Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
TIBA-TIBA SAJA AKU CURIGA.


__ADS_3

"Ya... Saya ibu Aulia," jawab Sascha.


"Mari bu ikut saya," ajak pria itu menuju ke divisi keuangan.


Mereka akhirnya mengikuti pemuda itu menuju ke divisi keuangan. Sascha sangat tertegun sekali dengan arsitek kantor tersebut. Meskipun luarnya biasa, dalamnya sangat luar biasa. Entah kenapa Gerre sangat menyukai bangunan seperti itu.


"Kak," panggil Dita.


"Iya," sahut Sascha.


"Tempat ini sangat indah sekali. Siapa yang menciptakan arsitek seperti ini?" tanya Dita penasaran sekali dengan tempat tersebut.


"Oh... Kantor ini sudah tiga kali renovasi. Yang pertama Tuan Gerre tidak menyukai konsep arsiteknya. Karena terlalu mewah dan wah. Yang kedua sang Nyonya tidak menyukai konsep arsiteknya. Menurut nyonya, terlalu mewah. Akhirnya diganti lagi. Yang ketiga Tuan Gerre sendiri yang menciptakan arsitek seperti ini. Katanya arsitek seperti ini sudah disetujui oleh nyonya. Desainnya sangat minimalis dan sederhana. Tidak lupa memberikan kesan mewah di dalamnya," jelas pemuda itu.


"Dasar papa. Seenaknya gonta-ganti konsep arsitek. Coba saja aku berada di sini sudah lama. Aku akan menggambar arsitek yang lebih baik lagi daripada yang ini," batin Sascha.


"Sepertinya ada yang kurang. Nanti kalau aku ke sini lagi. Aku akan meminta Kak Dewa untuk merombaknya lagi. Aku tidak terlalu suka dengan konsep seperti ini.mewah sekalian mewah saja tapi dibuat sesederhana mungkin. Tapi nggak tahu nanti mama Bagaimana lihatnya," bisik Sascha yang mengerti akan konsep arsitek yang bagus dan indah.


"Sebaiknya jangan dirubah Kak. Itu sudah cukup bagus dan mewah," bisik Dita.


Pemuda itu pun tahu apa yang dibicarakan mereka. Jujur sang pemilik memang tidak menyukainya.mau tidak mau sang pemilik harus menggantinya lagi. Tapi tak tahu entah kapan ingin mengganti arsitek seperti itu.


"Sebentar lagi konsep arsiteknya akan dirubah. Katanya yang pernah aku dengar. Menunggu anaknya datang ke sini dan menyerahkan gambar arsitek yang baru," sahut pemuda itu.


"Bukannya untuk menjelekkan ya.Ini sudah bagus sih tapi ada yang kurang sedikit. Nanti saya ajukan saja kepada Tuan Gerre enaknya bagaimana?" Ucap Sascha dengan jujur.


"Tunggu saja nanti putrinya yang akan datang ke sini untuk memberikan konsep tersebut!" perintah Sascha.

__ADS_1


"Baiklah," ucap pemuda itu.


Sascha sangat kesal sekali pada kantor perusahaannya. Jarak antara lobi ke lift itu sangat jauh sekali. Biasanya jarak antara lebih ke lift itu hanya beberapa meter saja.


Hal ini dikarenakan untuk mempermudah para karyawan menuju ke ruangannya. Selain itu juga mereka tidak terlalu capek dan bisa mengerjakan tugas-tugas kantor dengan mudah. Entah kapan Sascha akan merombaknya habis kantor ini. Atau Sascha akan memindahkan kantor ini ke tempat lainnya? Semoga saja Sascha mendapatkan realisasi dari sang papa.


Ting.


Pintu lift terbuka.


Sascha dan Dita memasuki lift. Diam-diam Sascha memiliki rencana yang banyak. Tapi semuanya harus dibicarakan dengan baik.


Sesampainya di ruangan atas, mereka menuju ke ruangan divisi keuangan. Jujur ruangan satu dengan ruangan lainnya berjejer rapi. Konsepnya sangat sederhana tapi dilihat mata sangat teduh. Sascha sangat menikmati tempat ini dan tidak ingin pulang lagi.


Ketika memasuki ruangan divisi keuangan, pemuda itu langsung menyuruh Sascha masuk. Lalu Sascha melihat banyaknya para pekerja di sana.


