
“Ya tidak apa-apa. Sampai kasus ini jelas dan selesai hingga tidak memiliki beban buat kita berdua,” jawab Dewa.
“Aku setuju itu,” sahut Sascha. “Apa Kakak Bryan masih ada di sini?”
“Aku suruh kembali ke New York. Tapi aku sempat berkirim pesan. Katanya masih di Surabaya,” jawab Dewa. “Memangnya kamu mau ngapain?”
“Aku ingin minta tolong saja kepadanya. Kalau masalah ini menjadi besar. Biar aku menggandeng pengacara. Cepat atau lambat nanti ada masalah besar. Aku sendiri nggak mau disalahkan. Semua warga tahu kalau penyebabnya bukan Aku. Aku takut nanti dijadikan kambing hitam oleh seseorang. Makanya itu aku meminta bantuan Kak Bryan. Jika aku menggandeng pengacara. Kemungkinan besar aku akan aman,” jelas Sascha yang mulai memprediksi keadaan untuk ke depan.
“Ya nggak apa-apa. Lebih baik kita lakukan saja sekarang. Jam segini dia belum tidur sama sekali,” ucap Dewa.
“Aku hubungi sekarang ya? Biar Kak Bryan nggak kaget tentang masalah ini. Aku ingin clear dari masalah ini,” sambung Sascha.
“Tidak apa-apa. Nggak jadi masalah buatku. Yang penting masalah selesai. Terus semuanya nggak jadi beban antara pihak satu sama pihak kedua. Aku maunya gitu,” jelas Dewa.
Sascha langsung menghubungi Bryan dan menceritakan keluh kesahnya. Ia meminta Bryan untuk datang ke Nganjuk besok pagi. Bryan pun menyetujuinya dan ingin menuntaskan masalah ini. Setelah itu Sascha berpamitan untuk pergi tidur bersama Dita. Sedangkan Dewa memutuskan untuk tidur di sofa.
Sementara itu Bryan mulai berkemas untuk menuju ke Nganjuk. Malam itu juga pria bertubuh kurus itu sengaja pergi malam-malam. Sebab kematian Pak Andika dan Bu Nirmala ingin dipecahkan dalam waktu dekat ini.
Seandainya Kalau ada masalah ke depannya, Bryan memutuskan untuk angkat tangan dan lepas kendali. Yang ia tahu, Bryan paham akan kesibukan kedua orang itu. Apalagi saat ini dirinya sedang diutus oleh kedua orang tua Sascha. Maka dari itu dirinya harus menyelesaikan masalah ini secara rapi dan tidak ingin menjadikan polemik kedepannya.
Tepat jam 01.00 malam, Sascha yang terjaga dari tidurnya mendengar suara pintu diketuk. Hal itu membuat dirinya sangat ketakutan. Namun Sascha memutuskan untuk bangun dan keluar dari kamar. Sedangkan Dita paham kalau sang kakak iparnya keluar. Langsung saja Dita mendekati Sascha dan merangkulnya.
"Kamu kenapa?" tanya Sascha.
"Aku takut Kak. Aku takut jika Bu Nirmala dan Pak Andika datang," jawab Dita.
"Oh jadi itu. Kamu ini ada-ada saja. Orangnya sudah nggak ada. Masa orangnya muncul seketika," gumam Sascha lalu memegang tangan Dita agar berjalan.
Suara ketukan pintu itu sangat keras sekali. Hingga membuat Dewa terbangun. Lalu Dewa mengintip dari jendela. Pernyataan yang datang adalah Bryan. Dengan cepat Dewa membukakan pintu lalu menatap Bryan.
__ADS_1
"Ini jam berapa?" tanya Dewa.
"Masih jam satu," jawab Bryan.
"Ngapain lu pagi-pagi jam segini sudah datang? Kan disuruh datangnya jam delapan atau jam sepuluh," tanya Dewa yang membiarkan Bryan masuk.
"Pekerjaan untuk menyelidiki nanti sudah selesai. Gue mau balik ke New York. Tapi istri lo mau minta gue kesini. Maka dari itu jam sepuluh gue langsung meluncur ke sini," jelas Bryan.
"Ya sudah masuk aja," ucap Dewa yang menyuruh Bryan masuk ke dalam.
Lalu Sascha dan Dita datang. Mereka melihat ada Bryan di sini. Alangkah terkejutnya kedua wanita kecil itu. Bukankah Sascha memintanya untuk datang ke sini tepat pagi hari?
