
"Kami makan ketika waktu pulang. Sekarang kami belum makan lagi," jawab Dewa.
"Ya udah. Suruh istrimu makan terlebih dahulu. Di dalam perutnya ada kedua bayimu. Jangan sampai mereka kelaparan hanya menunggumu makan," suruh Chloe yang membuat Dewa menganggukkan kepalanya.
"Mama sedang memasak makanan favoritmu. Yaitu menu sup ayam ditambah ceker. Makanlah kalian semuanya," ucap Tara.
"Baiklah ma," balas Dewa.
"Sebentar ma. Aku sedang berkirim pesan buat Kak Tommy. Mau tidak mau Kak Tommy harus ke sini dan menjelaskan semuanya tentang silsilah keluarganya. Agar semuanya jelas," ucap saja yang tangannya sedang mengetik di layar tab-nya itu.
Ketika mengirim pesan, Dita datang bersama Devan. Dita langsung memeluk Sascha dari belakang. Sascha langsung terkejut dan memegang tangan lembut Dita. Kemudian Sascha tersenyum sambil bertanya, "Apa kabar?"
"Kabarku baik-baik saja," jawab Dita yang melepaskan Sascha lalu tersenyum manis. "Akhirnya aku memiliki keponakan yang lucu."
"Masih lama. Kurang lebih sembilan bulan ke depan. Kamu harus bersabar untuk melihatnya. Agar kedua bayinya Kak Dewa tumbuh dengan baik di dalam perutnya Aulia," ucap Tara.
"Iya aku akan menunggunya," sahut Dita.
"Gimana kabar kamu Sa?' tanya Devan.
Selesai mengirim pesan kepada Tommy, Sascha mengangkat kepalanya. Ia tersenyum manis sambil menjawab, "Kabarku baik-baik saja Pa.Terima kasih sudah perhatian sama aku."
"Papa kira kalian akan langsung ke New York?" tanya Gerre yang baru saja datang dengan membawa jajanan anak SD.
"Enggak pa. Aku pasti kesini dan mendiskusikan apa yang telah terjadi dengan Khans Company," jawab Sascha.
__ADS_1
"Ya udah dech... makan dulu sana. Setelah itu istirahat. Bukankah ibu hamil harus beristirahat?" tanya Gerre sambil menatap wajah Sascha.
"Baik pa," balas Sascha yang tidak ingin membantah keinginan Devan.
Dewa mengajak Sascha pergi ke dapur.Sebelum makan mereka duduk dan mendiskusikan masalah ini tentang Tommy.
"Apakah aku harus memberitahukan kepada Papa Gerre?" tanya Sascha.
"Kita perlu jawaban Tommy dahulu. Aku tahu papamu seperti apa? Bisa-bisa papamu itu akan memblacklist semua akses Tommy dan keluarganya itu," jelas Dewa.
"Ya sudah dech... keputusannya berada di tangan kakak," pinta Sascha.
"kalau begitu makanlah. Kamu pasti merindukan sup ayam buatan mama Tara?" tanya Dewa.
"Kak Dewa tahu saja. Padahal aku sendiri tidak cerita pada Kak Dewa," jawab Sascha.
Siang ini dua keluarga berkumpul dengan bahagia. Mereka sedang menikmati siang ini dengan camilan yang sengaja dibeli Gerre di warung. Gerre ini sangat aneh sekali. Jajanan yang bentuknya aneh itupun ia membelinya.
Lalu bagaimana dengan Devan? Memang sedari dulu Devan sudah mengetahui sifat Gerre. Malah semakin tua, Gerre sangat aneh sekali. Itu menurut Devan.
Tommy yang berada di kamar hotel telah mendapatkan pesan dari Sascha. Mau tidak mau Tommy harus pulang ke rumah Sascha terlebih dahulu. Ia merasakan ada firasat yang aneh. Apakah ini tentang hidupnya? Atau kisah cinta Tommy akan kandas setelah ini?
Kalau kisah cinta Tommy adalah kandas. Jujur bagi Tommy ini sangat menyakitkan. Gadis yang telah diimpikan sekarang membencinya. Bukan membencinya tapi menghindarinya. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa? Akankah Tommy menerima tawaran dari Dewa? Jawabannya adalah entah.
Sore itu juga Tommy berangkat menuju ke Nganjuk dengan mobil pribadinya. Ia pergi sendiri tanpa ada yang menemaninya. lalu bagaimana dengan Aryani? Aryani sudah dulu pergi ke bandara. Sebenarnya wanita itu tidak ingin berbuat jahat menghancurkan kehidupan Tommy. Ia malah memperingatkan datang untuk memberitahukan kabar keluarganya disana.
