Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Diskusi Ringan.


__ADS_3

“Maksud


aku mereka akan melakukan hal yang gila,” jawab Sascha yang sudah menebak apa


yang dilakukan mereka berdua.


“Mereka


memiliki modus yang sangat aneh sekali,” ujar Bima.


“Kak Leo


kemana?” tanya Sascha yang tidak menemukan Leo sama sekali.


“Leo sedang


ada masalah keluarga. Kedua orang tuanya sedang menyuruhnya menikah. Dengan


kata lain Leo akan sedang dijodohkan sama orang tuanya,” jawab Timothy yang


membuat Sascha tertawa terbahak-bahak.


“Kamu


seneng banget mendengar kabar tentang guru besarmu sedang menderita di


masionnya ya?” tanya Dewa sambil tersenyum membayangkan Leo menderita.


“Ya...


mau bagaimana lagi? Memang sudah saatnya Kak Leo sudah menikah. Lihat saja


usiamya mencaai kepala tiga,” jawab Sascha dengan jujur.


“Bener


juga sih apa yang kamu katakan. Seharusnya Leo sudah menikah dan memiliki


seorang anak?” ucap Bima yang membenakan perkataan Sascha.


“Itulah


Leo yang suka bergelut dengan laptop setiap hari,” sahut Gerre. “Tapi papa


mengakui kalau Leo memiliki otak di atas rata-rata.”


“Itu benar


papa.  Kak Leo adalah guru terbaikku yang


mengajariku banyak hal di bidang informasi teknologi. Yang dimana aku bisa


menjebol dark web tanpa sepengatuhan Kak Dewa saat itu,” ungkap Sascha yang


sangat kagum sekali dengan guru besarnya itu.


“Ngomong-ngomong


kapan Leo menikah?” tanya Devan.


“Pacar


ajha enggak ada. Lalu menikah dengan siapa?” tanya Timothy yang membuat mereka


terkejut.


“Mungkin


saja ibunya Leo akan menjodohkannya dengan temannya Leo yang dulu,” celetuk


Tommy yang ingat akan kisah kasih Leo ketika di sekolah jaman dulu.


“Memangnya


siapa kekasihnya kak?” tanya Sascha yang mulai penasaran.


“Ada...


namanya Hany. Kalau enggak salah ayahnya orang Korea ibunya orang jawab,” jawab


Tommy yang membuat Dewa terkejut.


“Anak


itu?” tanya Dewa.


“Yang


mana kak?” tanya Sascha yang sangat penasaran sekali.


“Apakah


kamu ingat ketika ada pesta di hotel milikku? Pas waktu itu ada party yang


mengundang beberapa artis ibu kota termasuk Dita? Dia juga mengundangku. Tapi


aku mengajakmu. Dia bilang kalau kamu adalah kekasihku?” tanya Dewa kepada


Sascha yang berusaha mengingat.


“Oh...


ya... aku mengingat semuanya. Yang katanya baju aku sangat bagus sekali dan


unik,” jawab Sascha yang membuat Dewa  menyunggingkan


senyumnya manis.

__ADS_1


“Padahal


baju kamu dibuat dari kain perca saat itu?” tanya Bima yang membuat Sascha


menganggukan kepalanya.


“Ya...


itu dia. Padahal saat itu aku dibully habis-habisan sama Risa,” jawab Sascha


yang mengingat kejadian masa lalunya.


“Jangan


sedih begitu. Kamu enggak salah pas kejadian saat itu. Bahkan Hany langsung


membela kamu habis-habisan dan mengusir Risa dari sana,” hibur Bima yang tahu


ketika Sascha bersedih.


“Aku


enggak bersedih sama sekali kak. Tapi nyesek... padahal baju itu pernah diminta


oleh artis Hollywood. Aku sudah meluakan semuanya,” jelas Sascha yang sengaja


melupakan kejadian masa lalunya bersama Risa.


“Lagian


juga orangnya sudah enggak ada,” ujar Ian yang sedari tadi diam sambil berbalas


dengan Leo yang berada di Amerika. “Info lagi.”


“Apalagi?”


tanya Sascha yang mengerutkan keningnya.


“Yang


membantu Damar sudah bergerak. Mereka sudah menyiapkan pasukan. Jika kita


melawannya?” tanya Ian.


“Apakah


Damar bekerja sama dengan mafia kartel mafia obat-obatan?” tanya Sascha yang


curiga.


“Sepertinya


tidak ada. Kok aku jadi penasaran dengan Damar sih?” tanya Ian.


