
Edisi Malam Minggu guys. Beberapa bab Author akan menceritakan tentang kisah Dewa dan Sascha saat menjadi sahabat.
Silakan dibaca.
Dewa sudah merasakan tubuhnya panas. Ia membuka seluruh bajunya dan menyalakan air. Dewa merutuki kebodohannya sambil memaki dirinya karena tidak mau melepaskan Sascha dari pelukannya.
“Kenapa tubuhku terasa panas jika Sascha memegangnya? Tapi kenapa setiap wanita menyentuhku aku tidak merasa panas?” tanya Dewa dalam hati.
Sascha semakin ketakutan jika Dewa terjadi sesuatu. Ia masih mondar-mandir seperti setrikaan yang menggosok baju. Sascha bingung apa yang harus dilakukannya?
“Ada apa dengan Kak Dewa? Kok tiba-tiba saja mengamuk? Padahal aku tidak ngapa-ngapain tadi?” tanya Sascha dalam hati.
Dengan penuh keberanian Sascha akhirnya mendekati toilet dan mendengarkan suara gemerincing air. Sascha takut jika Dewa melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Kemungkinan besar Dewa akan membunuh dirinya sendiri di bawah pancuran air. Sascha membayangkan hal itu lalu menggelengkan kepalanya.
“Aku enggak mau Kak Dewa mati konyol seperti itu. Tidak akan aku biarkan Kak Dewa melakukannya,” ucap Sascha dalam hati.
Lalu Sascha memutuskan untuk membuka pintu secara pelan-pelan. Sascha tidak melihat ada Dewa di dalam bath up. Ia merasakan jantungnya semakin berdetak kencang. Matanya mulai mengelilingi ruangan itu dan melihat Dewa yang sedang menjinakkan ular kobranya itu. Sascha berteriak kencang kemudian membanting pintunya dengan kencang.
Boooooom!
Dewa hanya menggelengkan kepalanya saat ketahuan oleh Sascha. Ia hanya menghela nafasnya sambil berkata dalam hati, “Kalau mau lihat... ya lihat saja. Apa salahnya dengan diriku? Kalau mau coba enggak apa-apa. Aku malah menggratiskannya buat kamu.”
Selesai melihat Dewa sedang melakukan ritual penjinakan ular kobranya itu Sascha semakin bingung. Dalam hatinya ia bertanya-tanya kenapa Kak Dewa seperti itu? Aku kan tadi hanya memegang dadanya. Lalu salah aku apa coba?
Berbagai pertanyaan demi pertanyaan bergulifr dalam hati. Namun Sascha hanya bisa mengusap wajahnya. Sascha akhirnya memilih untuk diam.
Sejam kemudian.
Dewa akhirnya menuntaskan ritual mandinya. Ia hanya melihat handuk coklat berada di toiletnya itu. Kemudian Dewa mengambilnya dan melingkarkan ke pinggangnya.
Ceklek.
Pintu terbuka.
__ADS_1
Dengan penuh percaya diri Dewa keluar dari toilet. Ia melangkahkan kakinya menuju ke walk in closet. Ia memilih baju santai dan keluar. Tanpa sadar Dewa melepaskan handuknya tanpa sehelai benang. Ia memakai baju di hadapan Sascha sedang melamun.
Sascha sadar karena telah membuang waktunya selama satu jam. Matanya membelalak sempurna sambil melihat tubuh seksi Dewa, Ia segera berlari ke luar kamar. Namun naas Sascha terpleset di hadapan Dewa sambil berteriak...
Argh!!!
Dewa yang masih memakai boxer pun terkejut karena Sascha terpleset. Dengan cepat Dewa segera menangkapnya. Lalu Dewa juga terkena kesialan. Ternyata tanpa disadari Dewa menginjak lantai yang ada airnya. Hingga akhirnya...
Bugh!
Sepasang kekasih itupun terjatuh di atas lantai. Dewa jatuh terlentang lalu Sascha jatuh menimpa Dewa. Dewa hanya meringis kesakitan dan melihat Sascha dengan wajah bahagia.
“Kenapa kamu berlari hingga jatuh seperti ini?” tanya Dewa.
“Kakak tahu enggak kalau kita berdua di kamar sendirian akan ada sesuatu?” tanya Sascha.
“Tahu,” jawab Dewa.
“Makanya aku keluar dari sini. Biar tidak terjadi apa-apa,” ujar Sascha.
“Maksudnya?’ tanya Sascha.
“Bagaimana kalau kita melakukannya?” tanya Dewa.
“Kalau aku sudah tidak segel lagi gimana?” tanya Sascha balik
“Kamu melakukannya sama siapa?” tanya Dewa yang memandang wajah Sascha.
“Kakak,” jawab Sascha.
“Nikahnya sama siapa?” tanya Dewa lagi.
“Kakak,” jawab Sascha polos.
__ADS_1
“Lalu kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Dewa.
“Hmmp... aku hanya takut,” jawab Sascha.
“Kalau begitu kita lakukan sekarang,” ajak Dewa.
“Nanti kalau sudah menikah,” jawab Sascha menggelengkan kepalanya.
“Sekarang saja dech. Kenapa harus besok? Aku capek membuat ular kobraku tertidur lagi. Gara-gara kamu di ular kobra terbangun lagi. Jadi sekarang kamu yang harus tanggung jawab,” bisik Dewa.
“Apakah itu benar kak?” tanya Sascha dengan polos.
“Ya itu benar. Aku tidak bohong. Lihatlah sendiri kalau tidak percaya!” perintah Dewa.
