Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
CARI AKU APA SASCHA?


__ADS_3

“Kamu tanya siapa, aku apa Sascha?” tanya Dewa.


“Apakah aku salah menanyakan asistenku?” tanya Eric sambil menaruh pulpennya.


“Kenapa kamu nggak nanya gimana kabar sahabatmu ini?” tanya Dewa.


“Aku nggak nanya. Jujur aku males kali menanyakan itu. Setiap buka sosmed selalu ada kamu dengan caption aku baik-baik saja. Makanya aku udah nggak nanya lagi gimana kabarmu,” jawab Eric yang malas berdebat dengan Dewa. “Apakah kamu paham Tuan Dewa?”


Dewa tersenyum bahagia melihat sahabatnya yang sudah ceria. Dewa tidak mau melihat Eric sedih terus-terusan hanya karena kehilangan uang. Sedangkan Erik hanya bisa memutar bolanya dengan malas. Setiap kali bertemu mereka selalu debat. Namun perdebatan itu tidak menimbulkan aksi yang menegangkan.


“Puas lu sekarang?” tanya Eric.


“Jujur gue belum puas. Sudah gue bilangin lupain dulu uang tiga miliar itu. Lunya sih pakai ngambek segala. Kalau ada Sascha  pasti masalah ini beres. Kenapa juga lu nggak makan nggak tidur beberapa hari? Emangnya lu mau mati!” geram Dewa.


Tiba-tiba saja Eric mengalah dan diam. Lalu Eric menghembuskan nafasnya sambil mendapatkan energi dari sahabatnya itu. Memang Eric tidak enak jika menyangkut uang perusahaan lenyap tanpa jejak. Bagi Eric itu adalah beban besar.


“Thanks bro,” ucap Eric bernafas lega.


“Sama-sama,” balas Dewa. “Bagaimana perusahaan gue tinggal sebulan ini?”


“Semenjak lu tinggal ada seseorang yang ingin menghancurkan perusahaan. Gue sudah ngirimin SOS ke Sascha. Dari jarak jauh Sascha memantau keadaan. Emangnya Sascha enggak cerita?” jawab Eric sambil bertanya kembali.


“Cerita sih. Ceritanya masalah sudah selesai. Gue bingung sama isi otaknya itu. Kenapa dia bisa memiliki banyak ide untuk menyelesaikan masalah? Seharusnya gue yang turun tangan,” jawab Dewa.


“Lu nggak usah takut sama Sascha. Lu tahu calon bini lu itu memiliki gen yang super dari papa Gerre. Jadi wajar saja Sascha memiliki banyak ide dan langsung mengeksekusi masalah tersebut. Lu harusnya bangga atas kerja kerasnya. Kasih kek tiket liburan ke mana gitu. Atau lu kasih bonus agar Sascha senang,” usul Eric.


“Dikasih hadiah nolak. Dikasih bonus nolak. Jujur gue bingung ngasih apa? Apa gue kasih emas permata saja?” tanya Dewa.


“Gue saranin jangan ngasih itu. Sascha bukan tipe perempuan matrealistis. Jika Lu ngasih itu, gua yakin ditolak mentah-mentah. Lu kasih liburan ke daerah yang memiliki pemandangan indah. Entah di Indonesia maupun luar negeri. Tapi lu jangan bilang tujuan ke mana. Siapin saja tiket dan akomodasinya. Setelah hari h nya, lu bisa ngajak ke tempat yang dituju,” saran Eric.


“Apakah itu benar?” tanya Dewa.


“Iya itu benar. Cewek lu itu bukan tipe yang memuja barang mewah,” jawab Eric yang mengerti Sascha.


“Thanks atas saran lu. Gue akan coba saran lu itu. Mudah-mudahan Sascha enggak menolak liburan bersama gue. Bagaimana ya kalau liburan bersama anak gue sebanyak sebelas?” tanya Dewa yang membuat Eric terkejut.


“Coba lu ulangi lagi?” tanya Eric tidak percaya.


“Gue ulangi sekali lagi. Gue pengen liburan sama anak-anak sebanyak sebelas orang,” jawab Dewa.


“Itu anak siapa?” tanya Eric.

__ADS_1


“Ya anak gue lah. Masak anak orang?” jawab Dewa yang membuat Erik menggelengkan kepalanya.


“Astaga... Lu kira Sascha itu kucing apa? Lu nggak mikir punya anak sebelas kayak apa? Seenggaknya lu punya anak dua atau paling banyak empat. Lah ini Lu mau punya anak sebanyak itu,” tanya Eric.


Dewa memutuskan untuk berdiri dan meninggalkan Erik sendirian. Dewa maksudnya aja tidak menjawab pertanyaan Erik. Memang sedari dulu Dewa ingin memiliki banyak agar pas waktu kumpul, Dewa ingin mentionnya rame.


Sebelum memasuki ruangan, Dewa melihat Timothy yang membawa beberapa berkas. Lalu Timothy segera mendekatinya  dan menyodorkan berkas itu. Kemudian Dewa mengambil berkas itu sambil bertanya, “Ada apa?”


“Jaya pengen ngajak lu kerja sama,” jawab Timothy.


“Tumben, Ada angin apa Jaya ngajak gue kerja sama?” tanya Dewa curiga.


“Gue kagak tahu,” jawab Timothy.


“Boleh nggak sih gue curiga sama temen lama?” tanya Dewa.


“Curiga hal yang biasa. Jangankan elu, gue sendiri aja curiga. Sepertinya beberapa bulan belakangan ini perusahaan Jaya ada masalah besar. Masalah apa gue belum ngorek secara dalam. Gue lagi sibuk ngurusi rapat akhir tahun,” jawab Timothy.


