Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Masalah Dita.


__ADS_3

"Kami memang ditakdirkan bersama," sahut Dewa yang sedari tadi hanya melihat pesan dari Kobe.


"Cih.. itu hanya alasanmu," ucap Gerre. "Kapan kalian akan berangkat?" 


"Besok pagi. Kami akan memakai pesawat komersial. Kami tidak akan memakai pesawat pribadi. Mengingat kejadian di dalam pesawat ada pembajakan," jawab Sascha.


"Apakah kamu masih trauma dengan hal itu?" tanya Dewa.


"Aku tidak trauma. Aku hanya menahan kegelisahan ku yang akan terjadi," jawab Sascha.


"Mana ada Sascha akan trauma?" tanya Gerre.


"Sedikit sih pa," jawab Sascha sambil tersenyum sembari menyembunyikan ketakutannya. 


"Kenapa pakai sedikit? Harusnya kata sedikit diganti menjadi banyak," ledek Chloe sambil tersenyum manis. 


"Aish… mama. Ini sangat mengerikan sekali," ujar Sascha.


"Jika kamu ke Jakarta. Pergilah ke perusahaan Khans Company. Sebelum berangkat aku akan memberikan surat kuasa agar kamu bisa masuk ke sana," pinta Gerre.


"Ada apa?" tanya Sascha.


"Mintalah salinan laporan keuangan. Mark tidak bisa kesana," jawab Gerre.


"Ya sudah deh. Aku memang ingin ke sana. masa sang calon pemilik tidak pernah ke sana," ucap Sascha.


"Ya sudah. Sekalian kamu berkenalan dengan para staf yang berada di sana,'' Gerre meminta kepada Sascha agar berkenalan dengan para staf di sana.


"Baik pa," balas Sascha. 


Kobe yang sudah sampai bersama Tommy dan Leo mengaku lega. Mereka masih membayangkan mimpi buruk Dewa. Kejadian itu masih menjadi terngiang di dalam ingatan mereka. 


"Syukurlah… semuanya sudah selesai," ungkap Kobe yang bisa bernafas lega. 


"Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Tommy.

__ADS_1


"Kita pergi bersenang-senang dalam satu hari kedepan," jawab Kobe.


"Ha?" ucap Leo yang tidak salah dengar. "Apakah aku tidak salah dengar?" 


"Kamu tidak salah dengar," jawab Kobe. "Memangnya kenapa?"


"Aku baru tahu kalau Bang Kobe mengucapkan kata bersenang-senang. Jika aku mengajak Abang pasti jawabannya tidak atau pekerjaanku masih banyak," jawab Leo.


"Yang dikatakan oleh Leo itu benar. Paman selalu saja begitu jika aku tanya," ujar Tommy.


"Kamu tanya selalu salah waktu. Jika aku sudah tidak ada pekerjaan, kalian tidak pernah nanya sedikitpun," jelas Kobe yang membuat mereka menghembuskan nafasnya secara kasar. 


"Makanya jika aku menganggur, kalian harus bertanya. Sedang apa bang? Kan enak jadinya. Kalian tidak usah repot-repot untuk mendapatkan jawaban dari aku," jawab Kobe.


"Terserahlah," kesal Tommy yang malas berdebat dengan Kobe. 


"Ya udah deh. Aku mau pulang dulu ke mansionku," pamit Tommy.


"Aku bagaimana?' tanya Leo.


"Pulang gih ke mansion. Papamu sedang mencari kamu," suruh Kobe sembari mengusir Leo.


"Kenapa? Apakah kamu ditagih kakekku untuk menikah?" tanya Tommy yang membuat Kobe menahan rawa,.


"Aku tidak takut ditagih oleh kakek. Aku takut jika kakek memintaku untuk menikahi seorang gadis yang tidak dikenal," jelas Leo. 


Kobe dan Tommy langsung terdiam dan menahan tawanya. Mereka tidak menyangka kalau Leo sangat takut sekali dengan pernikahan dadakan itu. Namun apa daya, Leo tidak menyukai pernikahan dadakan seperti itu. 


"Jika itu terjadi. Kamu tidak usah lagi mencari kekasih. Lebih baik kamu mencari uang untuk menghidupi calon istrimu itu," saran dari Kobe.


''Kalian nggak pernah tahu pas waktu aku kabur dari mansion. Aku kabur dari sana itu memakai akal licik. Mereka memaksaku untuk belajar bisnis dan manajemen. Tapi aku lebih mementingkan belajar informasi teknologi ketimbang itu," jelas Leo.


