
"Bisakah Kakak nggak ngomong sama Kak Tommy?" tanya Dita.
"Kakak kan harus ngomong sama Kak Tommy. Kakak nggak bakalan bisa diam saja. Semua pekerjaan menyangkut karyawan harus ngomong sama Kak Tommy. Kalau keuangan ngomong sama Kak Eric. Kalau soal hukum ngomong sama Kak Bryan. Nanti kalau ada apa-apa tentang karyawan, masa aku ngomongnya sama Kak Dewa. Bisa-bisa Kak Dewa jawabnya tidak tahu. Kamu tenang saja. Kamu tidak akan merasakan Hati yang sakit. Soalnya kamu sudah diberitahukan sama sang pencipta ini loh calon suami kamu. Jadi ketika kamu melangkah Tuhan sudah memberitahukan siapa sih dirinya sebenarnya dan juga keluarganya. Kamu nggak usah menyesal. Karena Tuhan sudah mempersiapkan jodoh yang lebih baik dari Kak Tommy. Nanti kalau kamu sudah menikah dengan Kak Tommy. Terus ibu mertuamu nggak suka. Dia akan melakukan banyak cara agar kamu sama Kak Tommy terpisah. Apakah kamu mau seperti itu? Padahal mamamu sama aku sangat baik sekali. Jadi nggak seharusnya kamu mendapatkan ibu mertua buruk kelakuannya. Yang penting sekarang ini kamu harus bangkit dan menatap masa depanmu. Masih banyak yang harus kamu kerjakan satu persatu. Bisa saja nanti kamu menjadi orang sukses. Terus menikah dengan pria pujaan hatimu yang lainnya selain Kak Tommy. Jadi kamu nggak perlu mendapatkan ibu mertua yang memiliki perangai buruk. Kak Dewi sudah memberitahukan siapa Kak Tommy sebenarnya. Maka dari itu kamu harus bangkit dari keterpurukan kamu ini. Kamu juga harus belajar dari kakak. Ketika Kakak berpacaran sama Kak Tommy bagaimana ceritanya?" jelas Sascha yang membuat Dita paham akan semuanya.
"Baik kak. Kakak benar. Seharusnya aku melihat masa lalu kakak. Yang dimana kakak sedang mengalami masa-masa sulit ketika berpacaran dengan Billi. Kenapa aku nggak belajar dari situ ya Kak? Kenapa aku harus mementingkan egoku demi mendapatkan orang yang belum tentu melindungiku dari keluarganya. Padahal kalau orang menikah itu harusnya bahagia bukan bersedih. Tanpa ada tekanan dari orang lain maupun keluarga. Aku jadi kangen Kakak. Pengen meluk deh," ucap Dita yang membuat Sascha tersenyum.
"Kamu benar. Jangan pernah menyesali keadaan. Usia kamu itu masih sangat kecil untuk menikah. Kalau aku saranin lebih baik kamu kuliah dan menyenangkan hatimu sendiri. Siapa tahu nanti dengan pelan-pelan kamu mendapatkan penggantinya Kak Tommy. Jujur aku sendiri nggak suka kalau lihat wanita disalahkan hanya demi masalah kecil. Membuat wanita itu memiliki mental buruk. Jika ibu mertua nanti menyalahkan kamu. Kau cuman hanya kata-kata saja. Tidak apa-apa. Kalau cuman kata-katanya sakit dan membuatmu menjadi sedih. Yah terpaksa deh. Kamu harus memiliki mental yang cukup kuat untuk menghadapinya," jelas Sascha yang ingin melihat adik iparnya bahagia dan selalu tersenyum.
Dita akhirnya lega menceritakan masalahnya kepada kakak iparnya itu. Ada benarnya yang dikatakan oleh Sascha. Ia sebenarnya sudah melihat sendiri penderitaan Sascha ketika berpacaran dengan Billi. Dirinya tidak menyangka kalau hidup Sascha sangat menderita dan mendapatkan tekanan dari Fatin. Dari sinilah Dita mulai belajar pelan-pelan. Ia sangat bersyukur sekali ketika ada yang mengingatkan. Peringatan itu akan selalu menjadi pedoman hidupnya. Ia tidak ingin setelah menikah hidupnya menderita. Ia harus tersenyum dan menyambut hari-hari baru bersama sang suami dan keluarga besarnya itu.
Sambungan telepon pun terputus. Sascha berharap semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak ingin mempengaruhi psikologisnya Dita. Ia paham apa yang akan terjadi jika sang adik iparnya menikah dengan Tommy. Memang Tommy juga mencintainya. Tapi mendengar cerita keluarganya itu, Sascha bergidik ngeri. Apalagi ketika membaca artikel tentang keluarganya itu. Dita harus sempurna di mata keluarganya. Inilah yang membuat Sascha dan Dewa tidak akan melepaskan Dita begitu saja untuk menikah dengan Tommy.
__ADS_1
"Pagi-pagi ada yang telepon. Memangnya siapa sih yang?" tanya Dewa.
