan para pramugari tersebut. Dengan santainya Sascha masuk ke dalam dan terdiam.


Saat masuk ke dalam kamar, ponsel Sascha berdering. Ia meraih ponselnya dan melihat nama yang tertera di layarnya itu. Kemudian Sascha mengangkat ponsel itu sambil menyapa orang berada di seberang sana, "Halo."


"Apakah kamu masih berada di dalam pesawat?" tanya Kobe yang berada di pesawat terpisah.


"Iya Mas Kobe," jawab Sascha sambil berdiri tegak.


"Kamu cek dulu ponselmu. Jika sudah aman hubungi aku kembali. Jika belum aman hubungi aku lewat email!" perintah Kobe.


Sambungan terputus.


Sascha mulai duduk di atas ranjang. Lalu ia langsung mengecek ponselnya. Dalam hitungan beberapa menit, Sascha mulai membongkar ponselnya itu. Namun dirinya tidak menemukan apa-apa. Kemudian ia teringat dengan laptopnya. Terpaksa Sascha kembali ke posisi tadi.


Ketika kembali ke posisi tadi, Sascha melihat beberapa gelagat pramugari yang aneh. Akan tetapi Sascha membiarkannya. Namun diam-diam Sascha menempelkan sesuatu barang kecil di salah satu punggung pramugari tersebut. Ia tidak menyentuh sama sekali. Memang cepat pergerakan tangan Sascha.

__ADS_1


Kemudian Sascha memutuskan duduk di samping Dewa. Lalu Dewa menatap Sascha sambil bertanya, "Kamu kok belum tidur?"


__ADS_2