
"Kamu tahu kan masalah sesungguhnya itu apa? Sebenarnya Sascha juga sudah tahu masalah itu," jawab Kobe.
"Sascha nggak pernah cerita kepadaku," ucap Dewa.
"Ya tadi sudah aku ceritakan. Makanya Papa meminta Sascha bolak-balik dari Jepang ke Indonesia. Hanya demi mengurusi masalah tersebut. Itulah kenapa jika Sascha yang tiba-tiba saja nggak masuk kerja ke D'Stars Inc keesokan harinya," ungkap Kobe bersama fakta sesungguhnya.
"Nggak bisa kalau begini terus-terusan. Lama-lama perusahaan akan hancur dengan sendirinya. Jika rubah kecilku diajak bergabung bagaimana ya?" tanya Dewa yang tidak sengaja membayangkan si rubah kecilnya marah.
"Itu sangat bagus sekali. Hanya rubah kecil lah yang bisa membuat mereka ketakutan seperti kucing jatuh ke kolam renang," jawab Kobe.
Dewa akhirnya memakan mie itu sambil membuat strategi. Strategi itu akan terpakai jika dirinya masuk ke dalam perusahaan pusat.
Melihat Dewa yang selesai makan, Kobe hanya menggelengkan kepalanya. Namun Kobe berharap masalah pusat agar dapat terselesaikan.
Di tempat lain Dita, Sascha dan Ayako sedang menikmati Nasi Padang. Mereka sengaja memesan nasi lebih banyak. Jika berhubungan dengan Nasi Padang mereka akan makan lebih banyak lagi. Mereka juga tidak memperdulikan bentuk tubuhnya jika selesai memakan nasi padang itu.
"Apa Kak Ayako selesai syutingnya?" tanya Sascha.
"Sudah selesai. Tinggal tayang di televisi," jawab Ayako sambil menikmati nasi Padang itu.
"Info saja ya kak," sahut Dita.
"Beres. Nanti aku info lewat Paman Kobe saja ya," ucap Ayako.
"Memangnya kamu tahu film-filmnya?" tanya Sascha.
__ADS_1
"Aku tahu semuanya. Bahkan saking taunya aku sampai mengkoleksi semua film-filmnya di databaseku. Ditambah lagi aku suka aktingnya yang natural banget. Jika aku disuruh menyebutkan siapa idolaku. Aku selalu menyebut Ayako," puji Dita dengan tulus.
"Arigatou gozaimasu," ujar Ayako sambil tersenyum manis dan memandang wajah Dita.
"Memangnya Kak Ayako suka sama paman apanya?" tanya Dita yang penasaran sekali dengan pamannya itu.
"Dia sangat lucu tapi bawel. Suka buat aku ketawa. Terus pekerja keras. Ditambah lagi dia suka membuat kejutan-kejutan yang aneh buat aku. Pokoknya tipenya aku semua di Paman kamu," jawab Ayako.
"Kamu tahu Dita, kalau mereka sangat mencintai satu sama lain. Jujur pas pernikahannya aku tidak datang. Kamu juga nggak datang untuk nemenin aku. Di sini aku sadar, kalau aku jadi orang jahat. Padahal dulu aku sering debat sama Mas Kobe hanya gara-gara kurang satu angka saja," ucap Sascha.
"Maaf ya Kak kalau aku nggak datang. Aku benar-benar diundang sama paman. Masalahnya aku sendiri sedang menjaga kak Sascha yang masuk rumah sakit tiba-tiba di Seoul," ujar Dita yang menyesal tidak datang ke pernikahannya Kobe.
"Tidak apa-apa. Saat itu aku juga tahu masalah sebenarnya bagaimana? Jujur saat itu aku terkejut mendengar kabar Kalau kamu masuk rumah sakit. Padahal setengah jam sebelumnya kita sempat berbalas pesan dan kamu bilang akan datang. Aku saja dikasih tahu sama Kak Kobe kagetnya setengah mati. Aku mau kesana tapi jam syutingku sedang padat. Padahal aku sendiri pengen kesana hanya untuk beberapa jam," ungkap Ayako dengan penuh kesedihan.
"Sekarang semuanya sudah berakhir. Masalah demi masalah yang dihadapi oleh Kak Sascha telah selesai. Masalahnya sangat berat sekali. Namun Kak Sascha kuat menghadapinya," ucap Dita.
