Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
OBROLAN RINGAN.


__ADS_3

Dewa tidak pernah flexing apapun. Memang Dewa itu sangat gila. Uang yang berada di dompetnya suka berubah-ubah. Itu semua keinginan hatinya. Dan Sascha pun enggak tahu itu. Lagian Dewa itu sangat licik sekali. Bisa menipu pada keadaan.


Setelah selesai berdandan, mereka akhirnya pergi meninggalkan rumah bersama Dita. Mereka menuju ke pasar dengan jalan kaki saja. Jarak antara rumah ke pasar tidak jauh. Ya... bisa dikatakan kalau rumah dan pasar hanya beberapa menit saja.


“Suasana di pagi ini sangat indah sekali ya Kak?” tanya Dita.


“Memang indah. Udaranya sejuk dan jarang terkontaminasi dengan kotoran apapun. Aku rasanya ingin tinggal di sini,” ucap Sascha.


“Tidak usah tinggal di sini kak. Bagaimana dengan perusahaan Kakak dan Kak Dewa. Bukankah kedua perusahaan itu akan dijadikan satu? Kalau dijadikan satu siapa yang akan mengurusnya? Nanti kasihan Kak Dewa yang sendirian berada di kantor,” jawab Dita.


“Kamu ada benarnya juga. Aku juga tidak akan mungkin meninggalkan Kak Dewa di perusahaan sendirian. Lagian setelah menikah para papa ingin menggabungkan dua perusahaan sekaligus. Terus nanti kau udah memiliki anak dibagi-bagi. Agar ada yang meneruskannya. Sayangnya mamaku cuman punya anak satu. Jadi akulah yang menanganinya,” jelas Sascha.


“kemungkinan pada waktu itu, Mama lagi sibuk dan membiarkan pekerjaan yang menumpuk. Lalu tidak peduli dengan kehidupan pribadinya. apalagi saat itu Mama sedang patah hati karena kehilangan kami. Maka dari itu Mama membiarkannya mengalir apa adanya,” sambung Dita.


“Sepertinya sih begitu. Aku sendiri juga kasihan. Untung saja peristiwa di Jepang menyatukan kita. Kalau tidak ya sudah. Memang yang namanya ikatan batin itu sangat kuat. Aku tidak menyangka, kalau aku adalah anak seorang pengusaha terkenal di dunia. Padahal yang aku tahu adalah Aku adalah anaknya orang biasa. Itulah yang membuat aku menjadi lain,” jelas Sascha.


“Yang namanya jodoh tidak akan kemana kak. Kalau kita berpisah dari orang tua. Kita akan kembali lagi. Semuanya sudah takdir yang harus dijalankan. Aku tidak menyangka kalau selama ini mereka berkaitan dengan kakak. Aku tidak habis pikir dengan mamanya Billi. Kok jadi orang kejam banget sih. Memisahkan anak dan ibunya hingga dibuang ke Indonesia. Terus setelah dewasa Kakak menemukan Kak Dewa. Padahal dulunya Kak Dewa itu adalah teman masa kecil kakak. Yang di mana teman masa kecil Kakak itu sangat merindukan Kakak sendiri. Eh ujung-ujungnya nikah. Aku malah senang mendapatkan kakak ipar yang baik. Bahkan saking baiknya aku harus melindungi kakak.”


“Nggak usah melindungi aku. Biarkan aku seperti ini. Harusnya aku yang melindungi kamu. Kamu memang barbar. Tapi sayangnya kamu memiliki mental yang tidak cukup kuat. Bahkan kamu ditindas sedikit langsung sedih dan menangis. Sepertinya kamu harus memiliki mental baja. Kalau tidak kamu akan merasakan yang lebih perih lagi. Kamu masih jadi artis Bagaimana nanti kalau kamu jadi artis luar negeri? Bakalan ngerinya setengah mati. Kalau tidak suka kamu akan mendapatkan pembullyan habis-habisan?”

__ADS_1


“Kakak benar. Emang aku masih menjadi gadis cengeng. Setiap ada masalah mencurahkannya dengan air mata. Aku harus bagaimana dan merubah hidupku seperti apa?”


“Tidak usah dirubah sedikitpun. Sekalinya kamu tetaplah kamu. Jangan pernah menyerah pada keadaan. Kalaupun menyerah akan digerus dengan waktu. Dunia ini memang sangat kejam sekali. Tapi kamu ingatlah pada sang pencipta. Agar kamu mendapatkan pertolongan darinya. Memang di dunia ini tidak ada yang abadi. Tapi manusia ingin meminta keabadian. Kita semuanya akan mati. Lalu menjalani hidup kedua dan menentukan kita mau masuk ke mana. Itulah kenapa namanya kehidupan seseorang. Meskipun Kak Dewa memang resek seperti itu. Tapi Kak Dewa memiliki banyak segudang mutiara. Yang di mana mutiara itu bisa dibagikan ke setiap orang. Bahkan di media sosial pun dia hanya mengatakan beberapa kata saja.”


“Iya sih Kak bener. Aku juga merasakan seperti itu. Lagian aku jarang sekali membaca kata-kata mutiaranya. kata-kata itu bisa memotivasi seseorang untuk menjadikan hidupnya lebih baik lagi.”


