
"Bisa jadi. Aku mulai curiga dengan rumah sakit yang dibangun oleh Dewa itu. Sepertinya kita harus berhati-hati untuk melindungi Dewa. Dewa sekarang sudah tidak aman lagi," jawab Kobe.
"Apakah masalahnya Aulia berkaitan dengan lawan bisnis Dewa? Soalnya kalau aku kait-kaitkan itu menyatu dengan pikiranku sendiri. Yang anehnya jejak agen mata-mata yang berdiri di Kanada dengan kejadian demi kejadian itu berkaitan. Aku rasa sang pemilik agen mata-mata itu sudah membuat pernyataan kalau dewa adalah musuh terbesarnya," jelas Leo.
"Nah inilah yang aku maksud. Aku sudah curiga dari kemarin. Lebih baik kita beritahukan kepada Aulia. Atau juga Aulia memiliki keterkaitan dengan masalah ini. Maksudku aku tidak menuduh Aulia untuk mencelakai Dewa. Kamu tahu kan Aulia betapa besar cintanya kepada Dewa. Sepertinya kita harus menyelidikinya lebih dalam lagi," ucap Kobe yang kehabisan kata-kata dan tidak mengerti apa yang telah terjadi saat ini.
"Sebentar. Ini sangat aneh sekali. Bayangkan jika tubuhmu terluka dan terkoyak seperti Dewa? Apa yang harus kamu lakukan? Sepertinya ini sangat aneh sekali. Tubuh terkoyak seperti itu lalu dalam hitungan beberapa jam. Sang pemilik tubuh bangun dari tidurnya. Ini sangat aneh sekali. Dia mengaku kalau dirinya sudah sadar semenjak perjalanan menuju ke markas ini," jelas Leo.
"Tadi itu para suster belum sempat membedah lebih jauh lagi. Mereka hanya membedah di bagian lapisan kulit nomor tiga. Jadi di tubuhnya Dewa hanya ada bekas sayatan saja. Yang dibedah itu adalah bagian jantungnya. Untung saja Aulia langsung masuk dan menghentikan semuanya. Prosesor itu sebenarnya ketakutan. Sampai saat ini aku belum menginterogasinya satu persatu. Setelah menginterogasinya aku akan menyerahkan mereka ke kepolisian setempat. Aku udah nggak mau membunuh orang lagi. Aku sudah berjanji pada istriku agar tidak menyakiti orang-orang," sambung Kobe.
Mereka menyetujui apa yang dikatakan oleh Dewa. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan pencabutan nyawa. Jika mereka terlibat dalam dunia mafia. Maka hidupnya akan tamat.
Sascha masih berada di dalam kamar itu. Betapa menderitanya ia melihat sang suami merasakan perih di area jantung. Dewa sengaja merengek kesakitan agar mendapatkan perhatian dari Sascha. Betapa hebohnya pasangan suami istri itu.
Sejujurnya Dewa itu bukan pria yang manja. Kalau sudah merasakan tubuhnya sakit seperti terkena peluru. Dewa memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. Meskipun Bima maupun Timothy sengaja merawatnya. Namun Dewa memilih bungkam seribu bahasa.
Ceklek.
__ADS_1
Pintu terbuka.
Kobe dan Devan masuk ke dalam kamar tersebut. Mereka berdua mendekati Dewa sambil menatap wajah Sascha. Tiba-tiba saja Dewa menarik tangan Sascha sembari berkata, "Yang tubuhku sakit banget."
Sontak saja mereka berdua terkejut. Bagaimana bisa mereka berdua mendengarkan kata-kata yang dilaknat oleh para mafia tersebut? Namun Mereka pun hanya tersenyum konyol.
"Satu kalimat yang baru saja aku dengar. Kalimat itu ternyata keluar dari mulut Putraku yang telah dilaknat oleh para mafia! Sungguh mataku menjadi sangat aneh sekali," kesal Devan.
Dewa hanya tersenyum bahagia karena telah membuat sang Papa marah. Dewa masih berbaring dan menikmati perihnya tubuh kekarnya itu. jujur Dewa ingin sekali menghajar para suster tersebut. Memecatnya tanpa memberikan pesangon. Sepertinya Dewa akan melakukan hal itu.
