
“Maksud
aku mereka akan melakukan hal yang gila,” jawab Sascha yang sudah menebak apa
yang dilakukan mereka berdua.
“Mereka
memiliki modus yang sangat aneh sekali,” ujar Bima.
“Kak Leo
kemana?” tanya Sascha yang tidak menemukan Leo sama sekali.
“Leo sedang
ada masalah keluarga. Kedua orang tuanya sedang menyuruhnya menikah. Dengan
kata lain Leo akan sedang dijodohkan sama orang tuanya,” jawab Timothy yang
membuat Sascha tertawa terbahak-bahak.
“Kamu
seneng banget mendengar kabar tentang guru besarmu sedang menderita di
masionnya ya?” tanya Dewa sambil tersenyum membayangkan Leo menderita.
“Ya...
mau bagaimana lagi? Memang sudah saatnya Kak Leo sudah menikah. Lihat saja
usiamya mencaai kepala tiga,” jawab Sascha dengan jujur.
“Bener
juga sih apa yang kamu katakan. Seharusnya Leo sudah menikah dan memiliki
seorang anak?” ucap Bima yang membenakan perkataan Sascha.
“Itulah
Leo yang suka bergelut dengan laptop setiap hari,” sahut Gerre. “Tapi papa
mengakui kalau Leo memiliki otak di atas rata-rata.”
“Itu benar
papa. Kak Leo adalah guru terbaikku yang
mengajariku banyak hal di bidang informasi teknologi. Yang dimana aku bisa
menjebol dark web tanpa sepengatuhan Kak Dewa saat itu,” ungkap Sascha yang
sangat kagum sekali dengan guru besarnya itu.
“Ngomong-ngomong
kapan Leo menikah?” tanya Devan.
“Pacar
ajha enggak ada. Lalu menikah dengan siapa?” tanya Timothy yang membuat mereka
terkejut.
“Mungkin
saja ibunya Leo akan menjodohkannya dengan temannya Leo yang dulu,” celetuk
Tommy yang ingat akan kisah kasih Leo ketika di sekolah jaman dulu.
“Memangnya
siapa kekasihnya kak?” tanya Sascha yang mulai penasaran.
“Ada...
namanya Hany. Kalau enggak salah ayahnya orang Korea ibunya orang jawab,” jawab
Tommy yang membuat Dewa terkejut.
“Anak
itu?” tanya Dewa.
“Yang
mana kak?” tanya Sascha yang sangat penasaran sekali.
“Apakah
kamu ingat ketika ada pesta di hotel milikku? Pas waktu itu ada party yang
mengundang beberapa artis ibu kota termasuk Dita? Dia juga mengundangku. Tapi
aku mengajakmu. Dia bilang kalau kamu adalah kekasihku?” tanya Dewa kepada
Sascha yang berusaha mengingat.
“Oh...
ya... aku mengingat semuanya. Yang katanya baju aku sangat bagus sekali dan
unik,” jawab Sascha yang membuat Dewa menyunggingkan
senyumnya manis.
__ADS_1
“Padahal
baju kamu dibuat dari kain perca saat itu?” tanya Bima yang membuat Sascha
menganggukan kepalanya.
“Ya...
itu dia. Padahal saat itu aku dibully habis-habisan sama Risa,” jawab Sascha
yang mengingat kejadian masa lalunya.
“Jangan
sedih begitu. Kamu enggak salah pas kejadian saat itu. Bahkan Hany langsung
membela kamu habis-habisan dan mengusir Risa dari sana,” hibur Bima yang tahu
ketika Sascha bersedih.
“Aku
enggak bersedih sama sekali kak. Tapi nyesek... padahal baju itu pernah diminta
oleh artis Hollywood. Aku sudah meluakan semuanya,” jelas Sascha yang sengaja
melupakan kejadian masa lalunya bersama Risa.
“Lagian
juga orangnya sudah enggak ada,” ujar Ian yang sedari tadi diam sambil berbalas
dengan Leo yang berada di Amerika. “Info lagi.”
“Apalagi?”
tanya Sascha yang mengerutkan keningnya.
“Yang
membantu Damar sudah bergerak. Mereka sudah menyiapkan pasukan. Jika kita
melawannya?” tanya Ian.
“Apakah
Damar bekerja sama dengan mafia kartel mafia obat-obatan?” tanya Sascha yang
curiga.
“Sepertinya
tidak ada. Kok aku jadi penasaran dengan Damar sih?” tanya Ian.