"Kamu itu pakai kabur-kaburan segala. Sudah kubilang jangan kabur dari rumah. Eh… malah kabur dan menghilang tanpa jejak. Kalau kayak gini Kamu sudah dicoret dari kartu keluarga," sahut Kobe.


"Kabur salah nggak kabur salah. Jadi enaknya bagaimana?" tanya Leo.

__ADS_1


"Aku juga nggak tahu masalahnya bagaimana. Kenapa juga kamu melibatkan kami. Salah satu cara agar mereka memaafkanmu. Pulang ke rumah dan menerima pernikahan itu," jawab Tommy. 


"Kalian ini sangat membingungkan. Bagaimana caranya aku pun pulang tanpa harus menikah. Bagaimana dengan calon istriku kelak?" tanya Leo yang membuat mereka bingung.


"Memangnya kamu sudah memiliki calon istri?" tanya Kobe balik.


"Nggak ada sih. Kan aku sudah bilang. Sedari dulu aku memang kabur dari rumah hanya karena beda pendapat. Sudah disuruh belajar bisnis dan manajemen. Ditambah lagi dijodohkan sama orang lain. Kok hidupku perfect banget kayak gini?" kesal Leo. 


"Nggak usah kesel. Nikmati saja. Kalau saranku sih, mending kamu lebih baik pulang dulu. Lihat calon istrimu bagaimana? Kalau kamu suka Kenapa nggak? Kalau kamu nggak suka ya bilang sama papamu. Nggak usah mencarikan aku jodoh lagi. Gitu saja kok repot," ledek Kobe.


"Ya sudah deh. Aku mau pulang dulu. Aku juga penasaran sekali sama wanita yang dijodohkan itu," sahut Leo yang segera berdiri dan meninggalkan mereka. 


Tommy dan Kobe sedang menahan tawanya. Entah kenapa kedua orang itu ingin sekali mengerjai Leo. Memang benar yang dikatakan oleh Leo. Sedari dulu dirinya memang sering kabur-kaburan dari mansion. Leo sangat menginginkan hidup yang sangat bebas sekali. Ia tidak mau hidupnya dikekang oleh siapapun.


Malam yang cerah di kota New York. Sascha sudah mulai bersiap-siap memasukkan beberapa baju di tas punggungnya. Sedangkan Dewa meminta para pengawalnya untuk mencari informasi tentang Dita.


Tak lama ponsel Sascha berbunyi. Lalu Sascha meraih ponsel sambil bertanya, "Tumben malam-malam begini ada yang telepon."


"Mungkin saja yang telepon kamu dari mama Tara," ucap Dewa yang menebak siapa yang menelpon itu.


Sascha melihat nama siapa sih pemanggil itu. Lalu dirinya menggeser icon hijau sambil menyapanya, "Selamat malam."


"Malam juga. Kakak kapan kesini?" tanya Dita.


"Besok kakak berangkat dari Amerika langsung menuju ke Jakarta. Memangnya ada apa? Apakah disana kamu sedang memiliki masalah besar?" Tanya Sascha.


"Aku tidak memiliki masalah besar. Tapi aku takut. Ada seseorang yang mengancamku untuk menyebarkan video," jawab Dita dengan tegas.


"Video apa? Jangan-jangan video itu ya?" tanya Sascha.


"Memangnya kakak tahu soal itu?" tanya Dita.


"Ya tahulah. Aku disuruh kakakmu untuk menghack sosial mediamu. Di sana Aku melihat seluruh pesan yang berada di kotak pesan. Lalu aku menandai seseorang. Yang di mana orang itu adalah seorang pemeras," jawab Sascha.


"Aku harus bagaimana Kak? Aku ingin bilang sama Kak Tommy tapi nggak bisa. Aku bingung. Jika aku tidak menjalankan uang ke orang itu. Kemungkinan besar orang itu akan memerasku. Banyak teman-temanku yang sudah menjadi korbannya," jelas Dita. 

__ADS_1


"Sudah tenang saja. Aku sudah memblokir seluruh kartu kredit dan ATM kamu. Kamu tidak bisa mengambil uang kapan saja. Harus melalui persetujuan dari Kak Dewa. Jika orang itu memintamu tunggulah kami datang. Kemungkinan besok pagi aku akan berangkat ke Amerika. Kamu tenang saja ya. Kalau kamu masih ketakutan seperti itu. Nanti aku menyuruh Intan untuk menemanimu," jelas Sascha. 


"Bagaimana bisa tenang? Jika orang itu masih menghubungiku setiap saat," tanya Dita. 


__ADS_2