Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MENDADAK SEPERTI PATUNG.


__ADS_3

Sesampainya di halaman rumah Cathy, Sascha mulai membuka seat belt. Lalu tangannya membuka pintu mobil itu. Sebelum keluar Dewa menahannya sambil berkata, "Jangan gegabah seperti itu! Aku tahu kamu ingin menghajarnya sekarang juga!"


Sascha menganggukkan kepalanya sambil keluar dari mobil. Begitu juga dengan Dewa, Dewa teringat rumah itu dan terkejut.


"Bukankah rumah ini adalah milik Dita?" tanya Dewa sambil memandang wajah Sascha.


"Maksud kakak apa?" tanya Sascha balik.


"Mama pernah menghadiahkan rumah ini untuk Dita. Aku masih ingat persis dengan kondisi rumah itu. Tapi kenapa Cathy memakai rumah itu? Apakah ada sesuatu diantara Dita dan Cathy?" tanya Dewa.


"Apakah aku harus membantumu untuk mencari dokumen rumah itu? Tapi aku tidak akan melakukannya pada hari ini," tanya Sascha.


"Sepertinya itu ide yang bagus. Nanti saja kalau kita pulang dari sini. Kok aku merasakan ada konspirasi di antara Dita dan orang itu," jawab Dewa sambil menebak.


"Ya aku tahu itu. Aku semakin penasaran saja dengan rumah itu," ucap Sascha yang sangat penasaran sekali dengan rumah itu.


Sascha melangkahkan kakinya dengan diikuti oleh Dewa. Untung saja rumah itu tidak ada penjaganya sama sekali. Dibilang orang kaya ternyata tidak. Dibilang orang miskin namun mereka kecukupan. Sesampainya di depan rumah Sascha mengetuk pintu dengan kencang.


Sementara Cathy yang sedang bersantai sangat kesal sekali. Bisa-bisanya pada siang ini ada yang mengganggunya. Dengan terpaksa Cathy menaruh gunting kuku di meja. Setelah itu ia berdiri dan menuju ke depan.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu terbuka.


Tak sengaja Cathy menatap wajah Sascha dengan terkejut. Wanita paruh baya itu pun tidak menyangka kalau Aulia masih hidup.


"Selamat pagi Cathy. Apakah kamu tidak membiarkan aku masuk ke dalam? Jika kamu tidak membiarkan aku masuk ke dalam! Itu tandanya tidak sopan sama sekali dengan tamu," ucap Sascha yang masih menunggu Cathy mempersilahkan masuk.


Dengan terpaksa Cathy masuk ke dalam dan mempersilahkan mereka masuk. Tanpa banyak bicara Cathy langsung menyuruh mereka duduk.


"Ternyata rumah ini adalah rumah adikku sendiri. Ada apa dengan adikku sehingga memberikan rumah ini kepada manusia yang tidak memiliki akhlak?" tanya Dewa langsung menusuk ke jantung Cathy.


"Oh ya... Kamu nggak perlu repot-repot membuatkan kami minuman. Sebelum aku bicara kamu duduk di sini terlebih dahulu," tunjuk Sascha yang mempersilahkan duduk di sofa kosong.


"Bukankah ini sofa yang diminta oleh adikku ketika berjalan-jalan ke Paris?" tanya Dewa yang mulai menyudutkan Cathy.


"Kenapa kamu tidak bicara sama sekali? Biasanya kamu selalu berseru dan berteriak-teriak di hadapan seluruh orang. Kalau kamu itu adalah anak yang tidak pernah diberikan warisan sedikitpun oleh nenek Hilda. Tapi yang perlu Anda tahu. Anda adalah seorang pengecut. Jelas-jelas sang ahli waris itu diserahkan pada Chloe. Ini sangat aneh sekali. Apakah anda sedang mengalami sakit gigi atau gusi berdarah ditambah tenggorokan kering ketika melihat aku?" tanya Sascha yang penuh dengan keberanian.


Cathy tidak bisa menjawab karena semuanya sudah ketahuan. Ia tidak bisa lari ke mana-mana. Sang ahli waris pemilik Khans Company telah kembali. Sang pemilik itu pun akan membuat perhitungan kepadanya. Jujur dirinya bingung mau berkata apa.


