Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KEGELISAHAN KAKEK AOYAMA.


__ADS_3

"Ya itu benar. Makanya aku sudah nggak kaget lagi dengan mereka," jawab Bima.


"Apakah Billi tahu kalau orang tuanya seperti itu?" Tanya Jaya.


"Ya tahulah. Mana mungkin dia nggak tahu soal mamanya itu," jawab Bima.


"Gue takut mereka akan mengganggu rumah tangganya Sascha."


"Nggak akan. Santai saja.Dewa Sudah mengantongi kejahatannya kok."


"Kejahatannya apa?"


"Lu tahu saat Sascha lepas dari pelukan Gerre?"


"Sebentar. Gerre bukannya putrinya menghilang saat itu?"


"Ya itu benar. Lu tahu siapa yang menculiknya?"


"Pasti teman-teman bisnisnya yang nggak suka dengan keberhasilannya."


"Bukan. Temen-temen bisnisnya tidak akan berani menyenggol Gerre sekalipun. Talinya menyenggol mereka akan terkena badai. Itulah Gerre yang tidak mau diganggu oleh siapapun."


"Lalu, kenapa Fatin menculiknya?"


"Sampai saat ini gue nggak tahu kenapa dia melakukannya. Lu sibuk?"


"Untuk saat ini nggak. Gue ke sini hanya untuk mengejar Risa agar tidak membunuh kakek Aoyama. Tapi kakek Aoyama sudah membunuhnya terlebih dahulu."


"Ya itulah. Mama Tara sudah mengaktifkan mata-matanya untuk melindungi kakek. Jika ada masalah Mama lah orang yang pertama tahu soal masalahnya itu."


"Gue kangen banget sama mama."


"Ikut sama gue yuk."


"Kemana?"


"Jalan-jalan ke Tokyo. Kita rame-rame ke sana nanti malam. Kami berencana pergi ke Tokyo memakai kereta shinkasen. Gue juga sudah merayu pasangan baru itu. Gue harap mereka tidak melakukan hal-hal yang aneh di dalam kamar."


Seketika tawa Jaya meledak. Jujur saja bagi Jaya, Bima itu sangat lucu sekali ketika berbicara. Untunglah Bima tidak membencinya. Begitu juga dengan Dewa, Jaya dan Dewa masih berkomunikasi dengan baik. Syukurlah, semuanya sudah kembali normal seperti dulu. Malah Jaya mendoakan Sascha dan Dewa bahagia hingga garis takdir Tuhan memisahkan mereka.

__ADS_1


"Terima kasih bro. Sampai sekarang lu masih nganggap gue sahabat," ucap Jaya.


"Gue nggak akan melupakan itu. Jujur saja gue malah senang memiliki teman banyak," balas Bima sambil melihat jam. "Ayolah kita berangkat sekarang. Gue nggak pengen ketinggalan mereka."


"Bukannya lu bisa berangkat sendiri?" tanya Jaya.


"Beda lah. Rasanya juga beda. Enakan rame-rame ketimbang sendirian," jawab Bima sambil beranjak berdiri dengan diikuti oleh Jaya.


Akhirnya Jaya mengikuti Bima pergi ke rumah kakek Aoyama. Mereka sangat kompak sekali berangkat ke sana bersama-sama. Meskipun jarak antara tempat menginap Jaya dan kakek Aoyama terbilang cukup jauh. Namun Jaya tidak mempermasalahkan soal itu.


Inilah kebahagiaan sebenarnya. Jaya tidak mau kehilangan para sahabatnya lagi. Cukup sekali dalam seumur hidup. Bahkan kekuatan sahabatnya itu sangat solid sekali. Semoga saja mereka bersahabat hingga menjadi orang tua renta.


Sementara Tara sedang duduk bersama kakek Aoyama. Wanita paruh baya itu pun menatap wajah kakek Aoyama sambil berkata, "Jayden sudah mulai bergerak."


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya kakek Aoyama yang mulai gelisah.


"Tenanglah Kek. Di sini masih ada anak-anak. Aku ingin mengkoordinir mereka," jawab Tara.


"Apakah mereka berani melawannya?" tanya kakak Aoyama yang sedang berputus asa.


"Tenang saja. Dewa dan lainnya sudah mengetahuinya. Aku tidak akan pernah menutupi masalah ini ke mereka. Jika aku menutupinya, Aku takut Dewa akan marah besar," jawab Tara.


"Jangan bilang begitu. Jika aku tidak bilang. Terus Papa ada apa-apa. Aku yang bersalah sekali. Ditambah lagi mereka akan mengamuk. Papa tahu kan kalau Dewa mengamuk seperti apa?"


"Itulah yang aku takutkan."


"Sascha sudah bergabung dalam kelompok Black Tiger. Dia sudah menjadi lady mafia."


"Apakah Dewa menyuruhnya?"