“Setahuku
kakak cek saja di ponselnya. Pasti ada yang dilakukan oleh mereka. Tapi kita
enggak akan pernah tahu kecuali yang memiliki insting kuat,” jelas Sascha yang
membuat Dewa melongo.
“Yang
kamu katakan benar. Kamu memang pandai memakai feeling,” puji Dewa.
“Jarang
ada wanita memakai feeling ketimbang emosi. Rata-rata wanita kalau bertindak
memakai emosi,” ucap Devan.
“Sascha
juga memakai logika. Tapi kalau soal horor dia jarang sekali memakai logika,”
jelas Ian yang mengetahui Sascha yang sifatnya aneh itu.
“Jangan
ingetin aku pada kuntilanak yang berada di ruanganku,” kesal Sascha yang
membuat Ian tertawa terbahak-bahak.
“Lagian
juga kuntilanaknya cantik banget. Saking cantiknya ngefans sama Eric,” ucap
Dewa yang terbahak-bahak.
“Ish...
kenapa juga kita membahas kuntilanak segala,” kesal Sascha. “Aku pernah
memarahinya dan memakinya. Eh... malah dia ketawa. Unutng saja engga ada kak
Eric. Kalau ada pingsan tuch orang.”
“Apa
yang kamu lakukan setelah ini?” tanya Bima.
“Aku
pengen pergi ke ruangan bawah tanah. Aku ingin memaki Damar saat ini juga!”
kesal Sascha yang teringat pada Damar dan David.
__ADS_1
“Ayo!
Aku antar!” ajak Bima.
“Apakah
kakak enggak ikut?” tanya Sascha.
“Apakah
di sana ada CCTV?” tanya Dewa.
“Ada.
Masih bisa dipakai dengan rapi,” jawab Bima yang berdiri.
Mereka
akhirnya meninggalkan ruangan itu. Lalu Bima berjalan di depan sebagai penunjuk
arah. Sementara itu Dewa yang masih nyaman di posisi dudukmya membiarkan sang
istri bertenu dengan Danar. Dewa akan melihat aksinya Sascha saat mode rubah
kecil berubah.
“Apakah
kamu nggak cemburu melihat Bima berjalan sama Sascha?” tanya Devan yang menatap
wajah Dewa.
“Aku
tidak cemburu sama sekali pa. Aku membiarkan Sascha bebas untuk mencari teman
sebanyak-banyaknya. Aku tidak ingin mengekang kebebasannya selama dalam batas
wajar,” jawab Dewa yang bijak.
“Kamu
benar. Jangan disalah artikan tentang pertemanan mereka,” timpal Tommy.
“Tapi
kalau di luar batas kewajaran lebih baik ditegur,” ucap Ian.
“Rencana
mau stay di sini atau apa?” tanya Gerre.
“Mau
pulang ke Amerika. Soal urusan Dita nanti biar Bryan yang akan mengurusnya,”
jawab Dewa yang membalas pertanyaan Gerre.
“Masalah
apa?” tanya Tommy.
“Masalah
ketika Dita dijebak sama teman sekolahnya dulu. Sekarang kasusnya lain lagi. Si
temamnnya itu meneror habis-habisan dan meminta uang sejumlah tiga puluh milyar
atau berapa... aku lupa. Hampir setiap hari Dita diteror habis-habisan. Nah
semakin lama temannya malah mengancam menyebarkan video m*sum ke penjuru.
Otomatis Dita terkejut. Dita tidak pernah melakukannya. Jadi ya gitu masih
bergulir sampai sekarang,” jawab Dewa yang menjelaskan apa yang telah terjadi
pada Dita saat ini.
“Kenapa
enggak pake Pak Herman?” tanya Devan.
“Hmmpp...
aku memiliki feelimg yang kuat kalau Pak Heman sudah berkomplot dengan mereka.
Buktinya saat kami berdebat dan bilang tentang hukum dia bilang enggak bisa.
Saat itu juga aku suruh pulang ke rumahnya dan meminta Bryan memecat Pak Herman
dari jajaran pengacara perusahaan,” jelas Dewa yang membuat Devan mengerti.
“Keputusan
kamu sudah tepat. Kamu juga berhak melakukannya. Sebab yang menjadi kendalanya,
jika ada kasus besar orang itu tidak akan mau melindungi perusahaannya. Malahan
bisa membuat perusahaan menjadi kacau total,” puji Gerre.
“Ya...
tahulah... memang enak sih... siapa yang mau mendapatkan keuntungan lebih dari
ini semuanya?” tanya Devan.
“Maksud papa apaan?” tanya Dewa yang tidak mengerti
__ADS_1
apa maksudnya.