__ADS_1
Aryani sangat membenci keluarganya Tommy. Ia adalah korban dari mamanya Tommy. Ketika mengandung dan meminta pertanggung jawaban dari Tommy, Namun malah ia diusir dari keluarganya itu.
Itulah status sosial yang membuat Aryani sangat membencinya. Ia dianggap sebagai aib buat keluarganya Tommy. Bahkan ia sendiri dianggap sebagai penghancur keluarganya.
Tommy tidak tahu akan hal itu. Selama ini Tommy tinggal berada di Indonesia. Semenjak SMP, ia sudah tidak tinggal bersama keluarganya itu. Ia memutuskan untuk tinggal di keluarganya Dewa. Ia berusaha ingin lepas dari keluarganya itu. Agar dirinya bisa memilih kehidupan yang lebih baik lagi dan tidak mengikuti jejak kedua orang tuanya.
Di Nganjuk, Sascha melihat Dita yang bersedih. Wanita berparas cantik itu mendekati Dita sambil duduk di sampingnya. Ia tahu dan mengerti apa yang telah terjadi saat ini. Ia lalu memegang tangan Dita sambil tersenyum hangat.
"Apakah kamu masih sakit hati dengan Kak Tommy?" tanya Sascha.
"Sudah enggak. Aku hanya merasakan sesak di dada. Aku tidak habis pikir, cintaku terhalang restu kedua orang tuanya,' jelas Dita.
"Ada benarnya untuk saat ini. Kamu menikah dengan Kak Tommy akan menderita selamanya. Mamanya tidak merestui kamu. Mamanya ingin melihat Kak Tommy ingin menikah dengan seorang bangsawan. Sementara kamu, kamu adalah seorang bangsawan keturunan dari Jepang. Tapi apakah mama papa menyuruh kamu memamerkan semuanya tentang gelar kebangsawanan kamu? Tentu tidak. Mama dan papa menginginkan kamu bergaul dengan siapapun. Mereka ingin sekali berkembang dan melihat kamu mencoba hal-hal yang baru. Begitu juga dengan aku. Mama Chloe juga memiliki gelar bangsawan. Mama sengaja menghilangkan gelar itu demi bergaul dengan siapa saja. Lantas apakah mama memintaku untuk menikah dengan seorang pria yang harus memiliki gelar bangsawan. Enggak sama sekali. Kakak memilih Kak Dewa. Karena Kak Dewa memiliki sifat baik," jelas Sascha.
"Lalu apakah kamu harus menangisi Tommy?' tanya Dewa yang baru saja datang dengan membawa air mineral lalu duduk di hadapannya mereka.
"Menyesal kak. Kenapa aku harus berkenalan dengan Kak Tommy. Seharusnya aku enggak mengenal Kak Tommy kalau hasilnya begini," jawab Dita.
"Ya... jangan menyesali perbuatan kamu itu. Yang namanya hidup itu tidak akan indah jika tidak ada orang berkunjung ke hidupmu itu. Kelak suatu hari nanti kamu bisa mendapatkan seseorang yang sangat baik sekali dan menerima kamu apa adanya," jelas Sascha yang memberikan sebuah nasehat hidup.
"Tuh... dengarkan apa yang kakak iparmu katakan. Kamu juga harus memetik kisah cinta Kakakmu itu hampir sama dengan kamu. Kami tidak ingin kamu kecewa dan menjadi beban di dalam hatimu jika sudah menikah. Kalau masih pacaran sakitnya hanya sebentar. Kalau sudah menikah bisa menjadi beban di dalam hatimu. Bukankah menikah itu butuh kebahagiaan?'' tanya Dewa yang menatap wajah sang adik.
"Apa yang dikatakan oleh kakak benar juga ya? Aku juga ingin bahagia merawat suami dan anak-anakku. Tapi apakah aku bisa mendapatkan seorang pria yang lebih baik lagi dari pada Kak Tommy?" tanya Dita balik.
"Semuanya bisa. Sekarang kamu harus meraih cita-citamu itu ya. Kamu kuliah duku untuk mengambil gelar S1 dan S2. Nanti ilmu kamu sangat berguna sekali bagi banyak orang," jawab Sascha tersenyum manis.
__ADS_1
"Apakah aku boleh kuliah di Belanda?" tanya Dita yang sebenarnya ingin sekali kuliah di Belanda.