"Jalanan tidak macet Sa. Jadi aku bawa mobil nggak ngebut-ngebut parah sih. Tapi untunglah aku sampai ke sini," ucap Bryan sambil menatap wajah Sascha.
"Aku mengerti. Kalau jam sudah memasuki dini hari. Suasananya sangat sepi dan tidak ada orang sama sekali. Aku sangka kamu datangnya pagi," jelas Sascha.
"Ya sudah dech... aku kesini datang jam pagi pengen melanjutkan tidur," jawab Bryan yang membuat Sascha terkejut.
"Boleh," jawab Bryan.
Akhirnya Dewa mengajak Bryan menuju ke kamar Kinanti. Sebelum pergi Sascha berteriak untuk memanggil nama Bryan. Bryan akhirnya menoleh dan bertanya, "Ada apa?"
"Mobil sudah dikunci?" tanya Sascha balik.
"Sudah. Tenang saja," jawab Bryan.
"Ya sudah kalau begitu. Selamat melanjutkan mimpi indahnya Pak bro," ucap Sascha yang membuat Bryan cengar-cengir.
Pagi yang cerah. Sascha memutuskan untuk bangun dan menuju ke toilet. Ia mencuci wajahnya lalu bergosok gigi. Setelah itu Sascha pergi ke kamar untuk membangunkan Dita.
__ADS_1
"Bangun Dita. Sudah pagi. Katanya kamu mau pergi ke pasar," suruh Sascha sambil menepuk-nepuk pundak Dita.
Dita akhirnya terbangun dan menatap wajah Sascha. Lalu ia memutuskan untuk mencuci wajahnya dan kembali ke kamar. Pagi ini adalah pagi yang sangat dingin sekali. Bahkan Sascha dan Dita sangat kedinginan.
Sebelum keluar rumah, Sascha membuka kopernya. Ia teringat kalau dirinya memiliki uang receh. Ia menghitung uang tersebut sebelum keluar.
"Ternyata kakak bawa uang?" tanya Dita.
"Ya bawalah. Memangnya aku nggak memiliki uang yang memiliki mata uang di sini? Sebelum aku berangkat ke sini, aku sudah mempersiapkan semuanya. Terutama uang-uang receh dan lembaran berwarna merah. Jika tidak bisa-bisa Aku kelaparan. Bayangkan saja uang euro kupegang. Lalu kembalinya juga membuat ibu-ibu belanjaan bingung. Memang abangmu itu ada-ada saja," jawab Sascha.
"Kira-kira di dompetnya ada uang apa ya?" tanya Dita yang terdengar hingga ke telinga Dewa.
"Masih sama kayak kemarin. Yaitu euro. Lagian dikasih euro pada nggak mau," ledek Dewa sambil menatap wajah Dita.
"Kakak mah segitunya jadi orang. Memang seratus euro bisa membeli apapun di pasar," jelas Dita.
"Ya udah. Aku kasih lima ratus euro gimana?" tanya Dewa.
"Terima kasih Kak. Uangnya sangat ribet sekali. Aku nggak tahu mereka bisa nggak memberikan kembalian?" tanya Dita yang kesal lalu disambut gelak tawa Sascha.
"Jujur, baru kali ini uangku ditolak sama adik dan istriku. Aku bingung harus ngapain sama uang ini?" keluh Dewa.
"Sebenarnya uang Kakak nggak ada yang salah. Uang Kakak harus di tukarkan dulu ke money changer. Kalau tidak Bagaimana aku memakainya?" tanya Sascha.
"Bener juga sih. Nanti siang kamu pergi ke money changer. Tukarkan uang sebesar lima ratus euro. Kita di sini sampai berhari-hari. Sekalian memecahkan kasus teka-teki ini. Semoga saja kasus ini cepat selesai dan tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari," jawab Dewa.
"Kalau begitu aku akan berangkat ke pasar dulu," pamit Sascha.
"Lalu bagaimana dengan uangku ini?" tanya Dewa yang semakin bingung dengan uangnya.
__ADS_1
"Simpan saja uang itu," kesal Sascha.
Dewa hanya tertawa sambil menatap wajah sang istri yang kesal. Memang dewa adalah memiliki banyak aset. Namun Dewa itu orangnya nyeleneh. Tinggal di negara orang uangnya juga tidak sesuai. Apakah Dewa mau flexing kepada orang di sekitarnya?