Sascha harus melihat ke bawah dan melihat benda kesayangannya Dewa berdiri tegak. Mau tidak mau Sascha harus mengiyakannya. Kemudian Sascha bangun dengan diikuti oleh Dewa. Kemudian Dewa mendekati Sascha dengan wajah sayu. Sascha bingung apa yang harus dilakukannya. Mau tidak mau Sascha harus memejamkan matanya sambil menahan nafasnya.
“Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Aku enggak tahu bagaimana caranya?” ucap Sascha dengan polos.
Dewa menganggukan kepalanya karena paham dengan situasi Sascha. Dewa tahu kalau Sascha masih suci dan belum terjamah oleh pria manapun. Dewa segera menarik baju Sascha lalu merobeknya. Ia hanya meminta maaf sambil berbisik, “Kalau kamu hamil aku tidak akan meninggalkanmu. Kamu tahu tujuan kita menikah itu apa?”
“Aku tidak tahu kak,” balas Sascha.
“Aku ingin memiliki anak dari kamu. Jika aku memilikinya berarti kamu sudah terikat dengan aku sepenuhnya. Kamu tidak bisa lepas dari aku selamanya. Aku memang egois menjadi seorang pria. Aku memang tidak peduli dengan keadaan sekitar. Tapi kamu harus tahu itu. Kalau aku sangat mencintaimu. Bahkan melebihi nyawaku. Maafkan aku yang telah mengklaim kamu sebagai milikku. Karena aku adalah pria posesif,” ucap Dewa secara tulus.
Sascha akhirnya menganggukan kepalanya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Dewa. Selama ini dirinya telah merasakan hal itu. Sebelum dekat seperti ini Sascha menganggap Dewa sebagai sahabat dekatnya. Sering sekali Dewa curhat tentang apa yang telah ditemuinya. Begitu juga dengan sebaliknya. Bahkan setiap orang yang belum pernah mengenalnya mereka adalah sahabat kentalnya. Namun dibalik itu semuanya tidak ada yang tahu. Kalau Dewa menaruh hati di dalam hati yang terdalam. Secara perlahan Dewa memang sengaja menghapus nama Billi di hati Sascha. Dengan penuh keberanian Dewa mengklaim Sascha adalah kekasihnya. Jujur Sascha tidak merasa risih akan hal itu. Ia sangat santai menghadapinya. Disisi lain Sascha sangat bahagia dan mulai menyimpan rasa itu di relung hatinya. Memang Sascha pandai menyimpan perasaannya untuk Dewa sebelum mengenal Billi sebelum menjadi Aulia sekarang.
Dalam diam Dewa mengetahui kalau Sascha memang menyukainya. Dewa tidak memakai Indra keenamnya itu untuk mengetahui itu. Namun hatinya membimbingnya untuk menemukan sebuah bukti. Bukti yang dimana kalau Sascha menyukainya. Dewa menemukan sebuah buku dairy Sascha ketika di rumahnya dulu. Ia mengambilnya dan sangat penasaran apa isinya. Dewa sengaja membukanya tanpa diketahui oleh Sascha.
Dewa membacanya lembaran demi lembaran buku itu. Sascha sangat rajin menulis kegiatan harinya. Bertemu dengan hal yang baru, teman baru, masalah baru, kebahagiaan dan kesedihan. Semuanya bercampur menjadi satu. Kemudian di lembar warna pink Sascha menulis tentang cinta. Dewa membacanya kalimat demi kalimat. Ia tersenyum manis karena yang ditulisnya adalah dirinya. Tapi Dewa berpikir kenapa sang sahabatnya itu tidak menulis tentang Billi? Setahu Dewa kalau orang sudah memiliki pacar mereka akan menulis tentang kekasihnya. Dewa tidak memperdulikan itu. Ia mulai melanjutkan tulisan Sascha.
Jantungnya berdetak kencang dan ingin lompat saat Sascha bilang kalau dirinya jatuh cinta sama sang sahabatnya itu. Dewa berteriak kegirangan hingga membuat sang adik terkejut. Dengan cepat Dewa menutup buku itu dan menyimpannya kembali. Dewa tersenyum tidak jelas, wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Hatinya berdebar tidak karuan. Dewa menatap langit-langit sambil berkata dalam hati, Sascha membalas cintaku walau tanpa harus mengatakannya kepadaku secara langsung.
Betapa bahagianya Dewa saat itu setelah mengetahuinya. Detik itu juga Dewa mengklaim dan mengejar Sascha. Dewa akan menjadi perisai sang sahabatnya itu. Ia memutuskan untuk memberikan beberapa pengawal bayangan. Ia juga menjaga Sascha walau tidak berdekatan dengannya.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan Sascha? Jujur saat itu dirinya bingung dengan apa yang dipilihnya. Sascha masih ragu dengan Billi saat itu. Ia tahu diri kalau Dewa adalah seorang sultan. Sascha sudah menyelidikinya latar belakang Dewa yang ternyata sahabatnya itu adalah seorang pangeran dari Nakata’s Groups. Perusahaan itu memang banyak melahirkan cabang di seluruh dunia. Bahkan di setiap negara selalu ada. Sascha mengurungkan niatnya untuk tidak mengejar Dewa. Ibaratnya Dewa itu adalah bulan. Ia tidak akan bisa mencapainya. Lalu ia menerima Billi sebagai kekasihnya.
Setelah lulus sekolah Dewa memutuskan untuk pergi meninggalkan Sascha. Namun sebelum pergi Dewa meminta pengawalnya untuk menjaga Sascha dengan baik. Dewa menerapkan peraturan ke mereka agar selalu mengirimkan informasi kepadanya.