"Satu kalimat yang keluar dari mulut kamu itu menandakan. Kalau kamu ingin mengerjai Aulia. Sungguh absurd dirimu ini. Seharusnya kamu nggak perlu lagi berkata seperti itu. Malam ini akan ada pertemuan apa tidak?" tanya Kobe.
"Berarti kamu ini sebenarnya bisa bangun loh dari tidurmu itu. Apa aku harus memapahmu sampai ke ruangan khusus itu?" tanya Devan.
"Sudah kubilang tunggu ku ini perih banget. Terus kakiku masih sangat sakit sekali. Aku ditabrak terkena kakiku. Kalau bisa kalian memberikanku kursi roda saja," jawab Dewa yang kesal terhadap sang papanya Itu.
"Alah! Alasanmu banyak banget sih. Semenjak ada Aulia kamu sekarang sangat manja sekali. Manjamu melebihi anak TK," ucap Devan.
__ADS_1
"Memintaku untuk pindah ke Nagoya ya?" Tanya Dewa yang mulai curiga kepada Kobe dan Devan.
"Kamu disuruh kakek pindah ke Nagoya sementara waktu. Setelah itu kamu akan memakai pasukan kakek untuk menyerang mereka. Berhubung Kamu sudah bangun jadi rencanaku batal total. Aku menyuruh Aulia untuk balas dendam. Tapi ya sudahlah kalau kamu sudah sadar begini. Atau kamu pergi ke Nagoya sendiri tanpa Aulia. Kamu di sana mendapatkan perawatan dari beberapa tabib yang akan diutus oleh kakek. Tuh kakimu masih bengkak seperti gajah. biarkan Aulia di sini bersama kami dan membalaskan dendammu. Atau juga aku akan memasukkan kematianmu untuk sementara waktu. Di saat orang-orang gempar dan mendengar tentang kematianmu. Saatnya Aulia beraksi. Aulia akan aku berikan porsinya sebanyak enam puluh persen. Setelah Aulia berhasil menghabisinya satu persatu dan sengaja disisakan. Kamu keluar dan membantai orang-orang tersebut dari belakang. Aku yakin balas dendam ini akan menjadi indah," jelas Kobe yang tiba-tiba saja memiliki rencana untuk menghabisi musuh dengan cepat.
"Sepertinya itu ide yang sangat bagus sekali. Aku menyetujuinya. Tapi aku mau minta bantuan kalian. Aku nggak mau sendirian melawan mereka satu persatu. Kekuatanku tidak cukup banyak untuk melawan mereka," ucap Sascha baru saja mengeluarkan suaranya.
"Istriku sedang hamil. Kamu jangan macam-macam memberikan perintah yang cukup berat kepada wanita hamil. Gila saja kamu menyuruh istriku membantai mereka hanya empat puluh persen saja. Itu kurang bagi Aulia. Seharusnya delapan puluh persen. Sedangkan aku hanya dua puluh persen," ucap Dewa yang sengaja melirik Kobe.
"Dasar Dewa gila. Bisa-bisanya sang istri mendapatkan bagian sangat banyak itu," kesal Kobe.
"Kamu kesal? Yang dikatakan oleh Dewa itu memang benar. Seharusnya Aulia tampil di depan umum. Hitung-hitung kita memiliki satu pepatah. Yang di mana pepatah itu mengatakan, sekali mendayung dua atau tiga pulau terlampaui. Kalau aku sih setuju saja. Aku yakin Aulia berhasil melakukannya," ucap Devan sambil mengedipkan matanya ke arah Sascha.
"Yang papa katakan itu benar. Aulia pasti bisa melakukannya. Karena Aulia sendiri adalah wanita tangguhku," ujar Dewa yang sengaja memuji Sascha.
"Apakah tubuh kamu tidak sakit lagi?" tanya Kobe yang menatap wajah Dewa.
"Kamu enggak tahu apa yang telah terjadi di pada kulitku ini. Perih tahu bang Kobe," jawab Dewa yang sengaja merengek ke Sascha.
__ADS_1
"Cih, kaya bocah kecil!" ledek Devan. "Meeting akan dilaksanakan beberapa menit kemudian."
"Jangan pake menit pa. Aku enggak bisa berjalan. Sudah tahu kakiku terkilir seperti ini," kesal Dewa yang benar-benar tidak bisa bangun dari tidurnya.