Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
DI MANA DITA?


__ADS_3

“Yang aku katakan itu benar. Aku sudah mencari informasi yaitu melalui Leo. Memang perempuan itu sangat licik sekali. Saking liciknya perempuan itu tidak akan membiarkan Tommy lepas begitu saja,” jawab Dewa.


“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Sascha.


“Tenang saja. Nggak usah terlalu berpikiran lebih dalam. Lagian juga Tommy bersama Black Tiger akan aman kok,” jawab Dewa.   


“Jujur perasaanku tidak enak sama sekali. Aku yakin mamanya akan semakin murka dan mencari keberadaan kami dengan mudahnya,” ucap Sascha.


Dewa terkejut dengan pernyataan Sascha. Ia tidak terpikirkan masalah itu semuanya. Ia baru menyadari kalau Tommy benar-benar dalam bahaya besar. Sekarang yang menjadi pertanyaan di dalam hatinya. Apakah Dewa bisa melindungi teman baiknya itu? Hal ini dikarenakan keluarga Tommy sudah mengetahui, kalau Tommy bersembunyi di balik belakang mafia.


“Kamu nggak usah berpikir terlalu keras. Jujur kakak saja baru sadar akan hal ini. Tapi tenanglah. Aku masih bisa meminta bantuan sama papanya Eric. Jika keadaan sudah tidak terkendali. Aku yakin papanya Eric bisa melindungi Tommy dengan sangat baik sekali. Itu rencana cadanganku sebenarnya,” ucap Dewa yang menghadap ke arah Sascha lalu mengelus puncak rambut sang istri.


Meskipun Sascha sedang hamil. Ia sangat mempedulikan hidup teman-temannya itu. Ia tidak akan tinggal diam dan akan bergerak sendiri. Kemudian ia mulai menatap mata Dewa sambil bertanya, “Kenapa kamu nggak meminta bantuan kepada Black Swan?”

__ADS_1


“Itu tidak mudah bagi kita. Black Swan sedang off di dalam dunia bawah tanah. Itu tandanya sang ketua sedang mengalami masalah berat. Jadi mana mungkin aku melibatkan papamu dalam masalah ini? Jujur sebenarnya sih masalah ini sudah menyeret kita semuanya. Maka dari itu kita harus memiliki cara yang cerdik untuk membubarkan atau menyelesaikan kasus ini,” jawab Dewa yang sudah mengambil keputusan beberapa menit yang lalu.


Sascha akhirnya paham dan tersenyum manis. Ia menunggu keputusan Dewa selanjutnya. Malam ini mereka berkeliling mencari barang-barang yang unik. Nantinya barang-barang itu akan dibawa oleh Sascha. Lalu bagaimana dengan Dita? Dita tidak jadi berangkat. Dewa Sudah memutuskan kalau mereka akan berangkat bersama-sama. Dewa Sudah menghubungi kedua pilot jet pribadinya itu. Yang satu akan pergi ke Jepang. Yang satu akan terbang ke Shanghai.


Sementara kedua orang tua Dewa hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tara yang tidak sengaja mendapatkan laporan dari mata-matanya itu sangat geram sekali. Ia langsung pergi keluar dan memanggil heli untuk segera ke sini. Namun Devan dengan cepat menarik tangannya agar tidak kemana-mana .


“Sudah tahu masalah kita semakin runyam. Jadi jangan bikin masalah ini semakin besar. Kita akan pergi ke sana bersama-sama. Bukankah kita harus pergi besok pagi?” tanya Devan yang sedikit menahan emosinya.


“Tapi, masalah ini semakin berat. Kita tidak akan bisa melepaskan begitu saja. Kedua orang tua Tommy sedang bekerja sama dengan musuh besar Black Tiger. Papa tahu kan siapa yang Mama maksud itu?” tanya Tara.


“Ini sangat bahaya sekali buat kita semuanya,” kesel Tara yang tidak ingin dibantah oleh Devan.


“Jangan begitu. Nanti akan ada kejutan dari putra kita. Yang penting kita diam terlebih dahulu dan menikmati malam ini bersama. Beberapa jam lagi kita akan pergi ke Shanghai terlebih dahulu. Setelah itu kita pergi ke New York,” ucap Devan yang sengaja membuat Tara tenang.

__ADS_1


Memang malam ini anggota Black Tiger semuanya sangat cemas. Prediksi Dewa dan juga Bima akhirnya kejadian. Ketika mereka berkumpul mereka tidak sengaja memanggil sebuah nama yang menjadi bahan ejekannya. Namun mereka terkejut. Nama ejekannya itu tiba-tiba saja muncul ke permukaan.


Tepat jam 04.00 pagi. Mereka bersiap-siap untuk meninggalkan desa ini untuk sementara waktu. Sementara Sascha sudah lebih dulu membersihkan tubuhnya. Sascha sengaja memakai baju yang sangat sederhana sekali. Namun di dalam hatinya merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


“Kapan helikopter akan datang ke sini?” tanya Sascha yang sudah tidak sabaran menanti kedatangan helikopter di belakang rumah ini.


“Sebentar lagi helikopter akan datang. Semua orang sudah bersiap menunggu helikopter itu,” jawab Dewa.


“Di mana Dita?” tanya Sascha.


“Biasanya jam segini dia masih tidur,” jawab Dewa yang mengetahui sifat aslinya sang adik.


“Apa?” tanya Sascha.

__ADS_1


 


__ADS_2