"Ya begitulah. Setiap 3 bulan sekali, Tuan Mark ke sini untuk mengambil dokumen tersebut. Setelah itu Tuan Mark membawanya ke Amerika dan diperiksa secara ketat di pusat. Jika terjadi kesalahan maka kami harus membuatnya yang baru. Sebab tuan Gerre memiliki catatan yang akan dicocokkan nantinya," jelas pemuda itu.


Konsep begini memang sangat ribet sekali. Tapi Gerre harus mencocokkan sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya Gerre bisa meminimalisir dampak terjadinya kerugian. Namun selama ini perusahaan cabang Jakarta, baik-baik saja dan tidak terjadi apa-apa. Karena seluruh karyawannya sangat jujur sekali ketika bekerja.


"Lebih baik kalian bungkus saja dengan karton atau apa. Aku tidak akan mungkin membawanya begini," pinta Sascha.


Pemuda itu pun langsung mengambil dokumen itu dan membungkusnya. Pemuda itu sudah biasa ketika Mark menyuruhnya membungkus memakai karton. Di sisi lain karton sangat mempermudah untuk membawanya.


"Baiklah. Tunggu di sini saja. Kami hanya membungkuskan beberapa menit saja," ujar pemuda itu.


Mereka akhirnya menunggu di ruangan ini. Hanya beberapa menit saja mereka mendapatkan barang itu. Tak lama Sascha menemukan sebuah kertas yang berada di mejanya itu. Ia membuka kertas itu dan membacanya. Ia mengerutkan keningnya karena mengenal tulisan tangan tersebut. Ia semakin bingung dengan apa yang dibacanya itu.

__ADS_1


"Sepertinya aku mengenal tulisan ini. Perasaanku ini adalah tulisannya Fatin. Apakah Fatin bekerja di sini? Sebab tulisan ini adalah sebuah rencana jahat. Yang di mana rencana itu bisa menghancurkan perusahaan cabang ini," batin Sascha.


Mau tidak mau Sascha harus mengantongi kertas itu. Entah kenapa dirinya mendapatkan petunjuk yang sangat aneh sekali. Apakah Fatin bekerja di sini sebagai divisi keuangan? Jika sampai terjadi maka habislah semuanya.


Tak lama pemuda tersebut memberikan karton yang berisikan dokumen itu. Sebelum pergi Sascha menanyakan nama pemuda itu.


"Dari tadi kita belum saling mengenal ya?" tanya Sascha.


"Perkenalkan nama saya adalah Hartanto," jawab Hartanto nama pemuda itu.


"Bisa nggak aku minta nomor kamu?" tanya Sascha.


"Dengan senang hati saya akan memberikannya kepada anda," jawab Hartanto sambil meraih pulpen dan kertasnya itu.


Lalu Hartanto menuliskan nomor teleponnya. Kemudian ia memberikan nomor itu ke arah Sascha.


"Terima kasih," ucap Sascha sambil meraih kertas tersebut.


Selesai mendapatkan dokumen itu, Dita yang main ponsel langsung berdiri. Mereka akhirnya meninggalkan ruangan divisi keuangan tersebut. Entah kenapa hati Sascha sepertinya gelisah. Apakah Sasha akan menjebol sistem keamanan perusahaan ini?


Pastinya. Sascha akan menjebol sistem keamanan di sini. Ia ingin mencari tahu tentang Fatin saat bekerja di sini. Yang lebih parahnya lagi siapa yang memasukkan nenek sihir itu di dalam perusahaannya? Soalnya Sascha sendiri orangnya kurang percaya kepada Fatin.


"Awas aja kalau Fatin bekerja di sini?Kemungkinan besar aku tidak akan melepaskannya dari penjara. Fatin tidak akan pernah jujur Jika membuat laporan keuangan. Jangankan membuat laporan keuangan. Uang pribadiku saja dihabiskan begitu saja. Rasanya aku benar-benar pusing menghadapi orang itu. Apakah aku harus menghubungi Billy untuk datang ke sini?" tanya Sascha di dalam hati kecilnya.


Satu kata di dalam hatinya sekarang adalah entah. Sebab Sascha harus berdiskusi dengan Dewa. Ia tidak mungkin akan berdiskusi dengan Gerree Cepat atau lambat kekuasaan Gerre akan jatuh ke tangan Dewa dan Sascha. Itulah kenapa Sascha menjadi pusing tujuh keliling.


"Kakak," panggil Dita.

__ADS_1


"Ada apa memangnya?" Tanya Sascha.


__ADS_2