Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Ada Apa?


__ADS_3

“Aku lupa alamatnya di mana. Tapi aku masih ingat jalannya menuju ke rumahnya itu,” jawab Dita.


“Apakah aku harus menghancurkan Mereka lagi?” tanya Dewa sambil mengangkat wajahnya dan melihat Sascha.


“Itu terserah kamu. Aku hanya memberikanmu beberapa bukti ketika Dita mendapatkan ancaman,” jawab Sascha.


“Okelah kalau begitu. Kita kesana sekarang juga. Aku ingin masalah ini selesai dan tidak akan ada lagi ancaman demi ancaman ke Dita,” jelas Dewa yang menyandarkan tubuhnya di sofa. “Hubungi Pak Herman. Suruh kesini orangnya! Aku akan membawa kasus ini ke pengadilan.”


Sascha segera meraih ponselnya dan menghubungi Pak Herman. Malam itu juga Pak Herman langsung menemui Dewa. Sembari menunggu Sascha menatap wajah Dita sambil berkata, “Kamu harus ingat janjimu bersama Kak Dewa. Setelah ini kita akan pergi ke New York.”


“Tapi nggak bisa juga kali. Dita harus di sini terlebih dahulu hingga masalah ini selesai. Apakah aku harus menghubungi Tommy agar bisa menemaninya di sini? Sementara kita tidak bisa di sini hingga masalah ini selesai,” jawab Dewa.


“Yang kakak katakan benar. Aku juga tidak bisa di sini selamanya. Cepat atau lambat kita harus kembali ke Amerika. Kalau begitu aku akan menghubungi Kak Tommy agar pulang ke sini,” pintas Sascha.


“Kalau Kak Tommy nggak mau gimana?” tanya Dita.


“Pasti maulah. Tanpa harus diminta bayaran pun. Pria itu akan setia menemanimu hingga kasus ini selesai,” jawab Dewa. 


“Oh iya... Bagaimana dengan Cathy?” tanya Sascha. 


“Aku minta kamu menyelidikinya lebih dalam lagi. Kenapa itu orang bisa sampai ke Indonesia?” perintah Dewa.


Dengan terpaksa wanita berparas cantik itu pun mengambil laptopnya di kamar. Lalu ia kembali lagi ke tempat di mana ada Dewa dan Dita di sana.

__ADS_1


“Baiklah. Kamu tidak akan bisa menyembunyikan identitasmu. Aku akan mengobrak-abrik seluruh situs yang menyimpan seluruh data. Bahkan panggilan telepon bisa dilacak dengan cepat,” ucap Sascha sambil tersenyum mengerikan.


Sejam kemudian Pak Herman sudah tiba di depan apartemen Dewa. Pria paruh baya itu langsung masuk dan melihat Dewa, Dita dan Sascha. Kemudian ia membungkukkan badannya sambil memberikan hormat kepada dewa, “Selamat malam Tuan Dewa.”


“Malam Pak. Duduklah di sini. Seperti biasa anggaplah tempat ini sebagai tempat kumpul-kumpul bagi kita,” sambut Dewa dengan ramah. 


Pak Herman menghempaskan bokongnya dan duduk berhadapan dengan Dewa. Sedangkan Sascha masih asik mencari informasi tentang Cathy dan temannya Dita.


“Apakah kamu sudah menemukan sesuatu?” tanya Dewa.


“Ya... Aku sudah menemukannya. Menurut informasi yang akurat temannya Dita yang bernama Lita itu masih memiliki hubungan darah dengan Cathy. Menurutku Lita memiliki dendam sama Dita. Lalu kakak memenjarakannya selama lima tahun. Tapi disini Lita keluar dari penjara dengan bebas. Yang menjamin Lita adalah Cathy. Kemungkinan besar ini masih berhubungan dengan rumah itu, Dita dan aku. Kalau bisa dijabarkan ini sangat rumit sekali,” jelas Sascha.


