
Di saat Dewa tanya kalau dirinya pria romantis, Sascha langsung saja membuang wajahnya ke arah trotoar. Sascha tidak menyangka kalau Dewa tiba-tiba saja narsis setengah mati. Harus bagaimanakah dirinya mengatakan sebenarnya? Karena ia tahu kalau Dewa bukan tipe pria yang romantis.
"Tadi kakak mau ngomong apa ya? Kok aku nggak paham?" tanya Sascha.
"Apakah aku pria yang sangat romantis sekali?" tanya Dewa lagi.
"Kakak ini ngomong apa sih? Apakah Kakak kesambet setan di pohon mangganya Pak Purnomo?" tanya Sascha.
"Kan aku nanya. Aku termasuk pria romantis apa tidak? Lalu apa salahku?" tanya Dewa yang bingung dengan jawaban sang istri.
"Kalau aku jujur, Apakah kakak marah?"
"Aku nggak marah sama kamu."
__ADS_1
"Beneran nih. Okelah kalau begitu. Aku akan jujur sekarang."
"Ya udah sih. Kok ngomongnya lama banget."
"Kakak itu sebenarnya bukan pria romantis. Kakak jarang sekali memberikan aku kejutan-kejutan yang lain. Tapi aku nggak minta itu. Aku nggak masalah kalau kakak menjadi romantis. Justru itu aku lebih suka pria yang blak-blakan dan ngomong apa adanya. Ditambah lagi Kakak kalau ngomong jujur banget. Aku malah suka itu. Karena Kakak sendiri sekarang sudah menjadi milikku selamanya."
"Apakah kamu tahu definisi romantis itu?"
"Definisi romantis itu menurutku sendiri seorang pria tidak perlu memberikan hadiah apapun ke pasangannya. Sebaliknya seorang pria sengaja memberikan perhatian yang lebih kepada kekasihnya. Contohnya saja, makan yang sudah siang."
"Syukurlah, Aku suka kejujuran kamu. Apa yang kamu katakan itu benar? Aku takut jika kamu menutupi sebuah rahasia dan ujung-ujungnya kita berantem setelah itu mengungkit semua kejadian yang lalu," jelas Dewa.
"Yang namanya kisah cinta yang sudah terikat dalam tali pernikahan tidak akan seperti itu. Kalau kita melangkah lebih jauh hingga tali pernikahan. Kita sudah menjadi manusia dewasa. Definisi dewasa itu adalah yang di mana orang-orang menyingkirkan egonya demi pasangan masing-masing. Aku nggak mau nanti pernikahan ini hancur karena ego kita masing-masing. Aku akan belajar untuk menjadi wanita dewasa dan melupakan sesuatu yang bisa menyakiti hatiku. Bukankah manusia itu sering tersakiti dalam hal apapun?"
__ADS_1
"Yang kamu katakan itu benar. Kamu sekarang sudah menjadi wanita dewasa. Tapi jangan dilupakan sifat-sifat manjamu itu. Karena aku sendiri sangat suka sekali ketika kamu sedang manja."
"Bagaimana kalau kita kembali ke kedai ramen itu? Aku ingin sekali makan ramen yang sangat pedas sekali. Rasanya di musim dingin ini kalau makan yang panas membuat tubuh kita berkeringat dan tidak perlu berolahraga."
"Kamu yang suka pedas. Aku sendiri nggak suka. Lalu aku harus bagaimana?"
"Sepertinya kamu harus belajar makan pedas. Tapi aku jadi ragu Jika kamu memakan pedas seperti itu? Lebih baik kamu nggak usah makan pedas. Aku takut nanti kamu opname seperti dulu."
"Baiklah kalau begitu. Memang yang namanya cabe itu mengerikan. Apalagi mulut tetangga itu mirip cabe yang sangat pedas sekali."
"Apa maksudnya Kak Dewa? Apakah kakak pernah berantem sama tetangga?"
"Kamu nggak tahu saja. Dulu aku pernah berantem sama nenek-nenek karena masalah kambing. Padahal kambing itu bukan milikku. Ah si nenek-nenek itu melabrakku. Jadinya ya kasus itu sangat ramai sekali. Untung saja sang pemilik kambing datang dan mengambilnya. Jadi nggak sampai lama kasus itu selesai."
__ADS_1
"Ternyata kakak hebat giliran berantem sama nenek-nenek. Kakak nggak pakai title mafianya dan menghukum nenek itu."
"Apa yang kamu bilang?" tanya Dewa.