“Setahuku


kakak cek saja di ponselnya. Pasti ada yang dilakukan oleh mereka. Tapi kita


enggak akan pernah tahu kecuali yang memiliki insting kuat,” jelas Sascha yang


membuat Dewa melongo.


“Yang


kamu katakan benar. Kamu memang pandai memakai feeling,” puji Dewa.


“Jarang


ada wanita memakai feeling ketimbang emosi. Rata-rata wanita kalau bertindak


memakai emosi,” ucap Devan.


“Sascha


juga memakai logika. Tapi kalau soal horor dia jarang sekali memakai logika,”


jelas Ian yang mengetahui Sascha yang sifatnya aneh itu.


“Jangan


ingetin aku pada kuntilanak yang berada di ruanganku,” kesal Sascha yang


membuat Ian tertawa terbahak-bahak.


“Lagian


juga kuntilanaknya cantik banget. Saking cantiknya ngefans sama Eric,” ucap


Dewa yang terbahak-bahak.


“Ish...


kenapa juga kita membahas kuntilanak segala,” kesal Sascha. “Aku pernah


memarahinya dan memakinya. Eh... malah dia ketawa. Unutng saja engga ada kak


Eric. Kalau ada pingsan tuch orang.”


“Apa


yang kamu lakukan setelah ini?” tanya Bima.


“Aku


pengen pergi ke ruangan bawah tanah. Aku ingin memaki Damar saat ini juga!”


kesal Sascha yang teringat pada Damar dan David.

__ADS_1


“Ayo!


Aku antar!” ajak Bima.


“Apakah


kakak enggak ikut?” tanya Sascha.


“Apakah


di sana ada CCTV?” tanya Dewa.


“Ada.


Masih bisa dipakai dengan rapi,” jawab Bima yang berdiri.


Mereka


akhirnya meninggalkan ruangan itu. Lalu Bima berjalan di depan sebagai penunjuk


arah. Sementara itu Dewa yang masih nyaman di posisi dudukmya membiarkan sang


istri bertenu dengan Danar. Dewa akan melihat aksinya Sascha saat mode rubah


kecil berubah.


“Apakah


kamu nggak cemburu melihat Bima berjalan sama Sascha?” tanya Devan yang menatap


wajah Dewa.


“Aku


tidak cemburu sama sekali pa. Aku membiarkan Sascha bebas untuk mencari teman


sebanyak-banyaknya. Aku tidak ingin mengekang kebebasannya selama dalam batas


wajar,” jawab Dewa yang bijak.


“Kamu


benar. Jangan disalah artikan tentang pertemanan mereka,” timpal Tommy.


“Tapi


kalau di luar batas kewajaran lebih baik ditegur,” ucap Ian.


“Rencana


mau stay di sini atau apa?” tanya Gerre.


“Mau


pulang ke Amerika. Soal urusan Dita nanti biar Bryan yang akan mengurusnya,”


jawab Dewa yang membalas pertanyaan Gerre.


“Masalah


apa?” tanya Tommy.


“Masalah


ketika Dita dijebak sama teman sekolahnya dulu. Sekarang kasusnya lain lagi. Si


temamnnya itu meneror habis-habisan dan meminta uang sejumlah tiga puluh milyar


atau berapa... aku lupa. Hampir setiap hari Dita diteror habis-habisan. Nah


semakin lama temannya malah mengancam menyebarkan video m*sum ke penjuru.


Otomatis Dita terkejut. Dita tidak pernah melakukannya. Jadi ya gitu masih


bergulir sampai sekarang,” jawab Dewa yang menjelaskan apa yang telah terjadi


pada Dita saat ini.


“Kenapa


enggak pake Pak Herman?” tanya Devan.


“Hmmpp...


aku memiliki feelimg yang kuat kalau Pak Heman sudah berkomplot dengan mereka.


Buktinya saat kami berdebat dan bilang tentang hukum dia bilang enggak bisa.


Saat itu juga aku suruh pulang ke rumahnya dan meminta Bryan memecat Pak Herman


dari jajaran pengacara perusahaan,” jelas Dewa yang membuat Devan mengerti.


“Keputusan


kamu sudah tepat. Kamu juga berhak melakukannya. Sebab yang menjadi kendalanya,


jika ada kasus besar orang itu tidak akan mau melindungi perusahaannya. Malahan


bisa membuat perusahaan menjadi kacau total,” puji Gerre.


“Ya...


tahulah... memang enak sih... siapa yang mau mendapatkan keuntungan lebih dari


ini semuanya?” tanya Devan.


“Maksud  papa apaan?” tanya Dewa yang tidak mengerti

__ADS_1


apa maksudnya.


__ADS_2