Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Curhatan Bima.


__ADS_3

“Iya... Aku sudah berjanji dengan ibu Nirmala. Janji itu harus ditepati dan nggak boleh mengecewakan. Meskipun orangnya sudah tiada kita harus ke sana,” jawab Sascha.


“Tidak apa-apa. Tapi sebelumnya kita ke rumah sakit terlebih dahulu. Aku ingin memeriksakan perut kamu,” ucap Dewa yang segera berdiri dan menahan kantuk.


“Ada apa dengan perutku? Sepertinya aku tidak ada masalah apapun dengan perutku ini,” tanya Sascha yang tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Dewa.


“Ya kamu nggak pernah tahu soal itu. Kamu juga nggak pernah menghitung kamu bulanan,” jawab Dewa sambil tersenyum dan masuk ke dalam toilet.


Sascha mulai berpikir keras dan mencerna apa kata Dewa. Menurutnya apakah itu sangat penting? Entahlah, akhirnya Sascha tidak memperdulikan hal itu. Ia lebih memilih membereskan ranjang seperti kapal pecah.


Di bawah Bima, Timothy, Ian dan Tommy sedang berkumpul. Mereka sedang menikmati kopi susu yang sudah diracik oleh Dita. Semalam ada penyerangan namun Dita tidak mengetahuinya. Andai saja gadis lugu itu tahu, ia akan ikut-ikutan menghajar para pengawal White Lion.


Dita yang selesai membuat kopi akhirnya masuk ke dalam dapur. Sebelum masuk Dita berpapasan dengan Sascha bersama Dewa. Lalu Sasha mendekatinya sambil bertanya, “Kamu hari ini free?”


“Memangnya kenapa Mbak?” tanya Dita.


“Kamu nggak ikutan balik sama Papa ke Amerika hari ini?” tanya Dewa.


“Aku nggak ikut. Aku ingin bersama Kak Sascha,” jawab kita yang langsung memegang tangan Sascha dan mengajaknya pergi dari hadapan Dewa.


“Waduh! Hey... Dita! Mau kamu bawa ke mana istriku itu?” seru Dewa hingga membuat para penghuni di sana langsung heboh.

__ADS_1


Seketika Bima dan Tommy menatap wajah Timothy. Kedua pria itu saling melemparkan pertanyaan ke arah Timothy. Timothy yang tidak tahu apa-apa hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Seakan dirinya akan memberikan jawaban itu.


“Lu kenapa sih pada ngeliatin gue kayak gitu? Memangnya gue hantu apa?” tanya Timothy yang membuat Ian tertawa.


“Coba lu pikir! Tiba-tiba saja pagi ini Dewa sangat bucin dan posesif sekali terhadap Sascha. Padahal Sascha sedang diajak oleh Dita,” jawab Bima.


Dewa yang mendengar itu hanya bisa menunduk pucat. Bagaimana tidak sang istri langsung diambil oleh sang adik. Dewa menghempaskan bokongnya sambil menatap mereka.


“Aku kasih tahu rahasia tentang Dita. Tapi setelah ini kamu jangan mengomelinya,” celetuk Tommy.


“Maksud kamu apa? Apakah kamu ingin menjelekan adikku?” tanya Dewa.


“Kamu mau tahu kenapa Dita suka banget mendekati istrimu? Karena mereka adalah sama-sama perempuan. Yang di mana mereka saling curhat satu sama lain. Apalagi yang berhubungan dengan seorang pria. Maka dari itu biarkan saja Dita bersama istrimu itu,” jawab Tommy. “Kamu benar juga. Kenapa Aku nggak berpikiran ke sana? Makanya kalau dia curhat pada Sascha itu sangat nyaman sekali. Bahkan saking nyamannya, aku sebagai kekasihnya tidak mengetahui masalah tentang kehidupan Dita.”


“Istrimu itu ibaratnya seorang wanita yang suka menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Dia juga sering lupa atas curhatan seseorang ke dirinya. Bisa dikatakan Dia adalah seorang pendengar yang baik. Itulah kenapa istrimu itu sangat enak sekali diajak mencurahkan isi hati bersama,” jelas Bima yang dulu pernah mencurahkan isi hatinya ke Sascha.


