Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
POSITIF.


__ADS_3

"Apakah jika aku hidup bersama mama? Aku akan menjadi seorang anak yang manja."


Tanya Sascha.


"Kalau dipikir-pikir sih nggak. Kamu belum tahu saja bagaimana papamu sebenarnya. Papamu tidak akan membiarkanmu bermalas-malasan. Papa memiliki prinsip yang kuat untuk membangun karakter kamu. Ditambah lagi dengan mamamu yang memiliki sifat keras. Saking kerasnya Kamu tidak akan pernah bisa menghalaunya."


Jelas Dewa yang sudah mulai memiliki emosi yang baik.


"Tapi, apakah kamu suka memiliki seorang gadis yang manja?"


Tanya Sascha.


"Manja Bagaimana dulu? Definisi manja itu banyak. Tapi aku lebih menyukai memiliki seorang menjadi atau wanita yang memiliki sifat keras dan licik. Kamu tahu kan sendiri kalau aku itu apa?"


Tanya Dewa sambil memberikan mata kedipan berkali-kali ke arah Sascha.


"Berarti Kakak?"


"Ya... Ayolah kalau begitu. Jangan di sini terus. Aku sudah lapar hari ini."


Ajak Dewa yang menarik tangan istrinya itu menuju ke apotek.


Mereka menyusuri jalan tepat di samping sawah. Jujur di kampung Bu Nirmala masih sangat asri sekali. Banyak sekali sawah-sawah yang masih memberikan penghasilan kepada warga. Sepasang suami istri itu berharap agar semuanya tidak berubah ketika main di sini suatu hari nanti.


Ketika masuk di apotek, Sascha langsung disambut oleh pegawai di sana. Sascha langsung memburu obat penambah darah dan juga alat tes kehamilan berbagai merek sebanyak satu lusin.


Setelah selesai mereka langsung menuju ke rumah. Di dalam perjalanan banyak sekali orang-orang berjualan. Sascha tidak sengaja melihat nasi pecel. Lalu ia mendekati penjual pecel itu dan memesan satu porsi saja. Selesai membeli pecel, mereka kembali ke rumah.


Oh, betapa bahagianya Hati Dewa saat ini. Jujur ia sangat bingung ketika memegang paper bag yang berisikan tentang alat tes kehamilan. Dalam hatinya, Dewa berkomat-kamit sambil memanjatkan doa, agar hasilnya positif semua.


Sesampainya di rumah, Sascha dan Dewa langsung masuk ke dalam kamar. Dewa sengaja mengambil alat tes kehamilan itu satu persatu.


"Rasanya kamu harus mengetes semuanya?"


Ucap Dewa.


"Besok pagi saja ya? Setelah kita melakukan,"


Sahut Sascha yang menggantung karena dirinya tidur bersama Dita.


"Jujur, Aku ingin melakukannya denganmu. Berhubung kamu tidur bersama adikku itu. Kita tidak bisa melakukannya."


Ujar Dewa yang membuat Sascha berpikir ulang.


"Lebih baik kamu tes aja. Ketimbang Kamu nunggu nanti nanti nanti... Jangan patahkan semangatku hari ini. Jika sudah patah, Apakah kamu harus bertanggung jawab?"


Tambah Dewa.


"Kakak ini ada-ada saja. Ya sudah kalau begitu. Aku pergi ke toilet dulu."

__ADS_1


Sahut Sascha yang mulai membawa alat tes kehamilannya Itu semua.


Lalu Sascha meninggalkan kamar tersebut untuk menuju ke toilet. Di sana ia mulai membuka satu persatu alat tes kehamilan itu. Selama setengah jam Sascha keluar dengan membawa alat itu ke kamar.


Sementara itu Dewa sedang menunggu kedatangan Sascha. Jujur saja Dewa merasakan jantungnya berdetak dengan kencang.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Sascha masuk ke dalam sambil melihat sang suami yang gelisah. Ia menaruh alat itu di meja. Kemudian dirinya duduk di sampingnya sambil memegang tangan Dewa.


"Sabar ya Kak. Jangan terlalu terburu-buru. Lagian tunggu beberapa menit kemudian."


Ucap Sascha yang tersenyum manis.


"Hari sudah mulai siang. Apakah kamu tidak makan terlebih dahulu?"


Tanya Dewa sambil memandang wajah Sascha.


"Nanti saja kak. Aku juga gelisah untuk menunggu hasilnya."


