Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
TUKANG BAKSO.


__ADS_3

"Itu kan rencana aku. Aku takut kakak keberatan dengan rencana itu," jawab Sascha.


"Mau rencanamu... Mau rencanaku... Kalau ada dijalankan terlebih dahulu.lagian kamu memiliki tugas untuk mengambil beberapa berkas laporan keuangan Khans Company cabang Indonesia. Selain itu juga kamu pengen pergi ke Surabaya. Dengan tujuan ke Nganjuk untuk menemui Ibu Nirmala dan Pak Andika. Tidak apa-apa. Ngapain juga kita pergi besok sore. Sekali-sekali kita menginap di rumahnya mereka sehari atau dua hari kedepan. Kita di sana hanya untuk melihat keadaan rumah itu. Sekalian kamu membuat rencana enaknya bagaimana itu sawah. Aku yakin anak-anak di sana bisa menghandle semuanya. Percaya deh sama aku," ucap Dewa.


"Syukurlah... Kakak nggak marah sama aku," ujar Sascha.


"Lagian juga siapa yang mau marah sama kamu? Kamu kan memiliki niat baik dan tulus. Kenapa nggak juga didukung? Lagian juga Kinanti masih bagian dari keluargamu. Sudah sewajarnya kamu menengok dan menanyakan kabarnya," sahut Dewa yang memberikan petuah untuk Sascha.


"Ya sudah kalau begitu," balas Sascha.


Beberapa saat kemudian, Dita datang dengan wajah ketakutan. Gadis berbalas cantik itu pun tidak menyangka kalau kakak iparnya lebih berani ketimbang dirinya. Ia masuk ke dalam dengan tubuh bergetar. Kemudian Dita menghampiri Sascha dan menumpahkan air matanya.


"Kakak!" ucap Dita.


"Ada apa memangnya?" tanya Sascha.


"Apakah kakak baik-baik saja?" tanya Dita.


"Kakak selalu baik," jawab Sascha sambil melepaskan Dita dan mengambil tisu di meja lalu menghapus air mata sang adik iparnya itu.


Melihat peristiwa itu, Hati Dewa menjadi sangat damai. Ia sangat beruntung sekali mendapatkan istri yang baik. Salah satunya adalah Sascha memperlakukan sang adik dengan baik dan benar.


"Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" ajak Dewa.


"Baiklah," balas Sascha sambil memberikan tisu itu ke Dita. 


Sebelum membalikkan badannya, Dita melihat wajah Sascha. Ia mulai meraba seluruh tubuh Sascha. Diam-diam Dita memastikan kalau sascha itu baik-baik saja. Mengingat kejadian tadi Dita menjadi trauma. 


Melihat akan hal itu Dewa tersenyum. Ternyata sang adik sangat protektif sekali. Akhirnya Dewa berdiri dan meraih tangan Dita. 


"Kakak iparmu baik-baik saja. Dia tidak terkena tembak atau peluru sekalipun. Kamu tahu nggak? Kalau kakakmu sudah menaklukkan beberapa orang musuh sekaligus dalam waktu sekejap," jelas Dewa yang membuat sang adik tenang. 


Dita hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum melihat saja. Hatinya sekarang sudah tenang dan tidak ketakutan seperti tadi. Dita pernah dijuluki sebagai gadis barbar. Namun tidak berlaku jika berhadapan dengan senjata api. Iya lebih memilih menyerah ketimbang harus melawan mereka. Sedari dulu kedua orang tuanya tidak ingin kita masuk ke dalam dunia mafia. Sebab nyalinya sangat kecil sekali.

__ADS_1


"Kalau begitu ayo kita pergi ke Khanz Company cabang Jakarta," ajak Sascha. 


"Bolehkah aku makan terlebih dahulu?" tanya Dewa. 


"Makan di mana?" tanya Dita balik. 


"Aku ingin makan bakso yang pentolnya besar sekali. Rasanya aku ingin memakan itu sebanyak dua porsi," jawab Dewa yang menatap wajah Sascha.


Sontak saja kedua wanita itu terkejut. Entah kenapa Dewa tiba-tiba saja meminta bakso. Jujur mereka mengetahui kalau Dewa tidak menyukai bakso sama sekali. Ini sangat aneh sekali.


Diam-diam kedua gadis itu menatap wajah Dewa. Lalu mereka melihat Dewa sambil membayangkan makan bakso. Kemudian mereka mengalihkan pandangannya ke lantai.