“Oh jadi maksud kamu, rumah yang ditempati orang itu adalah rumah Dita. Di mana setiap rumah di sana sudah memiliki data-data yang valid dan tersimpan di database pemerintah. Memang rumah itu jarang ditempati oleh Dita. Tapi rumah itu sengaja disewakan agar tidak rusak. Penyewa terakhir Papa nggak tahu siapa namanya. Karena aku tadi menghubungi Papa sebelum berangkat ke sini. Yang terakhir kata Papa orang itu tidak menyerahkan identitasnya. Dan Papa mempercayai soal itu,” jawab Dewa.


“Jadi aku?” tanya Dita. 


“Ya itu benar. Sekarang nyawamu terancam. Temanmu itu memerasmu. Setelah memeras ibunya akan datang dan membunuhmu. Supaya rumah itu menjadi miliknya tanpa harus susah payah mengeluarkan uang untuk membelinya,” jelas Sascha.


Dita tertegun sejenak. Bagaimana bisa temannya itu memiliki niat jahat. Iya tidak menyangka kalau temannya itu sangat membencinya. Hanya gara-gara gagal mendapatkan peran, Dita menjadi bulan-bulanannya. Gadis berbalas cantik itu pun tidak habis pikir. Jika dirinya tahu soal bahwa temannya ingin menjadi artis. Maka Dita dengan senang hati akan memberikannya.


“Bagaimana ini? Jujur aku sudah tidak sanggup lagi menghadapi teror seperti ini,” tanya Dita.


“Apakah kasus ini bisa dibuka kembali? Apakah temannya itu bisa masuk ke dalam penjara dalam waktu yang lama? Jujur adikku sangat menderita sekali. Hanya karena berebut peran, adikku mendapatkan teror habis-habisan. Jika aku tahu masalah ini. Aku akan menyuruh Dita untuk melepaskan peran itu,” tanya Dewa.

__ADS_1


“Maaf tuan muda. Seandainya tidak ada bukti yang akurat. Kemungkinan besar gadis itu tidak bisa dipenjara. Kecuali jika nona muda Dita mengalami luka yang disebabkan olehnya. Maka gadis itu bisa kita masukkan ke dalam penjara. Inilah jadi kendala yang utama,” jelas Pak Herman.


“Jalan satu-satunya adalah menghindari masalah ini dengan cara pergi dari negara ini. Sudah itu saja. Jika Dita sudah berada di New York. Aku pastikan Dita akan selamat,” jelas Sascha yang memberikan saran kepada Dita agar menghindari masalah ini menjadi besar.


“Sebentar Pak Herman. Bukankah ancaman pemerasan bisa dipidana? Paling lama dua puluh tahun penjara? Setahuku ancaman itu bisa dipidanakan,” ucap Sascha. “Sudah mengancam meras lagi. Bagaimana menurut Kak Dewa?” 


Dewa memilih diam saja dan memberikan sebuah kode agar tidak bicara kepada Sascha. Hingga akhirnya wanita berparas cantik itu memutuskan tidak memperpanjang masalah ini. Entah kenapa Dewa merasakan ada sesuatu dari dalam diri Pak Herman. Sesuatu itu adalah hanya Dewa yang tahu. 


Setelah membicarakan kasus ini, Pak Herman memutuskan untuk pergi dari sana. Dewa pun mengantarkan hingga ke lobi. Diam-diam ia menyuruh seseorang untuk mengikuti Pak Herman. Kemudian Dewa memutuskan untuk kembali ke apartemennya. 


“Maafkan aku ya Dita. Aku harus mengambil keputusan ini. Agar kamu bisa selamat dari cengkraman kedua orang itu. Aku yakin hatimu tidak rela dengan keputusanku ini,” jelas Sascha. 


“Bukannya aku tidak rela kak. Aku terkena mental gara-gara orang itu. Lama-lama Aku bisa gila,” ucap Dita dengan lirih. 


Ceklek. 


Pintu terbuka. 


Dewa masuk ke dalam dan melihat sang istri bersama adiknya. Dengan wajah lesunya Dewa menghempaskan bokongnya sambil meraih ponselnya. 


“Ada yang harus kita bicarakan. Ini sangat penting sekali,” ucap Dewa ke Sascha. 


“Apa itu?” tanya Sascha. 

__ADS_1


__ADS_2