Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
JELAS SUDAH.


__ADS_3

Chloe tersenyum melihat ada seorang gadis yang mirip sekali dengan Tara. Chloe segera mendekati gadis itu sambil bertanya, "Apakah kamu putrinya Tara Hadiwijaya Kanata?"


"Ah.... Iya... Aku memang putri dari Nyonya Tara," jawab Dita. "Sepertinya nyonya mengenal ibu saya?"


"Tara adalah teman baik saya. Bahkan kami satu sekolah ketika SMA," jawab Chloe. "Apakah kamu mengenalku?"


"Ya... Aku memang mengenal nyonya. Nyonya adalah idola saya di dunia akting," jawab Dita. "Kebetulan sekali aku bertemu dengan artis Hollywood. Dan itu juga tidak terduga. Nyonya sedang apa di sini? Apakah nyonya sakit?"


"Tidak... Aku sedang menunggu Sascha yang sedang sakit," jawab Chloe.


"Mbak Sascha," pekik Dita. "Maaf nyonya lain kali saja kita mengobrolnya. Aku ingin bertemu dengan Mbak Sascha."


"Silahkan... Mbak Sascha berada di dalam sama kakakmu," ujar Chloe yang tersenyum melihat Dita yang sangat memperdulikan Sascha.


Chloe sangat bersyukur karena Sascha banyak yang memperdulikannya. Bahkan Sascha banyak mencintainya. Hati Choe sangat lega dan tenang. Sementara itu Dita yang tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam. Dita melihat Dewa memeluk Sascha.


"Mbak Sascha," pekik Dita yang tidak sengaja melihat kemesraan Sascha dan Dewa.


Sascha terkejut dengan suara Dita. Sascha segera melepaskan dirinya. Namun Dewa tidak ingin melepaskan Sascha. Dewa memeluk Sascha semakin erat dan membisiki sesuatu, "Sudah... Biarkan aku begini."


"Kak Dewa, lepasin aku. Ada Dita disini," ucap Sascha yang kesal terhadap Dewa.


Akhirnya Dewa melepaskan Sascha sambil menyunggingkan senyuman yang manis itu. Lalu Dewa melihat Dita dan bertanya, "Sudah datang?"


"Ya... aku sudah datang. Kalian tidak memiliki perasaan," jawab Dita.


"Maaf... tuh kakakmu yang peluk-peluk aku sedari tadi," kesal Sascha.


"Tidak usah kesal kepada Kakak, mbak. Kak Dewa kan baru mengenal cinta, Makanya Kak Dewa sangat posesif sekali. Semua yang dimilikinya enggak boleh dimiliki orang lain. Termasuk juga Mbak Sascha sendiri. Jangankan memiliki melihat pun tidak boleh," ucap Dita yang paham sifat jelek sang kakak itu.


"Kamu membuka kartu Asku?" tanya Dewa.


"Terpaksa Dita buka. Biar Mbak Sascha enggak kaget lagi dengan sikap kakak yang posesif itu," jawab Dita yang mendekati Sascha.

__ADS_1


"Aish... kok jadi begini... Ya sudahlah," keluh Dewa yang malu kepada Sascha.


"Tak apa. Enggak usah malu. Aku sudah tahu semua dari yang baik maupun jelek," jawab Sascha.


Sascha merentangkan kedua tangannya. Lalu Dita langsung berhamburan di pelukan Sascha. Dita menangis karena sangat mengkhawatirkan Sascha. Bahkan Dita tidak mau kehilangan sosok Sascha. Di mata Dita, Sascha adalah sosok kakak yang baik. sering mendengar keluh kesahnya dan enak diajak curhat.


Tak sengaja Sascha mendengar Dita menangis. Sascha mengelus punggung Dita untuk menenangkan Dita sambil berkata, "Jangan menangis. Aku baik-baik saja."


Dita mengangkat kepalanya sambil memandang wajah Sascha. yang berurai air mata, "Bagaimana aku enggak menangis? Aku sangat khawatir kepada Mbak. Aku menelpon mbak ingin memberitahukan soal Billi."


Ceklek.


Pintu terbuka.


Chloe dan Gerre masuk ke dalam sambil membawa papper bag yang berisi cemilan yang baru saja dibeli di minimarket yang berada di dalam rumah sakit. Chloe menaruh papper bag itu di atas meja. Akan tetapi Dita terdiam dan tidak melanjutkan pembicaraan itu karena ada Chloe dan Gerre.


"Bicaralah Dita, ada apa dengan Billi?" perintah Dewa.


"Alasan saja," sergah Dewa.


"Alasan bagaimana kak?" tanya Dita.


