
"Iya," sahut Tarra. "Ada apa?"
"Apakah mama mau menerima Sascha sebagai menantu mama?" tanya Sascha yang ilfill dengan omongan orang.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Tarra.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Chloe.
"Aku pernah mendengar kalau seorang menantu perempuan tidak pernah akur dengan ibu mertua," jawab Sascha bersedih.
"Kamu memang benar. Banyak sekali yang mengatakan kalau ibu mertua tidak pernah akur dengan menantu perempuannya. Mereka selalu saja berantem menghadirkan orang ketiga supaya menghancurkan pernikahan anaknya," jelas Tara yang membuat Sascha bersedih lagi.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Sascha.
__ADS_1
"Kamu nggak perlu harus bagaimana. Semenjak kamu lahir ke dunia, aku sudah menerimamu sebagai putriku sendiri. Jadi Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Kamu tahu sendiri kan kalau kita ketemu kayak apa? Terus jangan pernah dengerin apa kata orang. Jika kamu mendengarkan mereka, kamu bakalan rugi sendiri. Kamu makan juga tidak meminta mereka. Jadi kenapa kamu harus mendengarkan mereka?" ucap Tara yang membuat Sascha menjadi tersenyum kembali.
"Yang Mama Tara katakan benar.Jangan pernah menyaring informasi yang belum tentu ada benarnya. Kamu harus mencari informasi itu dengan mendetail. Nggak semuanya mertua itu tidak akur sama menantu perempuannya. Begitu juga dengan sebaliknya. Kamu tahu sendiri kan Bagaimana Mama Tara memperlakukanmu?" tanya Chloe dengan serius.
"Kamu pasti ilfil deh denger begituan?" tanya Tara.
"Iya Ma. Aku sering mengadakan riset sama Kak Eric atau Kak Bima mengenai kehidupan mereka saat berada di rumah," jawab Sascha.
"Apa itu? Bolehkah Mama tahu?" tanya Chloe.
"Coba kamu cari di internet tentang masalah itu. Atau kamu share ke teman-temanmu saat kuliah dulu. Nanti kamu akan tahu lebih luas masalah tersebut. Cepat atau lambat kamu akan mengerti apa yang kamu lakukan itu," jelas Tara.
"Sekarang kamu nggak usah bersedih lagi ya. Kamu tahu jika mama Tara memusuhimu, bisa-bisa Dewa mengajakmu kabur dan menikah di negara lain. Ujung-ujungnya pulang dan memiliki lima anak sekaligus," tambah Choe sambil melihat Tara yang tersenyum manis.
__ADS_1
"Kalau begitu hidupku sangat indah sekali. Kemungkinan aku akan marah besar jika melewati momen-momen indah itu," kesal Tara yang tidak ingin lewatkan momen-momen seperti itu.
"Kalau itu sih aku tidak akan kabur. Karena aku sangat mencintai kalian semua," ucap Sascha dengan tulus.
"Ya lebih baik kamu jangan kabur. Kemungkinan besar kami para mama akan merawatmu ketika hamil anaknya Dewa," ledek Chloe.
"Jujur saja Sascha kok merasa kak Dewa kejam ya?" tanya Sascha kepada kedua para mama.
"Jangankan Dewa. Papa mertuamu itu sangat kejam sama mama. Awal Dewa lahir, Mama memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi. Tapi papamu malah membuat aku tekdung lagi. Padahal saat itu masalah sangat banyak sekali di dalam perusahaan maupun di luar," jawab Tara yang membuat Sascha melotot sempurna.
"Lalu bagaimana dengan papa Devan?" tanya Sascha.
"Papamu mah asik aja. Malah mengajak Gerre liburan sendirian di kota Denpasar. Bayangkan saja pas lagi hamilnya Dita aku ditinggal begitu saja. Untung mode singa aku hilang seketika," jelas cara yang membuat Chloe terkejut dan tertawa.
__ADS_1
"Kalau papa Gerre, bagaimana ma?" tanya Sascha.