
"Namanya juga orang tidak ada mood untuk melakukan. Lagian aku juga kasihan sama kamu. Kamu sedang hamil muda. Lalu aku harus menjaga calon bayiku itu agar tetap hidup di dalam perutmu. Aku tidak ingin menyakitinya. Aku melindungimu bukan berarti mengambil keuntungan yang sangat besar darimu," jelas Dewa.
"Terima kasih. Aku sangka kamu marah dengan aku karena permainanku tidak sebagus sebelum hamil," ucap Sascha.
"Aku tidak pernah mengatakan hal itu kepadamu. Aku sangat menghormatimu sebagai seorang istri yang baik di mataku. Kamu sudah memberikan aku sesuatu yang berharga. Jadinya aku sendiri tidak akan pernah mau menyakitimu sama sekali," ujar Dewa. "Tidurlah. Hari sudah malam. Jangan biarkan dirimu kecapean."
Jujur hati Sascha sekarang dihiasi oleh kembang api. Meskipun sudah menikah Sascha masih merasakan kalau dirinya benar-benar jatuh cinta. Mata indahnya itu langsung terpejam sambil menuju ke alam mimpinya.
Dewa yang melihat mengucapkan kata maaf. Bukan berarti dirinya tidak mau menjamah. Melainkan Dewa melindungi kedua calon bayinya itu. Mencintai bukan untuk nafsu semata. Itu bagi Dewa sendiri. Mencintai berarti menyayangi sepenuh hati dan tidak ingin menyakitinya begitu saja. Lain halnya dengan mencintai namun nafsu yang berbicara. Semuanya itu tergantung pada orangnya masing-masing.
Memang dulu Dewa tidak pernah mengenal apa kata cinta. Baginya cinta itu tidak baik untuk kehidupannya ke depan. Bahkan Dewa sendiri telah melaknat apa arti cinta. Setelah menikah dirinya sadar kalau cinta itu sangat indah. Cintanya bahkan mengalir deras untuk sang istri tercintanya. Seluruh teman-temannya sangat iri sekali kepada Dewa. Bagaimana bisa Dewa mencintai sang istri sepenuh hatinya? Dewa tidak pernah mencintai wanita seperti itu.
Lalu bagaimana dengan tanggapan Sascha sendiri? Sebagai wanita tentunya sangat bahagia sekali. Baru kali ini dirinya mendapatkan cinta yang tulus dari seorang pria. Kisah cintanya sungguh rumit sekali. Semuanya berasal dari Cinta yang salah. Mencintai seseorang yang salah itu sakit. Tapi dibalik semuanya memiliki hikmah. Sascha mengambilnya dan menjadikan sebagai pelajaran.
__ADS_1
Bagi yang cerah di kota New York City. Tak terbayangkan pagi ini adalah pagi dengan penuh kerumitan yang nyata. Semakin rumit hidup ini tidak bisa terkendalikan begitu saja. Contohnya, baru bangun langsung mendapatkan sebuah pesan yang membuat Sascha menghela nafasnya dengan panjang.
"Satu pesan yang membuat aku ingin berteriak kencang pagi ini," celetuk Sascha sedang menutup mulutnya sambil menguap.
"Memangnya kamu kenapa sih? Ada yang salah dengan aku pagi ini. Apakah aku kurang tampan saat terbangun dari tidurku?" tanya Dewa.
Seketika Sascha meledakkan tawanya. Ia tidak menyangka kalau sang suami berkata seperti itu. Ia memilih menatap wajahnya.
"Mana ada pangeran baru bangun tidur langsung tampan? Kalau yang namanya tampan itu, pagi-pagi sudah membersihkan tubuhnya, memakai baju dengan rapi, memakai parfum dengan aroma maskulin. Pasti deh kamu akan terpikat denganku selamanya," jelas Dewa.
"Gara-gara ketampananmu, aku jadi terikat denganmu," ujar Sascha dengan jujur. "Tapi nggak aku aja yang terikat dengan kamu. Teman-temanku sendiri terikat denganmu."
"Yang mana?" tanya Dewa.
__ADS_1
"Teman-temanku di kantor lah. Siapa lagi yang akan terikat denganmu kalau bukan aku. Mereka memujamu habis-habisan dan ingin tidur bersamamu di dalam satu ranjang," jawab Sascha dengan jujur.
"Tapi aku nggak suka mereka. Setiap aku panggil ke dalam ruangan. Mereka melebarkan matanya dan menatapku seakan memakan tubuh seksi ini. Aku sendiri menjadi ketakutan dan langsung menghentikan pertemuan itu," kesel Dewa yang mengingat kejadian lalu.
"Lagian kamu lucu juga ya. Banyak loh yang mengatakan kalau kamu benar-benar tidak menyukai wanita. Tapi kamu sudah membuktikannya. Kamu sangat menyukai aku," jelas Sascha.
"Itu semuanya sudah terbukti. Jadi pria itu harus misterius nggak usah blak-blakan. Biar setiap wanita pasti sangat penasaran sekali. Sama dengannya Eric dan juga Ian. Oh ya satu lagi Aku lupa. Bryan juga sama orangnya sangat misterius," ucap Dewa yang membuka kartu teman-temannya itu.
"Kalau Kak Eric sih memang begitu orangnya. Aku nggak tahu kenapa tiba-tiba saja dia mengangkatku sebagai asisten pribadinya. Aku sendiri bingung dengan keputusannya itu," ujar Sascha.
"Aku nggak merekomendasikan kamu sebagai asistennya. Dia melihatmu sebagai seorang wanita yang berbakat menangani setiap masalah. Aku pernah mengobrol ini tentang kamu ketika di waktu senggang. Dia mengatakan kalau kamu benar-benar ahli dalam mengatur jadwalku. Padahal dirinya selalu menolak jika diberi asisten sama paman Kobe. Ditambah lagi dia juga alergi terhadap perempuan," ungkap Dewa yang membuka kartu as Eric.
"Apakah Kak Eric adalah g*y?" tanya Sascha.
__ADS_1