Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
Kejujuran Sascha.


__ADS_3

Hampir sehari Sascha dan Dewa berada di dalam pesawat. Untung saja Dewa langsung menghubungi sang pilot. Jika tidak nyawa Dita melayang. Entah kenapa mereka merasakan perasaan yang tidak enak. Mungkinkah Dita dalam bahaya besar? Kita tidak tahu.


Saat menginjakkan kakinya, Dewa langsung menarik tangan Sascha. Ia langsung ,lewati jalur VIP. Sambil berjalan Dewa bertanya, "Apakah Dita masih aman?"


"masih," jawab Sascha sambil memantau keberadaan Dita di dalam villa Bima.


"Bagaimana dengan Marty?" tanya Dewa.


"Marty berjaga selama dua puluh empat jam. Marty sudah melaksanakan pekerjaannya dengan baik," jawab Sascha.


"Syukurlah. Mereka masih aman," ucap Dewa sambil bersyukur.


"Kalau begitu ayo kita langsung ke villa," ajak Dewa.


Tanpa menjawab saja akhirnya mengikuti Dewa dari belakang. Namun matanya sedang sibuk menatap layar tabnya. Ia mencoba masuk ke dalam sosial media milik Dita.


Ketika sampai di area parkir pengawal Black Tiger menyambut kedatangan Dewa. Lalu pengawal itu membukakan pintu dan menyuruh Dewa dan Sascha masuk ke dalam.


"Bagaimana sosial media milik Dita?" tanya Dewa.


"Perasaanku kok aneh ya," jawab Sascha.


"Aneh bagaimana? Seharusnya kamu bisa masuk ke sosial media milik Dita," ucap Dewa.

__ADS_1


"Aku sudah masuk ke dalam sana. Banyak yang mengirim pesan bahwa Dita adalah artis yang suka bermain dengan suami orang," ujar Sascha sambil membaca pesan milik Dita satu persatu.


"Yang benar saja. Masa adikku seperti itu? Bukankah kamu sudah pernah merasa kalau Dita adalah anak baik-baik?" tanya Dewa.


"Apakah ini ada hubungannya ketika Dita mengundurkan diri? Padahal Dita sendiri akan membayar dendanya. Lalu bagaimana dengan manajemennya?" tanya Sascha.


"Aku sendiri tidak tahu. Bukankah manajemennya dipegang oleh Bima?" tanya Dewa balik.


"Jika Kak Dewa bertanya kepadaku. Lalu aku harus bertanya kepada siapa? Aku sendiri bingung. Dita pernah bercerita kalau manajemennya itu dipegang oleh ph-nya sendiri. Sebelum aku berangkat ke sini. Aku sudah ngobrol sama ph-nya. Mereka baik-baik saja. Mereka juga sangat menyayangkan jika Dita keluar," jawab Sascha.


"Jika sang manajemen dan ph-nya sendiri baik-baik saja. Ada apa dengan Dita sebenarnya? Selama ini dirinya baik-baik saja. Apakah Dita pernah cerita kalau dirinya diperas oleh seseorang? Inilah yang jadi pertanyaanku sekarang. Setiap pengawal yang mengawal Dita tidak pernah mengatakan kepadaku, kalau adikku adalah gadis nakal. Sesudah syuting Dita memilih untuk tidur. Dan tidur pun mereka juga menjaganya. Andaikan kalau Dita nakal mereka sudah melaporkan kegiatan Dita seperti itu," jelas Dewa.


"Bagaimana ini? Kita pernah bercerita kepadaku. Dita tidak ingin membuat kabar burung untuk penggemarnya. Jika itu sudah terjadi maka nama adikmu hancur berantakan," ucap Sascha.


"Aneh binti ajaib. Aku merasa benang merahnya kok nyangkut ke Cathy ya? Soalnya aku sendiri sedang mengurai benang kusut ini. Jika Cathy ikut-ikutan dalam masalah ini. Kemungkinan besar ada konspirasi di dalamnya," ucap Sascha yang matanya masih tetap untuk membaca seluruh pesan Dita.


"Kenapa kamu mengkaitkannya pada Cathy?" tanya Dewa.