"Dewa tidak menyuruhnya. Meskipun kalau tidak disuruh, Dewa akan terus terang menjelaskan siapa Bukankah pernikahan itu memiliki kejujuran paling tinggi?"


"Tapi itu bahaya."


"Bagi Papa itu bahaya. Tapi Sascha harus tahu siapa kita sebenarnya. Kalau kita nggak jujur Sascha akan sangat kecewa sekali."


"Iya kamu benar. Memang papa ragu akan hal ini. Papa ingin jujur siapa diri Papa sebenarnya kepada cucu menantuku itu. Tapi di sisi lain kalau nggak jujur. Papa nggak ingin melihat dia kecewa."


"Lebih baik Papa Jujur saja. Meskipun jawaban Sascha akan menyakitkan. Soalnya dia tidak ingin dibohongi."

__ADS_1


"Besok pagi papa akan jujur semuanya. Papa ingin melihat reaksi Sascha bagaimana."


Tak sengaja tangan Tara memegang tangan kakek Aoyama. Tara memang ingin Papa mertuanya Itu jujur. Ia tidak mau kehilangan cucu menantunya itu. Akhirnya Kakek Aoyama memutuskan jujur kepada Sascha.


Sascha yang selesai berdandan tidak sengaja melihat Dewa keluar dari toilet. Sascha langsung menoleh dan menunjuk baju yang berada di ranjang.


"Kamu nggak nyiapin jaket?" Tanya Dewa.


"Oh iya. Untung kamu mengingatkan. Jika nggak mengingatkan kita kedinginan di jalanan," jawab Sascha.


"Kalau aku enak. Ada yang menghangatkannya," celetuk Dewa sambil melemparkan senyum liciknya ke arah Sascha.


Melihat Dewa yang tersenyum licik, Sascha hanya bisa tertegun sejenak. Memang benar apa yang dikatakan oleh Dewa. Dirinya yang akan menghangatkan sang suami itu meskipun berada di jalanan. Lalu bagaimana dengan mereka? Mereka akan gigit jari dan membuang wajahnya masing-masing. Kemungkinan besar mereka akan menendang Sascha dan Dewa ke kutub utara agar meneruskan pelukannya itu.


Satu kata kesal di dalam hati mereka. Bisa-bisanya pas waktu jalan-jalan rame-rame. Dewa memeluk sang istri sambil kedinginan. Jujur saja Dewa memiliki otak licik. Jangankan sama musuh, sama geng mafianya juga sama. Bahkan yang lebih parahnya lagi, Dewa sering memanfaatkan momen-momen yang membuat mereka jengkel.


"Kakak kenapa tersenyum licik seperti itu?" Tanya Sascha.


"Kamu baru tahu ya? Kalau suamimu ini sangat licik sekali. Kamu tahu apa maksudku? Jika kamu tidak membawakanku jaket. Kamulah sebagai penghangatku. Tapi mereka sangat kasihan sekali," jawab Dewa sambil meraih t-shirt warna biru.


"Kenapa?" Tanya Sascha.


"Masa kamu nggak tahu. Gini lho maksudku. Pas waktu kedinginan aku bisa memelukmu dan memintamu untuk menghangatkanku. Sedangkan mereka, aku yakin jiwa jomblo mereka akan meronta. Mau tidak mau mereka harus mencari tiang listrik yang berada di sana," jawab Dewa yang membuat Sascha melepaskan tawanya.


Sungguh ini sangat lucu sekali baginya. Kenapa tidak terpikirkan dengan jawaban itu? Ditambah lagi mereka memiliki status jomblo. Hati mereka akan meronta dan berteriak.


Kemudian Sascha berhenti tertawa sambil memandang wajah Dewa. Ia mendekatinya lalu bertanya, "Kenapa Kakak kejam seperti itu?"


"Salahnya sendiri. Kenapa juga mereka tidak mau mencari pasangan hidup? Sedangkan usia mereka hampir kepala tiga," jawab Dewa.


"Bagaimana kalau kita jodohkan dengan teman-temanku yang sedang jomblo?" tanya Sascha.


"Rasanya itu tidak mungkin. Aku nggak tahu kenapa mereka bisa jomblo seperti itu. Kalau kamu ingin menjodohkannya, lebih baik jangan. Aku takut teman-temanmu akan kecewa. Apalagi dengan Bima," jawab Dewa yang melarang istrinya menjodohkan teman-temannya itu.


"Padahal niatku sangat baik sekali agar mereka tidak jomblo selamanya," ucap Sascha.


"Bagimu sangat baik. Kamu tahu kan mereka seperti apa? Hidupnya sangat bebas. Mereka juga tidak mau dikekang. Aku takut hubungan mereka hanya sebentar," ujar Dewa yang paham dengan teman-temannya itu.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Sascha.

__ADS_1


__ADS_2