"Kakak tahu kan? Kalau Kak Dewa nggak suka sama bakso sama sekali?" Tanya Dita yang membuat Sascha mengganggu.


"Tahu," jawab Sascha.


"Lalu kenapa Kak Dewa pengen banget makan bakso?" tanya Dita.


Di dalam perjalanan menuju Khans Company, Dewa melihat ada gerobak bakso yang berada di jalan. Akhirnya Dewa menghentikan mobilnya dan menatap Dita.


"Sepertinya kita berhenti di sini saja. Aku sudah lapar," ucap Dewa.


Mereka hanya menganggukkan kepalanya dan mengajak Dewa keluar dari mobil. Tiba-tiba saja Dita teringat akan tukang bakso itu. Ternyata oh ternyata tukang bakso itu adalah teman sekolahnya dulu. Dita langsung ke sana sambil bertanya, "Masih ada baksonya?"


Tukang bakso itu terkejut dan mengangkat wajahnya. Kemudian tukang bakso itu menjawab, "Ada. Mau berapa porsi?"


"Empat saja," jawab Dita.


"Satu porsi lima puluh ribu," ucap sang tukang bakso itu. 


"Beres.... Yang penting baksonya ada pentol gedenya," sahut Dita.


Sementara itu Dewa dan Sascha melihat Dita yang asik mengobrol dengan tukang bakso. Kemudian Dewa memandang Sascha sambil bertanya, "Dita kok kenal ya? Sama tukang bakso itu."

__ADS_1


"Teman sekolahnya dulu. Aku juga kenal kok sama dia," jawab Sascha sambil tersenyum manis.


"Pantas saja. Berarti kamu sering kesini ya!" tanya Dewa lagi.


"Aku memang sering ke sini. Dulu tempat nongkrong ku di sini setelah pulang kerja. Nongkrong bareng para petinggi perusahaan juga di sini. Kami suka memborong baksonya dan memberikan hadiah buat tukang bakso," jawab Sascha.


"Oh jadi gitu... Memangnya mereka mau makan di sini?" tanya Dewa.


"Mau. Dan di sinilah kalau sedang macet kita berkumpul di sini sambil menghitung mobil," jawab Sascha.


"Oh ya? Kenapa kamu nggak ngajak aku?" tanya Dewa.


"Sebenarnya aku malu ngajakin kamu makan di sini. Karena kamu ada seorang CEO dari perusahaan besar di Indonesia. Jujur saja aku mau menaruh mukaku ini di mana? Jika nanti ada para karyawan makan di sini. Aku bakalan diomongin yang nggak-nggak. Ditambah lagi dengan beberapa anak yang bermulut pedas. Sakit hatiku tahu," jelas Sascha.


Sebenarnya saya ingin sekali mengajak Dewa makan di sini. Berhubung Dewa adalah seorang CEO kondang di dunia, Sascha tidak akan mungkin mengajaknya ke sini.


Jujur buat dirinya sendiri, ia lebih baik mencari aman dari omongan orang. Ia sengaja mengajak Dewa makan di restoran. Karena Sascha ingin sekali menjaga image Dewa. Begitulah ceritanya.


Beberapa saat kemudian Dita datang bersama tukang bakso. Tukang bakso itu langsung menghidangkan makanan tersebut di atas meja. Tidak sengaja ia melihat saja sambil tersenyum, "Eh ada Kak Sascha."


"Eh ada Rio di sini," sapa Sascha. 


"Mau minum apa?" tanya Rio nama tukang bakso itu. 


"Air mineral tiga botol saja," jawab Sascha.


Rio segera pergi meninggalkan mereka. Iya mengambil tiga botol air mineral dan diserahkan kepada saya. Beberapa saat kemudian Rio berpamitan lalu duduk di meja masing-masing.


"Sepertinya kamu kenal ya?" tanya Dewa ke Dita. 


"Dia temanku Kak. Sekarang sudah nikah sama sahabatku dulu. Katanya sih istrinya sedang hamil. Ngidam pengen makan buah strawberry," jawab Dita yang mengambil botol saus tomat. 


"Bagaimana kalau kita belikan saja buah strawberry itu? Sekalian saja kita membeli buah-buahan buat sendiri," tanya Sascha.

__ADS_1


__ADS_2