"Kamu tahu selama ini Billi sudah memeras Sascha. Kamu tahu selama ini Sascha direndahkan oleh Billi? Apakah kamu tahu kalau kalau selama ini Billi memanfaaatkan Sascha?" tanya Dewa ke Dita.


"Jadi selama ini?" tanya Dita.


Dita melepaskan Sascha lalu tertunduk lesu, "Maafkan aku. Seharusnya aku tidak menyampaikan amanat ini ke Mbak Sascha."


"Yang namanya amanat tetap disampaikan. Biar bagaimanapun amanat itu akan menjadi beban untuk si penerima amanat. Bahkan harus dilakukan jika baik," jelas Sascha yang memberi nasihat kepada Dita dengan suara lembutnya. "Kamu tidak perlu menyesal seperti itu."


Dita mengangguk paham dan tersenyum. Sascha sangat bahagia atas kehadiran Dita. Sascha juga berterima kasih kepada Dita yang sudah memperdulikannya.


"Apakah sering Billi meminta uang kepada Sascha?" tanya Gerre.

__ADS_1


"Sering tuan. Bahkan Billi tidak tanggung-tanggung meminta uang yang banyak," jawab Dita secara jujur.


"Kamu tahu uang itu dibuat apa?" tanya Dewa yang membuat Sascha dan Dita terdiam.


"Memangnya buat apa kak?" tanya Sascha.


"Buat berfoya-foya dirinya sama ibunya yang jahat itu," jawab Dewa.


"Apakah itu benar kak?" tanya Sascha yang tidak percaya. "Katanya uang yang diminta dariku untuk membeli sawah. Mama bilang buat aku inventasi dalam bidang pertanian. Nanti setiap kali panen bisa dibagi dua hasilnya."


"Oh... ini hanya alasan saja. Kamu tahu baju dan barang-barang yang dibeli merupakan uang kamu. Diam-diam aku sudah menyelidikinya," ujar Dewa yang berkata jujur.


"Jadi selama ini?" tanya Sascha yang sangat kecewa pada ulah Billi.


"Apakah kamu enggak sadar selama ini Fatin mengobral janji kepadamu?" tanya Gerre. "Apakah kamu pernah mendapatkan hasil panen sawah tersebut?"


Sascha menggelengkan kepalanya, "Tidak."


"Memangnya kamu tidak pernah menanyakan uang hasil panen tersebut?" tanya Gerre lagi.


"Kalau ditanya jawabannya hanya satu gagal panen karena diserang oleh hama," jawab Sascha.


"Lha... bagaimana panen berhasil jika uangnya berubah menjadi barang-barang branded dan mewah? Kamu ini ada-ada saja," celetuk Dewa.


Ingin rasanya menangis. Sascha sangat kecewa dibohongi. Sudah dua tahun Sascha menantikan hasil panen itu. Sakit... ya memang sakit. Di waktu bersamaan Sascha teringat kata-kata pedas dari Fatin ibu dari Billi. Jika kembali ke masa lalu, Sascha ingin menginvestasikan uangnya untuk membeli saham atau rumah yang belum ada isinya untuk dirancang sedemikian epic. Kemudian Sascha akan menjual rumah tersebut. Mungkin dengan cara inilah Sascha bisa mengolah uang tersebut.


"Kamu harus bangkit Sa! Kamu harus tahu satu hal. Kamu adalah ahli waris Khans Company. Cepat atau lambat kamu akan menggantikan posisi papa," ucap Gerre yang membakar semangat Sascha.


Sontak saja Sascha terkejut. Sascha menggelengkan kepalanya karena perkataan Gerre, "Aku tidak akan bermimpi bisa menjadi seorang wanita sukses. Aku bersyukur karena hanya seorang karyawan biasa."


"Apakah benar Sascha adalah putri kalian? Lalu bagaimana dengan Pak Andika?" tanya Dita.


"Mereka adalah orang tuaku. Aku rindu sekali pada Mama Chloe yang memiliki senyuman lembut. Dan aku juga rindu pada papa Gerre. Meski Papa Gerre adalah pengusaha arogan dan angkuh. Bagiku Papa Gerre adalah papa yang baik. Begitu juga dengan Pak Andika dan ibu Nirmala. Aku masih menganggap mereka adalah orang tuaku juga. Karena merekalah aku bisa hidup sampai sekarang. Mereka juga merawatku dengan setulus hati. Aku tidak akan melupakan mereka," jawab Sascha. "Aku sudah tidak sakit kepala lagi. Bolehkah aku pulang ke Indonesia?"

__ADS_1


__ADS_2