“Makanya kamu jangan menyerah sedikitpun. Kak Dewa termasuk memiliki mental yang kuat. Sekalinya ditindas malah dia ganti menindas. Kalau ada musuh di dalam dunia bisnis. Langsung aku mengetahuinya dan membiarkannya terlebih dahulu. Setelah itu kalau dia udah berulah langsung dihajar habis-habisan. Mengajarnya bukan melalui fisik. Melainkan melalui mental. Ujung-ujungnya musuhnya terkena mental semua. Terus orang itu akhirnya meminta maaf dan tidak akan mengganggu lagi Kak Dewa.”


“Apa yang kakak katakan itu benar. Tapi Kakak adalah orang yang berbeda. Kalau ada masalah di kantor tidak pernah dibawa pulang ke rumah. Malahan sifatnya kembali lagi seperti Kak Dewa yang kukenal. Biasanya aku bangga memiliki Kakak seperti dia. Kakak mau masak apa hari ini?”


“kayaknya enak ya sambal teri, sayur asem, ayam goreng dan tahu goreng.”


“Itu juga makanan favoritnya Kak Dewa. Sebagai Seorang pebisnis. Aku tidak menjaga kalau gak ada yang memiliki menu makanan sangat sederhana sekali. Di rumah makanya hanya nasi goreng dan telur ceplok saja. Kalau lapar masak sendiri,” puji Sascha yang sudah sampai di pasar dan memandang wajah Dita. “Kita sudah sampai.”


“Kakak benar. Kita sudah sampai di sana. Lebih baik kita berburu sayur asem seperti dahulu. Setelah itu membeli teri dan ayam. Rasanya aku sangat lapar sekali membayangkan kalau sudah jadi,” ungkap Sascha yang mulai kelaparan.


Mereka akhirnya berburu beberapa macam bahan makanan. Sascha memutuskan untuk tidak menyetok makanan. Karena yang dimasak harus dihabiskan sekarang. Tapi dirinya sangat bersyukur sekali. Memiliki suami yang gampang untuk diberi makan. Dewa orangnya juga tidak begitu rewel dengan apa yang dikasihnya.


Sementara itu, Dewa yang sudah selesai membersihkan rumah membangunkan Bryan. Dewa memintanya untuk membuatkan surat agar rumah ini bisa dijual. Jujur saja Ini adalah amanah buat mereka berdua. Dan Brian pun saat itu sangat terkejut sekali. Kenapa rumah ini tiba-tiba saja dijual?

__ADS_1


Akhirnya Dewa bercerita. Siapa Pak Andika sebenarnya? Bryan yang sering ke sini bersama Sascha sangat tercengang sekali mendengarnya. Bryan tidak menyangka kalau Pak Andika sengaja dibuang oleh keluarganya sendiri. Terutama pada adiknya. Terus kakaknya Pak Andika juga dibuang. Rasanya Brian ingin marah sekali kepada orang-orang itu.


Selama liburan di sini, Bryan tidak memiliki kejanggalan apapun. Pak Andika dan ibu Nirmala adalah sepasang suami istri yang sangat baik. Saking baiknya mereka tidak pernah meminta apapun kepada putra-putrinya. Maka dari itu Bu Nirmala dan Mbak Andika ingin menjual rumah ini.


“Ya sudah kalau begitu akan aku jual. Biasanya teman-teman dari luar negeri ingin tinggal di Indonesia. Terutama Mereka ingin menetap di pedesaan,” ucap Bryan.


“Terserah lu aja. Yang penting dulu atur aja enaknya gimana? Gue minta bersihnya saja bagaimana?” sahut Dewa yang membiarkan Brian menjual rumah itu.


“Beres bro. Setelah ini akan aku pasang iklannya di sosial mediaku. Siapa tahu nanti rumah ini menjadi laku keras,” tanda Brian yang mulai ponselnya langsung membuat iklan di media sosialnya.


“Emang dari dulu lu tidak pernah berubah. Dapat tugas langsung dikerjakan. Dan gue itu sangat aneh sama lu. Bisa-bisanya elu menjadi pengacara merangkap sebagai penjual,” ledek Dewa.


“Kalau ada kesempatan pekerjaan lainnya Kenapa nggak. Aku sendiri aja kadang-kadang bosan menjadi seorang pengacara. Lagian juga menjadi seorang pengacara itu harus memiliki mental yang kuat. Dan musuhnya tidak kalah pelik lagi. Apalagi musuh tentang keluarga sendiri. Kadang-kadang Aku suka berkonflik dengan keluargaku. Kan lucu ceritanya dari mana bisa berkonflik dengan keluarga sendiri. Mereka saja membuat drama lalu aku diseret dan dimasukkan ke dalam penjara,” kesal Brian terhadap keluarganya itu.


“Lu masih mending. Lha gue, gue yang sebagai pangeran pun kadang-kadang terusik. Banyak sekali kakek mengutus hubungan persaudaraan. Itu juga karena keusilannya mereka sendiri. Bayangin aja kok sudah ditolong kok nggak malah terima kasih. Mereka sengaja ngadu domba dari satu ke yang lainnya,” ungkap Dewa yang merasakan benar dalam hidupnya ketika harus berurusan dengan keluarganya.


“Nah, makanya itu kita harus memiliki kuat mental. Sekalinya hajar habislah mereka. Aku harap istrimu tidak takut sama mereka.”


“Lu ngomongnya aneh. Aulia memang wanita barbar. Memang pertama kali kenalan dia sudah menunjukkan sifat aslinya. Aku sendiri saja malah senang dengan sikap aslinya itu. Lebih baik dia menunjukkannya terlebih dahulu ketimbang harus memakai topeng palsu.”

__ADS_1


“Lu nggak takut sama dia?” tanya Bryan.


__ADS_2