"Oh iya aku lupa. Aku adalah Aulia. Gadis kecil yang di mana kamu pisahkan dari pelukan sang mama. Ternyata di balik aku menghilangnya dari perusahaan Itu. Aku ditakdirkan untuk menjadi wanita pemberontak. Yang di mana wanita itu akan menyerangmu secara bertubi-tubi. Dan kamu bersama Damar sialan itu. Tidak akan pernah aku membiarkan kalian hidup. Kalian memang sangat licik untuk mendapatkan sesuatu harus mengorbankan aku. Sekarang gantinya aku akan membuat kalian menderita seumur hidup. Oh iya di mana Damar sialan itu?" tanya Sascha.


Dewa melihat istri kecilnya itu sedang menghancurkan Cathy. Ya... Bisa dikatakan kalau Sascha memiliki mental yang kuat. Semakin lama sang istri semakin ngegas dan membungkam mulut lawan bicaranya itu.

__ADS_1


"Ke mana Damar sialan itu? Cepat jawab atau aku akan memberikan satu bukti ke tangan polisi," tanya Sascha sekali lagi.


Terpaksa Cathy membuka mulutnya dan mengatakan di mana Damar berada. Jujur Cathy tidak menyangka, kalau gadis yang sudah dibuangnya itu menjelma menjadi wanita yang menakutkan. Ditambah lagi Sascha berani mengungkapkan perasaannya dengan lugas. Bagaimana ia akan melawannya? Sementara ia sudah tidak memiliki uang lagi. Karena uang yang dimilikinya untuk membayar orang-orang yang ingin merobohkan Gerre.


"Percuma aku datang. Ternyata kamu nggak bisa bicara sama sekali. Kenapa juga aku datang ke sini? Aku tunggu perlawananmu mulai saat ini. Oh iya... Bilang sama Damar kalau aku mencarinya. Gara-gara Damar aku hampir mati di atas ketinggian dua ribu kaki!" tegas Sascha.


Cathy menganggukkan kepalanya dan berdiri. Wajahnya sangat pucat sekali lalu otak bersama hatinya tidak dapat bekerja dengan baik. Memang ia memiliki depresi tingkat tinggi.


Sascha bisa melihat itu dari wajahnya. Entah kenapa wanita itu tidak berbicara sama sekali. Hingga akhirnya Sascha dan Dewa memutuskan untuk pergi.


Di dalam mobil mereka saling memandang. Mereka tidak tahu tentang rumah Dita itu. Apakah mereka sengaja membeli rumah itu secara ilegal? Atau menyewa dari sang papa? Jujur Dewa mewaspadai orang itu.


"Kenapa Cathy diam seperti itu?" tanya Sascha yang ingin marah kepada Cathy.


"Kamu sudah cukup untuk menindasnya. Seperti aku lihat Cathy memilih diam untuk menyusun rencana. Tapi kamu harus berhati-hati sama orang seperti itu. Ditambah lagi ia memiliki sifat yang sangat licik sekali. Cepat atau lambat dia akan menyerang kita," jawab Dewa dengan jujur.


"Rasanya aku rindu sama bibi jahat itu! Apakah aku boleh bermain-main dengannya?" tanya Sascha.


"Boleh. Aku tidak akan menghentikanmu sama sekali. Oh ya rumah itu bagaimana kelanjutannya?"


"Nanti aku cek. Sepertinya aku curiga dengan mereka. Kemungkinan besar mereka membeli rumah itu melalui ilegal. Bisa jadi mereka sengaja membelinya untuk berteduh. Karena mereka tidak akan bisa masuk ke dalam istana Atmaja. Sekalinya masuk sang pemilik istana itu akan menangkapnya dan melemparkannya ke dalam penjara lagi," jelas Sascha.

__ADS_1


"Tanggung ya hidup seperti itu. Lebih baik kamu cari dokumen-dokumennya dan siapa yang menjualnya? Aku ingin tahu rumah itu berasal dari mana? Jika tebakan kita benar. Kita akan mengusutnya hingga mereka terusir dari rumah itu."


"Baiklah. Aku akan segera mencarinya ketika sampai di istanaku. Rasanya aku bertemu dengan orang gila. Di sosmed orang itu selalu pamer dan membangga-banggakan perusahaanku. Dan sekarang dirinya mulai ketakutan," sahut Sascha.


__ADS_2