“Kalau gitu biarin dulu. Nanti gue suruh Sascha ngorek apa yang terjadi dengan Jaya. Gue yakin ini ada udang di balik batu. Selama Sascha di samping gue, Jaya pasti ngejar-ngejar Sascha biar jadi miliknya,” ucap Dewa yang memandang langit-langit.


“Apa lu nggak takut, jika Jaya ngejar-ngejar sampai merebut Sascha dari tangan lo?” tanya Timothy.


“Kalau bisa pertahanin semua. Gue cuman ngasih saran jangan pernah ngelepasin begitu saja. Jika itu terjadi maka hidup lu nggak akan seperti dulu,” ucap Timothy yang memperingatkan Dewa.


“Pastinya,” sahut Dewa. “Kapan ketemuan sama Jaya?”


“Sabar bro. Gue akan atur jadwal buat ketemuan sama Jaya,” jawab Timothy.


“Gue di sini cuman sepuluh hari. Setelah itu gue mau ikat Sascha di altar pernikahan. Beberapa minggu kemudian gua balik lagi ke sini. Lalu perusahaan ini akan gue serahin ke Sascha terlebih dahulu,” ucap Dewa yang memberitahukan rencananya itu.


“Terus, elu mau turun jabatan?” tanya Timothy.


“Iya. Gue mau jadi asistennya,” jawab Dewa yang membuat tidak paham. “Ke dalam dulu. Gue mau cerita apa yang sebenarnya terjadi.”


Timothy mengangguk pelan dan menyetujui keinginan Dewa. Mereka masuk ke dalam lalu Dewa menyalakan peredam suara. Di sana Dewa bercerita tentang gonjang-ganjing perusahaan Khans Company. Saat Dewa bercerita, Timothy kaget setengah mati. Kemudian Timothy paham apa yang dimaksud Dewa.


“Perusahaan akan seperti apa adanya. Posisi kalian masih sama seperti dulu. Dan lu sementara ngurus AA Groups. Gue pengen menggembleng Sascha menjadi seorang CEO di perusahaannya. Gue akan melakukan percobaan selama tiga bulan,” kata Dewa.


“Gue setuju. Libatkan semua anak-anak dalam proyek mu itu. Biar Sascha memiliki ilmu lebih mumpuni. Cepat atau lambat Cathy akan menyerang Sascha dari segala penjuru arah,” ujar Timothy yang membakar semangat Dewa untuk membuat Sascha berkembang menjadi lebih baik lagi.


“Thanks bro sudah mendukungku,” balas Dewa.

__ADS_1


“Nggak usah ngomong gitu. Dari dulu kita sudah sahabat. Apa yang ada di pundak kita harus membagi satu sama lain. Gue harap lu nggak akan pernah mengangkat beban itu sendirian. Jangan lupakan lainnya,” tutur Timothy.


“Di mana Sascha?” tanya Timothy.


“Sasha berada di apartemen untuk mengambil laptop,” jawab Dewa.


“Apa?” pekik Timothy.


“Lu kenapa?” tanya Dewa.


“Gue lupa ngasih tahu sama lu,” jawab Timothy.


“Jangan bilang pilih pindah ke situ,” ucap Dewa yang menatap Timothy.


“Risa membeli apartemen di lantai unit elu. Cepat atau lambat Risa akan menyerang Sascha,” jawab Timothy.


“Kenapa lu nggak cerita?” tanya Dewa.


“Jujur gua baru tahu informasi ini dari Marty. Tapi untung Marty tinggal di apartemen lu. Ya mudah-mudahan nggak ada serangan dari kuntilanak itu,” jawab Timothy yang ragu.


“Pasrah aja deh. Gue juga nggak ngecek keadaan apartemen. Apa apartemen itu gua beli. Terus lantai atas gua buat penthouse?” tanya Dewa yang membuat Timothy menggelengkan kepalanya.


“Ah... Lu belum tahu kalau Sascha itu barbar. Sangking barbarnya bisa membuat orang-orang masuk rumah sakit,” puji Timothy yang membuat Dewa meringis.


“Sascha mirip maknya. Lu harus tahu satu hal bahwa calon Mama mertua gue memiliki wajah kalem dan bisa membuat calon bapak mertua gue takut. Jujur nggak nyangka seorang Gerre pengusaha sukses dan arogan. Pendiam jarang banyak omongnya. Eh... Takut sama bini,” jelas Dewa yang membuat Timothy bengong.


“Gue boleh ketawa ngakak enggak?” tanya Timothy.


“Mari kita tertawa bersama,” jawab Dewa.


Kedua pria itu akhirnya tertawa terbahak-bahak karena ulah Gerre. Mereka baru tahu kalau Papa Sascha sangat takut sekali dengan istrinya sendiri. Padahal sang istri memiliki wajah imut dan menggemaskan. Jika sekali marah maka mamsion Gerre bisa terkena gempa bumi sebesar delapan magnitudo. Samping besarnya seluruh orang memutuskan untuk bersembunyi di dalam kamar masing-masing.


Sascha yang selesai dari klinik kecantikan langsung meluncur ke kantor. merasakan wajahnya masih cenat-cenut. Demi menjebak Risa, saja melakukan hal yang gila. Hingga membuat Marty sangat ketakutan jika menghadap ke Dewa.


“Marty,” panggil Sascha.


“Iya, ada apa kak?” tanya Marty.


 


 

__ADS_1


__ADS_2