Merajut Benang Kusut.

Merajut Benang Kusut.
KHANS COMPANY CABANG JAKARTA.


__ADS_3

"Itu ide sangat bagus sekali. Bagaimana kalau kita setelah ini mencari buah-buahan?" tanya Dita


"Aku ingin mengambil dokumen itu dulu," jawab Sascha.


"Perasaanku tadi ada Papa Dan Papa Gerre?" tanya Dita lagi.


"Sepertinya," jawab Sascha. "Kemungkinan besar mereka sedang mengurusi para musuh yang tertangkap. Tinggal satu lagi. Yaitu Cathy."


"Kenapa orang itu tidak ditangkap saja?" tanya Dita yang semakin penasaran dengan sosok Cathy.


"Kakakmu berusaha sedang mencari jalan agar bisa mendapatkan banyak bukti dari orang itu. Jadinya orang itu seperti dijebak. Semakin banyak kejahatan yang dilakukannya maka kakakmu lebih gampang untuk menangkapnya dan menjebloskan dia ke dalam penjara," jelas Dewa yang mengerti rencana Sascha.


"Ternyata kakakku sangat licik juga," ucap Dita.


"Kalau nggak gitu ya nggak bisa jadi bos dong. Semuanya itu perlu taktik dan rencana yang matang. Jika tidak memakai taktik sedikitpun. Maka kamu bisa diremehkan sama orang. Ditambah lagi kamu dipandang rendah sama mereka. Makanya kamu harus banyak belajar dari kakakmu itu," saran Dewa untuk Dita.


Dita tersenyum manis mendengar petuah sang kakak. Jujur saja Dita sendiri sangat terima kasih sekali dengan Dewa. Ditambah lagi sekarang kita memiliki kakak ipar yang lucu. Bahkan Dita pun kalau ketemu sering tertawa.


Mereka akhirnya makan bersama. Tiba-tiba saja kedua gadis itu melihat sang Kakak sedang makan bakso dengan lahapnya. Sangking lahapnya Dita sangat bingung ketika melihatnya.


"Kenapa tiba-tiba saja Kakak pengen bakso seperti itu ya?" tanya Dita.


"Kalau kakakmu ini memiliki beberapa faktor. Yang pertama kakakmu enggak suka bakso selama seumur hidupnya. Yang kedua Dia sangat berhalusinasi untuk memakan bakso," jawab Sascha yang menjelaskan faktor apa yang menyebabkan Dewa bisa memakan bakso seperti itu.


"Apakah Kakak sedang ngidam?" tanya Dita yang penasaran sekali.


"Nggak tahu juga ya," jawab Sascha yang dari tadi melihat Dewa makan.


"Apakah kakak tidak merasakan tanda-tanda kehamilan pertama?" tanya Dita yang curiga.

__ADS_1


"Nggak. Kemungkinan besar Kakak berharap tidak hamil dalam waktu dekat ini. Kakak ingin melanjutkan membereskan masalah yang tadi itu," jawab Sascha.


"Yang dikatakan kakakmu benar. Kakak juga nggak bisa tenang jika Sascha mengandung. Sebab musuhnya lebih licik dan selalu playing victim. Sepertinya kita harus mencari celah terlebih dahulu. Balik lagi ke awal rencana Sascha," sahut Dewa yang meminum air mineral itu.


"Memang benar sih Kak. Aku takutnya Kakak nanti terjadi apa-apa. Semoga saja masalah ini cepat selesai. Agar kita bisa hidup tenang dan bebas," ucap Dita.


"Sebenarnya kita ini bisa hidup bebas dan tenang. Tapi kamu tahu kan,banyak orang yang tidak menginginkan kita hidup bebas. Contohnya saja seperti tadi. Pas waktu tenang bebas dan damai. Mereka langsung menyandra kakakmu itu. Masalah perusahaan juga belum selesai. Masalah Black Tiger juga belum selesai.ditambah lagi masalah dengan Black Swan juga belum selesai. Lama-lama kepalaku akan pecah dengan sendirinya. Makanya aku berharap ingin menunda kehamilanku terlebih dahulu," jelas Sascha yang mendapat anggukan dari Dewa.


Dita baru sadar apa yang dikatakan oleh kakaknya itu benar. Akhir-akhir ini Dita juga merasakan hal yang sama. Meskipun kita tidak mengenal siapa itu Cathy? Dita terkena imbasnya dan juga soal rumah tersebut. Ia tidak akan menyerahkan rumah itu kepada orang lain.


