Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
MENGGILA.


__ADS_3

Sascha segera meraih air softgun dan mengarahkan ke langit-langit atas. Ia menarik pelatuknya dan menimbulkan suara...


DOR!


DOR!


DOR!


Tiga selongsong peluru langsung melesat ke langit-langit. Seluruh suster menghentikan sementara dan menatap tajam ke arah Sascha.


Di luar Bima, Kobe, Devan dan Tara terkejut dengan suara tembakan di dalam ruangan unit gawat darurat. Mereka memutuskan untuk masuk.


"Ada apa Aulia?' tanya Devan yang melihat Sascha duduk di lantai sembari menatap matanya dengan tajam.


Bima dan Kobe segera mendekat dan melihat para suster menutupi tubuh Dewa sedang dibedah. Mereka sudah merasakan hawa yang tidak enak. Dengan tegasnya Bima menatap para suster itu dengan tatapan membunuh. Bima seakan kemasukan iblis dan tertawa mengerikan sekali.


"Hahaha!" Bima terus saja tertawa dan mengambil air softgunnya.


Sebelum mengarahkan ke arah suster itu, Kobe menahan terlebih dahulu. Devan segera menutup pintu ruang unit gawat darurat tersebut.


Sascha segera bangun dan mendekati Bima dan merebut pistol itu. Matanya seakan kosong dan otaknya terkontaminasi seakan ada memerintah.


BUNUH!


BUNUH!


BUNUH!


Kata itu seakan membuat Sascha terngiang di telinganya. Ia segera mengancam untuk menyuruhnya menjahit tubuh Dewa. Namun salah satu dari suster itu mengambil air softgun tersebut dan mengarahkan ke arah Sascha.


Sascha tersenyum sinis dan melihat tubuh suster itu. Ia sudah mengetahui letak jantung. Ia akan membidik suster itu.


"Kamu ingin menghabisi suamiku! Kamu ingin menghabisi calon ayah yang akan segera menggendong anaknya? Kamu dan kalian sangat biadab sekali!" ucap Sascha dengan nada menekan.


"Bukan urusanku!" bentak suster itu. "Lanjutkan! Atau keluarga kalian akan mati!"


Sascha tersenyum iblis yang sangat menakutkan. Devan bersama Tara tidak kuasa menahan air matanya. Mereka tidak pernah terpikirkan kalau sang putra sedang sekarat di atas meja operasi.


Kobe sudah memanggil beberapa teman-temannya yang berprofesi dokter. Seluruh teman-temannya yang berada di Amerika segera datang. Ada berbagai macam dokter spesialis yang menuju kesana.

__ADS_1


Bima menghubungi Almond bersama Marty. Bima meminta mereka untuk mencari beberapa orang-orang yang mencurigakan. Tak lupa Bima memberikan ciri-cirinya. Mereka paham dan menyuruh para pengawal bergerak untuk mencari keberadaan orang-orang mencurigakan itu.


Sascha masih berhadapan dengan suster gila itu. Sascha tidak takut menghadapi kematian. Asalkan dirinya bisa membangunkan Dewa sedang terbaring saat itu.


Suster itu masih tidak bergeming dan menatap Sascha. Ia mulai mencari kelemahan Sascha. Akan tetapi Sascha tersenyum smirk dan mulai melakukan perhitungan satu persatu.


Dalam hitungan detik, Sascha mengarahkan airsoftgun tersebut seperti angin. Mereka yang berada di tempat itu tidak sempat melihat dan...


DOR!


Satu peluru melesat menuju ke jantungnya suster itu. Si suster itu jatuh tersungkur dan langsung meninggal dunia saat itu. Sascha tidak melepaskan air softgun itu dan menatap wajah para suster itu.


"Jika kalian meneruskannya... aku akan membunuh kalian!" perintah Sascha sembari menarik baju suster yang sedang memegang pisau tersebut.


Namun semua suster tersebut tidak gentar. Ia hanya tersenyum iblis sembari berkata, "Kami tidak takut dengan ancaman kamu!"


Brakkkk!


Seorang pria bule memiliki rambut pirang masuk. Dia segera mendekati Kobe dan menatapnya. Setelah pria bule itu masuk, ada lagi beberapa pria dan satu wanita sedang membawa peralatan kedokteran. Kobe segera menyuruhnya mendekati Dewa.


Para suster itu menghentikan pembedahannya. Mereka tahu kepada siapa yang di hadapinya. Mereka seakan menghadapi kematian.