"Semuanya senyumin aja kak. Kakak kan nggak minta ke orang lain. Kakak kan usaha sendiri dari bawah. Begitu juga dengan kedua orang tua kakak. Aku bangga mereka menyekolahkan Kakak hingga sukses seperti ini. Kakak nggak usah minder sama orang-orang lain. Kalau kakak itu adalah manusia yang spesial," hibur Sascha yang membuat Ayako tersenyum.
"Biarkan semuanya membicarakan kakak dari a sampai z. Kakak kan punya hidup sendiri. Kakak kan nggak ganggu mereka. Tutup kuping saja. Terus kalau ada yang membully lewat sosmed. Lebih baik Kakak biarkan saja. Orang yang membully juga belum tentu baik hidupnya. Bahkan aku sendiri nih, ketika menjadi seorang artis dan kepergok jalan sama si a sesama artis juga. Banyak yang membully habis-habisan juga. Terus aku nggak ambil pusing soal itu Kak. Sampai hari inipun aku nggak pernah ribut sama siapa-siapa. Aku selalu bertanya kepada Kak Sascha. Lalu aku bertanya Bagaimana ini solusinya yang enak? Apakah aku harus konfirmasi atau tidak? Itu juga aku ke diskusinya sama manajemen," beber Dita yang selama ini dibantu oleh Sascha untuk menghadapi orang-orang yang menurunkan mentalnya.
"Kamu benar juga Dit. Aku juga sering sharing sama kakakmu itu. Tapi aku beruntung sekarang. Kakak iparmu sekarang menjadi bagian keluarga Nakata's Group. Jadi aku bisa mengajaknya jalan-jalan atau kemanapun," sahut Ayako.
"Wah Kak Aya ini. Sepertinya aku harus pindah ke Tokyo. Agar kita bisa menculik Kak Sascha dan mengajaknya belanja atau sekedar pergi ke pantai," jelas Dita.
"Tidak apa-apa. Lagian yang mengamuk bukan Aku. Yang mengamuk Kak Dewa. Kamu tahu masalah aku kabur dari perusahaan dan menyusul kamu jalan-jalan ke Bandung?" tanya Sascha ke Dita.
__ADS_1
Di sana mereka tertawa terbahak-bahak. Ayako juga mengetahui masalah Sascha yang kabur dari kantor. Ayako dan Dita membayangkan hukuman yang diterima oleh Sascha.
Memang saat itu Sascha sangat nakal sekali. Sascha saat itu sering kabur-kaburan dari perusahaan. Kebiasaan yang dimiliki Sascha adalah mematikan ponsel dan merasakan liburan berhari-hari. Namun Sascha sangat bersyukur karena kejadian kabur-kaburannya itu.
Siapa sangka saat itu Dewa sangat khawatir sekali dengan keadaannya. Bahkan Dewa sendiri yang mencarinya hingga ke ujung dunia. Padahal saat itu Sascha hanya untuk melepaskan penat di kantornya saja.
Setelah sarapan mereka bercerita tentang kegiatannya masing-masing. Dita yang awal-awalnya diam melihat Ayako, sekarang banyak bicara dan hangat. Mereka juga berbagi pengalaman dan kisah cerita yang lucu dan kocak.
Sebelum pulang, Ayako ingin membayarnya. Namun Sascha lebih dulu membayarnya. Hingga akhirnya mereka pulang ke villa Bima.
Jakarta Indonesia.
Kedua pria paruh baya itu sedang duduk berhadapan. Mereka sedang memegang map dan membaca berkas-berkas tentang Cathy.
Devan yang sedari tadi membolak-balikkan berkas itu menatap wajah Gerre. Akhirnya Devan bertanya, "Apa yang kamu lakukan setelah ini?"
"Aku belum ada ide sama sekali. Jadinya aku memilih untuk diam terlebih dahulu," jawab Gerre yang menaruh berkas itu.
"Damar sudah nggak ada," celetuk Devan.
"Sedih sekali ya… saat Bima menghabisi Damar," ucap Gerre.
"Itu benar. Memang sudah di dulu Bima adalah orang yang suka mengeksekusi tawanan Black Tiger. Bahkan Bima memiliki jiwa psycho," sahut Devan.
"Apa yang kamu bilang?" tanya Gerre.
__ADS_1