“Tapi kamu sangat aneh sekali. Kamu nggak pernah cemburu kepada pria yang berada di dekatnya. Kamu juga nggak pernah marah kepada dia. Bahwa setiap orang menikah pasti ada sifat cemburunya jika wanitamu berdekatan dengan pria lain,” ujar Timothy.


“Aku memang tipe pria yang suka cemburu. Namun ada kalanya aku harus membuat istriku tetap nyaman berada di sampingku. Dan aku tahu siapa teman pria istriku. Itulah kenapa aku selalu mencari informasi tentang mereka,” jawab Dewa yang sebenarnya merasakan cemburu ketika berada di gengnya.


“Bener juga sih. Seharusnya kita tidak boleh cemburu terlalu berlebihan. Kita juga tidak boleh membunuh kecerdasan dan kreativitas sang istri. Perlu diingat kita harus mencari informasi apa yang dilakukan oleh istri. Tanpa adanya bukti dan informasi kita nggak bisa menyalahkan pihak perempuan,” sahut Ian yang membenarkan perkataan Dewa.

__ADS_1


“Memang benar. Aku juga berpikiran sependapat dengan kalian. Kasihan juga kalau para istri kita kecam dan kurung di rumah. Ada kalanya para istri juga butuh healing dan senang-senang. Kita? Kita sudah memiliki hiburan tersendiri. Contohnya saja pas perjalanan bisnis waktunya kurang lebih dua hari, kita bisa menambah waktu sehari. Cukuplah bagi kita untuk melakukan healing sendiri,” ucap Tommy.


“Kamu memang the best. Memang buat para petinggi kamu sudah melakukan hal yang terbaik. Coba saja kamu nggak memberikan solusi seperti itu. Bisa-bisa karyawanku stres setengah mati,” jelas Dewa yang bangga terhadap kinerja Tommy.


“Bukannya kamu marah atau apa? Sementara Tommy sendiri memberikan cuti sehari setelah pekerjaan,” tanya Bima.


“Aku nggak pernah marah soal itu. Biarkanlah para karyawan merasakan tugas di luar sekaligus liburan. Apalagi para jomblo yang tidak bisa merasakan liburan. Karena di perusahaanku sendiri mengutamakan profesional dan sikap. Kita harus memberikan reward buat mereka untuk liburan. Bosnya sering liburan entah ke mana. Masak karyawannya disuruh kerja terus-terusan,” imbuh Dewa.


“Pekerjaan inilah yang aku sukai. Setahun lagi aku akan balik ke perusahaanku. Papa sudah ngomel habis-habisan. Cepat atau lambat papa akan pensiun dari pekerjaannya. Sekarang giliranku untuk memimpin perusahaan,” ucap Bima.


“Aku nggak ada masalah jika kamu keluar. Yang jadi masalahnya aku sendiri itu. Bisa nggak kamu menghentikan sebutan Playboy mu ke setiap wanita yang kamu temukan?” tanya Dewa yang perduli pada Bima.


“Memangnya kenapa?” tanya Timothy.


“masalahnya hanya satu saja. Aku ingin Bima sadar dan mencari perempuan baik-baik untuk dijadikan Seorang istri. Cepat atau lambat kebutuhan Bima di dalam rumah pasti istrinya yang akan mengurusnya. Maaf aku harus mencurahkan isi hatiku ini ke kamu,” ujar Dewa yang sangat mempedulikan Bima.


“Aku tahu itu. Aku ingin memiliki Seorang istri. Tapi untuk Sekarang aku tidak mencarinya terlebih dahulu. Aku sering sekali mengetes ke banyak wanita. Tapi aku tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Mereka ingin sekali aku menjadi pria yang memiliki kekayaan,” Bima mencurahkan isi hatinya. Selama ini terpendam hanya karena banyak wanita menginginkan dirinya sebagai orang kaya.


“Kamu itu lucu ya Bim. Lagian juga kamu mengetes pacar-pacarmu itu,” kesal Ian terhadap Bima.


“Aku nggak seperti itu. Aku memang ingin mencari seorang wanita yang tulus. Yang mau menerimaku apa adanya,” kata Bima.

__ADS_1


“Memangnya Kak Bima mau mencari wanita seperti apa?” tanya Sascha yang baru saja datang dengan Dita.


__ADS_2