Mereka pun tersenyum sambil memandang wajah satu sama lain. Mereka akan menguatkan hatinya jika alat kehamilan itu ditemukan satu garis saja. Beberapa menit kemudian, Dewa berdiri dan mendekati meja. Lalu Dewa mengambil satu persatu dan melihatnya. Alangkah terkejutnya, Dewa melihat garis dua di setiap alat tes tersebut.


"Sepertinya kamu positif deh."


Ucap Dewa.


Tanya Sascha sambil berdiri dan mendekati Dewa.


"Lihatlah... Kamu pasti tidak akan percaya soal ini."


Jawab Dewa yang mengembangkan senyumnya sambil merangkul tubuh mungil sang istri.


Sascha mengambil salah satu alat tes itu dan melihatnya dengan seksama. Ia seakan tidak percaya dengan hasilnya yang positif tersebut. Kemudian dirinya mengambil lagi dan mengecek berulang. Hasilnya juga sama, ada garis dua di alat tes kehamilannya itu.


"Bagaimana menurutmu?"


Tanya Sascha yang menatap wajah Dewa.


"Ternyata positive juga. Syukurlah kalau begitu. Ternyata mimpiku selama ini adalah kenyataan. Kita akan memiliki banyak anak."


Jawab Dewa sambil tersenyum dan memajukan wajahnya lalu mencium bibir tipis sang istri.


Begitu bahagianya pasangan suami istri itu. Baru beberapa bulan menikah, Sascha sudah diberikan kepercayaan untuk menjadi seorang ibu. Begitu juga dengan Dewa, jujur selama ini dirinya ketakutan sekali. Rasa takutnya adalah tidak bisa memiliki seorang anak. Ternyata Tuhan berkata lain. Dewa dipercaya memiliki seorang bayi.


Saat mereka berada di zona romantis, Dita tidak sengaja datang dan melihat kakaknya sedang beradegan mesra. Dengan cepat Dita menutup maka lalu keluar dari sana. Hingga akhirnya Dita memutuskan untuk tidak mengganggu mereka.


Entah kenapa Dita merasakan atmosfer yang sangat bahagia. Dita berharap rumah tangga sang kakak akan berjalan sampai akhir hayat mereka. Setelah itu Dita mencari keberadaan Tommy. Ternyata Tommy berada di bawah pohon mangga yang sibuk dengan laptopnya.

__ADS_1


"Kak Tommy."


Panggil Dita yang mendekat dan duduk di sampingnya.


"Ada apa memangnya?"


Tanya Tommy yang sengaja menghentikan pekerjaannya terlebih dahulu.


"Kak Dewa nakal sekali Kak. Diam-diam tak Dewa telah memboikot kakak iparku. Mereka sedang beradegan romantis di dalam kamar."


Jawab kita dengan polosnya hingga membuat Tommy tertawa.


Melihat Tommy tertawa, Dita akhirnya menatap wajah calon suaminya itu. Kita tidak marah sama sekali. Dita sangat menyukai ketika Tommy sedang tertawa.


"Sepertinya kamu ingin ya?"


Tanya Tommy yang mulai meledek Dita.


"Ingin apa?"


Tanya Dita balik.


"Ingin berada di zona romantis seperti kakakmu itu."


Jawab Tommy yang sengaja memancing Dita.


"Lebih baik kita nikah dulu kak. Lalu kita bisa melakukan hal-hal yang aneh."


"Hal aneh apa?"


"Apa ya? Aku sendiri bingung."


Semakin lama Tommy semakin gemas dengan Dita. bisa-bisanya Dira mengatakan kalau dirinya tidak tahu. Memang, Tommy mengenal Dita itu ternyata masih polos. Padahal usianya sudah beranjak dewasa.


"Masa kamu nggak tahu sih kita mau ngapain?"


Tanya Tommy yang sebenarnya tidak ingin memancing Dita.


"Sepertinya aku tanyakan saja pada Kak Dewa ya?"


Tiba-tiba saja Tommy tertawa sangat kencang sekali. Jujur baru kali ini calon istrinya sangat polos. Tapi Tommy sangat bersyukur ketika mendapatkan calon istri yang masih polos.


"Ich... Kakak mah ngasih pertanyaan. Aku yang malah menjawabnya."


Jawab Dita yang kesal terhadap Tommy.


"Ya iyalah neng Dita. Lagian kamu membahas zona nyamannya kakakmu. Mereka kan sudah resmi untuk menikah. Lalu pertanyaannya adalah ngapain sih saja mereka setelah menikah? Lalu aku salah gitu ya kalau tanya?"


Tanya Tommy yang benar-benar sangat gemas sekali terhadap Dita.

__ADS_1


__ADS_2