"Dita. Dia pengen mencurahkan hatinya kepadaku. Aku tidak ingin membuat masalah menjadi rancu. Tapi aku jelaskan semuanya tentang keluarganya Kak Tommy. Memang sih di hatinya Dita ada sedikit kekecewaan. Kenapa cintanya selalu bertepuk sebelah tangan?" jawab Sascha.
"Bukan bertepuk sebelah tangan. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh Dita. Terutama rumah mode itu. Suatu hari nanti rumah mode itu harus dipegang oleh Dita. Aku nggak mau mendengar tangisan dari Dita hanya karena keluarganya itu. Bukannya aku menghiburnya. Tanganku ini bisa menghancurkan usaha milik orang tuanya Tommy. Soalnya aku sendiri tidak ingin melihat keluargaku menderita," jelas Dewa yang menarik tubuh Sascha lalu memeluknya dengan erat.
"Sebenarnya sih nggak ada yang salah dan masalah ini. Hanya saja keluarganya itu melihat dari sisi kekayaannya saja. Orang menikah itu memang tidak punya apa-apa. Contohnya Aku menikah dengan kamu tidak memiliki apa-apa. Aku bawa hanya Black card milik papa. Setiap bulan dikirim sepuluh juta dolar. Tapi aku nggak pernah memakainya. Aku sengaja memakai uangmu demi menghormati kamu sebagai suamiku. Karena jika wanita sudah menikah, wanita itu bukan lagi milik kedua orang tuanya. Wanita itu akan menjadi milik suaminya dengan utuh. Maka dari itu aku memang sengaja tidak memakai uang dari papa. Nanti kamu akan kecewa dengan sikapku ini," tutur Sascha.
"Bener juga ya. Memang aku bekerja untuk kamu. Aku sengaja memberikanmu uang yang cukup banyak untuk jajan kamu. Masak kamu nikah nggak mau makai uang suamimu ini. Lagian juga aku sengaja sudah mempersiapkannya untukmu. Tidak apa-apa sih kalau kamu memakai uang dari kedua orang tuamu itu. Kamu buat belanja barang-barang mewah juga aku nggak akan pernah protes," kata Dewa.
"Itu terserah kamu. Aku nggak pernah protes sama kamu. Kalaupun protes juga nggak akan ada faedahnya. Lagian juga aku seorang bos, jarang memakai baju-baju mahal. Aku juga lagi belajar kesederhanaan hidup. Karena kamu adalah guru yang sangat baik sekali buatku," jelas Dewa. "Kita pulang atau bagaimana nih?"
__ADS_1
"Pulanglah. Sebentar lagi masalah di cabang Surabaya selesai. Aku berharap tidak akan ada lagi cabang-cabang seperti itu. Kayaknya perusahaanmu itu harus berganti nama deh," jawab Sascha.
"Maksud kamu apa? Kenapa juga perusahaanku harus berganti nama? Nanti ribet deh urusannya," tanya Dewa.
"Yang nggak ribet lah Kak. Ganti nama memakai nama Nakata. Yang dimana Nakata itu adalah nama perusahaan pusat. Jadi menurut aku nggak ribet sih. Semua perusahaan yang bernama Nakata adalah milik kakak semuanya," jawab Sascha yang memberikan solusi untuk Dewa.
"Bener juga sih. Ini harus dibicarakan sama kakek. Aku nggak bisa memutuskan begitu saja. Lagian juga kenapa perusahaanku yang di Indonesia bernama D'Stars Inc. Padahal aku lebih menyukainya nama Nakata," ucap Dewa dengan jujur.
"Ya udah kita siap-siap saja. Kalau masalah itu nggak usah dipikirkan sekarang. Kita pikirkan saja tentang Dita. Mau nggak mau Dita harus tersenyum untuk menghadapi hari-hari tanpa Kak Tommy," ujar Sascha yang mengambil Jalan tengahnya untuk hari ini.
Kemudian mereka bersiap-siap untuk pulang ke Nganjuk. Masalah satu sudah selesai. Tinggal masalah selanjutnya yang belum. Sepertinya mereka harus mencari solusi untuk masalah Dita. Apakah Sascha akan bertemu Tommy setelah ini? Jawabannya entah. Mereka tidak akan pernah tahu akan masalah itu. Mereka juga tidak akan pernah mengharapkan masalah itu akan terjadi semakin besar.
__ADS_1
Bagaimana dengan perasaan Tommy? Pria berkacamata itu sangat menyesali perbuatannya. Ia juga bingung dengan keadaan keluarganya. Jujur ia tidak menginginkan semuanya ini terjadi. Ia memprediksi kalau Dewa Sudah tahu semuanya. Maka dari itu Tommy sangat bingung dan ingin mempersunting Dita.
Di sisi lain Tommy sudah memiliki seorang anak perempuan. Anak perempuan itu berasal dari teman sekolahnya dulu yang bernama Aryani. Hal ini membuatnya semakin sesak di dada. Ketika cintanya membara buat Dita, akhirnya padam begitu saja. Ia tidak akan mungkin mencintai Aryani begitu saja. Mengingat Aryani bukan siapa-siapanya. Menjalin cinta pun sama Aryani juga tidak pernah. Akankah Tommy hidupnya menderita? Yang dimana dirinya harus memilih Dita ataupun Sang Putri?