Teman-teman Kobe yang berprofesi dokter langsung menatap tajam ke arah mereka. Mereka memilih mundur dan menundukkan wajahnya. Satu kata yaitu takut.


Ya... mereka takut. Para dokter yang dipanggil sama Kobe adalah dokter senior yang sangat terkenal. Bahkan nama mereka sudah tersohor di mata dunia.


Tanpa banyak bicara, mereka langsung menangani Dewa. Sascha diam-diam meneteskan air matanya. Ia masih teringat aan obrolan tadi pagi. Ia segera menggelengkan kepalanya sambil memegang perutnya.


"Doain ya sayang. Papa kalian sedang terkena musibah. Papa kamu adalah orang baik," batin Sascha.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Almond bersama Ian segera mendekati mereka. Mereka sangat terkejut dengan keadaan Dewa. Ian tidak percaya dengan keadaan Dewa yang meminta menyelidiki perusahaan DT Groups.


"Kenapa dengan Dewa?" tanya Ian yang shock melihat Dewa berbaring di atas brankar.


"Maaf... kalian keluarlah terlebih dahulu," pinta salah satu dokter yang menangani Dewa.

__ADS_1


Terpaksa mereka satu persatu pergi. Kecuali Sascha yang masih mematung dan tidak bergerak. Tara yang melihat Sascha segera mendekapnya dengan erat. Ia mengelus-elus lengan Sascha demi memberikan sebuah kekuatan.


"Ayo kita pergi," ajak Tara.


Sascha akhirnya menuruti keinginan Tara. Ia menurut daan melangkahkan kakinya bersama Tara. Di luar tangis Sascha pecah. Ia segera memeluk Tara dan memanggil nama Dewa berkali-kali.


Tara tahu apa yang dirasakan oleh Sascha. Pagi tadi Devan menyuruh mereka ke perusahan. Sekarang putranya yang menjadi korban. Disisi lain, mereka tidak bisa menyalahkan pihak Sascha. Karena mereka sudah berjanji akan saling bantu membantu,


Nagoya Jepang.


Kakek Aoyama yang selesai makan langsung merasakan perasaan yang tidak enak. Ia merasa ada sesuatu yang membuatnya gelisah. Tiba-tiba saja Taro sang asisten datang dengan wajah pucat. Ia membungkukkan badannya sambil menahan kesedihan mendalam.


"Tuan Aoyama," panggil Taro.


"Ada apa?" tanya Kakek Aoyama.


"Ada kabar dari New York," jawab Taro.


"Lalu?' tanya Kakek Aoyama.


"Tuan muda Fujiyama Nakata sedang mengalami musibah," jawab Taro dengan suara tercekat. "Tuan muda sekarang berbaring di atas brankar. Ada seseorang yang sengaja memerintahkan para suster untuk menjual organ tubuhnya."


Bagai petir di siang bolong, Kakek Aoyama tubuhnya melemas. Ia tidak percaya apa yang telah didengarnya. Ia menggelengkan kepalanya sambil menarik nafasnya.


"Siapkan lima puluh orang yang terbaik lalu kirim ke New York sekarang juga!" titah Kakek Aoyama dengan tegas.


"Bagaimana dengan anda?" tanya Taro.


"Aku akan tetap disini. Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan. Jangan katakan Ayashi Nakata. Jika sang kakak sedang terkena musibah. Aku enggak mau kalau Ayashi sedang terguncang! Biarkan dia fokus pada kerjaannya terlebih dahulu!" titah Kakek Aoyama.


Taro menyetujui permintaan Kakek Aoyama. Sebelum pergi Kakek Aoyama memanggilnya, "Tunggu!"


Taro menoleh dan menghadap ke arah Kakek Aoyama sambil membungkukkan badannya, "Ada lagi Tuan?"


"Berikan pengawal itu ke Aulia. Aku ingin Aulia membalas dendam apa yang telah terjadi pada Fujiyama! Aku yakin Aulia bisa memakai mereka!" perintah kakek Aoyama.


"Baik Tuan," balas Taro.


Hari itu juga Taro segera menghubungi seorang yang mengurusi Klan Nakata. Taro memintanya untuk menyiapkan lima puluh orang terpilih. Tidak sampai dua jam, Taro mendapatkan lima puluh orang terpilih dengan berbagai macam skill.

__ADS_1


"Semuanya sudah dipersiapkan," ucap Taro.


"Tambah empat puluh orang akan menjadi pengawal Sascha.Yang lainnya harus stay untuk menjaga Fujiyama!" titah Kakek Aoyama.


__ADS_2