Jujur rumah itu adalah rumah yang dimiliki satu-satunya. Ia belum bisa membeli rumah sendiri. Selain itu juga rumah tersebut adalah hadiah ulang tahunnya ketika berusia sepuluh tahun. Belum sempat menempati rumah itu, Dita akhirnya menelan pil kekecewaannya. Diam-diam rumah itu sudah ada yang menempati dan mengklaimnya. Itulah kenapa Dita sangat geram sekali.


Selesai makan bakso, Sascha mendekati Rio sambil bertanya, "Berapa semuanya?"


"Gratis aja Mbak," jawab Rio.


"Kok gratis? Aku nggak mau gratis," tanya Sascha.


"Tetap bayarlah. Jangan biarkan aku nggak membayar. Itu hanya bantuan kecil saja. Siapa tahu nanti ada orang lewat makan di sini," ucap Sascha dengan tulus.


Sascha akhirnya mengambil beberapa lembar uang warna merah. Lalu ia memberikannya ke Rio, "Ini buat kamu. Sekalian buat modal untuk jualan. Insya Allah warung kamu rame terus. Kamu harus semangat jualannya. Dan jangan tinggalkan ibadahmu."


Rio terpaksa mengambil uang itu. Lalu Rio mengucapkan terima kasih banyak kepada Sascha. Jarang ada customernya yang loyal sekali seperti Sascha.


Selesai memakan bakso mereka akhirnya pergi meninggalkan kedai tersebut. Kali ini Dewa menuju ke Khans Company cabang Jakarta. Di dalam perjalanan Dewa melihat jalanan sedang macet.


"Apakah kamu sudah bilang ke bagian divisi keuangannya untuk menunggu?" tanya Dewa.


"Sudah Kak. Bukan aku yang mengirim pesan. Melainkan Paman Mark yang mengirimnya. Mereka ingin menunggu sampai kita datang. Mengingat kemacetan terjadi di kota ini," jelas Sascha.

__ADS_1


Hampir tiga perempat jam, mereka akhirnya sampai ke perusahaan itu. Untungnya perusahaan itu belum tutup. Dewa memarkirkan mobilnya di area VVIP.


Dahulu memang Dewa sering ke sini. Dewa meminta sang CEO untuk menyediakan catering makan pagi dan makan siang untuk anak-anak pabrik. Sanksio itu pun mengiyakan. Hingga akhirnya mereka bekerja sama.


"Perasaan aku nggak pernah ke sini deh?" tanya Sascha bersama Dita dengan kompak.


"Kamu nggak pernah berpikir. Kalau perusahaan ini adalah milikmu sendiri. Padahal dulu kamu sering lewat ke sini," ucap Dewa ke Sascha.


"Apa yang dikatakan oleh Kak Dewa itu benar? Aku sendiri saja baru tahu kalau perusahaan itu adalah milikku," ujar Sascha yang baru sadar dengan perkataannya itu.


"Bener-bener deh Kak Sascha adalah Sultan. Tapi kenapa Kak Sascha kok nggak pernah membuat konten tentang bagi-bagi uang seperti tadi?" tanya Dita yang sangat penasaran sekali.


"Nggak perlu. Soalnya ini adalah masalah pribadiku," jawab Sascha yang rendah hati.


"Ayo kita masuk!" ajak Sascha.


"Aku di sini saja nggak perlu masuk ke dalam," jawab Dewa.


"Ya sudah tidak apa-apa. Kalau begitu kita berdua saja yang masuk ke dalam sana!" ajak Sascha yang membuka pintu dan mengajak Dita masuk ke dalam.


Lalu mereka masuk ke dalam dan menuju ke resepsionis. Di sana sang resepsionis sudah mengetahui kedatangan Sascha.


"Dengan ibu Aulia ya," sapa sang resepsionis dengan ramah.


"Iya ini saya. Saya ingin mengambil beberapa dokumen yang sudah diminta oleh Tuan Mark," ucap Sascha dengan sopan.


"Tunggu di sini ya Bu. Saya akan menghubungi bagian divisi keuangannya untuk menjemput ibu," sahutnya.


Mereka pun menunggu di tempat duduk samping resepsionis. Di sana sang resepsionis menghubungi orang bagian divisi keuangan untuk turun ke sini. Sambil menunggu Sascha akhirnya mengambil ponselnya dan membaca banyak pesan yang masuk.

__ADS_1


Lima menit berlalu. Ada seorang pria mendekati Sascha dan menyapanya, "Apakah anda Ibu Aulia?"


__ADS_2