
"Kita harus mencari agar mereka mengakui kejahatannya yang fatal itu. Kamu tahukan banyak sekali korbannya?" tanya Dewa yang menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
"Hehehe... aku enggak tahu," jawab Sascha.
Dewa meraih tab-nya lalu mencari nama agen rahasia bermarkas di Kanada. Ia menemukan beberapa informasi tentang agen rahasia itu. Setelah itu, ia memberikan tab tersebut ke Sascha.
"Lihatlah ini. Kamu bisa mencari buktinya di dunia bawah tanah," jelas Dewa.
"Kenapa kakak mencarikan informasinya secara mendetail?" tanya Sascha yang meraih tab tersebut.
"Bukan aku tidak memberikan informasinya secara mendetail. Karena itu kamu sangat nyeleneh. Kamu pasti suka berkunjung ke dark web," jawab Dewa.
"Hehehe... Kakak tahu banget sih?" tanya Sascha melihat Dewa.
"Ya tahulah. Apa yang menjadi favorit kamu itu. Bahkan kamu sama perempuan lain pun sangat berbeda jauh," jawab Dewa.
"Menurutku agensi ini tidak benar sama sekali. Aku tahu apa yang dimaksud dengan agensi ini," celetuk Sascha.
"Mafia yang berada di bidang human trafficking. Tapi mereka berkedok agensi mata-mata. Coba saja kasus yang ditanganinya memang konyol. Saking konyolnya lempar batu sembunyi tangan," ujar Dewa yang menjelaskan apa yang diketahui.
"Jadi kakak selama ini tahu?" tanya Sascha.
"Ya... tahu. Mereka adalah musuh bebuyutanku. Sang pemilik bernama Jackie Lari," jawab Dewa yang membuat Sascha bingung.
Sascha langsung membuka dark web. Ia mencari siapa Jackie Lari itu. Tiba-tiba saja Sascha tertawa terbahak-bahak. Sebab apa yang menjadi nama belakang Jackie adalah Lari.
Melihat sang istri tertawa, Dewa menatap wajah Sascha. Tangan kekarnya sengaja memegang perut Sascha. Kemudian Dewa mengelus-ngelusnya sambil kepalanya menghadap ke perut Sascha.
__ADS_1
"Sayang, apakah kalian terkejut?Kalau kalian terkejut, maka maafkanlah mama kamu itu. Mama kalian sedang bahagia. Karena mama kamu sedang mendapatkan umpan. Nanti papa akan melepaskan mama kamu untuk menangkap Jackie Lari," ucap Dewa yang sengaja mengajak kedua calon anaknya berbicara.
"Memangnya aku boleh berburu?" tanya Sascha yang menghentikan tawanya.
"Boleh. Kenapa juga enggak boleh? Meskipun melarang, kamu juga tidak akan tinggal diam. Kamu itu ibaratnya seorag manusia pemburu. Jadi kamu itu mengambil panah lalu pergi meninggalkan aku untuk berburu," jawab Dewa yang menjelaskan sifat tersembunyi Sascha.
"Hehehe... kamu benar kak. Kak anak kita nantinya mirip siapa ya?" tanya Sascha.
"Mirip kamu boleh. Mirip aku oke. Bagaimana kalau anak-anak kita mirip dengan orang lain?" tanya Dewa yang menatap Sascha.
"Mungkin kamu pernah membenci seseorang. Hingga anak kita mirip dia," jawab Sascha.
"Lha... jujur semenjak kamu hamil. Aku sangat membenci papaku yang bernama Devan," ucap Dewa dengan jujur.
"Padahal Papa Devan sangat tampan sekali," puji Sascha.
"Waduh," pekik Sascha. "Jangan salahkan aku. Jika anak-anakmu mirip sama papa Devan! Nanti aku disangka selingkuh dengan Papa Devan."
Cup.
Dewa langsung mencium mulut Sascha. Ia tersenyum manis sambil menjauhi Sascha.Sascha yang baru sadar lalu berteriak, "Kak Dewa!"
Dewa tidak memperdulikan teriakan Sascha. ia memilih untuk membenarkan bantalnya Sascha berkata, "Tidurlah.Sudah siang. Empat jam lagi kita akan terbang ke New York."
Sascha tidak terima apa yang dilakukan oleh Dewa. Mulutnya cemberut dan membaringkan tubuhnya. Kemudian ia membelakangi Dewa.
Dewa yang melihat Sascha hanya tertawa terbahak-bahak dan merangkulnya. Ia tahu kalau sang istri cemberut dan memegang tangan Sascha. Sementara itu Sascha mulai melunakkan hatinya dan menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Tidurlah. Kamu tidak boleh capek. Setelah ini kita berjuang menghabisi orang-orang yang tidak tahu aturan itu," bisik Dewa.
"Ya... baiklah," balas Sascha yang mengalah.
Di bawah, ada Bima dan Leo. Mereka sedang menikmati kopi dan beberapa cemilan yang sudah disediakan sama pengawal.
"Kemana Dewa?" tanya Bima.
"Biasa... Dewa sedang mengajak Sascha tidur," jawab Leo.
"Apa?" pekik Bima.
"Ya... memang itu benar. Dewa sengaja mengajak istrinya tidur siang. Biar katanya si kembar ikutan tidur," jawab Leo,
"Apa maksudnya?" tanya Bima yang menepuk jidatnya sambil tertawa.
"Memang benar," jawab Leo.
"Memang Sascha adalah bocah kecil apa?" tanya Bima.
"Dewa membuat Sascha sebagai ratu. Dia juga membuat peraturan buat Sascha ketika hamil. Sascha tidak boleh melanggarnya. Ketika melanggarnya, Sascha akan mendapatkan hukuman yang sangat berat sekali," jelas Leo.
"Aish... bucin banget itu orang. Bisa-bisanya ia menerapkan status seperti itu. Aku enggak habis pikir dengan pikiran Dewa," kesal Bima. "Benar juga sih. Kalau Sascha itu enggak boleh kemana-mana. Semuanya harus di manage dengan baik. Apalagi Sascha adalah seorang wanita yang memiliki ugal-ugalan," sambung Leo.
"Kita enggak menyangka kalau Sascha bisa menikah dengan Dewa. Dua orang yang sangat gila dalam pekerjaan ekstrim,' ungkap Bima yang mimpinya terwujud.
"Apakah yang akan kita lakukan?" tanya Leo.
__ADS_1