"Karena Dita dekat sekali denganku. Kemungkinan besar wanita licik itu mengancamku melalui orang-orang terdekatku. Soalnya beberapa bulan terakhir ada orang yang mengikutiku ke mana pun aku pergi. Orang-orang itu memakai baju serba hitam," jelas Sascha.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Sascha. Dewa juga merasakan kalau sang istri akhir-akhir ini diikuti oleh orang. Apakah ini berkaitan dengan teror yang diterima oleh Sascha? Yang tidak habis pikir dari mana Cathy bisa menemukan Sascha. Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi tanda tanya.


Tepat berada di depan villa Bima. Sepasang suami istri itu pun turun. Mereka melihat beberapa para pengawal yang berjaga ketat di sana.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Sascha tidak sengaja melihat mobil berwarna hitam di seberang jalan. Sascha langsung menarik baju Dewa dan memberikan sebuah kode. Dewa akhirnya paham dan mengajak Sascha masuk.


"Aku harus bagaimana Kak? Semakin lama hidupku semakin tidak aman. Aku nggak tahu siapa mereka? Kenapa mereka mengejar-ngejar ku seperti seorang penjahat saja. Aku ingin protes kepada Katy dan Damar. Mereka memang pantas mendapatkan protesanku," kesal Sascha.


"Jangan kesel seperti itu. Mereka memang sengaja untuk mencari informasi tentangmu. Kemungkinan besar sebelum kamu diikuti, papamu sudah diikuti terlebih dahulu. Bisa dikatakan papamu juga dalam bahaya. Tapi feelingku merasakan kalau kamu adalah orang pertama yang ingin dibunuh oleh mereka. Orang kedua adalah orang tuamu. Orang ketiga adalah orang-orang terdekatmu. Maka dari itu kamu harus bersiap-siap untuk menghadapi mereka," beber Dewa yang membuat Sascha tertawa terbahak-bahak.


"Hidupku seperti merajut benang kusut. Seharusnya masalah ini selesai dan bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Tapi itu tidak mungkin. Mereka bukan orang-orang yang memiliki attitude baik. Mereka selalu ngegas dan mencari kelemahanku. Di saat mereka sudah mendapatkan kelemahanku, mereka akan membunuhku secara perlahan," ungkap Sascha.


"Tenanglah. Aku tidak akan meninggalkanmu sedetik pun. Jika masalah ini selesai Dita harus ikut ke New York. Dia akan stay bersama kita. Jika Dita di sini kemungkinan besar aku tidak bisa hidup dan dengan tenang di New York. Aku harap Dita mau bekerja sama dengan kita," Dewa menggenggam tangan Sascha sambil mencari keberadaan Dita.


"Aku setuju. Lebih baik kita akan membicarakannya. Ketimbang kamu diam-diaman seperti itu. Terus tanpa banyak bicara kamu langsung memutuskan. Nanti Dita bertambah pusing dengan sifat dinginmu itu," Sascha mencari keberadaan Dita.


"Memangnya aku adalah pria dingin? Aku ini orangnya humble. Aku ini orangnya sangat asik sekali. Kenapa kamu bilang aku memiliki sifat dingin? Apakah kamu ngambek sama aku?" tanya Dewa yang tiba-tiba saja berhenti dan menarik tubuh Sascha.


"Ngapain kakak begitu? Please deh jangan buat masalah seperti ini. Lebih baik lepaskan aku. Biarkanlah aku mencari keberadaan adik iparku itu," Sascha memutar bola matanya dengan malas.


"Nggak usah dicari. Paling kencang Dita membaca buku novel buatanku sendiri. Kamu tahu kan kalau aku diam-diam suka coret-coret di laptop," ujar Dewa memegang wajah Sascha.


"Cerita yang membosankan. Masa... Kamu membuat cerita antara New York dan Blitar. Apa maksudnya?" tanya Sascha.


"Itu cerita komedinya si Leo. Makanya aku sengaja membuatnya agar menjadi epic. Ternyata oh ternyata kamu langsung bilang ceritanya sangat membosankan. Berikan aku ide lagi agar bisa menulis cerita epic," pinta Dewa.


"Kamu mau menulis apa lagi?" Tanya Sascha.

__ADS_1


__ADS_2